Puncta 07.05.19 Yohanes 6:30-35 We Are The World

MASIH ingat lagu fenomenal sepanjang masa berjudul We Are The World? Lagu yang diciptakan Lionel Richie dan Michael Jackson tahun 1985 ini bertema sosial untuk membantu kelaparan yang terjadi di Afrika.

Lagu ini terjual sebanyak 20 juta copy dan hasilnya US$75 juta disumbangkan lewat lembaga non profit USA for Afrika demi mengentaskan kelaparan dan kemiskinan di Afrika. Inilah sebagian dari syairnya :

Send them your heart so they’ll know that someone cares
Beri mereka hatimu agar mereka kan tahu ada yang peduli
And their lives will be stronger and free
Dan hidup mereka kan jadi lebih kuat dan merdeka
As God has shown us by turning stones to bread
Sebagaimana Tuhan tlah tunjukkan kita dengan mengubah batu menjadi roti
So we all must lend a helping hand
Maka kita pun harus memberi bantuan

Kelaparan dan kemiskinan di Afrika adalah bencana kemanusiaan terbesar waktu itu. Para artis itu menggalang aksi sosial untuk menolong Benua Afrika yang kekurangan makanan. Mereka menyanyi dan menggalang solidaritas karena dunia ini adalah rumah kita semua.

Yesus bersabda bahwa Ia adalah Roti yang dikirimkan kepada dunia. “Akulah Roti hidup. Barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi”. Lagu We Are The World mengajak kita untuk berani memberi, mengulurkan tangan agar dunia menjadi tempat yang lebih baik lagi :

We are the world, we are the children
Kita adalah dunia, kita adalah anak-anak
We are the ones who make a brighter day
Kita adalah orang-orang yang mencerahkan dunia
So let’s start giving
Maka mari mulai memberi
There’s a choice we’re making
Pilihan yang kita buat
We’re saving our own lives
Kita sedang selamatkan hidup kita sendiri
It’s true we’ll make a better day
Sungguh kita akan menceriakan dunia
Just you and me

Hanya kau dan aku

Marilah kita datang kepada Yesus Sang Roti Hidup supaya kita tidak lapar dan haus akan cinta kasih. DenganNya kita bisa menolong memberi makan dan minum kepada mereka yang lapar dan haus. Dunia adalah rumah bersama. Kalau saudara kita lapar kita harus memberi mereka makan.

Gunung Sumbing Gunung Merapi
Di tengahnya ada Magelang city
Dengan memberi sesuap nasi
Persahabatan kan kekal abadi

Berkah Dalem
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 06.05.19 Yohanes 6:22-29 Menabung Kebaikan

SISWANTO bukanlah siapa-siapa. Ia hanya seorang biasa. Ia menjadi relawan Komunitas Saber, yaitu komunitas Sapu Bersih ranjau paku di jalan-jalan. Ia prihatin ada banyak mobil atau motor yang gembos bannya terkena paku-paku di pinggir jalan.

Ia menyusuri jalan-jalan sambil membawa besi magnet untuk mengumpulkan paku-paku yang berhamburan di jalan. Ia tidak mencari uang atau pujian. Baginya sungguh membahagiakan kalau orang selamat di perjalanan.

Ia bekerja bukan untuk mencari uang tetapi ingin menolong orang lain. Bahagia bisa menolong itulah upah yang tak bisa diganti dengan uang.

Lain lagi, seorang kakek yang setiap sore rajin membersihkan selokan di depan rumahnya. Ia ditanya cucunya, “Kenapa kakek selalu membersihkan selokan dari sampah-sampah di depan rumah?”

Ia menjelaskan kepada cucunya, “Kakek senang, kalau selokan lancar, kita membantu warga tidak terkena banjir. Walaupun hanya tindakan sederhana, namun sangat bermanfaat bagi orang banyak. Tenaga kakek tidak sekuat dulu, tetapi apa yang masih bisa dilakukan untuk kemaslahatan orang banyak, itulah yang membahagiakan!”

Bacaan Injil hari ini menyadarkan kita untuk bekerja bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal.

Itulah yang dikehendaki Yesus. Orang-orang berbondong-bondong mencari Yesus bukan karena mereka telah melihat tanda-tanda, tetapi karena mereka telah dikenyangkan.

Mereka tidak melihat siapa Yesus, tetapi mereka mencari apa yang telah diberikan Yesus. Akibatnya orang tidak sampai beriman, namun hanya sibuk mencari mukjijat.

Bekerjalah bukan untuk makanan yang dapat binasa. Uang, materi, pujian, hormat, sanjungan adalah makanan-makanan yang akan binasa. Kalau kita bekerja hanya untuk mencari pujian dan materi,

kita tidak akan menemukan kebahagiaan. Makanan yang tidak akan binasa adalah kebaikan, keutamaan, kesediaan menolong orang lain, peduli terhadap kesusahan sesama. Marilah kita menabung kebaikan untuk sesama di sekitar kita.

Ke Gajah Mungkur lewat Gemolong
Membeli mangga di batas kota
Kalau kita punya hati untuk menolong
Hidup akan bahagia tak terhingga

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 04.05.19 Yohanes 6:16-21 Palwa Upaminya

O kawula punika palwa upaminya. Alit tur tan prakosa ngambah ing samudra.
Dipun tempuh prahara lan aluning samudra. Dhuh Dewi Mariyah, pangayoman amba.

(Aku ini seperti perahu, kecil dan tak berdaya mengarungi samudera. Dihantam prahara dan ombak kehidupan. Duh Ibu Maria, engkaulah pelindungku)

Lagu pujian kepada Bunda Maria sebagai teman perjalanan kita mengarungi samudera kehidupan yang berat ini, pantas direnungkan dalam perikope bacaan Injil hari ini. Kendati lagu itu ditujukan kepada Maria, tetapi tidak salah juga kalau harapan kita seperti para murid yang memohon pertolongan Tuhan.

Sesudah memberi makan limaribu orang, Yesus pergi ke gunung untuk berdoa. Para murid naik perahu menyeberang ke Kapernaum. Malam itu laut bergelora karena diterjang angin kencang. Yesus tidak bersama maereka.

Ketika mereka mendayung dengan sangat kelelahan, Yesus mendekati mereka, berjalan di atas air. Mereka sangat ketakutan. Kata-kataNya meneguhkan, “Aku ini, jangan takut!” Mereka mempersilahkan Yesus naik ke perahu dan akhirnya mereka selamat sampai ke tujuan.

Kita ini seperti para murid yang sedang mengarungi samudera kehidupan. Gelombang kehidupan sering menerpa kita. Bisnis gagal, keluarga kacau berantakan, masa depan gelap, terjerat masalah tak kunjung selesai, suasana kerja buruk, anak-anak tak bisa diatur, cari kerja selalu buntu dan banyak masalah lain. Dalam situasi seperti itu, kita butuh orang yang berkata, “Aku ini, jangan takut”.

Kita perlu mempersilahkan Yesus masuk ke dalam bahtera kita. Kita membiarkan Yesus menjadi nakhoda perahu kita. Bisa jadi selama ini kita terlalu mengandalkan kekuatan kita sendiri. Ada gelombang besar yang tak mungkin kita atasi sendiri. Kita membutuhkan pertolongan tangan Tuhan.

Kehadiran Yesus dalam keluarga kita bisa menyelamatkan keretakan bahtera. Tangan Tuhan mampu membangkitkan semangat untuk terus maju. Maka berilah ruang dalam hatimu supaya Tuhan bisa masuk di dalamnya. Berilah tempat dalam waktumu supaya Tuhan bisa hadir membantu persoalan-persoalanmu.

Pergi ke pasar membeli tahu
Tahu dimasak campur lasanya
Seberapa pun beratnya beban hidupmu
Biarkan Tuhan ikut hadir menolongnya

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto

Puncta 03.05.19 Pesta St. Filipus dan St. Yakobus Rasul Yohanes 14:6-14 Somil Ke Istana Presiden

PRESIDEN Jokowi sering mengadakan kunjungan “blusukan” ke daerah-daerah. Ia ingin berjumpa secara langsung dan mengetahui kondisi riil yang sedang terjadi dan dirasakan oleh rakyat. Namun tidak jarang pula, Ia mengundang tokoh-tokoh masyarakat datang ke istana, baik di Istana Bogor maupun di Istana Merdeka.

Diundang ke istana presiden adalah peristiwa yang sangat luar biasa. Tidak semua orang bisa mengalaminya.

Kita bayangkan seorang Somil dari Beginci, sebuah daerah pedalaman Kalimantan yang tak ada listrik, apalagi sinyal atau wifi yang merupakan barang asing nan aneh yang tidak pernah didengar. Somil diundang ke istana negara!

Dia bangga sekaligus bingung, pusing tujuh keliling bagaimana menuju istana negara. Ke ibukota propinsi saja jarang apalagi ke istana negara. Dia pusing tidak tahu jalannya.

Bapak Jokowi paham Somil tidak akan sampai di istananya. Ia mengutus ajudan-ajudannya menjemput Somil. Dengan dikawal ajudan, Somil akan sampai ke istana. Namun segala prosedur tetek bengek protap protokoler pasti harus dijalani.

Bisa lain kalau yang menjemput adalah Putera Presiden sendiri. Anak Presiden punya jalur khusus dan langsung tanpa protokoler yang ketat. Dengan anaknya sendiri dijamin bisa langsung masuk istana dan selamat.

Hari ini, Yesus berkata kepada murid-murdNya, “Akulah jalan, kebenaran dan hidup. Tidak seorang pun dapat datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”. Yesus adalah Putera Bapa yang akan membawa kita masuk ke dalam kerajaanNya.

Para nabi itu seperti ajudan-ajudannya. Mereka juga mengantarkan kita, namun jaminan keselamatan pastilah kalau kita mengikuti PuteraNya sendiri.

Kita ini seperti Filipus yang ingin mengenal Bapa. Maka dia berkata kepada Yesus, “Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami?” Yesus menegaskan bahwa Dia adalah Putera Bapa. Barangsiapa melihat Yesus, dia melihat Bapa.

Yang mengenal Yesus, dia mengenal BapaNya. Yesuslah jalan menuju Bapa. Yesus sungguh andalanku. Karena Yesus berkata, “Jika kamu meminta sesuatu kepadaKu, dalam namaKu, Aku akan melakukannya”. Yesus adalah jalan karena Ia mengantar kita kepada Bapa.

SabdaNya adalah kebenaran karena apa yang diwartakanNya dibela dengan kematianNya. Yesus adalah kehidupan karena yang percaya kepadaNya pasti memperoleh hidup kekal.

Pergi tamasya membawa bekal
Sudah lapar dimakan bersama
Kita akan memperoleh hidup yang kekal
Kalau kita percaya kepadaNya

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 02.05.19 Yohanes 3:31-36 Kebenaran yang Memerdekakan

ZAMAN dahulu kala seorang guru “ngelmu” akan beradu kesaktian dengan guru lain untuk menunjukkan siapa yang paling kuat ilmunya. Semakin hebat ilmu kasektennya, semakin banyak pengikutnya.

Guru yang kalah akan tunduk mengabdi kepada yang menang. Begitu juga murid-muridnya. Mereka akan menjadi cantrik atau murid di padepokan itu.

Dalam konteks inilah, murid-murid Yohanes Pembaptis, menurut Injil hari ini, memperbincangkan Yesus. Murid-murid Yohanes melihat Yesus membaptis di tanah Yudea.

Yesus mulai mempunyai banyak pengikut. Bisa jadi orang-orang yang dulunya ikut Yohanes Pembaptis mulai satu per satu mengikuti Yesus. Para murid Yohanes melaporkan kejadian ini kepada gurunya.

Yohanes Pembaptis berterus terang kepada mereka, “Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahuluiNya”. Yohanes sadar bahwa waktunya untuk undur diri karena Yesus, Sang Mesias sudah tampil. Maka ia berkata, “Ia harus makin besar tetapi aku harus makin kecil”

Yohanes Pembaptis memberi kesaksian, “Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi, siapa yang datang dari surga ada di atas semuanya”.

Yesus adalah utusan Allah yang datang dari surga. Barangsiapa percaya kepadaNya akan memperoleh hidup yang kekal.

Yohanes Pembaptis adalah sosok pribadi yang jujur dan rendah hati. Orang jujur mewartakan kebenaran. Yang benar dikatakan benar. Yang salah dikatakan salah.

Dia berani mengkritik Herodes yang bertindak salah. Tetapi ia juga berani berkata yang benar tentang Yesus kepada murid-muridnya. Kerendahan hatinya nampak dengan sikapnya yang mempersialahkan Yesus makin besar dan dia makin kecil.

Yohanes yakin benar bahwa Yesus datang dari Allah. Yohanes berani membuat kesimpulan, “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia akan beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya”

Yohanes telah bersaksi tentang Yesus Anak Allah, dan kesaksiannya itu benar. Marilah kita meyakini dan percaya kepada Yesus Putra Allah agar kita memperoleh hidup kekal.

Ke Panti Rapih mengunjungi orang sakit
Ternyata harus memberi minyak suci
Tuhan Yesus yang telah bangkit
Menjadi jaminan untuk hidup abadi

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 01.05.19 Yohanes 3:16-21 Datang Kepada Terang

MUSIM panen di pedalaman Kalimantan diramaikan dengan hadirnya jutaan keriang. Binatang seperti belalang yang mempunyai suara yang memekakkan telinga. Istimewanya mereka datang menyerbu perkampungan kalau musim panen padi.

Suaranya yang keras membuat bising dimana-mana. Mereka datang pada petang hari saat lampu-lampu sudah menyala. Mereka akan menyerbu cahaya. Mereka akan menempel di dinding, kayu, dahan, besi atau benda apa pun yang dekat dengan lampu. Dimana ada cahaya terang, keriang akan mendekatinya.

Anak-anak, juga orangtua tidak ketinggalan, akan berkejaran menangkap mereka. Keriang ini enak dimakan. Ibu-ibu suka menggorengnya dengan sedikit bumbu penyedap rasa. Keriang yang digoreng enak sekali.

Rasanya krispi gurih dan renyah. Mereka datang hanya sekali yakni pada musim panen padi. Selain mendapat padi baru, masyarakat juga mendapat lauk enak dari keriang.

Yesus menerangkan kepada Nikodemus bahwa Ia adalah terang yang datang ke dunia. “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal”.

Yesus datang bukan untuk menghukum tetapi untuk menyelamatkan dunia. kedatanganNya seperti terang yang bercahaya. Terang itu telah datang.

Sebagaimana keriang itu terbang mencari terang, seharusnya kita pun mencari dan mendekati Kristus Sang Terang. Namun kedosaan kitalah yang membuat kita ini takut pada Terang.

Seperti para penjahat yang tertangkap basah, mereka menutupi mukanya. Mereka takut kepada cahaya lampu atau blitz kamera wartawan. Kalau koruptor tidak takut malah senyum-senyum digelandang keluar gedung KPK.

Orang yang berbuat jahat membenci terang. Tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.

Pengikut Kristus tidak boleh takut pada terang. Kata-katanya harus terus terang. Sikap dan perbuatannya harus terang-terangan. Orang benar tidak akan suka bersembunyi di ruang gelap. Marilah kita menjadi terang yang bersinar di sekitar kita.

Pergi bersama ke Pantai Pangandaran
Jangan lupa singgah di Nusakambangan
Kalau kita hidup dalam kebenaran
Oleh Kristus Tuhan kita diselamatkan

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr