Renungan Harian

Puncta 05.03.20 Matius 7:7-12 / Pengorbanan Sang Bagaspati

 

RESI Bagaspati punya anak perempuan cantik namanya, Pujawati. Puterinya ini jatuh cinta pada seorang pemuda bernama Narasoma.

Pujawati meminta ayahnya untuk mencari dimana Narasoma berada, dan membawanya ke pertapaan Argabelah. Permintaan Pujawati disanggupi.

Narasoma diminta supaya mau menerima Pujawati sebagai istrinya. Terpikat oleh kecantikan Pujawati, Narasoma menerima kemauan gadis cantik itu.

Namun dia minta sebuah syarat yakni kematian Bagaspati. Karena Narasoma tidak suka mempunyai mertua seorang raksasa.

Demi kebahagiaan anak dan menantunya, Bagaspati menyerahkan nyawanya kepada Narasoma.

Bahkan sebelum meninggal Bagaspati memberi ajian sakti yang dimilikinya yakni Candabirawa kepada Narasoma. Ia minta kepada Narasoma agar anaknya tidak dimadu, disia-siakan, disengsarakan.

Narasoma menepati janjinya. Ia mengubah nama istrinya menjadi Dewi Setyawati. Mereka hidup bahagia di Kerajaan Mandaraka.

Yesus bercerita tentang siapa Allah itu. Allah adalah Bapa yang baik. Bapa itu akan memberikan apa yang diminta oleh anaknya.

Maka Yesus menyuruh kepada murid-muridNya untuk berani meminta kepada Bapa.

“Mintalah, maka kamu akan diberi; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.”

Seperti Resi Bagaspati itu, anaknya minta dicarikan jodoh, ia mencarikan sampai mendapat.

Bahkan sampai sang menantu yang meminta nyawanya pun, diberikan demi kebahagiaan anaknya. Nyawanya dikurbankan demi kebahagiaan mereka.

Tidak ada seorang ayah yang tega memberikan batu kepada anaknya, jika ia minta roti. Tidak ada seorang ayah rela memberi ular kalau anaknya minta ikan. T

Tidak ada seorang ayah tega melihat anaknya menderita. Jika kita manusia tahu memberi yang terbaik, betapa Allah juga akan memberikan yang paling baik kepada kita semua.

Allah kita bukan Allah yang sedikit-sedikit menghukum, atau mengutuk, atau menakut-nakuti. Allah kita adalah Allah yang baik dan murah hati, suka mengampuni dan sangat peduli.

Allah kita adalah seorang Bapa yang hanya memikirkan kebahagiaan anaknya. Itulah wajah Allah yang ditunjukkan Yesus kepada kita semua. Kasih Allah itu nampak dalam kasih Yesus kepada kita semua.

Ke Menchester membeli setangkai anggur
Tanpa plastik cukup dibungkus kertas
Pantaslah kita sebagai anak-anak bersyukur
Punya Allah Bapa yang mengasihi tanpa batas

Cawas, kabar beritanya menggembirakan
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 04.03.20 Lukas 11:29-32 / Tanda-Tanda

 

BERITA tentang virus corona telah membius secara global. Dunia dibuat takut dengan merebaknya virus ini.

Kepanikan massal terjadi dimana-mana. Orang menyerbu mall untuk memborong masker, bahan makanan dan minuman.

Orang berusaha menimbun sembako di rumah. Takut keluar rumah. Takut kehabisan barang.

Di tengah kepanikan itu ada oknum-oknum kapitalis yang memanfaatkan kesempatan mencari untung diri sendiri.

Bisa diduga kepanikan massal ini memang diciptakan. Ada orang atau pihak yang menebar ketakutan demi keuntungan pribadi.

Dunia lebih mempercayai berita-berita menakutkan daripada hal-hal baik yang membawa damai.

Ada banyak hal baik dan benar di dunia ini tetapi orang lebih percaya pada berita-berita hoax dan menghancurkan. Akibatnya masyarakat dibuat takut, panik dan brutal.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengingatkan kepada angkatan dunia ini. Orang banyak meminta tanda kepada Yesus sebagai utusan dari surga.

Tetapi Yesus tidak mau memberi tanda. Sekalipun diberi tanda, orang-orang ini tetap tidak percaya. Maka Yesus mengutip peristiwa di Perjanjian Lama.

Ratu dari selatan itu datang kepada Salomo dan dia percaya pada hikmatnya. Orang-orang Niniwe bertobat ketika mendengar pewartaan Yunus.

Tetapi orang-orang ini tidak percaya pada pewartaan Yesus. Orang yang tidak percaya, diberi tanda apa pun akan sulit menerimanya.

Yang dibutuhkan adalah pertobatan, bukan tanda. Tanda tidak akan berguna apa-apa, kalau orang tidak mau bertobat.

Yunus mengabarkan bahwa Tuhan akan murka jika orang-orang Niniwe tidak bertobat.

Mereka percaya dan melakukan pertobatan, dari orangtua sampai bayi-bayi, dari hewan sampai seluruh ciptaan, dari raja sampai orang biasa. Mereka melakukan pertobatan.

Semestinya munculnya gejala-gejala alam sekarang ini memberi tanda kepada semua orang untuk melakukan pertobatan.

Bertobat dari percaya pada berita-berita hoax kepada berita yang benar. Bertobat menyebarkan hinaan, kebencian, kekerasan, fitnah dan berita bohong.

Bertobat menebarkan ketakutan, teror, dan intimidasi. Mari kita lebih mengedepankan kemanusiaan, kasih sayang, perdamaian, kerukunan, kebersamaan supaya kita hidup dalam damai.

Virus corona menyebar kemana-mana
Dunia menjadi panik dibuatnya
Kita harus tebarkan virus cinta kepada sesama
Agar dunia menjadi damai dan sukacita

Cawas, menunggu berita gembira
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 03.03.20 Matius 6:7-15 / Ampunilah, Maka Kamu akan Diampuni

 

TIDAK ada sebutan sedekat dan seakrab Yesus yang menyapa Allah sebagai Bapa. Yesus mengajarkan kepada murid-muridNya untuk menyapa Allah sebagai Bapa.

Bapa bagi Yesus adalah Bapa yang murah hati dan berbelaskasih. Bapa yang maha pengampun.

Seperti digambarkan Yesus dalam perumpamaan anak yang hilang dan domba yang sesat. Yesus menyebut Allah sebagai Bapa dan kita diajak menyapaNya sebagai Bapa Kami.

Kita semua dimasukkan dalam relasiNya dengan Bapa. Kita ini adalah saudara-saudara Yesus.

Kasih Bapa kepada Yesus itu diwujudkan oleh Yesus dalam mencintai orang berdosa, orang miskin, tersingkir, orang lemah dan cacat.

Orang-orang kecil itu ada di hati Yesus. Maka Yesus mengajarkan doa yang singkat dan sederhana itu kepada murid-muridNya. Doa Yesus itu pertama-tama untuk memuliakan nama Allah.

Meminta agar Allah meraja di dalam hati kita. mengapa begitu? Karena bagi Yesus, yang ada di hati Allah itu adalah orang berdosa, miskin, hina, tersingkir.

Hati Allah terfokus bagaimana menyelamatkan mereka itu. “Aku datang bukan untuk orang benar, tetapi orang berdosa.”

Maka Yesus mengajak kepada kita untuk memiliki hati seperti Allah. Kalau kita sudah “klik” dengan hati Allah, maka perwujudannya muncul dalam tindakan mengampuni orang yang bersalah kepada kita.

“Jikalau kamu mengampuni kesalahan orang lain, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga.”

Kita tidak boleh seperti perumpamaan orang yang berhutang kepada raja. orang itu berhutang banyak kepada raja dan raja menghapuskannya.

Tetapi sebaliknya dia tidak mau menghapuskan hutang sesamanya yang hanya sedikit. Kalau kita tidak mengampuni sesama, maka Bapa juga tidak akan mengampuni kita.

Doa Bapa Kami itu menggambarkan relasi vertikal dan horisontal. Kalau relasi kita dengan Tuhan (vertikal) baik, maka hubungan dengan sesama (horisontal) juga menjadi baik.

Kalau salah satu terganggu, maka yang lain akan terpengaruh. Jikalau kita berani mengampuni sesama, maka Bapa juga akan mengampuni kita. Jika tidak, Bapa juga tidak mengampuni kita.

Sudahkan anda berdamai dengan diri sendiri dan mau mengampuni orang lan?

Taman Bunga kering tidak disirami
Bunga merah kuning menjadi layu
Kalau kita berani mengampuni
Maka Bapa juga mengampuni dirimu

Cawas, Meratapi bunga yang layu
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 01.03.20 Minggu Prapaskah I Matius 4:1-11 / Godaan yang Menggiurkan

 

Setan menggoda manusia agar jatuh dalam dosa. Setan itu sangat pandai. Mungkin dia juga lulusan S3. Apa yang ditawarkan setan bukan barang yang buruk, jelek, kawe-kawe, apkiran, atau second.

Setan itu ngerti banget merk-merk branded lho ya, jangan dikira. Tawaran setan adalah sesuatu yang bagus, indah, menarik, yang disukai manusia.

Setan membawa Hawa kepada buah yang ada di tengah taman, bukan di pinggiran. Buah pohon itu baik untuk dimakan, sedap dipandang dan menarik hati.

Bahkan setan mengatakan bahwa kalau Hawa mau makan buah itu akan menjadi seperti Allah. Poin pertama yang harus kita ingat, godaan itu selalu baik, menarik dan indah.

Poin kedua, dosa itu bersifat sosial, menular dan berkembang. Pada waktu kecil diawali dengan suka mencontek. Ketika dewasa sudah pandai mencuri.

Waktu kecil suka ambil uang di dompet ibu. Ketika besar bisa korupsi bermilyar-milyar. Hawa memetik buah itu, lalu memakannya.

Ia tidak mau menikmatinya sendiri dan diberikannya juga kepada suaminya. Tidak heranlah kita kalau ada korupsi berjamaah. Dosa itu bisa berkembang, beranak-pinak.

Poin ketiga adalah godaan itu sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia. Kebutuhan dasar manusia adalah makan minum. Maka setan menggoda Yesus lewat kebutuhan dasarnya.

Yesus lapar, maka Dia butuh roti. Setan meminta Yesus mengubah batu menjadi roti. Kebutuhan kedua adalah harga diri atau prestasi. Setan mengajak Yesus ke bubungan Bait Allah. Jatuh dari atap Bait Allah dan tidak terluka sedikit pun itu sebuah prestasi, penghargaan diri, dikagumi.

Kebutuhan ketiga adalah kekuasaan atau power. Setan mengajak Yesus naik ke sebuah gunung dan ditunjukkan seluruh kerajaan dunia. “Semua itu akan kuberikan kepadaMu, jika Engkau sujud menyembah aku.”

Menghadapi godaan-godaan itu, Yesus hanya mengandalkan Allah. Pertama adalah firman Allah. Kedua adalah kuasa Allah.

Jangan meragukan kuasa Allah dan ketiga setia berbakti kepada Allah. Mengandalkan firman Allah, percaya pada kuasa Allah dan setia berbakti kepada Allah itulah cara menghadapi godaan setan.

Mau berwisata ke Negeri Balkan.
Bekalnya sambal goreng dan mie instan.
Godaan setan itu sangat menggiurkan.
Tapi pada akhirnya akan menjerumuskan.

Cawas, Teguh berdiri di Sabar Menanti
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 29.02.20 Lukas 5: 27-32 / Penyakit Dungu

 

BUKAN virus korona yang menakutkan, tetapi virus “ignorance” atau kedunguan publik itulah yang lebih menakutkan. Zaman sekarang orang tidak butuh kebenaran.

Kebenaran malah tidak dipercayai. Informasi instan penuh sensasi justru yang diterima, entah itu benar atau salah, hal itu tidak penting.

Contoh paling nyata viralnya pernyataan komisioner KPAI yang mengatakan bahwa perempuan bisa hamil saat berenang di kolam bersama laki-laki.

Pernyataan itu jelas tidak ada dasarnya, tetapi orang percaya. Ada lagi seorang ustad yang mengaku mantan pastor, lulusan S3 Vatikan.

Jelas itu bohong dan ngawur, tetapi orang percaya. Orang masa bodoh bahwa dia sedang dibodohi. Asal informasi itu dilempar ke jagad maya, orang meyakininya.

Dulu ada kasus Ratna Sarumpaet. Dokter Tompi yang ahli di bidangnya menjelaskan bahwa lebam di wajah Ratna itu bukan karena dipukuli orang tetapi bekas operasi plastik.

Orang tidak percaya pada ahli bedah kulit, tetapi lebih percaya pada politikus. Penyakit dungu, masa bodoh terhadap kebenaran itulah yang membahayakan sekarang.

Dalam Injil hari ini Yesus memanggil Lewi Mateus untuk mengikutinya. Lewi bersukacita karena boleh mengikutNya. Ia mengadakan pesta bersama para teman-temannya yakni pemungut cukai.

Tetapi hal itu membikin gusar para ahli Taurat. Yesus dituduh bergaul dengan orang-orang berdosa. Tetapi jawaban Yesus membungkam mulut mereka.

“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa supaya mereka bertobat.”

Di zaman informasi digital ini banyak orang sakit masa bodoh atau dungu. Mereka tidak tahu mana yang benar mana yang salah, mana yang bohong mana yang benar, mana yang menipu mana yang tulus.

Penyakit masa bodoh dan dungu seperti ini membutuhkan tabib yang mumpuni. Yesus justru datang kepada orang-orang berdosa, agar mereka bertobat. Orang sakit didatanginya agar mereka bisa disembuhkan.

Yesus mau bergaul dengan para pemungut cukai, orang-orang “berdosa”, kaum tersingkir, supaya mereka bertobat kembali kepada Allah.

Mungkin kita juga sedang sakit dungu atau masa bodoh. Kalau kita asal ngeshare berita tanpa memfilter dulu apakah berita itu benar atau bohong. Kita juga membutuhkan pertobatan pribadi.

Hati-hati dengan investasi bodong
Yang bonusnya tiket wisata ke Oslo
Hati-hati dengan berita bohong
Jangan kita jadi orang bodo

Cawas, Ingat core of the core
Rm. A. Joko Purwanto Pr