by editor | Apr 18, 2021 | Renungan
“Motivasi Mengikuti Dia”
“Le, iki turahan dhahare romo ditelaske, besuk yen gedhe ben dadi romo.” (Nak, ini makanan sisanya Romo, kamu habiskan biar besuk bisa jadi Romo), kata ibu sambil menyodorkan piring kepada saya.
Tiga bulan sekali ibu saya mendapat jatah untuk “caos dhahar romo” di kapel Somokaton. Itu adalah saat yang menyenangkan karena pasti kita akan makan enak. Ibu saya pasti masak yang enak-enak untuk romo. Bapak akan menyembelih ayam.
Biasanya makan telur hanya kalau ada tetangga kenduri. Itu pun bukan telur utuh. Tetapi setengah telur masih harus dibagi bertiga dengan adik-adik saya.
Dan lagi sebagai anak sulung saya tidak boleh ambil duluan. Harus yang terakhir, biar adik-adik dulu yang memilih.
Momen caos dhahar romo itulah saat makan enak. Pikir saya waktu itu, ”Senang juga ya jadi romo, makannya enak-enak.” Lalu terbersit keinginan jadi romo. Motivasi awal yang sangat infantilis, kekanak-kanakan!!!
Dalam Injil dikisahkan, setelah mukjijat penggandaan roti, banyak orang mencari Yesus. Mereka ingin mengikuti-Nya karena sudah makan kenyang.
“Sesungguhnya kamu mencari Aku bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.”
Pesan Yesus yang penting adalah, “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu.”
Saya pernah ditanya oleh seorang umat, “Berapa gajinya romo?” Saya hanya menjawab, “Saya tidak punya gaji, tetapi saya dipelihara Tuhan.”
Dalam perjalanan waktu, mengikuti Yesus bukan soal enak-enak, tetapi berjuang untuk terus setia, karena Dia selalu setia.
Saya kadang mengalami kesulitan, jatuh bangun, gagal, tidak setia. Tetapi syukur dan untunglah, Dia tetap setia mengasihi.
Mensyukuri kesetiaan Tuhan yang selalu mengampuni dan membimbing itulah yang kini menjadi motivasi hidup saya. Lalu, apa motivasimu mengikuti Yesus?
Bunga mawar bunga melati.
Yang wangi bunga kenanga.
Syukurilah selalu hidup ini.
Karena Tuhan Yesus selalu setia.
Cawas, hati yang gembira….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Apr 17, 2021 | Renungan
“Kamu Adalah Saksi-Ku”
GEORGE Foreman adalah petinju besar yang sepantaran dengan Mohamad Ali, Joe Frazier dan Ken Norton. Dari anak jalanan yang nakal, ia menemukan talenta bertinju di sekolahnya.
Puncak kariernya melejit saat ia mengalahkan Joe Frazier tahun 1973. Ia menjadi juara dunia kelas berat sebanyak dua kali.
Namun setahun kemudian dia terjungkal di ring tinju saat dipukul KO Mohamad Ali dalam pertarungan bertajuk “Rumble in the Jungle” di Zaire, Kongo Oktober 1974.
Ia memburu dan memukul Ali dengan membabi buta. Ali hanya bertahan di ring tinju. Ketika tahu Foreman sudah kelelahan, pada ronde ke delapan, Ali melancarkan jab dan serangan balik yang menjatuhkan Foreman. Juara dunia itu tersungkur KO.
Sejenak Foreman tak sadarkan diri di kamar ganti. Ia bercerita, seperti ada tangan perkasa yang menangkapnya. “Itulah tangan Yesus yang menarik saya untuk suatu pelayanan.” Katanya setelah sadar.
Ia kemudian pensiun dari dunia tinju dan menjalankan misinya. Ia mewartakan dan berkotbah tentang Yesus Kristus di kotanya di Houston, Texas sampai sekarang.
Seperti George Foreman yang jatuh bangun, para murid itu juga sering gagal memahami kebangkitan Yesus.
Mereka takut, ragu-ragu, tidak percaya ketika Yesus menampakkan diri. Yesus harus membimbing dan meyakinkan mereka bahwa Ia hidup.
Dan kini Yesus menyuruh mereka mewartakan berita pertobatan dan pengampunan dosa kepada segala bangsa.
“Mesias harus menderita, dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga. Dan lagi, dalam Nama-Nya, berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semua ini.”
Kendati iman kita belum sempurna, sering gagal dan jatuh bangun, namun Yesus meminta kita untuk bersaksi. Kita diutus mewartakan semangat pertobatan dan kasih Allah yang selalu mengampuni. Siapkah kita menerima perutusan-Nya?
Saya divaksin yang kedua,
Makin sehat dan bahagia.
Walau kita tidak sempurna,
Yesus mengutus kita jadi duta cinta.
Cawas, mari bersaksi…
Rm. Alexandre Joko Purwanto,Pr
by editor | Apr 16, 2021 | Renungan
“Melihat Hantu”
ACARA penerimaan jubah baru selesai. Frater Bambang, sebut saja namanya begitu, menggantung jubah barunya di pintu.
Kamar frater itu berukuran 3×4 meter. Di situ ada tempat tidur, almari kecil, rak buku dan meja belajar. Kamar mandi ada di ujung unit berjejer menjadi satu dengan unit yang lain. Kalau mau mandi atau mencuci harus keluar kamar, melewati lorong-lorong unit.
Malam pertama penjubahan itu Frater Bambang tidur nyenyak saking bahagianya sudah dipanggil “romo muda.” Tengah malam gelap ia terbangun mau ke kamar mandi.
Ia terkejut setengah mati karena melihat hantu putih di kamarnya. Matanya diusap-usap siapa tahu hanya bayangan saja. Hantu itu makin jelas.
Ia mulai ketakutan. Ia berlutut “dremimil” berdoa Salam Maria. Tetapi hantu itu tidak bergeming. Malah ia melihat seolah hantu itu terbang, kakinya tidak menyentuh di tanah.
Ia ketakutan sampai basah celananya. Karena tak tahan menahan kencing, ia meraba-raba sandalnya dan dilemparkan ke arah sang hantu. “Glodak…..” suaranya keras. Jubah putih dan hangernya jatuh ke lantai.
Ia terduduk di lantai menyadari kebodohannya. Ia lupa, ternyata jubah putih tergantung itu yang membuatnya takut sampai terkencing-kencing.
Ketika hari sudah mulai malam, para murid naik perahu menyeberang ke Kapernaum. Ketika hari gelap, Yesus belum datang. Laut bergelora karena angin kencang.
Dalam situasi yang parah itu, Yesus datang berjalan di atas air. Mereka ketakutan. Mungkin mereka mengira ada hantu datang.
Tetapi Yesus berkata, “Ini Aku, jangan takut.” Lalu mereka mempersilahkan Yesus naik ke perahu, dan mereka sampai tujuan dengan selamat.
Di tengah perjalanan hidup, pasti kita pernah mengalami kesulitan. Kita takut, sedih, cemas dan putus asa. Dalam gejolak seperti itu, kita perlu mendengarkan sabda Tuhan, “Jangan takut.”
Tidak cukup hanya mendengarkan, tetapi mempersilahkan Tuhan masuk ke bahtera kita. Jika Tuhan bersama kita, seberapa besar badai hidup kita, pasti dapat dilalui. Maukah kita mengundang Tuhan?
Jubah putih bikin gelisah.
Dikira melihat hantu.
Kalau hidup kita susah.
Hadirkan Tuhan bersamamu.
Cawas, selalu bersyukur….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Apr 15, 2021 | Renungan
“Jangan Ada Yang Terbuang,” Menghargai Orang Kecil.
“YEN mangan kudu resik, ora kena sisa, mengko mundhak pitike mati.” Itu adalah nasehat orang-orang tua kepada anaknya. “Kalau makan harus bersih, tidak ada sisa, nanti ayamnya mati.”
Tentu saja saya waktu itu tidak tahu apa hubungannya makan tidak habis dengan ayam yang mati. Saya menuruti saja yang disampaikan orangtua.
Sejak kecil saya dididik orangtua untuk menghargai sebiji nasi yang ada di piring.
Kalau kita makan, orangtua selalu menasehatkan agar apa yang sudah diambil di piring dihabiskan.
Tidak boleh ada yang dibuang sedikit pun. Setiap kali makan, piring harus bersih, tak boleh ada nasi berceceran.
Setelah bisa berpikir, nasehat orangtua itu banyak manfaatnya. Kita diajak menghargai rejeki pemberian Tuhan. Kita juga menghargai jerih payah orangtua yang bekerja keras agar keluarga bisa makan.
Selain itu kita juga belajar “ngukur” kemampuan diri. Kalau kita hanya bisa makan sedikit, jangan mengambil banyak-banyak, karena nanti hanya dibuang. Mengambil makanan seperlunya saja.
Paus Fransiskus pernah bilang, “Membuang makanan berarti kita merampas hak orang miskin.” Itulah sebabnya jangan sampai ada makanan yang dibuang sia-sia.
Yesus mempergandakan lima roti dan dua ikan dari seorang anak kecil. Bagi para murid lima roti dan dua ikan apalah artinya bagi sekian ribu orang. Tetapi jika yang sedikit itu disyukuri pastilah akan cukup bagi banyak orang.
Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikan kepada mereka semua.
Bila kita mampu bersyukur, maka akan cukup, bahkan bisa lebih. Maka Yesus berkata, “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih, supaya tidak ada yang terbuang.”
Mari kita menghargai dan mensyukuri rejeki pemberian Tuhan. Janganlah boros dengan membuang makanan.
Masih ada banyak saudara kita yang tidak bisa makan. Kalau kita membuang makanan berarti kita tidak punya rasa syukur dan belarasa terhadap mereka yang kelaparan.
Pagi-pagi makan bubur,
Bubur babi di jalan supratman.
Kalau kita punya rasa syukur,
Hidup kita akan berkelimpahan.
Cawas, marilah bersyukur….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Apr 14, 2021 | Renungan
“Lebah dan Lalat”
PERNAHKAH anda memperhatikan naluri kedua serangga ini? Mata lebah akan selalu mencari bunga yang indah walau ia berada di tempat yang kotor.
Sedang lalat akan fokus pada kotoran walau di situ ada bunga yang indah.
Lebah fokus pada bunga yang indah agar menghasilkan madu yang manis.
Sedang lalat tertarik pada kotoran dan membawa kuman serta penyakit.
Lebah hidup dalam komunitas. Mereka kompak bekerja sama. Mereka punya tata aturan dan hirarki yang rapi.
Sedangkan lalat lebih individualistis dan mencari makan sendiri-sendiri.
Yohanes Pembaptis bersaksi tentang Yesus kepada murid-murid-Nya, “Siapa yang datang dari atas ada di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi. Siapa yang datang dari surga ada di atas semuanya.”
Yesus itu seperti lebah. Ia mencari bunga yang indah dan menghasilkan madu yang manis. Ia mewartakan yang baik dan menghasilkan keselamatan.
Yesus datang dari surga dan memberi kesaksian tentang hal-hal yang baik.
Barangsiapa memelihara lebah, ia akan memperoleh madu. “Barangsiapa percaya pada Anak, ia beroleh hidup yang kekal.”
Beda dengan lalat. Ia lebih tertarik pada yang kotor walau di situ ada bunga indah.
“Siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi.”
Walau ada yang indah dari surga, tetapi manusia yang nalurinya seperti lalat tetap berada di bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi.
Lalat tidak akan dipelihara seperti lebah. Ia akan dipukul dan mati.
“Barangsiapa tidak taat pada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.”
Kalau anda mau hidup, pilihlah cara hidup lebah. Kalau anda ingin melihat hidup, percayalah kepada Yesus Anak Allah.
Hiduplah berkomunitas seperti lebah. Hiduplah dalam paguyuban gereja agar tidak terpisah.
Jadilah lebah penghasil madu yang manis. Jadilah anak Allah agar hidupmu tetap romantis dan kebaikanmu tak pernah habis.
Pilihlah lebah karena kita adalah anak Allah.
Jangan memilih lalat karena kelakuannya jahat.
Cawas, tetap setia….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Apr 14, 2021 | Renungan
“A Story of Father’s Love”
Kisah nyata ini terjadi tahun 1938. John L.Griffith Sr. adalah penjaga jembatan Sungai Mississippi. Ia bertugas mengangkat tuas supaya kapal bisa lewat, dan menurunkannya agar jembatan turun dan kereta api bisa melintas. Waktu bertugas ia mengajak Lajo, anaknya yang sangat dia sayangi.
John berada di pos kontrol. Telpon berbunyi, mengabarkan bahwa sebuah kapal akan lewat. John menaikkan jembatan.
Tidak lama dari kejauhan Lajo melihat datangnya kereta api. Ia berteriak-teriak memanggil ayahnya. Namun John tidak mendengar.
Kereta api makin mendekat. Lajo berusaha menarik tuas yang ada di bawah jembatan. Malang, ia terpeleset dan jatuh.
John terperanjat ketika tahu Kereta Expres dari Memphis melaju kencang. Ia berada dalam suatu dilema.
Menarik tuas untuk menyelamatkan 400 penumpang di dalam kereta, tetapi ia harus mengorbankan anaknya mati tertindih jembatan. Pilihan yang sulit.
Pada detik-detik terakhir, dengan tangannya yang gemetar, ia menarik tuas. Jembatan itu turun menindih anaknya. Kereta api itu melaju aman di atasnya dan semua penumpangnya diselamatkan.
Yesus berkata kepada Nikodemus, “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Allah mengutus Putera-Nya untuk menyelamatkan dunia. Seperti John mengorbankan anaknya yang dikasihi untuk menyelamatkan para penumpang kereta api, demikianlah Allah mengorbankan Yesus untuk menebus dosa-dosa manusia.
Kita ini seperti para penumpang kereta; mereka adalah orang-orang yang kesepian, kecanduan, egois, dikuasai amarah, hawa nafsu, ketegaran hati.
Mereka adalah orang yang hidup dalam kegelapan. Yesus datang sebagai terang yang menghalau gelap.
Ia mati untuk menyelamatkan kita yang berdosa. Itulah wujud kasih Allah yang paling besar. Putera-Nya sendiri dikurbankan bagi kita.
Marilah kita syukuri hidup ini, karena hidup kita ini sangat berharga di mata Tuhan. Sedemikian Ia mengasihi kita, sampai Anak-Nya sendiri mati untuk kita.
Janganlah sia-siakan waktu hidup kita ini.
Tengak-tengok angka tanggalan.
Hitung-hitung angka merahnya.
Hidup kita berharga di mata Tuhan.
Ia kurbankan Anak-Nya untuk kita.
Cawas, ngemong, momong, mbopong……
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr