Puncta 24.12.20 / Lukas 1:67-79 / Dream Of Me

 

It’s hard to be away from the one you love. And the day seemed slowly drifting by.
But my darling I’d be home in your arms were I belong
So I’m sending you this poem from my heart.
Dream of me when you’re lonely. Dream of me when you’re sad
‘Cause darling I want you only. You’re the nicest, nicest love I’ve ever had.

Lagu Mac & Katty Kisson itu dinyanyikan oleh tapol di barak Savana Jaya dengan gitar tuanya. Lagu itu menggambarkan kerinduannya kepada keluarga, rumah dan sanak-saudaranya di Jawa yang telah ditinggalkan puluhan tahun. Ia bersama ribuan orang ditangkap dan dibuang di Pulau Buru pada akhir 1969. Mereka dituduh tanpa diadili sebelumnya. Mereka dianggap ikut terlibat dalam kudeta partai terlarang tahun 1965.

Penyiksaan dan penderitaan baik fisik maupun mental mereka alami di barak-barak penahanan. Kerja paksa membangun bendungan, jalan, membuka hutan belantara menjadi ladang dan persawahan mereka kerjakan tiap hari. Ada banyak yang mati di pulau pembuangan itu.
Rindu akan pembebasan itulah yang mereka jalani. Rindu menjadi manusia merdeka tanpa embel-embel yang membelunggu. Cap dan stigmatisasi sebagai ET adalah penjara seumur hidup. Mereka seperti orang kusta yang dijauhi masyarakat.

Tanggal 15 November 1978 para tapol ini dikumpulkan di lapangan Desa Savana Jaya. Ada pengumuman bahwa mereka dibebaskan dari tahanan. Kebebasan itu ternyata tidak semudah yang dihadapi.

Kembali dari keterasingan ke bumi beradab. Ternyata lebih menyakitkan dari derita panjang. Itulah yang disuarakan Ebiet G Ade dalam lagu “Kalian Dengarkan Keluhanku.”

Mimpi tentang kebebasan itu hanya mereka simpan sendiri. Mereka hanya berharap suatu saat nanti akan ada pembersihan diri dan pemulihan nama baik. Mereka seperti burung di dalam sangkar yang ingin dibebaskan. Terbang merdeka melintasi langit biru. Bebas menjadi manusia merdeka, keluar dari belenggu itulah mimpinya.

Suasana pembebasan itulah yang nampak dari kidung Zakharia. Allah telah datang mengunjungi dan membebaskan umat-Nya dari belenggu dosa. Allah melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua lawan yang membenci kita. Ia datang untuk menyinari kita yang diam dalam lembah kegelapan dan mengarahkan kita menuju damai sejahtera.

Yohanes datang untuk mempersiapkan Sang Juru Selamat yang membebaskan. Itulah kabar sukacita pada perayaan kelahiran Sang Kristus, Tuhan.

Mari kita bersukacita. Mari kita sambut kelahiran Sang Pembebas.

Ada mangkok-mangkok besar.
Tempat bakso rasa bawang.
Malaikat datang bawa kabar.
Juruselamat lahir bawa terang.

Cawas, semangkok…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 23.12.20 / Lukas 1:57-66 / Apalah Arti Sebuah Nama

 

ROMEO pernah bertanya kepada Juliet kekasihnya, “Apalah arti sebuah nama?” Mawar akan tetap harum semerbak walaupun diberi nama yang lain. Nama seseorang menunjukkan karakter dan identitasnya. Bagi banyak orangtua, memberi nama kepada anak mengungkapkan doa dan harapan untuk masa depannya. Nama adalah cita-cita sekaligus doa orangtua.

Ada orangtua yang memberi nama anaknya dengan awalan huruf “A” . Dia berharap agar anaknya selalu berada di abjad terdepan. Misalnya; Alexander, Anton, Aditya, Anna, Agata, Anastasya. Dia ingin anaknya berani, tidak minder, berjiwa pemimpin, siap berada di depan.

Lain lagi orangtua yang memberi nama anaknya sesuai dengan pribadi-pribadi yang diidolakan. Misalnya; Messi, Ronaldo, Valentino Rosi atau Maradona. Bahkan ada seorang bapak yang terlanjur getol memuja penyanyi Dolly Parton, yang melantunkan lagu “You Are.” Ia menamai anaknya demikian kendati yang lahir adalah anak laki-laki. Sudah idola!!

Mungkin bapak itu ingin menumpahkan cita-cita dan harapan pada anaknya seperti dalam lirik lagu “You Are.” Namun untuk memudahkan dia mengingat lagunya, maka anaknya diberi nama seperti penyanyinya.

Arti sebuah nama anak memiliki maksud tersendiri. Hal tersebut akan berpengaruh pada kepribadian dan kehidupan yang dijalaninya. Secara psikologis, hal tersebut tidak hanya digunakan sebagai tanda pengenal saja, namun akan berpengaruh pada kepribadian dalam kehidupannya. Nama menjelaskan hakekat seseorang, identitas pribadi dan arti kehidupannya.

Yohanes berarti anugerah dari Tuhan. Anak itu tidak diberi nama Zakharia sebagaimana nama ayahnya, sesuai adat Yahudi waktu itu. Elisabet, ibunya berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Semua orang heran dan tertegun karena tidak lazim memberi nama seperti itu. Mereka berkata, “Menjadi apakah anak ini nanti?” Yohanes menjadi anugerah dari Tuhan, bagi kedua orangtuanya dan juga bagi siapa pun yang menerima pewartaannya.

Nama memiliki arti bagi kehidupan seseorang. Apakah anda memahami arti nama anda? Apakah anda mulai memahami rencana Tuhan dalam nama anda itu?

Dolly Parton mendesah menyanyikan “You Are”.
Liriknya sangat bagus menyentuh di dada.
Tuhan pasti punya rencana dengan nama kita.
Nama adalah harapan dan cita-cita-Nya.

Cawas, jurus mangkok terbang…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 22.12.20 / Lukas 1:46-56

 

“Mulan, Mengangkat Martabat Bangsa”

“HANYA prajurit sejati yang bisa mengangkat derajat keluarga,” kata komandan Tung, sekaligus pelatih Mulan. Kemudian Mulan dengan tegas dan berani menjawab, “Akulah yang akan mengangkat dan membela derajat dan martabat bangsa kita.”

Pada waktu itu kekaisaran China diserang oleh Bangsa Hun. Kaisar memerintahkan setiap keluarga mengirim seorang laki-laki untuk maju berperang. Di keluarga Mulan, hanya ada ayahnya yang sudah tua dan sakit. Mulan, gadis muda cantik yang sedang tumbuh pergi menyamar sebagai laki-laki untuk menggantikan ayahnya. Ia membawa baju perang dan senjata milik ayahnya untuk bergabung dengan prajurit angkatan darat.

Dengan gagah berani ia bertempur di garis depan. Kariernya menanjak. Ia berhasil mengalahkan musuh-musuhnya. Ia berjuang menjaga harkat dan martabat keluarga dan bangsanya. Setelah duabelas tahun menjadi panglima perang, ia pensiun dan memutuskan pulang ke kampung halamannya. Ia menolak mendapat penghormatan tertinggi dalam kekaisaran. Ia lebih memilih kembali ke kampungnya dan hidup dalam damai sebagai wanita biasa.

Dalam Injil hari ini, Maria mengungkapkan kidung Magnificat. Dalam kidung itu tertuang bagaimana Allah meninggikan orang lemah hina dina. Hamba yang rendah tidak diperhitungkan, malah diberi tempat yang tinggi. Allah maha adil membela orang-orang kecil. Mereka yang sombong berkuasa diturunkan dari tahtanya.

Maria sebagai gadis hina sederhana ditinggikan oleh Allah untuk membukakan mata orang-orang congkak berkuasa. Maria adalah gambaran orang-orang yang tidak diperhitungkan, tetapi dipakai oleh Allah untuk menyadarkan orang sombong, congkak, angkuh sok kuasa.

Maria menjadi gambaran kaum kecil lemah miskin yang dikasihi Allah. Ia mengabdi untuk mengangkat derajat dan martabat manusia. Maria berani mengatakan “YA” untuk menjawab panggilan Tuhan. Dengan begitu, ia mengangkat manusia yang berdosa menuju manusia bermartabat sebagai anak-anak Allah dalam Yesus.

Tuhan memakai Maria yang lemah untuk menurunkan mereka yang sombong berkuasa. Seperti Mulan gadis lemah berjuang mengangkat martabat keluarga untuk mengalahkan musuh-musuhnya. Tuhan bisa memakai siapa pun – termasuk kita – untuk membawa keselamatan dan kesejahteraan.

Perut terasa mual karena salah makan.
Dibuat kenyang jangan sampai kelaparan.
Karena Tuhan, orang lemah ditinggikan.
Orang congkak sombong direndahkan.

Cawas, wanita hebat……
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 21.12.20 / Lukas 1:39-45 / Berbagi Sukacita

 

AWAL Desember yang lalu, saya mengirim komuni kepada para lansia dan orang sakit di lingkungan-lingkungan. Sejak munculnya covid, mereka tidak dapat ikut misa di gereja. Para lansia yang biasanya rajin ke gereja, karena ada pandemi, tidak dapat berkumpul di gereja, mengikuti perayaan ekaristi.

Para prodiakon memang setiap minggu mengirim komuni. Tetapi ketika romo sendiri yang melayani mereka, mereka sangat bersukacita. “Sampun kapang pengin sowan Gusti, romo.” Sudah rindu ingin mengikuti ekaristi di gereja, begitulah ungkapan mereka.

Menerima kunjungan sapaan dari gembalanya, sungguh mengobarkan semangat iman mereka. Saya juga ikut bergembira melihat mereka mengalami sukacita. Saya hanya bisa mendengarkan cerita-cerita mereka. Menghibur sambil menjelaskan situasi pandemi ini yang belum memungkinkan kita semua untuk berkumpul.

Saking gembiranya dikunjungi romo, mereka menjamu dan memberi oleh-oleh buat saya. Ada yang memberi pisang rebus, ubi, tiwul, tempe bacem, sambel goreng krecek. Bahkan tidak diduga dan disangka, Pak Dedi memberi saya sepeda Gazelle kuno yang jadi koleksinya.

“Silahkan romo pilih yang mana, saya merasa bersyukur karena romo berkunjung mengirim komuni di keluarga saya.”

Hari ini Maria mengunjungi Elisabet saudaranya yang sedang mengandung. Ia masuk ke rumah dan memberi salam. Ketika mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya. Lalu Elisabet pun dipenuhi Roh Kudus dan bersukacita. Juga anak yang di dalam rahimnya melonjak kegirangan.

Maria datang membawa sukacita. Sukacita itu mengalir dan menular kepada semua yang ada. Elisabet dan anak yang dikandungnya pun merasakan kegembiraan. Kegembiraan yang dibagikan akan bergulung seperti bola salju. Semakin membesar dan mempengaruhi lingkungan sekitarnya.

Mari kita bersukacita karena Tuhan mengasihi kita dalam Yesus. Yang paling penting kita dulu harus mempunyai sukacita itu. Baru kemudian kita bagikan kepada orang lain. Mungkin hanya kunjungan, sapaan, senyuman, itu akan mengalirkan sukacita kepada orang lain.

Terlihat Merapi Merbabu di kejauhan.
Ditutupi bunga hijau dan dedaunan.
Kalau kita mau berbagi kegembiraan.
Dunia terasa indah penuh kedamaian.

Cawas, sapaan mendebarkan….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 20.12.20 / Lukas 1:26-38 / Fiat Voluntas Tua

 

KETIKA suaminya sedang pergi ke TPS untuk mencoblos, seorang ibu tega membunuh tiga anaknya yang masih balita. Peristiwa itu terjadi di desa Banua Sibohou, Nias Utara. Ibu berinisial MT (30) membunuh tiga anaknya sendiri dengan motif kesulitan ekonomi. Kemiskinan dan himpitan ekonomi sering membuat suami istri itu bertengkar. Tidak kuasa menahan kesulitan yang diderita, ibu itu bertindak nekat. Bahkan dia sendiri juga berniat bunuh diri setelah melakukan perbuatan keji itu. Beban derita dan himpitan persoalan sering membuat gelap mata. Orang mudah mencari solusi jalan pendek.

Bunuh diri bukanlah jawaban apalagi solusi dari semua permasalahan hidup yang seringkali menghimpit setiap orang. Tukang gembok pasti menyediakan kuncinya. Begitu pun setiap permasalahan, pasti ada jalan keluarnya. Mengakhiri hidup bukan kunci menyelesaikan sebuah persoalan dan beban derita.

Maria seorang perawan muda dihadapkan pada suatu permasalahan yang pelik. Ia mendapat berita menggembirakan sekaligus membebani dirinya. Malaikat itu berkata, “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.”

Maria bingung karena ia belum bersuami. “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Persoalan ini pasti sungguh berat. Sebagai seorang perempuan, pastilah ia bercita-cita menjadi ibu yang wajar dan normal. Tidak dengan cara di luar pikiran manusia sederhana ini. Rencana Tuhan memang sering tak terjangkau oleh pikiran manusia yang serba terbatas.

Menghadapi kesulitan dan beban hidup yang berat itu, Maria tidak menghindar. Kendati masa depan masih gelap, namun ia percaya pada rencana Tuhan. Ia berani menyerahkan diri dan berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu.”

Tuhan pasti mahatahu. Seberapa kekuatan dan daya tahan kita. Tuhan tidak akan menumpangkan beban di pundak melebihi batas kekuatan kita. Di luar kemampuan kita, Tuhan pasti bertindak. Tuhan selalu siap mengulurkan tangan untuk menolong.

Kepasrahan dan kepercayaan seperti Maria itulah yang menguatkan. Berlindung pada kebaikan Allah itu saja yang membuat kita bisa melintasi jalan sulit dan terjal. Mari bersama Maria kita berseru kepada Tuhan, “Fiat Voluntas Tua.”

Menjentik butir kacang dengan jari dua.
Dimasukkan ke mulut yang sudah menganga.
Janganlah kita lunglai dan putus asa.
Bersama Maria kita bisa menanggung derita.

Cawas, pakai dua jari….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 19.12.20 / Lukas 1:5-25 / Kelahiran Anak Membawa Sukacita

 

SETIAP pasangan suami istri pasti mengharapkan kelahiran seorang anak di dalam keluarga. Ada pasangan yang harus menunggu lama, baru dikaruniai keturunan. Setiap orangtua berharap diberi “momongan” oleh Tuhan. Betapa sedihnya jika belum mendapatkan keturunan. Bahkan ada yang putus asa dan tak bersemangat dalam hidup. Anak adalah mahkota bagi pasangan suami istri.

Adalah Maria Rosaria Veneruso dan Enzo suaminya merasa sangat bahagia. Betapa tidak, penantian lama akan hadirnya seorang anak itu akhirnya terwujud ketika Maria melahirkan anak pertamanya pada usia 61 tahun. Bayi seberat 3,5 kg itu lahir secara alami tanpa intervensi medis tambahan di sebuah rumah sakit Campania, barat daya Italia.

“Saya telah memenuhi impian saya. Masa depan tidak membuat saya takut,” ujarnya, dikutip dari Kidspot.

Tuhan dapat diandalkan. Bagi orang yang percaya, tidak ada hal yang mustahil. Tuhan selalu bertindak tepat pada waktunya. Kegembiraan suami isrti itu sangat luar biasa. mereka selalu bersyukur kepada Tuhan.

Bacaan hari ini menggambarkan kisah kelahiran Simson dan Yohanes Pembaptis. Ibu mereka dipandang sebagai perempuan mandul. Elisabet sendiri sudah uzur. Tak mungkin bisa melahirkan anak. Tetapi Manoah dan Zakharia selalu berdoa di bait Allah. Zakharia hanya “melongo” tidak percaya ketika malaikat mengabarkan bahwa Elisabet akan mengandung.

“Bagaimanakah aku tahu bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua, dan istriku pun sudah lanjut umurnya.” Memang untuk percaya itu tidak mudah. Butuh ketulusan dan penyerahan diri kepada Allah.

Allah tidak pernah ingkar akan janji-Nya. Pada saatnya Dia akan bertindak. Ketika itu kita baru menyadari bahwa Allah sungguh bekerja. Demikianlah Elisabet menyadari anugerah Allah dengan berseru, “Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku! Sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang.”

Jika kita tetap percaya, Allah akan bertindak tepat pada waktunya. Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Mari kita tetap percaya kendati belum ada kepastian yang jelas.

Memilih nasi padang atau bubur.
Sama-sama enak dinikmati berdua.
Allah mengasihi orang tulus dan jujur.
Dia akan bertindak pada waktunya.

Cawas, bubur yang lembut…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr