Puncta 29.12.20 / Lukas 2:22-35 / Tak Lela Lela Lela Ledung

 

Tak lela, lela, lela ledung (Mari kutimang-timang engkau anakku)
Cup meneng aja pijer nangis (cup cup jangan terus menangis)
Anakku sing ayu (bagus) rupane ( engkau anakku yang paling cantik/ganteng)
Yen nangis ndak ilang ayune (Kalau nangis akan hilang cantik/gantengnya)

Tak gadhang bisa urip mulya (kudambakan agar engkau hidup mulia)
Dadiya wanita (pria) utama (semoga jadi wanita/pria utama)
Ngluhurke asmane wong tuwa (mengharumkan nama baik orangtua)
Dadiya pendhekaring bangsa (Jadilah pendekar bangsa)

LAGU Waljinah itu mengalun merdu menentramkan hati. Rasanya seperti seorang anak di dekapan seorang ibu. Aman, tentram, tenang dan damai. Lagu itu sering terdengar di saat ibu sedang menidurkan anaknya atau ketika anak sedang sedih gundah gulana, ibu akan menghibur dan menina-bobokan si anak dengan lagu penuh nasehat itu. Trenyuh hati ini mengingat masa-masa kecil di gendongan ibu.

Ketika kita belum menjadi siapa-siapa, ibu sudah punya “gegadhangan” cita-cita dan dambaan hati, agar anaknya hidup mulia. “Tak gadhang bisa urip mulya” menjadi wanita atau pria utama, yang dapat mengharumkan nama orangtua yang telah mendidik dan memeliharanya. “Dadiya pendhekaring bangsa” Semoga anaknya dapat berguna bagi nusa dan bangsa.

Simeon, seorang yang benar dan saleh hidupnya menyambut kedatangan Yesus Mesias, yakni Dia yang terurapi Tuhan dengan sukacita. Ia menatang-Nya sambil memuji Allah. “Mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”

Kidung Simeon itu adalah doa dan dambaan hati orangtua yang mengharapkan keselamatan bagi bangsa Israel dan seluruh umat manusia. Ia mengharapkan Sang Mesias itu menjadi jalan keselamatan seluruh bangsa dan terang bagi bangsa lain dan kemuliaan bagi Israel. Kidung Simeon itu mirip seperti kidungnya Waljinah.

Kita bisa mengenang bagaimana orangtua punya dambaan bagi kita, anaknya. Apa harapan dan cita-cita orangtua terhadap kita? Sudahkah kita mewujudkan harapan dan cita-cita itu?
Mendengar lagu itu rasanya seperti baru kemarin sore kita ditimang-timang oleh ibu dan kini kita tersadar belum memenuhi dambaan orangtua kita. Tidak ada kata terlambat untuk memenuhi harapan dan dambaan orangtua.

Anggrek bulan indah bermekaran.
Jadi hiasan di kamar pengantin.
Tiap orangtua selalu punya dambaan.
Anaknya bahagia lahir dan batin.

Cawas, tidur di kursi depan…..
Rm. Alexandre Joko Purwanto,Pr

Puncta 28.12.20 / Pesta Kanak-Kanak Suci, Martir / Matius 2:13-18

 

“Herodes Masa Kini Bernama Herodes Aborsi”

MENURUT data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), kasus aborsi di negara kita tergolong cukup tinggi. Mereka mencatat ada dua juta kasus per tahun. Yang sangat mencengangkan adalah 30% dari kasus itu dilakukan oleh remaja. Aborsi ilegal dianggap sebagai jalan keluar dari kehamilan tak dikehendaki. Sesungguhnya ini adalah hal yang berbahaya. Di balik itu ada semacam warning kepada kita semua bahwa ada perilaku hidup yang tidak baik.

Di Jakarta ada sebuah klinik digerebeg polisi karena diduga menjadi tempat praktek aborsi. Klinik itu telah mengaborsi 903 bayi yang dimusnahkan dengan bahan kimia. Guttmacher Institute merilis sebuah penelitian di enam kota besar Indonesia. Dari hasil riset mereka melaporkan bahwa dari 1000 wanita produktif, 13 orang melakukan aborsi. Sangat memprihatinkan.

Seringkali semua pihak menyalahkan remaja. Tetapi yang harus refleksi dan evaluasi adalah keluarga. Keluarga adalah tempat pendidikan utama dan pertama. Orangtua adalah guru dan pendidik utama bagi anak-anaknya. Jika orangtua tidak menjalankan fungsi ini, jangan berharap banyak kepada remaja.

Herodes diperdaya oleh para Majus. Mereka tidak kembali ke Yerusalem, melainkan pulang lewat jalan lain. Hal ini membuat Herodes marah. Ia memerintahkan membunuh semua anak di Betlehem yang berumur dua tahun ke bawah. Herodes takut karena diberitakan telah lahir Raja Israel yang baru. Kekuasaan membuatnya kalap dan bertindak kejam.

Kalau zaman dulu ada Herodes Arkhelaus, Herodes Filipus, Herodes Agung, Herodes Antipas, sekarang ada Herodes Aborsi. Herodes Agunglah yang membunuh anak-anak tak berdosa di Betlehem. Zaman sekarang juga ada herodes-herodes yang membunuh bayi-bayi tak berdosa yang namanya Herodes Aborsi.

Mengapa terjadi demikian? Karena dunia kita ini sedang sakit. Dunia sedang terluka. Dunia tanpa kasih sayang. Ketika Sang Pembawa Damai datang justru dimusuhi dan dimusnahkan. Orang-orang yang membawa kasih sayang malah disingkirkan.

Apakah anda akan ikut Yesus yang membawa damai dan cintakasih atau ikut Herodes Aborsi yang membunuh dan menyingkirkan kaum lemah tak berdosa?

Pergi ke pasar beli rambutan
Malah tergoda oleh bau durian
Mari kita berjuang demi kehidupan
Bukan menebarkan jerit kematian

Cawas, menanti anggrek mekar…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 27.12.20 / Pesta Keluarga Kudus / Lukas 2:22-40

 

“Kebahagiaan Simbah”

HARAPAN terbesar dari para orangtua, “simbah” atau kakek dan nenek adalah melihat anak cucunya hidup baik dan bahagia. Orangtua selalu memohon dan berdoa kepada Tuhan, agar anak cucunya hidupnya diberkati, tekun dan setia kepada Tuhan, hidup di jalan yang benar dan dapat menjadi contoh atau teladan berbuat baik.

Dalam misa keluarga, bapak yang sudah usia 85 tahun berdoa bagi anak dan cucu-cucunya. Beliau mendoakan supaya anak-anaknya setia dan tekun pada tugasnya masing-masing. Anak cucu diminta terus berbakti pada Tuhan agar hidupnya bisa berguna bagi banyak orang.

Saya kira tidak ada kebahagiaan yang sempurna dari para orangtua jika melihat anak cucunya hidup baik dan rukun, damai dan sejahtera. Kebahagiaan orangtua yang sudah banyak makan garam, rambut memutih dan wajah mulai keriput itu tidak lain adalah kebahagiaan dan keselamatan anak dan cucu-cucunya.

Hari ini kita merayakan Pesta Keluarga Kudus Nasaret. Yesus, Maria dan Yusuf adalah teladan setiap keluarga. Maria dan Yusuf mempersembahkan Yesus di kenisah. Keluarga ini percaya bahwa semuanya berasal dari Allah. Mereka dipersatukan karena kehendak Allah. Maka mereka bersatu melaksanakan apa yang diperintahkan Allah; mempersembahkan Yesus kepada Bapa di Bait suci.

Pesan yang dapat kita petik adalah bahwa keluarga menjadi tempat pengudusan setiap pribadi di dalamnya. Relasi keluarga dibangun dalam doa dan ketaatan pada Allah. Keluarga menyatu dengan Allah seperti anggur bersatu dengan pokoknya.

Simeon dan Hana bernubuat tentang Yesus si kecil. Mereka adalah gambaran orangtua yang sudah “menep dan sumeleh” artinya damai dan tentram, pasrah kepada Allah. Mereka sungguh menemukan kebahagiaan hidup melihat Sang Terurapi yakni Yesus Almasih.

Kebahagiaan orangtua menjadi penuh jika melihat anak-cucunya hidup dalam Tuhan. Begitulah Simeon dan Hana bersukacita menyambut si kecil Yesus.

Simeon berkata dalam kebahagiaanya, “Sekarang Tuhan, biarlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu.”

Mari membahagiakan orangtua dengan berlaku kudus dan jujur di hadapan Tuhan. Dengan demikian kita membuat mereka berumur panjang dalam kedamaian.

Di ladang tumbuh beraneka macam bunga.
Di antaranya ada semak dan rerumputan.
Orangtua akan hidup panjang dan bahagia.
Melihat anak-cucunya bertakwa pada Tuhan.

Cawas, terbawa rasa bahagia…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 26.12.20 / Pesta St. Stefanus, Martir Pertama / Matius 10:17-22

 

“Merayakan Kemartiran”

KELAHIRAN dan kematian itu hanya beda tipis banget, seperti dua sisi dalam sekeping mata uang. Kemarin kita baru saja bersuka ria merayakan kelahiran Sang Juru selamat. Dengan penuh kegembiraan kita merayakan kedatangan bayi Yesus.

Semua orang pasti sangat bersukacita dengan kelahiran seorang anak di tengah keluarga. Semua saudara datang untuk berbagi kegembiraan. Lahirnya seorang anak membawa harapan dan sukacita.

Belum habis kegembiraan kita, hari ini kita merayakan kemartiran Santo Stefanus. Kematian memang sebuah kenyataan yang menyedihkan. Tetapi orang beriman percaya bahwa kematian adalah awal kehidupan dalam Tuhan. Kematian adalah awal kehidupan baru.

Dalam Doa Syukur Agung dikatakan bahwa hidup hanyalah diubah, bukannya dilenyapkan; bahwa suatu kediaman abadi telah tersedia bagi kami di surga bila pengembaraan kami di dunia ini berakhir.

Kalau kita bersukacita atas kelahiran, mengapa kita harus bersedih menghadapi kematian? Kemartiran Santo Stefanus membuat kita bisa merayakan kematian. Mengapa bisa demikian? Karena dia mengikuti atau meneladani Yesus yang mati di salib.

Stefanus mati karena iman. Ia dibawa ke pengadilan dan disana dia bersaksi tentang kebangkitan Yesus. Orang-orang tidak menerima kesaksiannya dan menyeretnya ke luar kota. Dia dirajam. Namun Stefanus justru mendoakan mereka dan menyerahkan nyawanya kepada Tuhan. Ia mengikuti bagaimana Yesus mati di kayu salib.

Jika hidup kita mampu meneladan cara hidup Yesus, bahkan sampai kematian-Nya, maka kematian itu bukan sesuatu yang harus diratapi, tetapi justru dirayakan. Karena dengan demikian, kita telah lahir kembali sebagai anak-anak Allah.

Mari kita meneladan martir Stefanus, berani mengikuti jalan Tuhan.

Pergi ke ladang untuk memetik anggur.
Dikumpulkan di keranjang seikat demi seikat.
Santo Stefanus membuat iman gereja menjadi subur.
Dia membela iman sampai akhir hayat.

Cawas, tetap semangat…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 25.12.20 / HR Natal Pagi / Lukas 2:15-20

 

“Menangkal Berita Hoax; Belajar dari Para Gembala dan Maria”

BERITA palsu atau Hoax bertebaran di media sosial berupa tulisan,foto atau video. Semua orang selalu punya rasa ingin cepat-cepat tahu berita penting. Entah itu berita palsu atau benar. Orang merasa paling hebat kalau bisa menjadi sumber berita pertama.

Para psikolog sepakat bahwa berita hoax berdampak pada kesehatan mental seperti post traumatic stress syndrome (PSTD). Dampaknya seperti timbul kecemasan, ketakutan, rasa kawatir berlebihan sampai pada tindak kekerasan. Kadang orang harus menjalani terapi penyembuhan karena terpengaruh dampak buruk tadi.

Orang yang tidak berusaha mengkonfirmasi atau mencari tahu sumber berita menunjukkan gejala fisik dan mental yang kurang sehat. Orang yang tidak gemar cari tahu kebenaran berita biasanya punya respons yang tidak baik, menutup diri dan negatif thinking. Kemudian muncul stress dan detak jantung tidak normal.

Bagaimana cara menghindari berita hoax? Pertama, harus curiga dari mana sumber berita. Apakah sumber berita dapat dipercaya? Kedua, belajar menilai berita, apakah berita itu masuk akal? Ketiga, periksa kapan berita itu muncul? Kadang terjadi berita kadaluwarsa dirilis lagi untuk memprovokasi suasana. Keempat, tanya pada ahlinya. Datang langsung kepada sumber pertama atau tanya pada ahli yang tahu masalahnya.

Setelah mendengar berita tentang kelahiran penyelamat dunia, para gembala langsung pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana. Mereka mencari tahu sumber peristiwanya di Betlehem. Mereka datang langsung dimana peristiwa itu terjadi.

Ketika mereka berjumpa dengan Maria, Yusuf dan Yesus yang terbaring di dalam palungan, mereka bersukacita dan percaya, karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat; semuanya sesuai dengan apa yang dikatakan kepada mereka. Ini bukan hoax tetapi kenyataan. Pinter kan gembala-gembala itu?

Dari Maria, kita belajar untuk tidak cepat-cepat menyebarkan berita, seandainya pun berita itu menguntungkan atau mengembirakan. Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hati dan merenungkannya. Maria tidak tergoda untuk segera menyebarkan berita kepada orang lain.

Kadang jari kita ini gatal kalau ada berita baru pengin cepat-cepat memencet tombol HP. Lihatlah Maria yang bijaksana itu.

Tak ada lagi Nokia atau Blackberry.
Semua pegang smartphone dengan 4G.
Dari Maria kita belajar menguasai diri.
Tidak mudah “baper” dan terprovokasi.

Cawas, sederhana tapi gembira….
Rm.Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 24.12.20 / Misa Malam Natal / Lukas 1:1-14

 

“Tidak Ada Tempat Bagi Mereka”

AWAL Desember kemarin Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo , yang biasa disapa Pak Rudy mengatakan rumah sakit di Solo sudah penuh untuk menampung pasien covid. Rudy mengusulkan agar membuka Asrama Haji Donohudan untuk berjaga-jaga melonjaknya pasien covid. Jika perlu Solo Techno Park bisa dipakai.

Banyak rumah sakit sudah tidak mampu lagi menerima rujukan pasien covid karena keterbatasan tempat. Maka pemda-pemda menyiapkan opsi-opsi lain untuk menampung pasien yang sakit. Bahkan ada yang membikin tenda-tenda darurat di luar rumah sakit supaya bisa menolong para penderita.

Menurut Rudy, karantina mandiri di rumah tidak bisa memutus penularan covid karena mereka masih berinteraksi dengan keluarga.

Tidak ada tempat lagi bagi mereka, karena penyebaran covid belum selesai. Sementara banyak rumah sakit sudah penuh. Harus dicari cara bagaimana para pasien baru dapat ditampung dan ditolong.

Maria dan Yusuf mengalami hal serupa. Mereka mencari tempat untuk melahirkan bayinya. Tetapi mereka ditolak. Tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan. Maria melahirkan anaknya di kandang. Bayi Yesus itu dibungkus dengan lampin dan dibaringkan dalam palungan.

Kelahiran Yesus ini mau menunjukkan solidaritas Allah kepada manusia. Seperti para pasien covid yang ditolak karena sudah tidak ada tempat lagi di rumah sakit. Begitu pula Yesus ditolak karena tidak ada tempat di rumah penginapan.

Allah berbelarasa dengan mereka yang paling menderita. Allah turut serta mengalami penderitaan manusia yang ditolak. Allah ikut merasakan kesedihan, penolakan, keterbatasan, kemiskinan kita.

Dalam diri saudara-saudara yang menderita itulah kita melihat Yesus yang lahir di tengah-tengah kita.

Memperingati Natal berarti merayakan solidaritas atau belarasa Allah kepada manusia. Perayaan Natal tidak boleh berhenti pada upacara liturgis.

Natal yang sesungguhnya adalah ketika kita mau berbelarasa dengan mereka yang menderita. Kita mau peduli dengan penderitaan sesama.

Di masa pandemi ini, mari kita bangun kepedulian terhadap mereka yang menderita. Allah disebut Emanuel karena Ia beserta kita, khususnya yang menderita. Mari kita peduli, mari berbelarasa.

Berlayar jauh di atas kapal.
Menuju ke Pulau Dewata.
Selamat Hari Raya Natal.
Emanuel,Tuhan beserta kita.

Cawas, Natalmu… Natalku… Natal kita
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr