Puncta 17.05.19 Yohanes 14:1-6 Akulah Jalan

KEJADIAN ini belum lama berselang. Belum lama ini ada sanak yang meninggal. Masih saudara dengan keluarga kami. Yang meninggal ini sejak lama mengikuti Yesus. Beriman secara katolik. Namun pada saat beliau sakit, tinggal di rumah anaknya yang tidak katolik.

Dia dimakamkan dengan cara lain. Belum ada 40 hari selang beliau meninggal. Adiknya yang katolik selalu didatangi arwah kakaknya. Orang yang meningal ini mengatakan bahwa tidak nyaman dengan baju yang baru. Dia minta baju yang lama, yang biasa digunakan.

Setelah berembug dengan keluarga, akhirnya diadakan doa dan mohon ujub misa di gereja. Sesudah didoakan itu, orang yang meninggal ini tidak pernah lagi datang ke rumah. Dalam mimpi, adiknya berjumpa dengan kakak yang sudah meninggal ini telah bahagia di alam sana.

Yesus berkata kepada kepada murid-muridNya, “Janganlah gelisah hatimu; ercayalah kepada Allah, percayalah juga kepadaKu. Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal. Sebab Aku pergi ke sana untuk menyediakan tempat bagimu”.

Sabda Yesus ini sungguh menjadi jaminan bagi kita. Percaya kepada Yesus menjamin kita memperoleh keselamatan kekal.

Kejadian di atas semakin menguatkan iman kita, bahwa beriman kepada Yesus itu tak tergantikan. Iman kepada Yesus memberi jaminan keselamatan. Ketika ibu yang meningal itu diberi baju baru, ternyata dia tidak nyaman dan tenteram di sana.

Dia mendatangi adiknya minta diberi baju yang biasa dipakai sewaktu masih hidup. Baju itu adalah iman akan Yesus. Ketika keluarganya mengadakan misa dengan ujub mendoakannya, ibu itu tak pernah lagi datang ke rumah.

Ia telah memakai baju yang menyelamatkan, yakni Yesus yang telah bangkit. Ia telah masuk ke tempat yang telah disediakan Yesus. Tempat itu adalah tempat yang damai abadi di surga.

Yesus telah berkata, “Akulah Jalan, kebenaran dan hidup. Tidak seorang pun dapat datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”. Ibu yang meninggal itu telah menemukan jalan yang benar yakni Yesus Kristus. Yesus adalah Jalan karena Ia mengantarkan kita menuju Bapa.

Kata-kataNya adalah kebenaran karena Yesus tidak hanya berkata-kata kosong, tetapi Ia mewujudkannya sampai mati di salib. Yesus adalah kehidupan, barangsiapa percaya kepadaNya akan memperoleh hidup kekal. Setialah selalu mengikuti Yesus.

Ke pasar membeli timus
Kalau besuk pergi bisa jadi bekal
Kalau kita setia mengikuti Yesus
Kita dijamin memperoleh hidup kekal

Berkah Dalem,
Rm, A, Joko Purwanto Pr

Puncta 16.05.19 Yohanes 13:16-20 Kresna Duta

SETELAH selesai menjalani hukuman duabelas tahun dibuang di hutan Kamiyaka dan setahun terakhir bersembunyi di Wirata dari kejaran para Kurawa, akhirnya Pandawa muncul dari pengasingan.

Karena telah menepati janji menjalani hukuman, maka Lima orang bersaudara itu bersama ibu mereka yakni Kunti dan istri Puntadewa yakni Drupadi sepakat untuk meminta kembali Kerajaan Amarta dan Indraprasta yang telah diduduki oleh Kurawa. Maka mereka sepakat mengutus Batara Kresna untuk menjadi duta ke Astina.

Kresna diterima di Pendapa Agung Kerajaan Astina. Maksud kedatangannya sebagai utusan adalah minta Kerajaan Indraprasta dikembalikan kepada Pandawa. Bisma, Durna, Karna menasehati Duryudana agar kerajaan itu dikembalikan kepada yang berhak memilikinya yakni Pandawa.

Tetapi Sengkuni memprovokasi Duryudana untuk tidak mengembalikan Indraprasta. Duryudana yang tadinya setuju menjadi goyah dan terpengaruh. Dengan kerlingan mata sengkuni yang licik memberi sasmita kepada Duryudana untuk menghabisi Kresna yang datang hanya seorang diri.

Kresna tahu bahwa dirinya dalam bahaya, dikepung oleh Duryudana dan pasukannya. Kresna melakukan “triwikrama”. Di depan Duryudana, Kresna terlihat bersama Bima seribu, Arjuna seribu siap menghancurkan Duryudana.

Melihat hal demikian, Duryudana jatuh pingsan karena ketakutan. Kresna sebagai duta/utusan bertindak untuk dan atas nama Pandawa. Ia menunjukkan Bima dan Arjuna ikut hadir di pendapa Astina.

Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku”.

Murid-murid yang mewartakan Yesus adalah utusanNya. Menerima murid Kristus berarti juga menerima Yesus. Kalau menerima Yesus berarti juga menerima yang mengutus Yesus yakni BapaNya.

Paulus dan Barnabas berkeliling kemana-mana mewartakan Yesus. Mereka membangun dan menghibur umat dengan pewartaannya. Sabda Tuhan itu berguna untuk membangun dan menghibur jemaat.

Kita sekarang juga bisa membangun dan menghibur umat dengan warta gembira. Marilah kita menjadi utusan warta gembira dengan membangun dan menghibur mereka yang membutuhkan.

Kuliner Muntilan adalah Tape Ketan
Kalau Semarang jangan lupa beli loenpia
Kita semua adalah utusan Tuhan
Jika kita mewartakan Kabar Gembira kepada sesama

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 15.05.19 Yohanes 12:44-50 Indahnya Bintang-Bintang

MATI lampu di pedalaman itu hal yang biasa. Tanpa ada berita sebelumnya, tiba-tiba listrik mati. Apalagi kalau ada hujan deras, dapat dipastikan listrik mati sepanjang malam.

Bisa menghidupkan genset, tapi menghabiskan solar berliter-liter. Terpaksanya hanya pakai lilin untuk penerangan dalam gelap. Saya sering menyimpan lilin sisa-sisa di altar. Supaya kalau tiba-tiba listrik mati, masih bisa ada penerangan sementara.

Namun yang paling menyenangkan dalam kegelapan itu adalah munculnya banyak bintang-bintang di langit. Dari kegelapan kita bisa menikmati indahnya langit di waktu malam. Kadang bisa melihat meteor yang melesat terang menghiasi malam. Kadang bisa melihat halo, lingkaran putih yang mengitari bulan.

Ada bintang yang terang cahayanya. Ada yang redup saja. Ada bintang berbentuk Salib yang menjadi kompas bagi para nelayan. Dalam kegelapan, cahaya sekecil bintang di kejauhan pun menjadi sangat indah.

Lilin, bintang, rembulan menjadi hiburan yang membahagiakan di waktu gelap malam. Sekecil apa pun cahaya sungguh sangat berguna ketika kita menghadapi kegelapan.

Yesus berkata, “Aku telah datang sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepadaKu, jangan tinggal di dalam kegelapan”. Yesus membawa terang bagi dunia yang mengalami kegelapan. Orang dipanggil untuk datang kepadaNya, supaya hidupnya diterangi oleh Kristus.

Siapa yang hidup dalam terang pasti tidak akan tersesat. Tetapi mereka yang hidup dalam kegelapan pasti akan mengalami kebingungan dan tidak tahu arah.

Dalam bacaan pertama, Para murid mengkhususkan Barnabas dan Paulus bagi tugas pelayanan yang telah ditentukan Allah. Sebelumnya mereka berkata kepada orang-orang Yahudi, “Memang kepadamulah Firman Allah harus diberitakan lebih dahulu. Tetapi kamu menolaknya, dan menganggap dirimu tidak layak beroleh hidup yang kekal. Karena itu kami berpaling kepada bangsa-bangsa lain. Sebab inilah yang diperintahkan kepada kami: Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung bumi”.

Barnabas dan Paulus mewartakan Injil Yesus sebagai terang bagi bangsa-bangsa lain. Terang itu akan membawa orang sampai pada keselamatan.

Bagi kita yang sudah menerima Terang Kristus, kita dipanggil mewartakannya seperti Barnabas dan Paulus, agar orang lain juga menerima keselamatan Tuhan. Sudahkan kita menjadi terang bagi sesama?

Dari Yogya menuju Magelang
Beli tape ketan di Muntilan
Yesus Kristus adalah Terang
Yang membawa kita kepada keselamatan

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 14.05.19 Pesta St. Matias Rasul Yohanes 15:9-17 Pemain Cadangan

DALAM suatu pertandingan sepak bola, selalu ada pemain cadangan. Pemain cadangan itu bukan hanya pengganti pemain utama, tetapi dia dikeluarkan pada saat-saat situasi kritis. Kadangkala justru pemain cadangan dapat menjadi inspirasi bagi pemain-pemain lainnya. Seperti Wijnaldum, pemain ini baru dikeluarkan oleh Klopp pada babak kedua saat Liverpool melawan Barcelona. Dia menyumbangkan dua dari 4 gol untuk Liverpool dan berhasil menumbangkan Barca dengan agregat 4-3. Sehingga Liverpool berhasil maju ke final Liga Champion. Pemain cadangan sama pentingnya dengan pemain utama.

Hari ini Gereja merayakan Pesta Santo Matias, Rasul. Ia dipilih untuk menggantikan kedudukan Yudas Iskariot yang telah mati. Ada dua orang yang diusulkan yakni Yustus dan Matias. Setelah diundi ternyata Matias yang terpilih. Sebelum melakukan undi, mereka semua berdoa mohon terang Roh Kudus. Akhirnya Matias ditambahkan kepada bilangan kesebelas rasul itu.

Yang menarik adalah persyaratan menjadi pengganti rasul yakni, “Harus ditambahkan kepada kami satu orang yang dipilih dari mereka yang senantiasa datang berkumpul dengan kami selama Tuhan Yesus bersama-sama dengan kami, yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke surga meninggalkan kami. Bersama kami ia harus menjadi saksi tentang kebangkitan Yesus”.

Para rasul adalah saksi mata langsung akan peristiwa-peristiwa Yesus, mulai dari Yesus dibaptis oleh Yohanes sampai Ia terangkat ke surga. Maka pengganti rasul juga haruslah orang yang dekat dengan Yesus dan menyaksikan karyaNya sampai Ia kembali kepada BapaNya. Kesaksiannya sungguh valid tak terbantahkan karena mereka melihat langsung dan selalu mengikuti Yesus.

Yesus menyebut mereka sebagai sahabat-sahabatNya karena kedekatan mereka. “Kamu adalah sahabatKu, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak lagi menyebut kamu hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya. Tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepadamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari BapaKu”. Sadarkah bahwa kita ini adalah sahabat-sahabat Yesus? Apakah perbuatan kita adalah wujud dari melaksanakan perintahNya?

Main bola di tengah lapangan
Bola melambung tinggi ke angkasa
Kita ini sahabat-sahabat Tuhan
Kalau kita melaksanakan perintahNya

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 09.05.19 Yohanes 6:44-51 Roti yang Dipecah

KARDINAL Fulton Sheen mengatakan, “Tata cara Misa yang tidak pernah berubah adalah pemecahan roti untuk mengingatkan kita bahwa setiap kali kita merayakannya Tuhan “dipecahkan” sebagai kurban untuk dosa-dosa kita”.

Dalam Bukunya yang berjudul “Imam Bukan Miliknya Sendiri, Kardinal Sheen menulis, “Perjanjian Lama telah memberi petunjuk mengenai persembahan diri Kristus dalam wujud roti yang dipecahkan karena dijelaskan bahwa roti yang akan dipersembahkan oleh imam harus “dipotong-potong menjadi potongan kecil” (Im 2:6).

Bahkan kata Ibrani untuk “roti tidak beragi” yang digunakan di ayat ini diambil dari sebuah kata kerja yang berarti “ditusuk” atau “dilukai”. Dengan ini roti itu meramalkan kondisi dari kurban yang dilambangkannya. Sebagaimana roti itu diremukkan, demikian pula Kristus akan diremukkan.

Kalau hari ini dalam Injil, Yesus berkata, “Roti yang Kuberikan itu ialah dagingKu, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia”, Kematian Yesus di salib adalah cara yang nyata memandang Roti yang diremukkan selama konsekrasi. TubuhNya diremukkan sebagaimana roti yang dipecah-pecah dalam ekaristi untuk keselamatan dunia.

Para muridNya mengenal Yesus yang sudah bangkit ketika Ia memecah-mecahkan roti. Dua orang murid Emaus itu mengenal Yesus ketika Ia mengambil roti, mengucap syukur dan memecah-mecahkannya di depan mereka. Terbukalah mata hati mereka.

Kata-kata konsekrasi, “Inilah tubuhKu yang diserahkan bagimu” dan “Inilah piala darahKu yang ditumpahkan bagimu” adalah benar-benar pemberian diri Kristus untuk keselamatan dunia. Barangsiapa makan roti ini, dia akan hidup untuk selama-lamanya.

Kepercayaan inilah yang menguatkan para murid dalam bacaan pertama, mewartakan Yesus yang bangkit kemana-mana. Bahkan kemartiran menjadi model bagi mereka untuk mengikuti Kristus yang telah bangkit.

Filipus menjelajah daerah Samaria. Kemanapun ia pergi dan berjumpa dengan siapa saja, Filipus selalu mewartakan Yesus yang telah bangkit.

Setelah kita mengikuti ekaristi, imam berkata, “Pergilah! Kamu diutus”. Nah, kita telah menerima Roti Hidup yakni Kristus, kita diutus untuk mewartakanNya. Siapkah kita?

Bunga melati masih kuncup
Indah dipandang saat mekar
Yesus berkata, “Akulah Roti Hidup”
Kita semua tak akan haus dan lapar

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 08.05.19 Yohanes 6:35-40 Akulah Roti Hidup

DENGAN menahan perut yang sangat kelaparan, Jean Valjean terpaksa mencuri roti di kota. Karena tindakannya itu ia harus menebus 19 tahun kerja paksa di penjara.

Ketika dia dibebaskan secara bersyarat, ia pulang ke kotanya. Karena kemalaman, ia harus mencari tumpangan untuk bermalam. Satu-satunya yang mau menerimanya adalah rumah uskup, Mgr. Charles Francois Bienvenu Myriel.

Ia diberi makan roti dan kamar yang layak. Namun niat jahatnya muncul saat dia melihat peralatan makan yang terbuat dari perak. Ia mencuri senduk dan garpu perak yang mahal itu. Tetapi tindakannya diketahui oleh Mgr. Myriel.

Jean Valjean terpaksa memukul uskup tua itu sampai jatuh pingsan. Malam itu ia melarikan diri. Namun ia tertangkap oleh polisi dan dikembalikan kepada uskup Myriel. Ketika polisi bertanya kepada uskup, “Apakah barang-barang mahal ini milik bapak uskup? Orang ini telah mencurinya”.

“Aku telah memberikannya sebagai hadiah”, kata uskup. Para polisi itu terkejut dan melepaskannya. Saat mereka hanya berdua, Uskup berkata kepada Jean Valjean, “Aku telah membayarmu dengan barang perak itu. Engkau telah berjanji akan hidup secara baru. Engkau telah ditebus”.

Sejak saat itu Jean menjadi manusia baru. Ia berbuat kebaikan dan kejujuran pada sesamanya. Itulah Novel “Les Miserables” ciptaan Viktor Hugo yang sangat terkenal.

Yesus berkata, “Akulah roti hidup! Barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi”. Yesus telah memberikan diriNya untuk keselamatan kita.

Ekaristi yang setiap hari kita rayakan adalah pemberian diri Tuhan yang sempurna kepada kita. Ia mau menjadi makanan kita. Jika kita mau menerimanNya, kita tidak akan merasa kekurangan, kelaparan.

Roti adalah kebutuhan pokok. Cinta Tuhan adalah kebutuhan kita. Ketika kita merasakan cinta Tuhan, kita tidak akan kehausan dan kelaparan.

Roti hidup yang dari Tuhan itu harus dibagikan kepada sesama. Seperti Mgr. Myriel yang menolong Jean Valjean dengana roti dan mengubah seluruh hidupnya dengan perak, begitulah cinta Tuhan harus dialirkan kepada orang lain.

Jean Valjean menjadi manusia baru yang penuh dengan kasih karena ia mengalami ditebus, dikasihi oleh Tuhan. Roti hidup atau kasih Tuhan itu walaupun dibagi-bagikan tidak akan habis, malah akan semakin bertambah banyak.

Kita diajak datang kepada Sang Roti Hidup yakni Yesus sendiri. Kita diundang dalam ekaristi karena dalam perjamuan itulah Tuhan memberikan hidupNya. Sudahkan anda menanggapi undangan Tuhan?

Janganlah menunda…… hidup kekal menanti anda.

Naik kereta senja menuju Bali
Singgah sebentar di Banyuwangi
Tuhan mengundang kita dalam Ekaristi
Santapan jiwa nan kekal abadi

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr