Puncta15.11.19 Lukas 17:26-37 / Bila Tiba Saatnya
SEORANG guru bijaksana bertanya kepada cantrik-cantriknya, “Andaikata dua hari lagi akan kiamat, apa yang kalian lakukan?”
Murid-murid itu saling memberi jawaban. Ada yang ingin bertobat. Ada yang ingin berbuat baik. Ada yang ingin berpuasa.
Ada yang ingin menjual seluruh miliknya dan memberikannya kepada orang miskin. Ada yang ingin berdoa sepanjang malam.
Lalu mereka ganti bertanya kepada gurunya, “Apa yang akan guru lakukan untuk hari kiamat itu?”
Guru itu menjawab dengan tenang, “Saya akan bangun seperti biasa, lalu doa meditasi, menikmati sarapan pagi dengan sepotong roti dan teh panas, lalu melanjutkan kerja di kebun, semua berjalan seperti biasanya.”
Muridnya bertanya, “Kenapa tidak ada persiapan khusus?” Sang guru berkata, “Seluruh hidup ini adalah persiapan menuju ke surga.”
Yesus memberi gambaran bagaimana menyiapkan hari kedatangan Anak Manusia.
“Sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula kelak pada hari Anak Manusia. Pada zaman Nuh itu, orang-orang makan dan minum, kawin dan dikawinkan, sampai pada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, lalu datanglah air bah dan membinasakan mereka semua.”
Semua orang menjalani hidupnya seperti biasa. Hanya Nuh tahu bagaimana menyiapkan diri. Ia taat kepada perintah Allah.
Hidupnya dipakai untuk menyiapkan hari penghakiman itu. Ia membuat bahtera. Bahtera itulah yang menyelamatkan Nuh dan keluarganya.
Apakah hidup kita sudah kita pakai untuk menyiapkan bahtera agar kita selamat? Tidak ada waktu untuk menyiapkan karena kita tidak tahu kapan akhir zama datang. Maka seluruh hidup kita harus menjadi saat persiapan.
“Ingatlah akan istri Lot” kata Yesus. Istri Lot telah menoleh ke belakang, maka ia berubah menjadi tiang garam.
Istri Lot tidak mau meninggalkan Sodom kota yang bejat itu. Ia tidak rela meninggalkan masa lalunya. Ia tidak berani melepaskan miliknya.
Harta miliknya tidak bisa menyelamatkanya. Hanya satu yang bisa menyelematkanya yakni percaya kepada Allah saja.
Seperti Nuh taat pada peritah Tuhan, harusnya istri Lot juga hanya percaya kepada sabda Tuhan, Menoleh ke belakang tidak ada gunanya.
Agar kita selamat, fokuslah ke depan dan ikuti perintah Tuhan. Jadikan seluruh hidupmu menjadi saat yang penuh untuk persiapan hari Tuhan.
Pergi ke pasar beramai-ramai membeli baju
Membeli kain bermeter-meter untuk bikin seragam safari
Hari Tuhan seperti pencuri datang tanpa memberi tahu
Siapkanlah dirimu agar tiada sesal di kemudian hari
Cawas, ada hujan sebentar
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 13.11.19 Lukas 17: 11-19 / Berterimakasih
PENDIDIKAN pertama yang diajarkan oleh orangtua kepada anak adalah kata terimakasih. Sejak kecil, anak-anak diajari untuk berterimakasih.
Kalau diberi sesuatu oleh orang lain, anak-anak harus menerima dengan tangan kanan dan mengucapkan terimakasih.
Itulah pelajaran budi pekerti agar anak bisa menghargai dan menghormati. Kalau anak bisa menghargai pemberian, dia juga belajar mencintai pemberian itu dan menggunakannya dengan hati-hati.
Anak yang bisa berterimakasih, ia akan mampu menghargai hidup. Hidupnya penuh dengan rasa syukur karena ada banyak hal yang sangat berharga.
Bacaan Injil hari ini menceritakan sepuluh orang kusta yang disembuhkan Yesus. Dari sepuluh itu hanya satu yang kembali untuk mengucap syukur kepada Yesus.
Dari sini sudah tergambar bahwa hanya sedikit saja orang yang mampu mengucap syukur. Satu dari sepuluh orang kembali berterimakasih. Yang lainnya lupa.
Bahkan ditegaskan lagi, seorang yang kembali berterimakasih itu justru orang Samaria, seorang asing. Orang Samaria menurut pandangan umum digolongkan sebagai bangsa yang tidak murni Israel lagi.
Mereka sudah bercampur baur dengan bangsa lain. Mereka dipandang sebagai kelompok yang sudah tidak suci lagi.
Tetapi justru orang Samaria ini yang datang tersungkur di depan Yesus dan bersyukur kepada Allah.
Pelajaran yang bisa dipetik dari bacaan ini adalah, Pertama, ternyata berterimakasih, bersyukur itu tidak mudah.
Nyatanya dari sepuluh orang, hanya satu yang mampu bersyukur kepada Allah. Maka sikap itu harus diajarkan sejak dini.
Kedua, kita sering mempunyai praduga yang keliru. Kita mudah menilai, menghakimi atau mengecap orang lain jelek, buruk, negatif, tidak suci.
Namun justru dari mereka muncul sikap-sikap yang berlawanan dengan penilaian kita itu. Contohnya orang Samaria yang dinilai buruk justru dia yang mampu bersyukur memuji Allah. Jangan menilai orang hanya dari segi lahiriahnya saja.
Yesus meneguhkan orang Samaria itu. “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan dikau.” Orang Samaria itu mempunyai iman yang teguh.
Walaupun dia disebut sebagai orang asing, tetapi dia mempunyai iman yang menyelamatkan. Yesus menerima siapapun juga tanpa pandang bulu.
Iman itulah yang diutamakan. Iman dan syukur itu sangat erat kaitannya. Orang beriman mudah bersyukur.
Orang yang mampu bersyukur, imannya makin teguh. Marilah kita selalu bersyukur atas pemeliharaan Tuhan pada kita.
Pulau Dewata indahnya di Sanur
Keindahannya sangat tenar
Kalau kita mampu bersyukur
Hidup kita akan cerah bersinar
Cawas, hujan sebentar
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 12.11.19 PW. St. Yosafat. Uskup dan Martir. Lukas 17:7-10 / Hamba Sahaja
HAMBA yang setia dan tulus itu dipuji tuannya. Ia melakukan kerjanya dengan tulus tanpa mengharapkan pujian atau penghargaan. Ia hanya melakukan tugasnya saja.
Ia melakukan tugasnya dengan setia tanpa menunggu diperintah oleh atasannya atau tanpa dikontrol oleh pimpinannya. Tugasnya dapat berjalan dengan baik.
Ada karyawan yang bekerja hanya kalau diawasi. Kalau tidak ada pimpinan, ia “leda-lede” seenaknya saja.
Hamba yang baik itu bekerja bukan karena takut pada atasannya. Tetapi karena ia berkomitmen pada tugasnya.
Dalam Injil hari ini Yesus mengajarkan kepada murid-muridNya untuk menjadi hamba yang setia melayani tuannya.
Hamba yang baik senang jika tuannya senang. Bukan dia yang membanggakan dirinya tetapi senang jika melihat tuannya bahagia. Ia tidak egois hanya berpikir untuk dirinya saja.
Saya pernah melihat video yang viral di medsos tentang seorang sopir pribadi dari sebuah keluarga kaya. Sopir itu bertugas mengantar kemana-mana tuannya.
Ia mengantar ke kantor sang suami. Ia mengantar ke mall sang istri tuannya. Juga ia harus mengantar tuan putrinya pergi kuliah. Semua dilakukan dengan sukacita.
Setiap kali mengantar tuannya selalu mengeluh tentang kekurangan sang istri. Setiap kali mengantar sang istri selalu yang didengar keluhan percekcokan dgn suami.
Setiap kali mengantar tuan putrinya kuliah yang didengan keluhannya tentang keluarganya yang tidak rukun. Sopir itu menjadi tempat curhat mereka. Lalu sang sopir punya ide bagus.
Ia meninggalkan setangkai bunga di kursi mobil. Ketika ia mengantar bapak, ia berkata bahwa bunga itu dari ibu.
Ketika ia mengantar ibu, bunga yang ditaruh di mobil itu dari bapak. Ketika ia mengantar anak majikannya, ia memberikan bunga saat ultahnya dengan pesan itu dari orangtuanya.
Sejak itu keluarga itu menjadi rukun dan peduli satu sama lain. Sopir itu merasa sungguh bahagia. Apakah kita sebagai hamba Tuhan juga telah membuat tuan kita bahagia?
Cawas, sedang menanti hujan
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 11.11.19 PW. St. Martius dari Turs, Uskup Lukas 17:1-6 / Iman Romo Van Lith
ORANG Jawa suka berbohong. Stereotype itu menjadi salah satu pembicaraan dalam Konggres Kebudayaan (Javaas Cultuur Conggres) di Solo tahu 1918.
Tetapi stereotype itu dibantah justru bukan oleh orang Jawa, melainkan oleh Pastor Van Lith SJ. Dia adalah orang Belanda yang ahli bahasa dan filsafat Jawa.
“Orang Jawa bukan suka berbohong, melainkan tidak suka berterus terang karena tidak ingin menyakiti hati orang.” Orang Barat tidak dapat menyelami tabiat orang Jawa dalam pergaulan masyarakat.
Anak-anak Barat dididik ajaran ‘Lieg Niet’ artinya jangan berbohong. Anak Jawa sejak kecil didoktrin ‘Grief Niet’ artinya jangan menyakiti hati orang. Misalnya, orang Jawa tidak akan berkata langsung menohok ,
“Baumu kecut sekali, jangan dekat-dekat saya. Tetapi dia akan berkata, “Sebaiknya kamu minum air kencur atau mengoleskan kapur sirih di badanmu. Ramuan itu bisa membuatmu lebih segar.”
Pada dasarnya manusia selalu tidak senang mendengar dari orang lain tentang kekurangan atau keburukannya. Tapi bila dikatakan dengan cara yang tidak menyakiti hati, maka saran yang baik akan diterima dengan rasa terimakasih.”
Itulah penilaian Romo Van Lith tentang orang Jawa. Penilaian itu pasti didasari oleh iman keyakinan bahwa orang Jawa itu baik, halus dan menjaga perasaan orang lain.
Dengan keyakinan itu Romo Van Lith masuk ke jantung kehidupan orang Jawa. Maka ia berhasil mengubah stereotype buruk itu menjadi positif dengan pendidikan. Lewat karya pendidikan, Van Lith membuat orang Jawa menjadi manusia merdeka dan bermartabat.
Bacaan Injil hari ini menyatakan bahwa kalau kita memiliki iman sebesar biji sesawi saja, kita bisa memindahkan pohon ara untuk tertanam di laut. Yesus berkata,
“Jika kalian memiliki iman sebesar biji sesawi, kalian dapat berkata kepada pohon ara ini, “Tercabutlah dan tertanamlah di dalam laut”, maka pohon itu akan menurut perintahmu,”
Romo Van Lith mempunyai iman kepada Yesus. Dengan imannya Ia bisa mengubah paham yang negatif yang tercetak di dalam diri orang Jawa, menjadi positif yang memberi perspektif dan harapan baru bagi orang Jawa sendiri.
Sekarang ini Jokowi berjuang membangun revolusi mental. Mental kita yang buruk harus diubah menjadi baik. Maka dibutuhkan iman keyakinan yang kuat untuk mengubah mental itu. Jika tidak ada iman, tidak mungkinlah ada perubahan, apalagi perubahan mental.
Buah mangga di samping rambutan
Belum masak sudah dimakan
Revolusi mental harus didasari iman
Tanpa itu tidak akan ada perubahan
Cawas, seperti kodok menanti hujan
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 10.11.19 Minggu Biasa XXXII Lukas 20:27-38 / Di Hadapan Allah Semua Orang Hidup
KISAH nyata yang diceritakan oleh P. Segundo Llorente SJ : Seorang imam di sebuah paroki, setelah misa malam Natal selesai, ia mengunci gereja dan pergi tidur di kamarnya.
Pagi-pagi ia bangun kembali ke gereja untuk berdoa pribadi selama satu jam dalam meditasi. Ia masuk ke sakristi dan menyalakan lampu-lampu gereja. Ia terpaku kaku ketika menuju bangku gereja.
Orang-orang anehb pakaian sangat miskin memenuhi sebagian besar bangku gereja. Semua orang berada dalam keheningan total. Tak seorang pun bergerak dan tidak peduli untuk menoleh kepadanya.
Sekelompok kecil berdiri dekat kandang Natal dalam keheningan total. Imam itu terhenyak dan dengan suara keras bertanya bagaimana mereka bisa masuk gereja. Tak satu pun yang menjawab.
Ia berjalan mendekati mereka dan bertanya lagi, “Siapakah yang mengijinkan kalian masuk?” Seorang perempuan menjawab tanpa ekspresi dan sama sekali acuh tak acuh, “Hal-hal aneh terjadi pada malam Natal.”
Lalu dia kembali tenggelam dalam keheningan total. Sang imam pergi untuk memeriksa pintu utama. Pintu itu terkunci rapat seperti semula saat ia terakhir menguncinya. Dia kaget dan bertekat ingin meminta keterangan dari mereka.
Saat ia memalingkan muka ke arah altar, bangku-bangku itu kosong tak terlihat siapa pun duduk di sana.
Pastor Llorente yakin bahwa orang-orang itu adalah orang-orang yang sudah meninggal yang sedang mengalami api penyucian. Mereka menanti penyelamatan dan menyembah Yesus yang bertahta di dalam tabernakel.
Bacaan Injil hari ini berbicara tentang kebangkitan orang mati. Gereja percaya adanya kebangkitan. Credo mengatakan, “Kebangkitan badan dan kehidupan kekal.”
Kematian bukan akhir kehidupan. Kita akan dibangkitkan pada akhir zaman. Di hadapan Allah kita semua adalah orang hidup. Yesus mengatakan bahwa, “Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup.”
Apa dasar keyakinan kita itu? Dasarnya adalah iman kepada Yesus yang bangkit. Paulus berkata, “Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak akan dibangkitkan. Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.”
Iman akan Yesus yang bangkit itulah yang memberi harapan kepada kita, bahwa kita akan hidup di hadapan Allah setelah kematian duniawi.
Sejak zaman dahulu kala orang sudah percaya bahwa ada kebangkitan. Kitab Makabe menjelaskannya dengan kisah tujuh orang bersaudara dengan ibunya yang disiksa demi iman mereka. Lebih baik mereka mati demi iman karena akan memperoleh ganjaran hidup abadi.
Kalau kita percaya kepada Kristus, maka kita memperoleh jaminan hidup abadi. Sebagaimana Kristus dibangkitkan sebagai yang sulung, kita kelak juga akan bangkit bersama Dia.
Ke Jimbung mau melihat bulus
Pergi ke sana dengan sepeda
Ikut mati bersama Yesus
Akan dibangkitkan bersamaNya juga
Cawas, malam yang hening.
Rm. A. Joko Purwanto Pr.