Renungan Harian

Puncta 19.04.20 Minggu Paskah II. Pesta Kerahiman Ilahi Yohanes 20:19-31 Mukidi dan Taik Ayam

 

MUKIDI pergi ke gereja naik sepeda. Di tengah jalan ban sepedanya melindas paku tajam, “bleesssss….” Ban sepeda kempes. Mukidi turun tidak percaya. Ia pencet ban sepedanya. “Woow.. kempes.”

Ia tuntun sepedanya beberapa ratus meter. Tali sandal yang dia pakai putus. Sandal dia buang. Dengan kaki telanjang dia berjalan sambil menuntun sepeda.

Tanpa sengaja kakinya menginjak “telek lencung”. Ia tidak percaya. Tangannya meraba kaki yang menginjak benda sedikit lembek. Ia membaui tangannya. “Wow.. taik ayam.”

Kita ini punya rasa ingin tahu, tidak mudah percaya, ingin melihat bukti nyata. Sifat-sifat itu melekat dalam diri kita.

Sudah diminta untuk diam di rumah supaya bisa menyetop penyebaran virus corona, tetapi orang masih tetap berkumpul di kafe atau warung-warung. Rasa ingin tahu dan tidak mudah percaya itulah yang sering mendorong orang berbuat sesuatu.

Sesudah Yesus bangkit, beberapa kali Dia menampakkan diri kepada para murid. Ia memberi salam kepada mereka, “Damai sejahtera bagi kamu.” Dia datang bukan membawa ketakutan, tetapi membawa damai sejahtera.

Tomas atau Didimus adalah salah satu murid yang belum pernah melihat Tuhan. Maka dia tidak percaya kalau tidak melihat dengan mata kepala sendiri. Tidak percaya dan ingin membuktikan sendiri itulah niatnya Tomas.

Seperti Mukidi, sudah tahu dia menginjak taik ayam, namun jarinya masih tetap ingin membuktikan bahwa benar itu taik ayam, bahkan belum puas jika belum menciumnya sendiri.

Tomas sudah mendengar dari cerita beberapa murid, juga para wanita bahwa Yesus bangkit. Tetapi dia ingin membuktikan sendiri bahwa Yesus sungguh bangkit.

Yesus memberi waktu dan tempat khusus kepada Tomas. Ia menampakkan diri saat murid-murid berkumpul bersama Tomas. Akhirnya dia mengakui, “Ya Tuhanku dan Allahku.”

Itulah pengakuan iman yang tulus. Di hadapan Yesus, kita mengakui, Dialah Tuhan dan Allah kita. Tuhan menghibur kita semua, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya.”

Kita tidak mungkin melihat Yesus yang bangkit. Tetapi kendati demikian, kita percaya bahwa Yesus hidup di tengah-tengah kita. Mari kita hidupi iman kita ini dengan saling mengasihi.

Malam-malam pasang property.
Lihat film dengan kacamata.
Yesus bangkit dari mati.
Dia tinggal di tengah kita.

Cawas, bulan di atas telaga…
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 18.04.20 Sabtu Oktaf Paskah Markus 16:9-15 / Duta; “Pergilah Ke Seluruh Dunia…”

 

TIGA KALI para Pandawa mengirim utusan untuk minta dikembalikannya Kerajaan Indraprasta ke tangan mereka. Namun Kurawa bersikukuh tidak mau mengembalikannya.

Yang pertama menjadi utusan adalah Kunti, ibu para Pandawa. Pandawa berpikir, karena seorang ibu, Kunti pasti dihormati oleh Kurawa. Namun ternyata sebaliknya. Kurawa mencemooh dan menolak Kunti.

Posisi Kunti sebagai seorang wanita tidak diakui. Suara Kunti tidak didengarkan oleh Kurawa. Mereka menganggap urusan politik adalah urusan laki-laki. Suara perempuan tidak ada gunanya. Kunti ditolak mentah-mentah oleh Kurawa.

Utusan kedua, Prabu Drupada juga gagal. Duta ketiga adalah Prabu Kresna. Semua gagal dan perang Baratayuda tak terhindarkan.

Dalam bacaan Injil hari ini menggambarkan bahwa posisi perempuan itu lemah. Suara mereka tidak dipercaya. Yesus menampakkan diri kepada Maria Magdalena.

Lalu Yesus menyuruh Maria untuk memberitahukan kepada mereka yang selalu mengiringi Yesus. Tetapi ketika mereka mendengar cerita Maria bahwa Yesus hidup, mereka tidak percaya.

Perempuan dalam tradisi Yahudi tidak diperhitungkan. Kita masih ingat di perikope yang lain, waktu Yesus menggandakan roti. Berapa orang yang ikut makan? Limaribu orang laki-laki. Perempuan tidak dihitung.

Hal itu menunjukkan bahwa posisi perempuan sangat lemah, tidak diperhitungkan. Begitu juga dalam perikope ini. Maria Magdalena adalah orang pertama yang dijumpai Yesus yang bangkit. Tetapi omongannya tidak dipercaya oleh murid-murid lain. Yang notabene adalah laki-laki.

Akhirnya Yesus menampakkan diri kepada mereka. Yesus mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya.

Memang kaum laki-laki lebih banyak berpikir pakai otaknya. Harus ada penjelasan logis dan bisa dicerna otak. Baru mereka akan percaya. Perempuan lebih instinctif menggunakan perasaan dan hati.

Namun tugas penting di sini disampaikan oleh Yesus, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” Tuhan menggunakan aneka cara agar mereka percaya bahwa Dia hidup dan mengutus murid-murid menjadi duta.

Baik laki-laki maupun perempuan sama diutus menjadi duta. Kita diutus menjadi saksi kebaikan Tuhan. Mari kita wartakan….

Pagi-pagi berjemur di mentari.
Lihat rumput hijau tumbuh subur.
Kita semua dipanggil menjadi saksi.
Mewartakan kasih Allah mahaluhur.

Cawas, wouw……
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 17.04.20 Jumat Oktaf Paskah Yohanes 21:1-14 / Think Out of The Box

 

FILM berjudul “Manjhi, The Mountain Man” diambil dari kisah nyata seorang pria tua bernama Dasrath Manjhi. Ia membelah gunung seorang diri selama 22 tahun.

Waktu itu ia membawa istrinya, Falguni ke rumah sakit. Ia harus menempuh jarak 70 km dari Gehlaur ke Wazirgang. Karena jarak yang jauh itu istrinya tak terselamatkan. Ia bertekad menembus gunung.

Orang desa menyebut dia gila. Ia butuh waktu 22 tahun untuk memperpendak jarak dari desanya ke rumah sakit.

Setelah gunung itu terbelah, orang-orang desa hanya menempuh jalan satu kilometer menuju rumah sakit. Itu semua berkat seorang tua Dasrath Manjhi yang berani berpikir out of the box.

Para murid kembali ke pekerjaan awal mereka menjadi nelayan. “Aku pergi menangkap ikan,” kata Petrus. “kami pergi juga dengan engkau.” Kata mereka.

Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. Hampir tiga tahun mereka mengikuti Yesus pergi kemana-mana. Tidak pernah menangkap ikan lagi.

Kini mereka kembali menjadi nelayan. Mungkin mereka sudah tidak terampil seperti dulu lagi. Mereka memakai cara-cara lama yang sudah usang dan hasilnya nonsense.

Yesus menampakkan diri di pinggir pantai. Yesus membawa cara baru yang berbeda dengan kebiasaan lama. “”Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh.”

Orang menebarkan jala pada umumnya ke sebelah kiri. Sekarang Yesus menyuruh mereka menebarkan jala ke sebelah kanan. Itulah model Think Out of The Box. Keluar dari tradisi lama. Berani meninggalkan kebiasaan lama.

Atau kalau lebih nyaman menebarkan jala ke kiri, perahunyalah yang harus dibalikkan arahnya. Arah perahunya diubah dari posisi lama ke posisi yang baru. Yang penting berani berubah.

Ketika mereka berani mengubah cara/tradisi maka mereka berhasil. Paskah berarti berani berubah, bertransformasi. Bagaimana kita bisa mempunyai cara pikir out of the box?

Pertama, berhentilah menyalahkan, tetapi berani ambil tanggungjawab. Umumnya orang hanya pandai menyalahkan situasi. Kedua, berhentilah selalu komplain, mengeluh, tetapi cari cara menyelesaikannya. Kita ini dikit-dikit ngeluh, protes, cuma demo-demo di jalan.

Ketiga, berhenti mempertahankan diri, defensif, tetapi mulailah proaktif. Bertahan berarti tidak berani keluar dari zona nyaman.

Keempat, buka wawasan baru dan kembangkan rasa ingin tahu. Jangan hanya berpikiran sempit, hanya untuk diri sendiri. Mari jadilah umat Katolik yang transformatif…

Memasak lodeh dengan terong ungu.
Ditambah daun melinjo dan santan.
Berpikirlah dengan cara yang baru.
Agar tidak ketinggalan zaman.

Cawas, belajar masak sendiri….
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 16.04.20 Kamis Oktaf Paskah Lukas 24:35-48 / Hantu Di Kamar

 

KISAH kursi hijau di Seminari; pada awal penerimaan jubah di seminari, semua frater sangat senang. Baru pertama kali memakai jubah putih.

Seorang frater malam-malam menggantung jubahnya di balik pintu. Lampu dimatikan mau tidur. Ketika terbangun mau ke kamar mandi, ia membuka mata dan kaget.

Ada putih-putih berdiri di pintu. Ia “kucek-kucek” matanya, benda itu tidak hilang. Ia mulai ketakutan. Ia membuat tanda salib dan berdoa Bapa Kami. Tidak hilang juga. Ia melihat benda putih itu tidak menapak di tanah.

Hantu dalam pikirnya. Makin gemetaran. Ia berdoa lebih khusuk lagi. Mulai keringat dingin bercucuran. Hantu itu tak mau pergi. Mau menyalakan lampu takut, karena saklar listrik ada di dekat sang hantu.

Karena gugup dan bingung, ia mengambil sandal dan melemparkannya ke arah hantu itu. “Glodhag…” suara sandal mengenai pintu. Ia baru tersadar hantu putih itu ternyata jubahnya sendiri yang tergantung di balik pintu. Ia tergeletak di tempat tidur lagi. Hhallaahhhh….

Dengan berbagai cara Yesus membuktikan diri-Nya bahwa Ia bangkit dan hidup. Cerita-cerita penampakan itu masih seperti dongeng belaka bagi mereka. Ketika Yesus hadir di tengah-tengah mereka, mereka tidak percaya.

Yesus berkata, “Damai sejahtera bagimu.” Mereka terkejut dan takut, karena mengangka bahwa mereka melihat hantu. Mereka masih ragu-ragu.

Maka Yesus minta kepada mereka untuk meraba tangan dan kaki-Nya. Hantu tidak punya tulang dan daging. Mereka tercengang, tidak percaya.

Mereka belum yakin. Yesus minta makanan.mereka memberi ikan goreng. Ia memakan-Nya di depan mata mereka. Hantu tidak akan makan ikan atau roti. Hantu makan bunga tujuh warna.

Dengan berbagai cara Yesus membuktikan bahwa Ia hidup. Para murid pelan-pelan menjadi sadar bahwa Yesus Tuhan mengalahkan kematian. Ia sungguh bangkit.

Yesus memberi tugas kepada mereka untuk memberi kesaksian. “Dalam Nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalan saksi dari semuanya ini.”

Marilah kita jadi saksi warta sukacita Paskah ini. Dengan cara dan kapasitas kita masing-masing. Kita bisa membawa kegembiraan dan sukacita kepada semua orang.

Apalagi dalam situasi pandemi korona ini, kita harus mampu membawa harapan dan kegembiraan kepada semua orang. Mari kita wartakan….

Pagi-pagi melihat sawah
Di ufuk timur matahari bersinar terang
Kita wartakan sukacita Paskah
Beri harapan dan sukacita bagi semua orang

Cawas, property disiapkan….
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 15.04.20 Rabu Oktaf Paskah Lukas 24:13-35 / Habis Gelap Terbitlah Terang

 

KITA semua kenal dengan RA Kartini. Dia berkorespondensi dengan sahabat-sahabatnya di Belanda. Setelah wafat, surat-surat itu dikumpulkan menjadi buku yang berjudul “Door Duisternis tot Licht” yang arti harafiahnya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”.

Oleh Penerbit Empat Saudara, judulnya diganti menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang.” Surat-surat Kartini itu berkisah tentang harapan, cita-cita dan keinginan Kartini agar kaum perempuan di Hindia Belanda mendapat hak yang sama dengan laki-laki.

Kaum perempuan mengalami kegelapan karena ditindas, dijajah dan hanya dijadikan “kanca wingking” , pelengkap bahkan obyek kaum laki-laki.

Ia ingin kaum perempuan “duduk sama rendah berdiri sama tinggi” dengan laki-laki. Ia berharap suatu saat nanti terbitlah terang yakni kesamaan derajad antara laki-laki dan perempuan.

Suasana kegelapan itu dialami dua orang murid yang pulang ke Emaus. Dalam perjalanan mereka “ngudarasa” sharing perasaan, kepada teman baru yang ikut nimbrung.

Mereka kecewa, putus asa, tak berpengharapan lagi. Itu digambarkan dengan “muka muram.” Harapan mereka hancur dengan ucapan, “Padahal kami dahulu mengharapkan…..” dan suasana hati mereka ditegaskan oleh Yesus dengan berkata,

“Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu.” Mereka yang pulang kampung itu digambarkan sebagai orang yang mukanya muram, bodoh, lamban hati. Itulah suasana kegelapan.

Suasana itu berubah ketika mereka mengadakan perjamuan malam. Yesus singgah di rumah mereka dan Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada mereka. Inilah ekaristi.

Yesus berganti posisi menjadi tuan rumah yang membagi roti. Dan ketika itu terbukalah hati mereka. Mereka mengenali Yesus yang membagi roti. “Bukankah hati kita berkobar-kobar?”
Dari muram menjadi berkobar-kobar. Itulah Cahaya atau Terang.

Habis gelap Terbitlah Terang. Mereka langsung kembali ke Yerusalem untuk berbagi cerita bahagia ini. Sesudah ekaristi kita diutus mewartakan kabar sukacita. Ekaristi adalah tempat perjumpaan kita dengan Tuhan.

Pembacaan sabda Tuhan itu untuk persiapan perjumpaan nyata saat Ia memecahkan roti. Sadarkah kita bahwa dalam Ekaristi kita sungguh-sungguh berjumpa dengan Tuhan yang bangkit?

Paskah selalu membawa transformasih hidup. Habis Gelap Terbitlah Terang.

Dari Jakarta menuju Tangerang.
Singgah dulu di Bekasi.
Kristus Bangkit membawa Terang.
Kita diutus menjadi saksi.

Cawas, termenung di pojok kasur…
Rm. A. Joko Purwanto Pr