by editor | Jul 18, 2018 | Renungan
SAYA masih teringat apa yang disharingkan Pak Redes di teras Pastoran Tayap.
Dia sangat bersyukur atas hidup ini dan atas rahmatNya untuk semua yang telah dianugerahkanNya. Kerjaannya tiap hari adalah “noreh” getah karet.
Sebelum “menggores” kulit pohon karet dia berdoa. “Tuhan seperti Engkau menumpahkan darahMu, pohon karet ini juga memberikan getahnya untuk kehidupanku. Aku merasa berdosa karena menyakitinya. Tetapi seperti Engkau mengurbankan darahMu agar kami hidup. Pohon karet ini juga mengurbankan getahnya supaya aku dan anak-anakku bisa hidup. Kami sungguh bersyukur”.
Selalu saja Tuhan memberi rejeki yang cukup bagi kami. Saya mendengarkan sharingnya dengan takjub dan kagum.
Pengalaman iman yang mendalam itu dihayati oleh pribadi yang sederhana, jujur, pasrah beriman.
Lalu dengan berkat itu dia terlibat dalam hidup menggereja sebagai prodiakon. Sebuah pelayanan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Semakin melayani semakin merasa diberkati.
Apa yang dikatakan Tuhan Yesus itu sungguh terjadi, “Aku bersyukur kepadaMu ya Bapa Tuhan langit dan bumi! Sebab semuanya itu Kausembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Kaunyatakan kepada orang kecil”
Maka nasehat ini bisa kita renungkan, “Dadi wong iku bisaa rumangsa, aja rumangsa bisa”. Jadi orang itu bisalah mengukur diri, jangan merasa sok bisa.
Orang yang merasa bisa, malah tidak berbuat apa-apa bagi sesamanya. Tetapi orang kecil dipakai Allah untuk mencelikkan orang-orang yang merasa bisa.
Selamat merenungkan.
Masih larut dalam sukacita Perancis jadi juara Piala Dunia ? Tetapi jangan lupa besuk tetap misa pagi.
Berkah Dalem.
(Rm. A. Joko Purwanto Pr )
by editor | Jul 16, 2018 | Renungan
YESUS mengecam kota Khorazim, Betsaida dan Kapernaum. Di kota-kota itu banyak mukjijat Yesus terjadi, tetapi orang-orang tidak bertobat.
Bahkan Kapernaum disebut sebagai The City of Jesus karena karya dan pelayanan Yesus banyak terjadi di kota itu, toh mereka dikecam karena hanya kagum dan terpesona akan mukjijatNya namun tidak sampai percaya dan bertobat memperbaharui diri.
Kita juga sering kali mengalami perayaan-perayaan liturgi hari raya megah di gereja, tetapi tidak sampai mengubah orang untuk bertobat.
Malahan yang dikisahkan justru berapa banyak babi (maaf kadang ada anjing juga) dipotong untuk pesta, berapa botol bir harus disediakan.
Kadang orang hanya silau oleh hingar bingar pesta hari raya tetapi hatinya kosong tidak bertobat.
Orang-orang di Khorazim dan Betsaida sukacita akan mukjijat-mukjijat tetapi mereka tidak bertobat.
Sodom kota yang penduduknya bejat moralnya itu akan lebih ringan tanggungannya daripada orang yang melihat karya Yesus namun tidak bertobat.
Ayoo kita bertobat. Tidak ada kata terlambat. Yesus masih terus membuka tangan kalau kita datang kepadaNya.
Ingat kita harus menanggung perbuatan kita di akherat. Bertobat menjadi cara kita memperoleh keselamatan.
Selamat bagi pendukung Perancis. Anda kami undang ikut prosesi perayaan di sepanjang Champs Ellysse boulevard bersama Tim Ayam Jantan. Selamat dan ceria selalu.
(Rm. A. Joko Purwanto Pr)
by editor | Jul 15, 2018 | Renungan
NABI YESAYA mengingatkan bangsanya bahwa ibadat dan persembahan serta korban-korban bakaran tidak disukai Allah kalau perbuatan-perbuatan umat jauh dari keadilan dan kebenaran.
Apa artinya selebrasi ibadat yang megah mewah kalau aksi sosialnya kosong belaka.
Romo Vikep Semarang dalam talkshow dengan anak muda lintas iman menegaskan, “kita tidak boleh berhenti pada selebrasi doa di gereja saja, tetapi perlu ada edukasi dan aksi nyata bagi sesama”.
Aksi nyata itulah yang terwujud dalam tindakan keadilan, kasih dan solidaritas. Doa-doa kita tidak cukup kalau hanya berhenti pada selebrasi saja.
Yesus juga mengingatkan kita, bukan orang yang berseru “Tuhan, Tuhan” yang akan masuk Kerajaan Allah tetapi mereka yang melaksanakan sabdaKu.
Marilah kita menjadi pelaksana sabda, bukan hanya pendengar atau bahkan penonton doang.
Eh maaf malam ini kita harus jadi penonton final pildun. Jagoku Kroasia lho. Jagomu?
Selamat merenungkan.
Berkah Dalem.
(Rm. A. Joko Purwanto Pr)
by editor | Jul 14, 2018 | Renungan
DI akhir perayaan pentahbisan imam di Kentungan, Bapak Uskup mengutus romo-romo dan frater untuk ditugaskan di luar KAS.
Satu imam tugas study ke luar negri, satu imam tugas pastoral di Keuskupan Tanjung Karang dan satu frater tugas di Keuskupan Ketapang. (more…)
by editor | Jul 13, 2018 | Renungan
ISTILAH Jawa itu mau menggambarkan orangtua belajar dari anaknya. Biasanya terbalik.
Orang muda belajar dari orangtua. Murid belajar dari gurunya. Anak belajar dari bapaknya.
Tetapi situasi jaman now membuat anak mampu melebihi orangtuanya. Jaman internet membuat anak jaman now lebih hebat dari orangtuanya. Orangtua jaman sekarang sering dibilang “gaptek”. (more…)
by editor | Jul 12, 2018 | Renungan
ULAR dianggap binatang yang cerdik. Dalam Kitab Kejadian, manusia jatuh dalam dosa karena tipu daya dan kecerdikan si ular.
Merpati adalah binatang yang tulus. Merpati tak pernah ingkar janji. Merpati hidup berpasangan dan monogam.
Merpati juga ikut KB karena anaknya hanya dua. Hidupnya dicurahkan untuk kedua anaknya. Merpati lambang cinta yang tulus. (more…)