Renungan Harian

Puncta 29.04.20 PW St. Katharina dari Siena, Perawan dan Pujangga Gereja. Yohanes 6:35-40 / Naik Kereta Api

 

SAYA ingat Rm. Tom Jacob, dosen Kitab Suci di Fakultas Teologi Wedhabakti. Suaranya lantang dan lucu gaya bicaranya. Maklum Rama Landa.

Saya masih ingat ketika beliau bicara tentang keselamatan. Kita ini seperti naik kereta api dan masinisnya adalah Kristus. Namanya teologi “ndompleng” keselamatan.

Kalau kita tidak masuk gerbong Kristus, kita tidak diselamatkan-Nya. Kita tidak bisa ikut menuju ke kerajaan Bapa. Kristus membawa kita kepada keselamatan yakni Kerajaan Bapa.

Seperti naik kereta api, kalau kita mau ke Jakarta, maka kita naik kereta yang masinisnya membawa kereta ke Jakarta.

Kalau kita mau selamat sampai ke rumah Bapa, maka kita harus ikut masinis yang membawa kita ke rumah Bapa. Siapa yang berasal dari Bapa? Yesus Kristus.

Yesus berkata, “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku ia tidak akan Kubuang.”

Kita diundang untuk datang kepada Yesus. Masuk di gerbong Yesus. Jangan di gerbong lain yang belum tentu membawa kita kepada keselamatan.

Yesus berkata, “Aku telah turun dari surga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.” Inilah jaminannya. Yesus berasal dari Bapa.

Kita sebagai pengikut Kristus percaya bahwa satu-satunya jalan keselamatan adalah Kristus sendiri. Dialah yang memberi kita hidup kekal.

Sebagaimana kita hidup memerlukan makanan, begitulah Yesus menjadi Roti Kehidupan kita. Supaya kita tidak mati dan binasa, maka kita butuh makan. Agar kita memperoleh kehidupan kekal, maka Yesus menjadi makanan kita. “Akulah roti hidup.”

Jadi ada dua gerak bersamaan. Yesus masuk ke dalam hidup kita menjadi makanan dan kita masuk ke gerbong Kristus menjadi penumpang. Kita menyatu di dalam Kristus, agar memperoleh hidup kekal dan keselamatan sampai akhir zaman.

Sudahkah kita berusaha menyesuaikan hidup seturut teladan Kristus? Mau berkurban dan memberikan diri-Nya untuk keselamatan orang lain?

Di masa pandemi ini maukah kita berbagi dan berkurban demi tetangga kita yang paling dekat? Keselamatan itu bukan hanya untuk kita sendiri, tetapi juga harus dibagi untuk sesama kita.

Selimut biru bawa berkat.
Waktu naik pesawat Etihad.
Ikut Yesus pasti selamat.
Di dunia kini sampai akhirat.

Cawas, cerah bersinar….
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 28.04.20 Yohanes 6:30-35 / Roti Hidup

 

WARUNG bakmi Bu Slamet itu hampir tutup. Masa pandemi ini memaksa orang tinggal di rumah. Ketika Pak Slamet mau menutup pintu, sebuah sepeda motor ojol datang,

“Pak warungnya dah mau tutup? Aduh tolong pak, ini saya ada satu pesanan. Nyuwun tulung sanget pak.” Mas Ojol itu memohon. “Seharian ini tak ada yang pesen online Pak. Saya pulang tidak bawa hasil apa-apa ini nanti.”

Dia mengiba. Pak Slamet menatap Bu Slamet dengan wajah cemberut. Tapi Bu Slamet langsung menyalakan kompor dan mulai memasak pesanan Mas Ojol.

Tak lama Bu Slamet membuat nasi goreng pesanan. Ia menghampiri Mas Ojol dan menyerahkan dua bungkus. “Lho hanya satu kok bu pesanan saya.” Mas Ojol heran diberi dua. “Yang satu untuk Mas dan keluarga untuk makan di rumah.”

Mas Ojol itu menitikkan airmata. Sepanjang hari dia belum makan. Ia mengucapkan banyak terimakasih kepada Bu Slamet. “Terimakasih ibu, Tuhan membalas yang berlimpah untuk ibu.” Katanya sambil berlalu untuk menghantar satu-satunya pesanannya.

Makan adalah kebutuhan pokok manusia. Kelaparan bisa menimbulkan pertengkaran. Perang bisa timbul karena rebutan lahan subur yang menghasilkan bahan pokok makanan.

Roti adalah kebutuhan hidup orang Israel. Ketika di padang gurun, mereka diberi roti oleh Yahwe melalui Musa hamba-Nya. Mereka berteriak-teriak kepada Musa karena bangsa itu kelaparan dan hampir mati di tengah gurun yang gersang.

Yesus mengatakan kepada orang banyak bahwa Dialah roti hidup yang turun dari surga. “Akulah roti hidup. Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.”

Yesus memberi hidup kepada dunia. Ia juga bersabda, “Yang makan Tubuh-Ku dan minum darah-Ku, ia akan memperoleh hidup kekal.”

Yesus memberikan Diri-Nya untuk kehidupan manusia. Yesus mengurbankan diri menjadi makanan bagi kita agar semua orang hidup. Dalam Ekaristi Yesus menyerahkan nyawa-Nya untuk kita.

Ekaristi menjadi kebutuhan rohani kita. kita pantas bersyukur karena Ekaristi – kendati sekarang kita belum bisa mengikutinya – Yesus menyediakan makanan rohani untuk kehidupan kekal.

Semoga Roti Hidup itu juga membuat kita mampu memberi hidup kepada orang lain, seperti Bu Slamet tadi.

Oneng dan Bajuri buka-buka warung.
Mereka juga siapkan thermogun.
Di masa pandemi ini kita jangan bingung.
Mari kita saling menolong seperti juragan.

Cawas, punya thermogun……
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 27.04.20 Yohanes 6:22-29 / Makanan Yang Tidak Dapat Binasa

 

WAKTU itu saya turne ke stasi Sebuak di Paroki Nanga Tayap. Saya singgah di rumah ketua stasi, Pak Agus namanya. Dia buka warung kecil di rumahnya.

Beberapa kali ada pembeli datang ke rumahnya, “Mak, kenapa warungnya tutup, kami mau beli kebutuhan.” Bu Agus menjawab dari dalam rumah, “Maaf ya bu, kami mau sembahyang dulu. Warungnya tutup dulu.”

Saya bertanya kepada Bu Agus, “Kenapa gak dilayani dulu, kan itu rejeki datang.”
Kata Bu Agus, “Ah rejeki bisa dicari Romo. Tetapi sabda Tuhan itu rejeki hidup untuk selamanya.”

Saya menjawab, “Apa gak rugi kalau hari Minggu tutup karena sembahyang ke gereja?” “Tidak Romo, Tuhan sudah memberi rejeki yang lebih berguna untuk hidup kami.” Katanya.

Orang banyak mencari Yesus ke Kapernaum setelah mereka dikenyangkan dengan roti untuk lima ribu orang laki-laki. Yesus mengetahui motivasi mereka.

Ia berkata, “Sesungguhnya kamu mencari Aku bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal.”

Keluarga sederhana itu mengajari saya untuk mensyukuri apa yang diberikan Tuhan. Untuk apa memperoleh banyak harta tetapi hatinya tidak tentram?

Maka Yesus menasehati orang-orang, “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai ke hidup kekal.”

Keluarga itu memberi insight pada saya bahwa Sabda dan Ekaristi jauh lebih penting daripada harta duniawi.

Apakah yang kita kejar selama ini? Harta kekayaan? Kemewahan? Popularitas? Kekuasaan? Semua itu akan musnah, hilang lenyap. Namun sabda Tuhan kekal abadi selamanya.

Marilah kita melakukan pekerjaan yang membawa keselamatan kekal, yakni percaya kepada Yesus Utusan Allah.

Mulut bernyanyi riang tanda sukacita.
Bokong megal megol sambil mencuci panci.
Apalah artinya kita mengejar harta dunia.
Jika kita tidak selamat di akherat nanti.

Cawas, bergoyang-goyang riang…
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 25.04.20 Pesta St. Markus, Penulis Injil Markus 16:15-20 / Pergilah dan Beritakanlah Injil

 

KETIKA diberi tugas bermisi ke Ketapang oleh Bapak Uskup, saya hanya bisa mengatakan “Ya saya siap.” Siap karena harus taat pada pimpinan.

Tetapi sesudah keluar kamar beliau, saya bingung karena belum pernah ke Kalimantan, tidak tahu medan pelayanan, tidak kenal orang-orang di sana. Apalagi mendengar cerita-cerita seram di Kalimantan, “Orang di sana makan manusia.”

Setelah menginjakkan kaki di Ketapang, hal-hal yang menakutkan itu langsung hilang. Ada begitu banyak orang yang baik dan murah hati, ramah dan suka menolong. Sejak itu saya merasa di rumah sendiri.

Medan pastoral memang berat tetapi mewartakan Injil harus dijalankan. Ada banyak umat yang merindukan kehadiran imam melayani sakramen-sakramen. Hambatan dan rintangan selalu ada. Tetapi Tuhan selalu memberi jalan mengatasinya.

Hampir sembilan tahun tak terasa. Kalau diberi tugas lagi, saya tidak akan bingung. Saya siap bukan karena taat pimpinan, tetapi karena sadar ini adalah perintah Tuhan.

Hari ini Tuhan Yesus menampakkan Diri dan mengutus para murid, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” Perintah agung ini diberikan agar iman para rasul diwariskan kepada semua orang.

Setiap orang juga menyadari tugas perutusan ini. Dimana pun kita berada, kita ini adalah misionaris. Ada banyak cara kita bermisi.

Ada yang pergi ke pelosok-pelosok daerah mewartakan Injil bagi mereka yang belum mengenal Yesus. Ada yang pergi dari keuskupan yang satu ke keuskupan yang lain, diutus untuk bermisi.

Namun ada pula yang bermisi ke dalam secara internal di tengah keluarga kita sendiri dan dalam hati kita masing-masing. Keluarga kita sendiri, hati kita ini juga perlu diberi warta Injil.

Ada areal hati kita ini yang membutuhkan sentuhan sabda Tuhan. Hati yang keras membatu, hati yang angkuh dan sombong, hati yang penuh dengan iri, dengki, dendam dan fitnah. Hati yang tidak mau mengampuni.

Realitas hati seperti itulah yang membutuhkan warta Injil. Keluarga yang baik-baik belum tentu tidak membutuhkan sentuhan Tuhan. Relasi keluarga yang dingin, hampa dan tanpa komunikasi mesra juga merupakan lahan untuk bermisi.

Hidup komunitas yang hambar dan saling mendiamkan, ini juga wilayah bermisi. Dunia yang semakin egois, persaingan dan permusuhan, ini juga membutuhkan warta Injil. Mari kita wartakan Kabar Gembira di mana pun kita berada.

Pergi ke sawah menanam semangka.
Rumput-rumput tumbuh di sampingnya.
Perintah agung diberikan kepada kita.
Wartakan Injil ke seluruh dunia.

Cawas, senja yang indah….
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 24.04.20 Yohanes 6: 1-15 / Selalu Berlebih

KAUM ibu itu selalu saja punya aneka macam cara untuk mengolah segala sesuatu. Ketika tugas di Paroki Nanga Tayap, saya kagum dan memuji keterlibatan para ibu yang dengan sukarela mendukung berbagai macam acara: Kursus Persiapan Perkawinan, Musyawarah Paroki, Pertemuan ketua-ketua umat, forum komunikasi antar stasi dan pesta-pesta hari raya selalu diramaikan oleh ibu-ibu.
Mereka menyiapkan masakan di dapur untuk semua peserta.  Mereka membawa beras, daun ubi, labu, timun, sayur-sayuran dan ikan salai dengan sukarela. Dari pengalaman, tidak pernah kekurangan, tetapi selalu berlebih. Walaupun pada awalnya tumbuh rasa kawatir dan kebingungan, namun di tangan ibu-ibu semua makan dengan kenyang dan ada sisa yang bisa dibawa pulang.
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengajar banyak orang dan Dia jatuh belaskasihan karena mereka kelaparan. Para murid-Nya kebingungan menghadapi begitu banyak orang. Mereka hanya mengeluh dan angkat bahu melihat banyaknya orang berkumpul.
“Roti seharga duaratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Andreas melihat ada kemungkinan, “tetapi apalah artinya lima roti dan dua ikan untuk orang sebanyak ini?” Mereka tidak mampu mengatasi masalah. Angkat tangan dan tidak bisa berbuat banyak.
Yesus menyuruh mereka duduk di atas rerumputan. Rumput adalah makanan domba. Yesus sebagai gembala, sedangkan orang banyak itu adalah domba-domba-Nya. Sang Gembala menyediakan makanan untuk domba-domba-Nya.
Ia mengambil roti, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ; demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu sebanyak yang mereka kehendaki. Inilah tndakan ekaristis.
Ketika kita hanya mengeluh tentang kekurangan, kelemahan dan ketidak-mampuan, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Tetapi ketika yang kecil, sedikit itu disyukuri dan dibagi-bagikan, maka akan menjadi berkelimpahan. Yesus mengubah cara pandang kita. Anak kecil yang tak diperhitungkan, yang hanya sedikit, yang tidak dihargai dan dianggap. Jika disyukuri, maka akan menjadi besar dan berkelimpahan serta bermanfaat banyak.
Mari dengan mata batin yang jeli kita belajar menghargai, memperhitungkan serta memberi tempat bagi mereka yang kecil, lemah, miskin dan sederhana. Mereka akan membuat kita menjadi berkelimpahan penuh berkat.
Berjalan di pematang sawah melihat senja.
Bulan sudah mengintip di atas telaga.
Yesus memilih yang kecil dan hina.
Untuk menumbangkan yang sombong dan perkasa.
Cawas, hati penuh syukur…
Rm. A. Joko Purwanto Pr