Puncta 28.07.18. Matius 13: 24-30. Becik Ketitik Ala Ketara.

PERANG Baratayuda tak terhindarkan. Kresna sebagai duta Pandawa minta kembalinya Negeri Astina ke pangkuan anak-anak Pandu gagal.Kurawa yang jahat dan tamak tetap ‘keukeh’ menduduki Astina.

Sebelum terjadi perang, Kresna membujuk Karna untuk kembali ke Pandawa karena mereka satu saudara sedarah daging keturunan Dewi Kunti.

Karna adalah putera sulung Kunti, kakak para Pandawa. Tetapi dia hidup bersama para Kurawa. Sebagai ksatria  Karna  konsisten , tetap pada pendiriannya membela Kurawa.

Dia mengambil posisi sebagai “urub-urubing obor” atau pengobar semangat bagi Duryudana. Kalau tidak demikian Duryudana tidak punya nyali maju berperang.

Kalau tidak jadi perang, maka orang jujur dan benar tidak akan bisa memusnahkan angkara murka. Karna seorang ksatria yang baik hidup di tengah ilalang keangkara-murkaan Kurawa.

Kebaikannya bersinar teguh di antara keburukan Kurawa. Pengorbanannya membuat Pandawa akhirnya menang dalam Baratayuda. Angkara murka (ilalang) musnah oleh kebenaran (gandum) para Pandawa. Becik ketitik ala ketara.Yang benar dan baik akan kelihatan pada akhirnya.

Dalam perumpamaan Injil hari ini Tuan yang menabur benih berkata,”biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai tiba.

Pada waktu itu aku akan berkata pada para penuai, “kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berkas-berkas untuk dibakar, kemudian kumpulkanlah gandumnya ke dalam lumbungku”.

Tuhan itu murah hati. Lalang dan gandum dibiarkan tumbuh bersama. Tetapi pada akhirnya lalang akan dibakar dan gandum akan dimasukkan ke dalam lumbung.

Kita tinggal memilih, mau menjadi lalang atau gandum, mau dibakar dalam api neraka atau masuk ke dalam lumbung Tuhan di surga. Tidak ada kata terlambat untuk menjadi gandum.

Marilah kita wujudkan. Selamat merenungkan.

Malam ini ada gerhana bulan total “Blood Moon” jam 00.13 yang hanya terjadi 100 tahun sekali. Mau lihat ?

Berkah Dalem.

(Rm. A. Joko Purwanto Pr)

Puncta 27.07.18. Matius 13:18-23. “Tak Tandur Pari Jebul Thukule Malah Suket Teki”.

YESUS menjelaskan arti perumpamaan tentang penabur. Ada 4 jenis tanah dimana benih ditaburkan.

1. Benih jatuh di pinggir jalan.

2. Benih jatuh di tanah berbatu-batu.

3. Benih jatuh di semak duri.

4. Benih jatuh di tanah yang baik.

Masing-masing tumbuh sesuai dengan jenis tanahnya. Yang di pinggir jalan diinjak orang dan dimakan burung.

Di tanah berbatu, tumbuh namun segera layu dan kering karena tak berakar. Di semak berduri, terhimpit hingga mati dan tidak berbuah.

Di tanah yang baik tentu berbuah, ada yang 100x lipat, ada yang 60x lipat dan 30x lipat.

Penabur adalah orang yang menaburkan firman Tuhan. Benih yang jatuh adalah firman Tuhan yang masuk ke hati manusia. Jenis tanah adalah setiap hati yang berbeda-beda.

Pertanyaannya, tanah macam apakah hati kita ini?

Benih itu bertumbuh kah di dalam hidup kita?

Buah-buah apakah yang kita hasilkan dari firman Tuhan itu?

Jangan-jangan Tuhan menyindir kita, “Tak tandur pari jebul thukule malah suket teki” (Kutanam padi tapi yang tumbuh malah rumput liar).

Selamat merenungkan.

Salam Obor Asian Games. Kita Indonesia.

(Rm. A. Joko Purwanto Pr)

Puncta 25.07.18. Matius 20:20-28. Aku datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani.

PERNYATAAN Yesus di atas merespon permintaan Ibu Yohanes dan Yakobus agar kelak anak-anaknya duduk di sebelah Yesus.

Agak kontras ketika Yesus menuju Yerusalem untuk menderita di salib justru murid-muridNya berebut soal duduk di kursi kekuasaan. Ada yang tidak nyambung.

Para murid belum paham bahwa kebesaran Kerajaan Allah diukur melalui pelayanan, bukan kedudukan, jabatan atau kuasa.

Melayani berasal dari kata “diakonein” melayani tuannya di meja makan. Menjadi pelayan berarti menjadi hamba atau budak pada jaman itu.

Budak hanya bekerja untuk melayani tanpa apresiasi, penghargaan atau bahkan tidak diberi ucapan terimakasih. Itu bukan haknya budak.

Dalam pandangan Kerajaan Allah justru pelayanan seperti hamba itulah yang dinilai tinggi. Bukan seperti pandangan dunia yang diminta Ibu Zebedeus tadi.

Kalau ingin jadi besar harus mau jadi pelayan. Kalau mau terkemuka harus mau jadi hamba. Intinya adalah sikap hidup melayani, mengutamakan orang lain.

Tanpa sadar kita sering menyebut pelayan Tuhan atau pelayan gereja. Tetapi sikapnya tidak mencerminkan itu.

Namun gayanya seperti “petinggi” yang minta dihormati, minta previlegi, marah kalau tidak disiapkan ini itu.

Martin Luther King Jr, pejuang anti diskriminasi di Amerika pernah berkata: “Setiap orang bisa menjadi besar karena setiap orang bisa melayani. Anda tidak perlu menjadi sarjana untuk melayani. Anda tidak perlu pandai berkotbah untuk bisa melayani. Anda tidak perlu belajar filsafat, mengenal Plato atau Aristoteles untuk bisa melayani. Anda hanya membutuhkan hati yang penuh kasih, jiwa yang digerakkan kasih untuk melayani” .

Selamat merenungkan.

Selamat mengiringi Obor Asian Games.

Gereja Katolik Indonesia, kata Mgr. Suharyo, mendukung penuh kegiatan Asian Games di Jakarta dan Palembang. Kita Indonesia.

Berkah Dalem.

(Rm. A. Joko Purwanto Pr)

Puncta 24.07.18. Matius 12:46-50. Siapakah Saudaraku?

SANTA TERESA dari Calcuta pernah mengatakan : “Kalau kita tidak bisa mengasihi manusia yang kelihatan, bagaimana kita bisa mengasihi Allah yang tidak kelihatan ?”

Waktu orang-orang berkata kepada Yesus, “lihatlah ibuMu dan saudara-saudaraMu ada di luar dan berusaha menemui Engkau”.

Yesus menjawab, “Siapakah ibuKu? Siapakah saudara-saudaraKu ? Lalu Yesus melanjutkan, “Siapapun yang melakukan kehendak BapaKu di surga, dialah saudaraKu, dialah saudariKu, dialah ibuKu”.

Yesus memperluas hubungan kekerabatan, bukan hanya berdasarkan hubungan darah, tetapi lebih luas daripada itu, yakni yang melakukan kehendak Bapa di surga.

Waktu kami bersilaturahmi ke rumah Pak Misbahul Munir, beliau cerita bahwa saling silaturahmi itu mempererat ukhuwah/persaudaraan.

Dalam Islam ada tiga ukhuwah: ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basariah.

Ukhuwah Islamiyah adalah persaudaraan sesama muslim. Ukhuwah wathaniyah adalah persaudaraan sesama warga bangsa. Ukhuwah basariah adalah persaudaraan sesama umat manusia di bumi ini.

Kalau kita menolong orang tanpa melihat apa agamamu, sukumu, etnismu atau rasmu, itu berarti orang sudah mencapai kerohanian yang tinggi.

Yesus menegaskan hal itu apapun yang kita lakukan kepada saudara-saudari kita tanpa memandang siapa dia, kita adalah satu saudara dalam Yesus.

Dalam Yesus kita bersaudara, itu lagunya. Saya jadi ingat pengalaman waktu di Ketapang. Waktu itu saya naik motor dari Ketapang ke Nanga Tayap lewat jalur Pelang.

Di tengah jalan dekat PT. Limpa, saya jatuh dan tangki motor pecah, bensin merembes tumpah.

Ada seorang bapak lewat naik motor menawarkan diri mendorong motor saya dengan satu kaki berpijak di pijakan kaki belakang.

Sambil jalan kami ngobrol. Saya memperkenalkan diri dan beliau menyebut nama dan mengaku sebagai Gusdurian, warga NU pengikut Gus Dur.

Saya ayem tenang menemukan saudara di perantauan. Itulah yang disebut ukhuwah basariyah. Nilai kemanusiaan yang membuat kita harus tolong menolong tanpa bertanya apa agamamu darimana asalmu.

Marilah saling menolong karena dengan itu kita menjadi saudara-saudara Yesus.

Selamat bagi saudara-saudara di Bali yang menyambut obor Asian Games, torang basudara bro.

Selamat merenungkan.

 

Berkah Dalem.

(Rm. A. Joko Purwanto Pr)

Puncta 21.07.18. Matius 12:14-21. Buluh yang terkulai tidak akan diputuskanNya.

DALAM Buku Menghidupi Teologi Berkah bersama Mgr. J. Pujasumarta, tertulis sharing pengalaman pada waktu Frater Trilaksyanta (nama Mgr. Puja waktu muda) menjadi sub-pamong di Seminari Mertoyudan.

Sosok frater sub-pamong yang ‘kebapakan’ dan peduli dirasakan para seminaris. Dia hadir tidak menimbulkan rasa takut, tetapi menyejukkan dan justru memberi rasa damai.

Ada dua seminaris pada waktu itu ketahuan malam-malam masih “ngebut” belajar di belakang WC.

Dengan diterangi lilin remang-remang, mereka ngumpet-ngumpet mempersiapkan ulangan bahasa Latin.

Kepada mereka Frater Trilaksyanta cuma bilang, “Kasihan matanya. Dilanjutkan besuk saja belajarnya. Kalau masih tetap sulit, saya beri ‘les tambahan’ deh !”

Pamong itu tidak menghukum atau memarahi tetapi membantu memberi solusi yang menenteramkan.

Itulah kata-kata Yesus dalam Injil hari ini, “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkanNya”.

Orang yang mengasihi tidak akan tega temannya jatuh dan patah atau pudar. Ia datang menguatkan, meneguhkan, membawa damai dan harapan sehingga teman bisa bangkit dan berjuang.

Marilah kita belajar berbelarasa. Jika ada teman yang salah, jangan kita ikut menyorakinya, mengejek atau berteriak “huuuuuuuuu”.

Mari kita mengaca diri kalau aku sedang di posisi dia, bagaimana perasaanku. Dengan begitu kita tidak akan mudah menghukum sesama.

Selamat merenungkan.

Masih mengikuti kirab obor Asian Games? Tetap Indonesia satu.

Berkah Dalem.

(Rm. A. Joko Purwanto Pr)

Puncta 19.07.18. Matius 11: 28-30. Datanglah kepadaKu.

KETIKA AHOK jadi gubernur DKI tiap pagi dia menemui warga masyarakat yang datang di Balaikota Jakarta untuk mengadukan berbagai persoalan hidup masyarakat.

Tak perlu menunggu waktu lama masalah warga bisa diselesaikan. Warga datang dengan harapan agar beban hidupnya bisa diringankan dan dibereskan oleh pimpinan daerahnya.

Mereka merasa senang karena Ahok bisa memberikan solusi bagi beban hidup mereka. Yesus hari ini berkata, “datanglah kepadaKu kalian yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu”.

Yesus meminta kita datang kepadaNya. Apapun yang menjadi persoalan hidup kita, Dia akan meringankan beban dan kelesuan kita.

Kita bersyukur karena punya Yesus yang jadi tujuan harapan kita. Mari kita datang kepadaNya.

Selamat merenungkan.

Berkah Dalem.

(Rm. A. Joko Purwanto Pr)