by editor | May 26, 2021 | Renungan
“Iman Yang Kuat”
BIMASENA seorang ksatria yang gagah dan teguh pendiriannya. Kalau punya niat, ia berusaha sekuat tenaga sampai tercapai. Ia ingin memahami ilmu kesempurnaan hidup yang disebut “Banyu Suci Perwitasari.” Ia berguru kepada Pandita Dorna.
Sang guru menunjukkan bahwa ilmu itu harus dicari tempatnya di tengah hutan Tikbrasara. Di situ ada dua raksasa yang menghadang menghalangi niat Bima, Rukmuka dan Rukmakala. Bima berperang melawan mereka dan menang.
Banyu suci perwita sari ternyata tidak ada di hutan. Dorna sekali lagi menyuruh Bima terjun ke dalam samudra. Maka perjalanan dilanjutkan ke dasar samudra. Dalam samudra ia harus bertarung dengan naga dan Bima berhasil membunuhnya.
Setelah melampaui berbagai rintangan, akhirnya Bima berjumpa dengan Dewaruci, yang persis dengan dirinya namun dalam ukuran kecil.
Bima melihat seluruh isi semesta alam. Ia berjumpa dengan Tuhan dan mengalami kehidupan sejati.
Peristiwa Bartimeus bisa diibaratkan perjalanan orang mencari Tuhan. Seperti Bima harus masuk ke hutan (dunia gelap) agar bisa membunuh kenikmatan dan kemuliaan diri yang diwujudkan dua raksasa.
Ia juga harus masuk samudra (pangaksama, pengampunan) dan mengalahkan naga (kejahatan/setan).
Bartimeus itu harus mengalahkan kejahatan yang ada di dalam dirinya sendiri (menanggalkan jubahnya), menghadapi rintangan (orang-orang yang menegur) dan mengampuni mereka yang meremehkannya, serta mendengarkan suara Tuhan. Kalau demikian, barulah ia dapat melihat kemuliaan Tuhan.
Iman itu memberi kekuatan untuk menghadapi rintangan, mengalahkan kejahatan dan mendengarkan suara Tuhan. “Imanmu telah menyelamatkan dikau.”
Tetapi iman tidak berhenti di situ. Iman mendorong dia untuk mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Mengikuti itu aktif. Iman yang hidup berarti iman yang aktif menjadi murid Yesus. Ia mengikuti perkataan, perbuatan dan ajaran Yesus di dalam pergolakan hidup ini.
Beli baju warna merah delima.
Topi biru dipakai untuk menutup kepala.
Ikut Yesus harus terbuka mata.
Mengikuti jalan salib dan memanggulnya.
Cawas, jaga kesehatan dan tetap semangat…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | May 25, 2021 | Renungan
“Bisaa Rumangsa. Aja Rumangsa Bisa”
HIRUK pikuk suasana di Kerajaan Mantili. Banyak raja, putra mahkota, pangeran, ksatria dan bupati mengikuti sayembara. Barangispa bisa mematahkan busur atau gandewa kerajaan akan diperkenankan mempersunting Puteri Mantili yakni Dewi Sinta.
Para raja dengan pongah saling berebut. Dengan sombong mereka merasa paling bisa memenangkan sayembara. Satu per satu mereka gagal tak ada hasil. Bahkan mengangkat busur pun tak ada yang bisa.
Rama dan Laksmana dengan tenang memperhatikan semuanya. Ketika giliran orang terakhir turun gelanggang tanpa hasil, Rama maju ke depan. Ia memberi hormat dengan taksim. Ia berlutut dan berdoa kepada Yang Kuasa. Tanpa banyak kata, ia mengambil busur, mengangkat dan menariknya sampai putus menjadi dua.
Sorak-sorai rakyat Mantili bergemuruh. Ia turun dengan sopan dan menghaturkan sembah kepada Raja Janaka.
Yesus dan para murid pergi ke Yerusalem. Ia berbicara tentang memanggul salib. Para murid takut dan merasa cemas. Sedang Ia menubuatkan tentang penderitaan-Nya, dua murid-Nya memohon – sedikit memaksa – agar diberi kedudukan.
“Guru, kami harap Engkau mengabulkan permohonan kami. Perkenankanlah kami ini duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri-Mu.”
Yesus mengajukan syarat, “Sanggupkah kalian meminum piala yang harus Kuminum? Dan dibaptis dengan pembaptisan yang harus Kuterima?”
Mereka menjawab, “Kami sanggup.”
Ada ungkapan yang bagus; kita ini sering “rumangsa bisa, nanging ora bisa rumangsa.” Kita ini sering merasa bisa, merasa mampu, merasa paling benar, tetapi tidak mau dianggap tidak bisa. Agak sulit menterjemahkan istilah itu. Intinya orang merasa paling bisa atau paling benar.
Seperti kedua murid itu merasa bisa, sanggup meminum piala dan baptisan Yesus.
Hendaknya kita ini “bisaa rumangsa, ning aja rumangsa bisa.”
Hendaklah kita bisa bertindak benar, namun jangan merasa diri paling benar.
Ada perbedaan antara orang benar dan orang yang merasa diri paling benar.
Orang benar tidak akan berpikir bahwa dialah yang paling benar. Sebaliknya orang yang merasa diri benar akan berpikir hanya dia saja yang paling benar.
Orang benar bisa menyadari kesalahannya. Orang yang merasa diri benar tidak perlu mengaku salah. Orang benar akan introspeksi diri dan bersikap rendah hati. Orang yang merasa diri benar tidak butuh instrospeksi diri dan cenderung tinggi hati.
Orang benar punya kelembutan hati dan menerima masukan, kritik dari orang lain. Bahkan dari orang kecil atau sederhana sekalipun. Sedang orang yang merasa diri benar, hatinya keras membatu, sulit menerima nasehat, masukan atau kritik.
Orang benar akan selalu menjaga sikap, perilaku dan tutur katanya agar tidak melukai orang lain. Sikap hati-hati dan tepa slira dijunjung tinggi. Orang yang merasa diri benar bertindak semaunya sendiri tanpa pertimbangan matang, tidak peduli perasaan orang lain.
Orang benar akan dihormati, disegani banyak orang. Sedangkan orang yang merasa diri benar akan disegani oleh kelompoknya sendiri yang pikirannya sempit.
Orang yang merasa diri paling benar akan jatuh oleh tutur kata, tindak tanduk dan sikapnya sendiri. “Wong iku bakal ngundhuh wohing pakarti.” Orang akan memetik hasil dari apa yang ditanamnya sendiri.
“becik ketitik, ala ketara”
Kalau kita berbuat baik, hidup akan bahagia.
Cawas, jagalah sopan santun….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | May 24, 2021 | Renungan
“Menemukan Banyak Saudara”
“ROMO, jangan sungkan-sungkan ya kalau pergi ke Ponti, singgah ke rumah. Kapan saja pintu selalu terbuka. Rumah kami welcome untuk romo.” Begitu sambutan hangat keluarga menerima kedatangan kami.
Semua keperluan sudah disediakan. Mau istirahat ada kamar nyaman, mau pergi-pergi sudah ada mobil, mau makan minum semua tersedia di kamar makan.
Menjadi imam itu menghayati semangat kemiskinan, meninggalkan segala-galanya. Kendati kami tidak punya kendaraan, tetapi bisa naik mobil bagus. Kendati tidak punya rumah, tetapi bisa tinggal dimana saja. Kendati tak punya istri, semua kebutuhan sudah tersedia. Berani meninggalkan keluarga untuk diutus, dimana-mana ada saudara yang menerima.
Pada awal tugas di Ketapang dulu, rasanya gamang. Tidak punya keluarga atau siapa-siapa yang dikenal. Tempat baru, semua serba baru, tidak tahu apa-apa.
Namun setelah terjun menjalani perutusan, Tuhan menyediakan semuanya. Bahkan berkelimpahan. Tuhan memberi banyak saudara dan keluarga. Tuhan menyediakan banyak fasilitas. Semua dipermudah oleh Tuhan.
Paroki tidak punya mobil, tapi umat siap mengantar kemana saja. Jika turne ke stasi-stasi, umat berebut untuk disinggahi dan menyiapkan kamar untuk menginap.
Kalau sedang beruntung bisa makan babi hutan atau durian lezat. Kalau romo suka minum, sudah tersedia tuak yang paling enak. Tidak itu saja, romo balik ke pastoran masih diberi banyak persembahan macam-macam. Serba berkelimpahan.
Apa yang disabdakan Yesus bagi para murid itu sungguh benar, “Barangsiapa meninggalkan rumah, saudara-saudari, ibu atau bapa, anak-anak atau ladangnya, pada masa ini juga ia akan menerima kembali seratus kali lipat; rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak-anak dan ladang.”
Ketika kita berani melepaskan, akan mendapat. Kalau kita berani memberi, akan menerima. Ketika kita berani berkorban, akan dicintai, berani menderita akan bahagia. Berani mati akan memperoleh hidup kekal.
Jangan pernah merasa kawatir, hidup kita sudah dijamin oleh Tuhan. Beranikah kita lepas bebas dan mengikuti Yesus?
Pergi ke sungai untuk mencari ikan.
Yang paling enak adalah ikan semah.
Tuhan tidak membiarkan kita kekurangan.
Asal kita “gelem obah, mesti bakal mamah.”
Cawas, jangan takut….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | May 24, 2021 | Renungan
“Ibu, inilah anakmu!”
SETELAH Kresna memberitahu Kunti bahwa perang darah Barata tak terelakkan lagi, hancur luluh hati Kunti. Ia tahu akan terjadi perang antar saudara sekandung. Karna di pihak Kurawa dan Arjuna di pihak Pandawa.
Karna sejatinya adalah anaknya sendiri sama seperti para Pandawa. Ia terkenang ketika masih perawan, saat belum menikah dengan Pandu. Ia coba-coba memakai “aji Kunta wekasing rasa sabda tunggal tanpa lawan” untuk mengundang dewa.
Dewa Surya datang dan tak perlu dikisahkan, tiba-tiba Kunti hamil. Anak ini diberi nama Karna Basusena, dibuang di sungai Gangga dan ditemu oleh Adirata. Karna kemudian tinggal dan hidup di pihak Kurawa yang jahat.
Setelah itu lahirlah para Pandawa dari Kunti dan Madrim.
Pandawa diasuh oleh Kunti, sedang Karna berada di pihak musuh yakni para Kurawa. Ketika dewasa mereka hidup berseberangan. Karna membela Kurawa yang memusuhi Pandawa.
Kresna mengingatkan Karna untuk kembali bergabung ke Pandawa. Tetapi tidak digubrisnya. Kunti juga berusaha merayu dan menyadarkan Karna, bahwa ia adalah darah daging sendiri.
Karna berkata, “seorang ibu itu tidak hanya melahirkan, tetapi juga menyusui dan membesarkan anaknya. Kunti bukan seorang ibu karena dia hanya melahirkan, namun tidak memelihara. Ibuku adalah dia yang membesarkanku.”
Akhirnya Karna lari meninggalkan Kunti dan berperang melawan adik-adiknya sendiri.
Berbeda dengan Karna, Yohanes menerima Maria sebagai ibunya menggantikan Yesus yang tergantung di kayu salib. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, “Inilah ibumu.” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.
Yesus pernah bersabda, “Sebab siapapun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.”
Saudara tidak hanya ditentukan oleh garis hubungan darah, kelahiran, tetapi mereka yang melakukan kehendak Bapa di sorga.
Sehari setelah Hari Raya Pentakosta, dimana gereja lahir, Maria diangkat sebagai Bunda Gereja. Gereja yang diwakili oleh Yohanes diserahkan pemeliharaannya kepada Maria. Kita adalah anak-anak Maria karena Yesus mempercayakan murid-Nya kepada ibu-Nya.
“Ibu, inilah anakmu! Ini ibumu.” Sabda Yesus itu jelas, Maria menjadi ibu orang beriman, yaitu gereja. Dan kita semua adalah putera-puteri Maria.
Marilah kita hidup seturut teladan Maria, tetap setia dan rendah hati sebagai hamba.
Mawar merah warnanya.
Mawar biru itu judul lagu.
Kesucianmu ya Bunda Maria.
Jadi teladan dan jalan hidupku.
Cawas, ya Maria lindungilah…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | May 22, 2021 | Renungan
“Bahasa Roh Bahasa Persatuan”
KETIKA melayani umat di pedalaman Kalimantan, saya kagum sekaligus terheran-heran. Ada begitu banyak bahasa dengan logat daerah yang berbeda-beda. Ada banyak sekali logat bahasa Dayak.
Masing-masing daerah punya logat dan dialeknya. Ada Dayak Jelai, Dayak Pesaguhan, Dayak Kayong, Dayak Gerunggang, Dayak Simpank, Dayak Kualant, dan seterusnya. Itu baru di satu kabupaten. Belum di seluruh Kalimantan yang luasnya empat kali Pulau Jawa.
Belum lagi di pulau-pulau lain seperti Sumatera, Sulawesi, Papua, Nusa Tenggara. Indonesia sungguh sangat kaya budayanya.
Maka dengan adanya Bahasa Indonesia, semua orang bisa mengerti dan memahami satu dengan yang lain. Dengan Bahasa Indonesia, saya orang Jawa bisa berhubungan dengan siapa pun warga dari aneka adat budaya.
Begitu pun Orang Bugis bisa memahami orang Flores. Orang Papua bisa mengerti orang Aceh. Orang Minang bisa kenal orang Toraja. Orang Bali bisa berelasi dengan orang Sunda. Bahasa Indonesia bisa menyatukan kita sebagai satu saudara.
Pentakosta adalah peristiwa turunnya Roh Kudus yang menyatukan banyak orang dari aneka daerah atau wilayah. Rasul-rasul itu karena tuntunan Roh Kudus bisa berbicara dengan bahasa mereka yang berasal dari aneka daerah.
Ada orang Partia, Media, Elam, Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah Libya, juga pendatang dari Roma, orang Kreta, bahkan juga orang Arab.
Roh Kudus membuat orang-orang itu mengerti pesan yang disampaikan para rasul. Bahasa Roh adalah bahasa yang menyatukan. Semua orang bisa mengerti tentang perbuatan-perbuatan besar Allah bagi manusia.
Menurut Paulus buah-buah Roh itu nyata seperti kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, sikap lemah lembut dan penguasaan diri.
Jika kita diberi karunia Roh, apakah buah-buah itu nyata ada dalam hidup kita? Apakah sikap dan tindakan kita sungguh didasari oleh kasih, kesabaran, kelembutan dan buah Roh lainnya?
Gunung Merapi kadang-kadang meletus.
Keluarkan awan panas pasir dan batu.
Datanglah ya Roh yang mahakudus.
Sucikanlah hatiku dan kuduskanlah jiwaku.
Cawas, semangat Pentakosta…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | May 22, 2021 | Renungan
“Argentum Ad Nausem”
UNTUK mengalahkan Pandita Dorna yang menjadi senopati Kurawa, Kresna membuat narasi bohong. Ia minta kepada para Pandawa untuk menyebarkan berita bahwa Aswatama mati. Aswatama adalah anak Pandita Dorna. Padahal yang mati adalah seekor gajah bernama Estitama.
Berita bohong itu harus dikumandangkan terus menerus dan berulang-ulang oleh semua prajurit di segala penjuru medan Kurusetra.
Dorna termakan berita bohong itu. Ia putus asa karena anak satu-satunya telah mati. Karena sudah tak punya daya dan harapan, dengan mudah Dorna dipenggal kepalanya oleh Trustajumena. Gugurlah guru dan senopati Kurawa itu.
Paul Yoseph Goebbels adalah menteri propaganda Nazi. Dialah yang mencetuskan teknik propaganda modern. Teknik jitu hasil kepiawaiannya diberi nama Argentum ad nausem atau lebih dikenal sebagai teknik Big Lie (kebohongan besar).
Prinsip dari tekniknya itu adalah menyebarluaskan berita bohong melalui media massa sebanyak mungkin dan sesering mungkin hingga kemudian kebohongan tersebut dianggap sebagai suatu kebenaran.
Beberapa hari ini kita disuguhi berita pertempuran Israel dan Palestina. Ada sekelompok orang yang menggiring opini bahwa itu adalah perang agama. Gambar dan pesan dibuat sedemikian agar orang percaya bahwa itu perang agama.
Padahal mereka berperang karena perebutan wilayah. Ini perang kemerdekaan. Kita mendukung perjuangan rakyat Palestina untuk merdeka, tetapi jangan diputarbalikkan seolah-olah ini perang agama.
Dalam kutipan Injil terakhir Yohanes ini juga terjadi salah persepsi karena salah menangkap pesan. Ketika Petrus bertanya tentang nasib murid yang dikasihi, Yesus berkata, “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu.”
Pesan ini ditangkap keliru oleh banyak orang. Maka tersebarlah kabar di antara saudara-saudara itu, bahwa murid itu tidak akan mati. Tetapi Yesus tidak mengatakan kepada Petrus, bahwa murid itu tidak akan mati, melainkan, “Jikalau Aku menghendaki supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu.”
Yohanes mencatat semuanya itu dalam Injilnya. Dan segala yang ditulisnya adalah kebenaran, bukan kebohongan.
“Dialah murid yang memberi kesaksian tentang semuanya ini, dan yang telah menuliskannya; dan kita tahu, bahwa kesaksiannya itu benar.
Mari kita punya logika yang cerdas, jangan mudah dibohongi. Kalau kita memiliki kebenaran, maka kita akan diselamatkan.
Ke pasar membeli kue lapis.
Diberi bonus tempe benguk.
Marilah kita berpikir logis kritis.
Jangan mudah ditipu para cecunguk.
Cawas, jernih berpikir waras…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr