Renungan Harian

Puncta 28.09.19 Lukas 9:43b-45 / Ramalan Raja Kediri

 

JAYABAYA pernah meramalkan tentang Pulau Jawa. Isi ramalannya antara lain:
“Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran. Tanah Jawa kalungan wesi. Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang. Kali ilang kedhunge. Pasar ilang kumandhange. Iku tandha yen tekane zaman Jayabaya wis cedhak. Bumi saya suwe saya mengkeret.”

( Nanti kalau ada kereta tanpa kuda. Tanah Jawa berkalung besi. Perahu berjalan di angkasa. Sungai kehilangan sumbernya. Pasar kehilangan keramaiannya. Bumi makin hari makin mengecil).

Ramalan itu kini sudah menjadi nyata. Kita melihat kereta tanpa kuda yaitu kereta api. Tanah Jawa berkalung besi, itu adalah rel kereta api yang melintasi Jawa dari ujung barat sampai ke ujung timur, dari Serang ke Banyuwangi.

Perahu berjalan di awang-awang, yaitu pesawat terbang. Sungai sudah kehilangan sumber airnya. Sumber air sudah dibeli perusahaan air mineral.

Pasar kehilangan keramaiannya, pasar swalayan serba otomatis tanpa harus tawar menawar.

Semua transaksi memakai kartu bayar. Bumi makin mengecil. Kejadian di belahan bumi sana, dalam waktu yang bersamaan bisa diketahui di tempat lain. Dunia makin kecil seperti kampung saja.

Dalam Injil hari ini Yesus menubuatkan diriNya. “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.” Para murid waktu mendengar itu belum memahami dan mengerti maknanya.

Apa yang dimaksudkan Yesus itu. Mereka tidak tahu tapi segan bertanya kepadaNya.

Baru setelah peristiwa kebangkitan, mereka mengerti dan memahami apa yang dikatakan Yesus itu.

Diserahkan ke dalam tangan manusia berarti menderita di kayu salib. Yesus harus mengalami kematian di salib sebagai jalan keselamatan dunia.

Iman itu sebuah misteri Tuhan. Akal budi kita tak mampu memahami secara keseluruhan. Sedikit demi sedikit harus diungkapkan. Itulah pewahyuan.

Dari pihak Allah, Dia mewahyukan diriNya dalam Yesus. Dari pihak manusia yang menanggapi pewahyuan Allah disebut iman.

Yesus mewahyukan diriNya kepada manusia bahwa Ia berasal dari Allah. Manusia menanggapi itu dengan iman kepercayaannya.

Yesus memberitahukan kepada para muridNya bahwa Dia harus menderita sengsara, disalibkan dan mati. Namun pada hari ketiga dibangkitkan oleh Allah.

Marilah kita belajar memahami pewahyuan Tuhan dalam kehidupan kita. misteri Tuhan itu kadang belum kita mengerti sekarang. Tetapi iman tetap harus berjalan.

Buka kulkas baunya tak sedap
Ternyata kaos kaki masuk di dalamnya
Walaupun iman kadang terasa gelap
Namun Tuhan tak pernah jauh dari kita

Cawas, suatu siang yag cerah
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 27.09.19 PW. St. Vinsensius a Paulo, Imam Lukas 9:19-22 / Iman Yang Kokoh

 

Menurutmu, siapakah Aku ini? Pertanyaan Yesus kepada para murid itu sekarang juga ditujukan kepada kita. kalau kita ditanya siapakah Yesus bagi kita, apa pendapat kita?

Kalau Petrus bisa merumuskan secara pribadi, “Engkaulah Kristus dari Allah? Lalu menurut kita siapakah Yesus itu?

Petrus memberi gelar atau sebutan Yesus sebagai Kristus atau Mesias pasti karena mempunyai pengalaman pribadi dengan Yesus.

Kalau hanya mengikuti orang banyak, dia bisa menyebut, “Yohanes Pembaptis yang bangkit, Elia yang hidup kembali atau salah seorang nabi dari zaman dahulu.”

Petrus tinggal copy paste saja. Tetapi dia menyebut lain dari pendapat orang banyak.

Keyakinan yang kokoh itu didasari oleh hubungan pribadi yang mendalam. Petrus melihat karya dan sabda Yesus sebagai perwujudan Mesias yang sudah hadir di dunia.

Lukas menempatkan pengakuan iman Petrus ini ada di tengah Injilnya. Apa yang sudah disampaikan oleh Malaikat Gabriel di awal, bahwa Maria akan mengandung Sang Mesias, kini sudah diakui kehadiranNya oleh para murid, khususnya Petrus.

Pengakuan Petrus ini nanti akan ditegaskan lagi di akhir Injilnya oleh Yesus sendiri ketika Dia berkata kepada dua orang murid yang pulang ke Emaus,

“Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga.”

Lukas mengajak pembacanya untuk berproses seperti Petrus, berani menyimpulkan secara pribadi siapakah Yesus bagi hidup kita.

Kalau iman kita kuat seperti Petrus, maka kendati menghadapi kesulitan dan tantangan seberat apapun, tidak akan goyah.

Iman Petrus Sang Batu Karang sungguh kuat, maka Yesus mempercayakan jemaatNya dibangun di atasnya.

Sekuat apakah iman kita? apakah kita bisa merumuskan sendiri siapakah Yesus bagi diri kita?

Ke Banyuaeng lewat Pokoh
Untuk melihat bunga yang sedang merekah
Kalau kita mempunyai iman yang kokoh
Badai apapun tak bikin goyah

Cawas, suatu malam yang indah
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 26.09.19 Lukas 9: 7-9 / Terkungkung oleh Dendam

 

RAMBO, The last Blood diputar di bioskop hari-hari ini. Rambo adalah mantan pasukan khusus Amerika yang dikirim ke medan-medan pertempuran ganas seperti Vietnam dan Afganistan.

Dia masih selalu terbayang pengalaman masa lalu dengan situasi peperangan. Kegagalan menyelamatkan orang-orang yang dicintai membuat dendamnya selalu membara.

Di halaman rumahnya dia membuat lorong-lorong jebakan seperti di medan perang. Ketika gadis keponakannya, Gabriela, mati di tangan mafia narkoba dan woman trafficking, hatinya meradang ingin membalas dendam.

Ia kejar bos mafia itu sampai di Mexico. Dia pancing semua penjahat itu masuk di pekarangannya yang penuh dengan jebakan.

Ketika bos mafia itu tinggal sendiri, Rambo menghujamkan pisau di dadanya dan memotong jantungnya, sambil berkata, “Rasakanlah bagaimana rasanya kehilangan.”

Injil hari ini menceritakan tentang Herodes Antipas, anak dari Herodes Agung. Herodes Agung mati dan kerajaannya dibagi kepada empat anaknya, termasuk Herodes Antipas.

Dialah yang memenjarakan Yohanes Pembaptis dan memenggal kepalanya. Pembunuhan ini membuat hatinya selalu diliputi kecemasan.

Bayangan kematian Yohanes Pembaptis yang dipenggal kepalanya selalu menghantuinya.

Maka ketika Yesus dan murid-muridNya tampil berkarya di muka umum, Herodes takut. Ia mendengar berita ada orang yang tampil seperti Yohanes Pembaptis.

Padahal dia telah memenggal kepalanya. Herodes kawatir, jangan-jangan Yohanes Pembaptis hidup kembali. Berita tentang Yesus tersiar kemana-mana.

Mereka berkata, Yohanes telah bangkit. Ada lagi yang berkata, Elia muncul kembali atau seorang nabi dari zaman dahulu telah bangkit.

Herodes dibayangi ketakutan masa lalu. Kehadiran Yesus mengancam dan mengusik ketenangan hidupnya.

Ia ingin memastikan dan berusaha untuk dapat bertemu dengan Yesus.

Ketika kita tidak bisa berdamai dengan masa lalu, hidup kita akan diwarnai kecemasan. Pengampunan dan menerima masa lalu adalah cara untuk membuang ketakutan-ketakutan.

Seperti Rambo, Herodes, mereka belum bisa menerima masa lalunya yang kelam. Yang muncul adalah dendam kesumat, yang terus menghantui.

Marilah kita berdamai dengan diri kita dan kita peluk masa lalu sebagi bagian hidup.
Milikilah pengampunan dan penerimaan, supaya hati menjadi damai dan tentram.

Kalau ibukota sudah pindah ke Kalimantan
Pasti listrik tidak pernah lagi padam
Lebih baik punya hati yang penuh pengampunan
Daripada setiap hari menyimpan dendam

Cawas, suatu pagi yang cerah
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 25.09.19 Lukas 9:1-6 / Fokus Pada Perutusan

 

SAYA masih ingat jika akan mengadakan turne ke pedalaman, segala persiapan harus matang. Sepeda motor harus safe dan beres.

Selain alat-alat misa, saya perlu membawa pakaian, jas hujan, jaket, untuk menginap. Bahkan alat-alat perbengkelan untuk motor pun harus disiapkan.

Makanan juga perlu dibawa, paling tidak air minum yang cukup untuk perjalanan jauh. Kadang mengunjungi umat yang jauh perlu menginap beberapa hari.

Bacaan hari ini Yesus mengutus murid-muridNya. Mereka diberi kuasa dan tenaga untuk menguasai setan, menyembuhkan penyakit-penyakit. Ia mengutus mereka untuk mewartakan Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang-orang.

PesanNya kepada mereka adalah, “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan. Jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju.”

Pasti Tuhan sudah menyelenggarakan semuanya. Kita diminta percaya saja kepada rencanaNya. Allah itu mahakuasa. Allah akan menjamin semuanya.

Namun kita yang kurang percaya ini sering kawatir dengan hidup kita. maka segala bekal dan perlengkapan dibawa. Kita sering kurang mengandalkan Tuhan. Terlalu kawatir dengan keperluan kita sendiri.

Bisa jadi kita malah sibuk memikirkan diri sendiri, bukan mempersiapkan tugas yang dipercayakan kepada kita. Kurang mempersiapkan ekaristi dan membaca Kitab Suci.

Kotbah tidak disiapkan. Karena hanya sibuk menyiapkan bekal perlengkapan, sedang inti dari tugas yakni mewartakan Kerajaan Allah tidak dipersiapkan matang.

Perutusan Yesus kali ini mengajak kita untuk fokus pada tugas sebagai murid, yakni mewartakan Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang-orang.

Bukan pada segala tetek bengek segala perlengkapan untuk diri sendiri. Itu semua nanti akan disediakan oleh Tuhan sendiri.

Saya sendiri mengalami. Ketika pecah ban atau motor rusak, ada orang yang membantu. Ketika perut lapar dan haus, ketua umat telah menyediakan makan sampai kenyang.

Ketika ada kesulitan, Tuhan mengirim orang-orang yang bisa mengatasi. Tuhan hanya ingin kita fokus pada tugas perutusan saja. Yang lain-lain akan dijamin dan diatur oleh Tuhan sendiri.

Beranikah kita fokus pada tugas dan mempercayakan semuanya pada pemeliharaan Tuhan?

Membeli bunga tabur di Pasar Kranggan
Untuk nyekar leluhur pada malam Jumatan
Tidak usah takut akan bekal perjalanan
Fokuskan pada tugas perutusan Tuhan

Cawas, suatu pagi yang hening
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 24.09.19 Lukas 8:19-21 / Siapakah IbuKu?

 

KUNTI meyakinkan Karna bahwa dia adalah anak sulungnya. Karna adalah kakak dari para Pandawa. Kunti sebagai ibu ingin agar Karna kembali ke pangkuan Pandawa, supaya dia berpihak membantu adik-adiknya dalam Baratayuda.

Namun Karna tetap kukuh bahwa dia adalah anak Adirata yang membesarkannya. Kunti hanya melahirkan tetapi tidak memeliharanya. Memang Karna lahir saat Kunti belum menikah dengan Pandu.

Bayi yang masih merah itu dibuang di sungai dan ditemukan oleh Adirata. Sejak kecil Karna tidak punya ikatan batin dengan Kunti. Ia menganggap Nada dan Adirata adalah ibu dan ayahnya.

Karna dipelihara Adirata dan menjadi ksatria yang digdaya. Ia dilindungi dan dibantu oleh Duryudana, maka Karna berada di pihak Kurawa, melawan Pandawa.

Karna tetap teguh tidak mengakui Kunti sebagai ibunya dan “keukeh” membela Kurawa.

Bacaan Injil hari ini menyatakan bahwa ibu Yesus dan saudara-saudaranya mencari dan ingin bertemu denganNya. “Ibu dan saudara-saudaraMu ada di luar dan ingin bertemu dengan Dikau.”

Tetapi Yesus menjawab, “IbuKu dan saudara-saudaraKu ialah mereka yang mendengarkan sabda Allah dan melaksanakannya.”

Bagi Yesus status ibu dan saudara-saudara bukan hanya relasi hubungan darah tetapi lebih luas lagi. Relasi dikembangkan dengan kriteria kesetiaan mendengarkan dan melaksanakan sabda Allah.

Mereka yang mendengarkan dan melaksanakan sabda Allah diangkat menjadi ibu dan saudara-saudaraNya.

Akibatnya, relasi ini menjadi sangat luas. Siapa pun yang mendengarkan dan melaksanakan sabda Allah, dialah ibu dan saudara-saudara Yesus.

Kita semua bisa menjadi saudara Yesus jika kita mendengarkan dan melaksanakan sabda Allah. Mendengarkan sabda bisa kita lakukan dalam doa, ekaristi, baca kitab suci.

Melaksanakan sabda dapat kita lakukan dengan mengasihi, menolong, berbagi dengan sesama. Ada banyak sarana kita bisa menjadi saudara-saudara Yesus. Marilah kita gunakan kesempatan dan sarana-sarana yang ada itu.

Ke kafe Pelangi membeli orange juice
Sambil duduk menikmati sore yang indah
Kalau mau menjadi saudara Yesus
Kita harus mendengarkan dan melaksanakan sabda Allah

Cawas, suatu sore yang biru
Rm. A. Joko Purwanto Pr