Puncta 02.08.19 Matius 13:54-58 / Belajar “Narima” dari Basuki
KITA semua mengenal Basuki Tjahaya Purnama atao Ahok. Kisah hidupnya sungguh luar biasa.
Ia menjadi Gubernur Jakarta yang konsisten berjuang memajukan ibukota. Memberantas korupsi, membuat pemerintahan bersih dan transparan, hasil kerjanya kelihatan dirasakan warga.
Tetapi dia ditolak oleh warga karena isu SARA. Bahkan dia dipenjara karena dituduh menista agama.
Dia mengalami itu semua degan legawa. Tak ada kebencian dan dendam dalam hatinya. Ia berdamai dengan diri sendiri, orang-orang dan situasi di sekitarnya.
Sambil bercanda dia berkata, “Saya sehat dan segar di sini, bahkan berat badan saya bertambah.”
Bagi kebanyakan orang, pegalaman ditolak, dijatuhkan, direndahkan, dihina, dicemooh bisa jadi pengalaman yang traumatis. Orang bisa marah, dendam, sakit hati, benci dan ingin membalas.
Tetapi Ahok beda. Ia menjadi pribadi yang telah “menep” mengendap dalam kebatinan. Ia menguasai dirinya sendiri dan tak terbawa emosi sesaat.
Bacaan Injil hari ini menceritakan Yesus yang ditolak oleh saudara-saudaranya sendiri di Nasaret.
Ia mengajar di rumah ibadat mereka. Tetapi Yesus tidak dipercaya. Mereka kecewa dan menolakNya.
Menyikapi penolakan itu Yesus menanggapi, “Seorang nabi dihormati dimana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya.”
Karena ketidakpercayaan mereka, maka tidak ada mukjijat yang dibuat Yesus. Ketidakpercayaan membuat kemandegan.
Tidak terjadi kemajuan dan prestasi karena tidak saling percaya. Yesus tidak membuat apa-apa di Nasaret karena mereka menolakNya.
Justru banyak mukjijat terjadi di Kapernaum karena orang-orang mau menerima dan percaya kepadaNya.
Apakah anda percaya kalau Yesus mampu mengubah hidup anda? Kalau tidak percaya, maka tidak akan terjadi mukjijat dalam diri anda.
Sakit ngilu di sekujur badan
Bisa sembuh karena dokter cinta
Marilah kita percaya kepada Tuhan
Maka akan ada mukjijat dibuatNya
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 01.08.19 Matius 13:47-53 / Misa Libur Karena Nuba
“Romo, besuk Minggu misanya libur ya” kata salah satu ketua umat memberitahu saya di Pasturan. “Lho Hari Minggu memang hari libur, tetapi misanya tidak, kenapa pak? Tanya saya.“Hari Minggu besuk ada nuba adat romo. Semua orang pergi ke sungai mencari ikan” kata Pak Ketua menjelaskan.
Di Kalimantan ada adat nuba yaitu seluruh warga kampung dari anak-anak sampai kakek-kakek mencari ikan yang pusing-pusing karena racun tuba (akar pohon yang dipukul/ditumbuk mengeluarkan racun membuat ikan menjadi pusing).
Saya mencari akal. Muncul ide bagaimana sebelum nuba di sungai diadakan misa. Maksudnya supaya hari Minggu umat tetap merayakan ekaristi. Akhirnya disepakati misa di pinggir sungai sebelum acara dimulai. Banyak ikan ditangkap.
Mereka percaya karena kita sembahyang, Tuhan memberi ikan yang banyak. Saking banyaknya, mereka memilih hanya ikan-ikan besar saja yang diambil dan dibawa pulang. Mereka duduk di pinggir sungai memilihi ikan-ikan hasil pesta adat nuba.
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menggambarkan hal Kerajaan Allah itu seperti orang yang memilah-milah ikan dari pukatnya. Yang baik akan dimasukkan ke dalam pasu. Yang tidak baik akan dibuang.
Pada akhirnya, kita akan dipilih berdasarkan perbuatan kita. jika kita melakukan perbuatan-perbuatan baik, maka akan terpilih masuk ke dalam Kerajaan Allah. Tetapi jika kita melakukan kejahatan, kita akan mendapatkan hukuman, dibuang jauh.
“Ngundhuh wohing pakarti” Itulah kata-kata bijak orang Jawa. Setiap orang akan memetik buah dari perbuatannya sendiri. Kadang kita melihat, mengapa orang jahat hidupnya enak dan nyaman.
Sedang orang baik dan jujur hidupnya justru susah. Orang yang bersih dan baik malah disingkirkan. Orang yang korup dan culas melenggang nyaman hidupnya.
Roda hidup sedang berputar. Nanti pada saatnya, orang akan “ngundhuh wohing pakarti.” Orang akan memetik buah dari perbuatannya. Kalau tidak di dunia ini, nanti di kehidupan berikutnya dia harus mempertanggungjawabkannya.
Sudahkan kita menanam kebaikan hari ini? Kebaikan yang kita taburkan hari ini, suatu saat akan menghasilkan buah kemuliaan bagi kita. kita tunggu, karena hidup itu seperti roda yang berputar.
Jalan-jalan di rerumputan
Bunga indah tumbuh di taman
Kalau kita menanam kebaikan
Kelak akan menuai kebahagiaan
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 31.07.19 Pesta St. Ignatius Loyola Matius 13:44-46 / DE VITA CHRISTI
INIGO Lopez de Loyola bercita-cita tinggi ingin menjadi prajurit pilihan di Kerajaan Kastilia, Spanyol.
Ia sangat tertarik dengan latihan-latihan militer. Ia ingin mencapai ketenaran sebagai prajurit kerajaan Spanyol. Ia ingin menyerahkan hidupnya untuk mengabdi Ratu Spanyol.
Namun perang di Pamplona membuyarkan impiannya. Ia terkena meriam dan kakinya harus dioperasi. Dalam upaya pemulihan kesehatan itulah ia mengalami pencerahan rohani.
Buku Rohani De Vita Christi mengubah hidupnya. Kisah hidup Kristus dalam buku itulah yang mengubah cita-citanya. Ia seperti menemukan harta yang paling berharga.
Sejak saat itu ia tidak ingin mengabdi kepada raja duniawi, tetapi ia ingin memberikan hidupnya bagi Raja Kristus.
Pada bulan Maret 1522, ia mengunjungi biara Benediktin Santa Maria de Montserrat.
Di sana ia melakukan pemeriksaan seksama atas dosa-dosanya di masa lampau, mengakukannya, memberikan pakaiannya yang mahal kepada seorang miskin yang ia jumpai, mengenakan sehelai “pakaian dari kain karung”.
Kemudian menanggalkan pedang dan belatinya di altar Sang Perawan dari Montserrat ketika semalam-malaman berjaga dalam doa di tempat ziarah tersebut.
Hari ini Yesus mengajarkan bahwa Kerajaan Allah itu seperti harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamnya lagi.
Karena sukacitanya, pergilah ia menjual seluruh miliknya, lalu membeli ladang itu.
Santo Ignatius Loyola menemukan harta pada Kristus yang tersalib. Ia meninggalkan segalanya untuk mengabdi kepada Kristus Raja Semesta Alam.
Ia meninggalkan dinas kemiliteran dan menjadi Tentara Kristus. Ia menanggalkan pedang dan belatinya, dan memakai Kitab Suci sebagai senjata pewartaannya.
Ia memberikan pakaiannya yang mahal dan memakai jubah Kristus sebagai imamNya. Kristus adalah harta yang paling berharga. Ignatius sudah menemukanNya.
Sudahkah kita menemukan harta itu?
Ke Jakarta naik kereta
Salah jalan sampai ke Surabaya
Harta yang paling utama
Kristus ada di hati kita
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 30.07.19 Matius 13:36-43 / Pandawa dan Kurawa
PERANG Baratayuda adalah perang antar saudara, keturunan darah Barata. Antara keturunan Pandu dan keturunan Destarastra.
Mereka ini adalah kakak beradik. Keturunan Pandu disebut Pandawa yang berjumlah lima bersaudara.
Keturunan Destarastra disebut Kaum Kurawa yang jumlahnya seratus. Kendati jumlahnya kecil, tetapi Pandawa hidup dengan baik melakukan darmanya ksatria.
Kaum Kurawa selalu mengarah kematian pandawa. Lima bersaudara itu dianggapnya “klilip” atau musuh mereka. Berbagai upaya tipu muslihat dirancang untuk membinasakan Pandawa.
Namun dalam perang Baratayuda, “sing becik ketitik, sing ala ketara.” Yang baik akan menang dan yang jahat akan kalah.
Dalam Injil hari ini, Yesus menjelaskan arti perumpamaanNya tentang lalang di ladang yang ditaburi benih gandum.
“Orang yang menaburkan benih baik adalah Anak Manusia. Ladang itu ialah dunia. Benih yang baik adalah anak-anak kerajaan dan lalang ialah anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman.”
Perang Baratayuda itu seperti perang akhir zaman antara yang baik dengan yang jahat. Dunia ini ibarat lahan peperangan antara kebaikan dan kejahatan dalam hati manusia.
Musuh yakni iblis selalu menggoda dan mengarahkan manusia menuju kehancuran. Tetapi orang benar akan bercahaya seperti matahari. Kebaikan akan mengalahkan kejahatan.
Hidup kita ini ibarat peperangan batin. Antara kebaikan dan kejahatan itu berkecamuk dalam diri kita. seperti lalang yang disebarkan iblis, demikianlah benih kebaikan itu harus bertahan sampai akhir.
Apakah hati kita menjadi tempat yang subur untuk tumbuhnya benih kebaikan? Apakah kita gagah berani berperang melawan benih kejahatan? Semuanya nanti akan terlihat sampai pada akhirnya. “becik ketitik, ala ketara.”
Makan kacang sambil jalan-jalan
Kacangnya habis oleh teman-teman
Barangsiapa menanam kebaikan
Dia akan menuai kebahagiaan
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 29.07.19 Pesta St. Marta Matius 13:31-35 / Deus Providebit
Kerajaan Allah atau Allah yang meraja itu nyata ada, namun sering tak terlihat. Kita tidak menyadari kehadiran Allah itu.
Seperti kita bernafas setiap hari, bangun dari tidur setiap pagi, hidup mengalir tanpa kita sadari. Seperti air mengalir tiada henti, kita pun mengalir menempuh peziarahan hidup kita sendiri.
Semuanya berjalan seperti biasa tanpa kita menyadari bahwa Allah menyelenggarakan semua bagi kita.
Orang beriman yakin bahwa Allah mengatur semuanya. Dari bangun pagi sampai kita menutup mata lagi, Allah memelihara hidup kita.
Yesus memaparkan hal Kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di ladang. Walaupun biji itu kecil namun jika ia tumbuh akan menjadi besar dan burung-burung bernaung di dahannya.
Kerajaan Allah itu selalu tumbuh dan berbuah. Para petani itu selalu mempunyai pengharapan.
Iman mereka tumbuh bersama harapan bahwa sawah mereka akan menghasilkan padi yang subur.
Mereka menanam, memelihara, menyiangi, memupuk dan merawat. Namun pertumbuhan itu datang dari Tuhan.
Mereka menanti dan melihat tanaman padi yang tadinya hijau kemudian menjadi kuning dan masak. Tiba musim panen.
Begitulah musim silih berganti, mengarungi waktu. Selalu ada pengharapan. Tuhan memelihara hidup setiap orang.
Deus Providebit. Tuhanlah yang menyelenggarakan semuanya. Kerajaan Allah tumbuh berkembang seperti benih sesawi yang dipelihara Tuhan.
Percaya pada penyelenggaraanNya itulah yang harus dipupuk dalam diri kita. Dalam segala perkara, Tuhan memegang janjiNya.
Menabur benih di hutan belantara
Benih padi, jagung dan palawija
Tuhan selalu memelihara kita
Dengan cara-cara yang tak pernah kita sangka
Berkah Dalem
Rm. A. Joko Purwanto Pr