Renungan Harian

Puncta 23.04.20 Yohanes 3:31-36 / Tirta Pawitra Mahening Suci

 

SANG Bima Sena disuruh gurunya mencari Tirta Pawitra Mahening Suci, “ngelmu kasampurnaning dumadi”. Ilmu itu adanya di dasar samudera. Ia harus menceburkan diri di dasar samudra.

Dengan mengalahkan naga di dasar samudera, Bima bertemu dengan Dewa Ruci, Anak bajang yang berpakaian mirip seperti dirinya. Bima diwejang apa artinya “ngelmu kasampurnaning dumadi.”

Kesempurnaan sejati itu hanya akan tercapai bila manusia sudah tidak tergantung pada panca inderanya sendiri. Jika manusia masih menggunakan daya panas matahari, desirnya angin, sejuknya air dan kaki masih berpijak di atas bumi, maka manusia belum bisa mencapai kesempurnaan hidup. Karena manusia berasal dari bumi, maka dia tak mampu mencapai kesempurnaan sejati. Hanya Allah yang Maha Sempurna.

Tirta Pawitra Mahening Suci itu perlambang atau sanepan. Tirta itu artinya air, yang arti luasnya adalah kehidupan. Dimana ada air ada kehidupan. Pawitra berarti bening.

Air yang bening akan memberi kehidupan segala makhluk. Mahening dari kata maha dan ening. Itu artinya ketentraman lahir batin. Suci artinya terhindar dari segala noda dosa.

Dalam kehidupan ini, carilah hidup yang sempurna yang bisa memberi ketentraman lahir dan batin. Jauhilah segala dosa maka hidupmu akan suci. Itulah maknanya Tirta Pawitra Mahening Suci.

Dalam perbincangan dengan Nikodemus, Yesus menjelaskan, siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi.

Manusia belum bisa mencapai kesempurnaan karena kakinya masih berpijak di atas bumi. Yesus datang dari atas dan berasal dari Bapa.

Ia mengatakan apa yang dikehendaki Bapa. Ia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya. Tetapi manusia tidak bisa menerima-Nya.

Kita ini harus terus menerus mengusahakan kesucian agar dapat menerima sabda-Nya. Hanya dengan hati suci kita bisa menerima sabda Yesus. kita diajak percaya pada sabda-Nya.

Dengan percaya pada sabda Yesus, kita akan memperoleh hidup kekal. Nikodemus diajak untuk memehami kehendak Allah yang mengutus Putera Tunggal-Nya.

Ia yang rela mati untuk menebus dosa kita. Betapa besarnya kasih Allah kepada manusia sehingga Ia mengutus Putera-Nya dan mati untuk kita. Agar kita yang berasal dari dunia ini beroleh hidup kekal-Nya di surga.

Thengkleng istimewa menu makan siang.
Disajikan dengan penuh kejutan.
Yesus Kristus Sang Putera Terang.
Turun ke dunia membawa keselamatan.

Cawas, hatiku damai…..
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 22.04.20 Yohanes 3:16-21 / Keriang dan Anai-Anai

 

DATANG pertama di Camp Tigal disambut dengan musim keriang. Keriang adalah nama binatang semacam belalang. Bentuknya seperti garengpung, tetapi suaranya memekakkan telinga.

Ia datang pada waktu malam, menyerbu cahaya lampu. Jumlahnya bisa ribuan. Orang-orang menangkapnya dan memotong bulu, kaki dan kepalanya, lalu digoreng menjadi lauk lezat. Lain waktu muncul “laron” atau anai-anai.

Sehabis hujan pertama mereka muncul. Binatang ini juga mencari cahaya. Kita siapkan lampu teplok dan tampah. Mereka akan menyerbu dan mengerumuni cahaya.

Kita tinggal “ayak” dengan tangan, semua bulunya rontok. Lalu dicuci dan digoreng dengan telur. Hmmm …. nyaman sekali. Tapi awas, kalau alergi bisa “biduren” atau gatal-gatal.

Binatang-binatang ini datang hanya untuk memberi kehidupan. Mereka mengorbankan dirinya untuk burung, kelelawar, tokek, cicak dan juga manusia.

Sekali muncul sesudah itu mati demi kehidupan yang lain. Mereka senang kepada cahaya karena hidup mereka demi kebaikan.

Mereka keluar dari tanah, terbang mencari terang/cahaya dan kemudian mati demi kehidupan yang lain. Mereka mengorbankan diri demi keselamatan makhluk.

Begitu juga kasih Allah kepada manusia. “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Allah mengorbankan Putera Tunggal-Nya untuk keselamatan manusia.

Allah-lah yang lebih dahulu mengasihi manusia. Manusia yang jatuh dalam kegelapan dosa tidak mampu menyelamatkan dirinya. Allah berinisiatif menyelamatkan kita.

Maka Ia mengorbankan Putera Tunggal-Nya untuk kita. Kasih itu terwujud dalam pengorbanan. Keriang dan anai-anai atau “laron” itu mengorbakan hidupnya demi keselamatan yang lain. Yesus mati di salib demi kehidupan kita.

Kita ini “dibela-belain” sampai mati oleh Yesus. Allah membela kita, bukan kita yang membela Allah. Maka marilah hidup dengan kasih dan sukacita.

Marilah kita juga berani berkorban demi orang lain. Kasih yang dibagikan tidak akan hilang, tetapi justru akan makin berkembang. Kasih akan nampak dalam pengorbanan-pengorbanan kita.

Ayam goreng di kulkas sungguh merana.
Dingin membeku tak ada yang membuka.
Kasih Allah kepada manusia begitu nyata.
Yesus dikurbankan dan mati bagi kita.

Cawas, tetap di rumah aja….
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Homili Malam Paskah, Bapa Uskup: Jangan Takut! Tuhan Beserta Kita

Perayaan Malam Paskah (11/4) terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena diikuti seluruh umat Keuskupan Agung Semarang melalui streaming. Meski demikian, seluruh Umat Kristiani bersukacita menyambut kebangkitan Sang Juruselamat.

Dalam Misa Malam Paskah live streaming di kanal YouTube KOMSOS Keuskupan Agung Semarang yang disiarkan langsung dari Gereja Katedral Santa Perawan Maria Ratu Rosario Suci, Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko mengawali homilinya dengan mengucapkan Selamat Paskah kepada seluruh umat. Bapa Uskup juga bertanya pada umat, “Apakah kalian masih setia dan bangga menjadi murid Krisus di tengah situasi seperti ini?”. Menurutnya, kita semua sebagai Umat Katolik sejak tiga hari berturut-turut setia dan semangat mengikuti Perayaan Tri Hari Suci di situasi pandemi Covid-19 ini. Bapa Uskup juga menyampaikan bahwa tidak sedikit yang merasa terharu karena mengalami kasih Tuhan yang luar biasa di saat mengalami kesusahan hidup.

Selama tiga hari ini, banyak umat yang mengirimkan pesan kepada Bapa Uskup untuk mengungkapkan pengalaman iman mereka yang sangat mendalam. Dari sekian banyak pesan, Bapa Uskup menyimpulkan dua ungkapan pengharapan dan kerinduan yang sangat mendalam di antara kita. Pertama, kerinduan untuk mengikuti Perayaan Paskah seperti tahun-tahun silam di mana kita semua merayakan di gereja dan menerima tubuh Kristus. Selain tiu, ada juga harapan kita agar pandemi Covid-19 ini bisa berakhir agar kita semua dapat melakukan aktivitas seperti basa. Apakah Anda juga memiliki kerinduan dan harapan yang sama?

Bapa Uskup juga memberikan pengandaian, “Seandainya pada mala mini pemerintah kita mengumumkan bahwa wabah virus Corona sudah berakhir dan kita semua bisa beraktivitas seperti biasa, apa yang akan kita lakukan?”. Menurutnya, bisa jadi sebagian dari kita akan keluar rumah dan bersuka ria bersama keluarga dan kerabat kita. “Namun, ada beberapa orang juga yang masih khawatir dan waspada. Apakah kabar ini benar?”, ujarnya.

“Inilah juga yang dirasakan oleh para murid Yesus. Mereka sudah beberapa hari mendekam di dalam rumah dengan perasaan tercekam setelah penangkapan dan penyaliban Yesus di Gunung Golgota. Kemudian datanglah dua orang perempuan yaitu Maria Magdalena dan Maria yang lain membawa kabar bahagia setelah ditampaki oleh malaikat yang mengatakan bahwa Yesus telah bangkit dan hidup kembali,” kata Bapa Uskup. Sebagai umat, kita juga dapat membayangkan bahwa para murid bergembira dan melonjak kegirangan. Tetapi menurut Bapa Uskup, ada sebagian murid yang khawatir, bertanya-tanya perihal kebenaran pemberitaan itu dan apakah mereka boleh pergi keluar rumah tanpa ditangkap orang Yahudi?

“Ketakutan itu semua sirna seketika saat mereka berjumpa langsung dengan Yesus. Dia memberikan salam damai dan bersabda, ‘janganlah takut’. Inilah pengalaman Paskah yang menghalau ketakutan dan membawa sukacita, juga semangat untuk keluar rumah dan pergi mewartakan kegembiraan. Seperti itulah pengalaman para murid akan kebangkitan Yesus,” kata Bapa Uskup.

Bapa Uskup juga bertanya, “Lalu, bagaimana dengan kita yang hari ini merayakan Paskah? Apakah ada sukacita?”. Menurutnya, sebagai umat Katolik kita harus bersukacita dan bergembira karena kita semua mengalami pembebasan dari dosa. Tuhan telah menyelamatkan kita dari kuasa kegelapan.

Sabda Yesus ‘janganlah takut’ bukan hanya ditujukan pada kedua perempuan dan para murid saja, tetapi juga untuk kita semua yang sedang mengalami kecemasan dan ketakutan akan sakit dan kematian. Ada pula yang mengawathirkan hari esok, pekerjaan, kelanjutan studi, keluarga, dan hal lainnya.

“Yesus bersabda seperti itu karena ini adalah saatnya kita membuang rasa takut itu dan mengubahnya menjadi sebuah pengharapan dan keyakinan bahwa Tuhan mendampingi dan menyertai kita. Tuhan selalu membimbing kita dalam menjalani hidup yang penuh dengan kewaspadaan dan kehati-hatian agar terhindar dari wabah virus Corona,” tambah Bapa Uskup.

Bapa Uskup sungguh-sungguh mencoba untuk memperhatikan keselamatan dan keamanan umat Keuskupan Agung Semarang dengan membuat kebijakan untuk meniadakan berbagai pertemuan yang melibatkan banyak orang. Bapa Uskup juga melarang para Romo dan Prodiakon untuk berkeliling ke rumah-rumah umat yang rindu akan tubuh Kristus.

Kita semua sebagai umat Katolik diajak untuk tidak takut menghadapi segala situasi kehidupan ini. Kita harus memiliki keyakinan bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan kita. Sama halnya dengan kedua perempuan yang diutus Yesus untuk menemui para muridnya agar mereka dapat menjumpai Yesus di Galilea. Kita yang merayakan Paskah juga diutus, diajak Yesus untuk keluar mewartakan kabar sukacita kepada semua orang yang kita jumpai. Pertanyaan yang muncul adalah ‘bagaimana cara mewartakannya di tengah situasi pandemi di mana kita tidak boleh keluar rumah seperti ini?’.

Bapa Uskup pun menjelaskan bahwa kita bisa mewartakan kabar gembira keselamatan itu dengan cara melakukan perbuatan-perbuatan baik dan nyata, seperti ramah-tamah, menjalin persaudaraan, mempererat solidaritas, dan meningkatkan kepedulian. “Di situasi sekarang ini, tenaga medis, orang-orang yang mengalami kesulitan ekonomi, keluarga kita yang sudah tua, dan di luar sana banyak orang yang membutuhkan perhatian dan dukungan kita. Kita dipanggil untuk memegang erat amanat Yesus dengan semangat dan penuh sukacita,” ujar Bapa Uskup.

Sembari menutup kotbahnya, Bapa Uskup berpesan kepada seluruh umat untuk selalu bahagia dan jangan takut dalam menghadapi setiap peristiwa dalam hidup. “Tuhan akan selalu menyertai kita,” imbuhnya.

Puncta 21.04.20 Yohanes 3:7-15 / “Golekana Galihing Kangkung”

 

DALAM sastra Jawa ada ”tembung sanepan.” Sanepan adalah bentuk komunikasi dengan menyebut tanda-tanda atau bahasa kiasan agar kita bisa menemukan makna yang paling dalam bagi kehidupan kita. Kadangkala komunikasi ini bisa menjadi sarana sharing pengalaman yang mendalam.

Misalnya, sanepan-sanepan yang sering kita dengar adalah, “Golekana galihing kangkung” (Carilah inti dalamnya batang kangkung), “Golekana tapaking kuntul nglayang.” (Carilah bekas tapak kaki burung bangau yang terbang), “Golekana Kayu Gung Susuhing Angin.” Dan masih banyak contoh sanepan lainnya.

Inti dalamnya batang kangkung itu hanya hampa, angin belaka. Kita manusia itu bisa hidup karena ada nafas, angin yang ditiukpan ke dalam diri kita. Kita berasal dari kehampaan dan akan kembali kepada yang mengisi kehidupan kita. “Golekana tapaking kuntul nglayang.”

Secara iman Katolik, itu berarti Yesus sendiri. Kuntul itu burung bangau putih. Putih itu lambang kesucian. Ia terbang, berarti naik ke atas, surga. Siapakah yang telah naik ke surga kalau bukan Dia yang berasal dari surga?

“Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga, selain Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia.”

Bekas tapak kuntul yang melayang, apa dan siapakah itu? Orang-orang yang telah dibaptis dan menjadi pengikut Yesus itulah tanda kelihatan dari Yesus yang naik ke surga.

Kita ini adalah tanda dari kehadiran Kristus sendiri. Orang-orang katolik yang melaksanakan ajaran Kristus adalah tanda dari kehadiran Kristus. Mereka itulah “tapaking kuntul nglayang.”

Pembicaraan Yesus dengan Nikodemus itu memakai perlambang-perlambang tinggi dan dalam. Orang harus dilahirkan kembali dalam air dan roh. Kalimat itu tidak boleh hanya ditangkap secara lahiriah semata.

Kalau hanya diartikan secara letterlijck, maka sulit terjadi. Bagaimana kalau orang sudah tua harus lahir kembali dari rahim ibunya? Begitu cara pikir Nekodemus.

Pembaptisan itulah kelahiran kembali. Orang yang dibaptis, dilahirkan kembali menjadi manusia baru, menjadi Anak Allah. Dengan menjadi Anak Allah ia akan beroleh hidup kekal dalam kerajaan Allah.

Syarat untuk memperoleh hidup kekal adalah percaya kepada Anak Manusia dengan pembaptisan. Dengan demikian orang dilahirkan kembali.

Sarang angin ada dimana?
Di ufuk saat mentari datang.
Kristus Yesus junjungan kita.
Sudah bangkit dan menang.

Cawas, menanti bulan purnama…
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 20.04.20 Yohanes 3: 1-8 / Rama Nitis

 

KISAH wayang ini menggambarkan bagaimana Prabu Ramawijaya di Pancawati lahir kembali dalam diri Prabu Batara Kresna. Sejarah Sang Hyang Wisnu, pemelihara alam semesta mangejawantah dalam diri pribadi-pribadi yang membawa keselamatan.

Pertama menjelma dalam diri dalang Kandhabuwana, Kedua lahir dalam diri Prabu Harjuna Sasrabahu Raja Maespati, Ketiga menjelma dalam diri Raksasa Wisnungkara di Lokapala, keempat lahir dalam diri Prabu Ramawijaya, kelima dalam diri Batara Kresna di Dwarawati.

Keenam manjalma dalam diri Sri Aji Jayabaya di Pamenang, ketujuh dalam diri Prabu Anglingdarma di Malawapati Bojanagara, ketujuh dalam diri Prabu Brawijaya terakhir di Majapahit. Setelah itu Wisnu kembali ke Kahyangan.

Pembicaraan antara Yesus dengan Nikodemus berkisar tentang kelahiran kembali. Nikodemus berpikir lahir kembali secara lahiriah.

“Bagaimana mungkin seorang dilahirkan kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan kembali?”

Namun Yesus berbicara bahwa kelahiran kembali itu terjadi dalam air dan Roh. Dalam diri manusia ada daging dan Roh. Apa yang dilahirkan dari daging adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari roh adalah roh.

Orang yang dilahirkan dari Roh akan hidup secara baru. Ia melihat bukan hanya apa yang nampak di mata. Ia bisa melihat apa yang tidak terlihat.

Seperti orang bisa merasakan desiran angin. Ia mendengar bunyinya, namun ia tidak bisa mengira dari mana angin datang dan kemana dia pergi.

Dunia ini bukan hanya badan “wadhag” atau benda-benda lahiriah semata, ada Roh yang tak kelihatan memimpin kehidupan kita. itulah Roh Kudus yang menerangi dan menuntun langkah kehidupan kita.

Lahir dalam Roh berarti mengikuti kehendak Allah yang menciptakan kita. orang yang lahir dalam Roh berarti dipimpin oleh kehendak Allah. Ia membawa keselamatan, kebaikan, keselarasan, harmoni kehidupan dengan alam semesta.

Pembaptisan berarti kita lahir dalam Roh yang membawa kita menjadi anak-anak Allah. Dengan dibaptis, kita dilahirkan kembali. Kehidupan lama berubah menjadi hidup yang baru.

Roh Kuduslah yang menuntun kita mengarah kepada Bapa. Apakah kita sadar bahwa dengan pembaptisan, hidup kita sudah diperbaharui dalam Roh Kudus? Ataukah kita masih hidup dengan cara lama?

Rumput hijau tak muncul di pagi hari.
Ia layu karena panas terik matahari.
Dalam pembaptisan kita lahir kembali.
Dibimbing menjadi anak Allah yang sejati.

Cawas, selalu berdoa dan berharap….
Rm. A. Joko Purwanto Pr