Puncta 05.12.19 Matius 7:21. 24-27 / Rumah yang Kokoh
SAYA pernah masuk ke sebuah rumah keluarga. Di dinding yang yang sudah mulai kusam karena cat sudah luntur, ada sebuah tulisan, “Rumah ini dibangun dengan keringat dan cinta.”
Dari apa yang tertulis tersirat bagaimana keluarga itu dibangun dengan perjuangan dan kasih yang kuat. Keringat sebagai tanda perjuangan. Cinta sebagai pengikat antara suami istri menjadi dasar pondasi yang kuat bagi keluarga.
Kata-kata itu adalah pengingat bagi semua anggotanya bahwa keluarga yang dibangun itu diperjuangkan dengan keringat dan cinta.
Hari ini Yesus memberi perumpamaan tentang membangun rumah bagi orang yang melaksanakan kehendak Tuhan. Orang yang beriman tidak cukup hanya berhenti di ucapan, tetapi harus sampai pada pelaksanaan.
“Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu, Tuhan! Tuhan! akan masuk kerajaan surga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu di surga.”
Bagi Yesus orang yang melaksanakan kehendak Allah adalah orang yang membangun rumah di atas batu karang. Badai dan hujan serta banjir tidak akan meruntuhkannya.
Sedang orang yang hanya menyebut-sebut nama Tuhan tetapi tidak melaksanakannya seperti orang yang membangun rumah di atas pasir. Hujan, badai dan banjir datang, rumah itu hancur berantakan.
Dalam pepatah Jawa ada istilah, “Gajah diblangkoni, bisa kotbah ora bisa nglakoni.” Artinya kurang lebih begini; orang bisa berkotbah, banyak omong tetapi tidak bisa melakukannya.
Pandai memberi nasehat tetapi tidak bisa mewujudkannya. Yesus mengajak kepada murid-murid supaya tidak hanya banyak omong doang.
Not action talk only. Tetapi apa yang kita omongkan itu kita lakukan juga. Integritas seseorang akan dinilai dari kesesuaian antara kata dan tindakan.
Yesus mengajak kita semua supaya jangan hanya menyeru nama Tuhan terus menerus tetapi lupa untuk mewujudkannya dalam karya nyata. Antara doa dan karya itu harus seimbang. Kalau hidup kita seimbang, pasti hati akan tentram.
Ke mall membeli sapu tangan
Dompet kosong tinggal uang ribuan
Bukan orang yang sering nyebut Tuhan
Tetapi mereka yang banyak amal kebaikan akan diselamatkan
Cawas, hanya sesaat tetapi bermanfaat
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 04.12.19 Matius 5: 29-37 / Berbelarasa
Menurut perhitungan Bank Dunia, jumlah orang yang hidup di bawah garis kemiskinan sekitar 10 persen dari total populasi dunia. Angka itu turun 36 persen dibandingkan pada era-1990-an.
Dari angka 10 persen itu, 15,7 persen berada di Negeria. Sedangkan di Indonesia terdapat 2,1 persen. Namun tingkat kesenjangan kaya-miskin di Indonesia justru meningkat.
Bank Dunia menyimpulkan empat penyebab meningkatnya tingkat kesenjangan kesejahteraan atau pendapatan masyarakat Indonesia.
Pertama, kesempatan atau peluang mendapat hidup layak tidak setara. Lead Economist Bank Dunia Vivi Alatas menyebut, ketimpangan dimulai sejak anak-anak lahir, terutama di pelosok daerah.
“Ketika lahir, anak-anak kehilangan kesempatan mendapatkan akses sanitasi, kesehatan, dan pendidikan,” katanya.
Kedua, ketidaksetaraan pekerjaan. Pekerja yang punya keahlian tinggi menerima kenaikan gaji namun pekerja kasar tidak memiliki peluang untuk meningkatkan keahliannya. Alhasil, mereka terjebak dalam produktivitas rendah, sektor informal dan gaji rendah.
Ketiga, terpusatnya kekayaan pada segelintir orang yang kemudian diturunkan ke generasi berikutnya.
Keempat, rentan terhadap goncangan perubahan ekonomi. Sekitar 28 juta orang Indonesia saat ini tergolong miskin dan 68 juta orang termasuk rentan miskin. Kelompok inilah yang bisa terporosok bila ada guncangan ekonomi.
Melihat kondisi masyarakat seperti ini, kita diajak untuk meneladan sikap Yesus seperti dalam bacaan Injil hari ini. “HatiKu tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan.”
Yesus punya belarasa yang tinggi terhadap orang yang menderita. Ia mengajak murid-muridNya untuk menolong mereka. Yesus mengajari mereka untuk bertindak jika menghadapi orang sakit, menderita, kelaparan.
Kita bisa menolong tanpa harus menunggu kita kaya atau berkelimpahan. Para murid hanya mempunyai 7 roti dan beberapa ikan kecil. Tetapi yang sedikit itu sangat berguna bagi banyak orang yang membutuhkan. Tuhan berkarya melipatgandakan yang sedikit menjadi banyak, bahkan ada sisanya.
Yang pertama harus dibangun adalah sikap peduli, belarasa. Kedua adalah bertindak semampu kita. kalau kita mau berbagi, pasti akan ada kelebihan. Tuhan akan melengkapi kekurangan kita. Maukah kita peduli kepada orang yang menderita di sekitar kita?
Kalau lagi sakit
Rasanya cuma pengin mencubit
Mau berbagi sedikit
Tuhan membuatnya menjadi bukit
Cawas, Mendung hanya berkedip
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 03.12.19 Pesta St. Fransiskus Xaverius, Imam Markus 16: 15-20 / Sang Misionaris Agung
HARI ini Gereja memperingati St. Fransiskus Xaverius. Seorang imam Yesuit yang mewartakan Injil sampai di India, Maluku, Filipina, Tiongkok dan Jepang.
Ia hidup pada tahun 1506-1552. Ia termasuk cikal bakal pendiri Sarekat Jesus bersama dengan Ignasius Loyola. Ia memulai misi pewartaan iman pada tahun 1540.
Oleh Ignasius dia diutus pergi ke Goa, India. Ia memulai misinya dengan mengajarkan prinsip-prinsip agama dan praktik-praktik kebajikan. Sepanjang hari dia mengerjakan pelayanannya.
Sejak pagi ia menolong dan menghibur orang sakit di rumah sakit dan di penjara-penjara yang kotor dan bau, kemudian berkeliling di jalan-jalan sambil membunyikan bel memanggil anak-anak dan para budak untuk berkatekese.
Mereka berkumpul mengelilinginya dan ia mengajarkan syahadat iman (credo), doa-doa, dan nilai-nilai kristiani kepada mereka. Ia mengadakan misa untuk para penderita lepra, berkhotbah di depan umum, serta mengunjungi rumah-rumah penduduk.
Keramahan dan kelembutan karakternya, serta perhatiannya yang penuh kemurahan hati, begitu memikat hati banyak orang. Cinta dan kerendahan hatinya membuatnya menempatkan diri sebagai seseorang yang sederajat dengan mereka.
Ia makan makanan yang sama dengan makanan orang miskin, yaitu nasi dan air. Ia juga tidur di atas tanah dalam sebuah gubuk sebagai tempat tinggalnya. Hal ini dilakukkannya dalam mewartakan Injil sampai di Ambon Maluku. Maka gereja Katedral Ambon berlindung pada jasa Sang Misionaris Agung ini.
Dalam bacaan hari ini, Yesus memberi perintah kepada murid-muridNya, “Pergilah ke seluruh dunia. Beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”
Perintah ini tetap menggema sampai sekarang. Semua orang yang sudah dibaptis diutus untuk mewartakan Kabar Sukacita.
Bukan hanya para imam, bruder,suster atau biarawan biarawati saja yang diutus. Tetapi semua orang yang sudah dibaptis.
Anda sudah dibaptis? Maka perintah ini juga ditujukan kepada anda tanpa kecuali. Mewartakan Injil tidak harus mengajar agama, berkotbah, membaptis, atau menjadi imam.
Cukup dengan berbuat baik, hidup tertib dan rajin, sopan dan tawakal, menjadi orang katolik yang mau melayani sesama dengan tulus. Itu semua sudah bermisi di tengah masyarakat.
Fransiskus Xaverius telah menanam benih iman kristiani. Kita sekarang yang harus memupuk dan memeliharanya supaya berkembang subur agar nilai-nilai Injili semakin dikenal luas di masyarakat. Maukah anda memulai?
Ada es lilin yang tidak manis
Yang dibuat dari buah pisang
Kita semua adalah misionaris
Mewartakan Injil kepada semua orang
Cawas, mengaduk semen biar kuat
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 02.12.19 Matius 8:5-11 / Tidak Layak
DALAM tradisi militer, senioritas-yunioritas itu sangat dijaga. Bawahan harus tunduk pada atasan.
Seorang bawahan yang tidak menghormati atasannya bisa dihukum. Ada atasan yang sampai gila hormat. Semua harus dilayani.
Injil hari ini bercerita tentang seorang perwira. Seorang perwira Romawi pastilah seorang yang sangat terhormat.
Dia disegani oleh anak buahnya. Segala perintahnya adalah titah yang harus ditaati. Namun kisah dalam Injil hari ini berkisah lain. Ia seorang perwira yang sangat peduli terhadap anak buahnya. Hambanya sedang menderita sakit.
Perwira ini bukan tipe orang yang jaim. Ia mau terjun langsung dengan beban penderitaan hambanya. Ia tidak merasa pamornya luntur dengan membantu bawahannya.
Dengan statusnya sebagai pejabat tinggi, perwira ini merendahkan diri di hadapan Yesus. Biasanya pejabat tinggi merasa paling bisa mengatasi semuanya, kecuali istrinya sendiri.
Ia datang memohon. Tidak ada kamus minta tolong bagi pejabat. Yang ada adalah perintah. Dalam Injil hal itu jelas tergambar. Perwira itu seperti “melapor” kepada Yesus,
“Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh, dan ia sangat menderita.” Ini adalah laporan, bukan minta tolong. Gengsi seorang pejabat tinggi meminta. Biasanya ia tinggal perintah. Yesuslah yang menawarkan diri, “Aku akan datang menyembuhkannya.”
Sikap Yesus itu mengubah mindset si perwira. Gengsinya yang tinggi runtuh oleh tawaran kerendahan hati Yesus. “ing atase” (susah menterjemahkan istilah ini-red) seorang guru terhormat, “keraya-raya” (siap direpotin) mau datang ke rumahnya.
Maka perwira itu sadar diri, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku. Katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.” Merasa tidak pantas itulah yang muncul dalam diri sang perwira.
Bagi Yesus inilah sikap iman kepada Allah. Semua orang di hadapanNya tidak ada yang pantas. Sikap inilah yang dihargai oleh Yesus. kita semua adalah pendosa yang dikasihi Allah.
Maka Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Kujumpai pada seorang pun di Israel.”
Pada masa advent ini kita semua diajak merendahkan diri di hadapan Allah seperti perwira Romawi itu.
Hanya dengan merendahkan diri, Allah akan turun datang kepada kita. segala usaha manusia yang ingin “naik” menyamai Allah adalah sia-sia. Tetapi kalau kita mau merendahkan diri, Allah akan datang, hadir menolong kita.
Terompet tahun baru sebentar lagi
Mengguntur seperti deru Palapa
Kalau kita mau merendahkan diri
Tuhan datang menolong kita
Cawas, merdu tiupan angin terjepit
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 01.12.19 Minggu Advent I Matius 24:37-44 / Berjaga-jaga
Pada umumnya orang baru memasang CCTV ketika sudah kemalingan. Kadang orang tidak peduli dengan keamanan rumahnya. Baru sadar membuat kunci yang aman kalau ada kejadian pencurian. Warga menggalakkan jaga ronda kampung kalau sudah terjadi pencurian. Pada saat itu pencuri pasti tidak akan datang. Mereka akan beraksi ketika warga terlena. Mereka menunggu waktu yang tepat saat warga tidak berjaga-jaga.
Nasehat Yesus pada Minggu advent pertama ini adalah, “Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. Tetapi ketahuilah ini, jika tuan rumah tahu pada waktu mana pencuri datang waktu malam, pastilah ia berjaga-jaga, dan tidak membiarkan rumahnya dibongkar. Sebab itu, hendaklah kamu selalu siap siaga, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.”
Nabi Nuh adalah contoh orang yang siap siaga dan berjaga-jaga. Pertama, dia peka mendengarkan perintah Tuhan. Dia disuruh membuat bahtera untuk seluruh anggota keluarga dan semua jenis ternak di bumi. Peka mendengarkan sabda itu penting supaya kita mengetahui, sehati seperasaan dengan Tuhan. Peka berarti mampu memahami kehendak dan rencana Tuhan. Selain menjalani hidup yang normal, berjaga-jaga berarti memberi waktu ekstra kepada Tuhan.
Berjaga-jaga berarti juga taat kepada Tuhan. Nuh mentaati perintahNya kendati bagi banyak orang itu sesuatu yang aneh bahkan di luar akal. Untuk apa membuat bahtera wong tidak ada hujan atau banjir? Berjaga-jaga berarti melihat jauh ke depan yang orang lain tidak sempat memikirkan. Orang yang berjaga-jaga adalah orang yang mempunyai visi.
Masa Advent ini adalah masa untuk berjaga-jaga menanti kedatangan Tuhan. Menanti kedatangan Tuhan yang akan kita kenangkan dalam pesta Natal. Tetapi juga menanti kedatangan Kristus yang kedua pada akhir zaman. Pesan Yesus jelas bagi kita, marilah kita berjaga-jaga agar hidup kita tidak terlena oleh kesenangan dunia yang memabukkan. Berjaga itu tidak pasif sehingga membosankan, tetapi aktif menggairahkan. Sambil berjaga-jaga kita berbuat sesuatu yang berguna bagi kebaikan sesama. “Mumpung masih ada kesempatan buat kita, mengumpulkan bekal perjalanan abadi” kata Ebiet.
Sore pasang tenda
Malamnya hujan pun reda
Advent sudah tiba
Marilah kita berjaga-jaga
Cawas, berjaga-jaga sambil cukur
Rm. A. Joko Purwanto Pr