Puncta 04.05.21 / Selasa Paskah V / Yohanes 14: 27-31a
“Yerusalem: The City of Peace”
ORANG Kristiani yang berziarah ke Tanah Suci pasti mengunjungi Kota Yerusalem. Yerusalem artinya the city of peace, kota damai.
Tetapi pada kenyataannya sepanjang sejarah kota ini tak pernah damai. Kota ini selalu menjadi rebutan tiga agama samawi, Yahudi, Kristen, Islam.
Pada sekitar 2.110 Sebelum Masehi, Abraham merebut Yerusalem dari Raja Elam. Imam Agung Melkisedek memberkati Abraham dan keturunannya.
Karena kekeringan, keturunan Yakub atau Israel mengungsi ke Mesir. Musa memimpin Israel keluar dari Mesir dan merebut tanah Kanaan. Berulang kali terjadi peperangan merebut wilayah Tanah Terjanji.
Akhirnya Daud sebagai raja berhasil menyatukan Israel. Ia menjadikan Yerusalem sebagai pusat pemerintahannya dan Salomo berhasil membangun Bait Allah di Yerusalem. Zaman Daud, Yerusalem mengalami damai sejahtera.
Nebukadnesar, Raja Babilonia menghancurkan Yerusalem dan Bait Sucinya tahun 423 SM. Lalu dibangun lagi pada zaman Raja Koresy tahun 352 SM.
Kekaisaran Romawi menghancurkan kenisah pada tahun 70 Masehi. Silih berganti Yerusalem diduduki oleh berbagai bangsa. Darah dan air mata menggenangi kota suci Yerusalem. Kota damai yang tidak pernah mengalami damai.
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan dunia kepadamu.”
Damai yang diberikan dunia itu seperti yang dialami Yerusalem. Menyebut diri sebagai kota damai tetapi tidak pernah merasakan damai. Itulah damai yang diberikan dunia. Damai semu, tidak abadi dan hanya bersifat duniawi.
Yesus memberi damai sejati yang abadi yakni bersatu dengan Bapa di surga. Yesus pergi kepada Bapa untuk menyediakan tempat bagi kita. Damai yang bukan duniawi tetapi damai surgawi. Wafat dan kebangkitan-Nya menjadi jaminan damai abadi.
“Jangan gelisah dan gentar hatimu, Percayalah kepada Allah dan percayalah kepada-Ku.” Percaya kepada Yesus akan membawa kita memperoleh damai sejahtera yang abadi.
Mau lebaran pasar makin ramai.
Kita harus hati-hati masih ada pandemi.
Yesus datang membawa damai.
Damai di hati juga damai di bumi.
Cawas, Damai bagimu…..
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 03.05.21 / Senin Paskah V / Yohanes 14:6-14
“Kalung Emas”
Lagu ciptaan Didik Kempot itu dinyanyikan dengan suara mendayu-dayu. Bapak setengah baya ini seperti sedang mengungkapkan isi hatinya. Syair lagu Kalung Emas itu menggambarkan seorang lelaki yang ditinggal istri tercintanya.
Istrinya sedang dimabuk asmara dengan orang lain. Ia sudah lupa dengan suami dan meninggalkannya.
“Kalung emas sing ana gulumu. Saiki wis malih dadi biru. Luntur kaya tresnamu. Luntur kaya atimu. Saiki kowe lali karo aku.
Kalung emas kuwi biyen tak tuku. Tak pasrahke mung kanggo sliramu. Gedhe rasa tresnaku ya mung kanggo sliramu. Ra nyana kowe lali karo aku.”
(Kalung emas yang ada di lehermu. Sekarang sudah berubah jadi biru. Luntur kayak cintamu. Luntur kayak hatimu. Kini engkau sudah melupakanku.
Kalung emas itu dulu kubeli. Kupasrahkan hanya untuk dirimu. Cintaku hanya untukmu. Tak kuduga kau melupakanku).
“Hampir sepuluh tahun kami menikah. Ia meninggalkanku saat aku terpuruk dan gagal. Sifatnya mulai berubah dan menjauhiku. Ia mulai pergi dengan orang lain. Aku lari cari hiburan di karaoke sambil minum.” Ceritanya dengan sendu.
“Sudah sekian lama kami bersama, ternyata saya belum sungguh mengenal pribadinya. Semua hanya topeng kepura-puraan,” katanya lirih seperti putus asa.
Filipus sudah cukup lama mengikuti Yesus. namun dia belum cukup mengenal siapa Yesus dan siapa Bapa-Nya.
Filipus berkata, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa kepada kami, dan itu sudah cukup bagi kami.”
Kata Yesus kepadanya, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku?”
Yesus menjelaskan bahwa Dia ada di dalam Bapa dan Bapa ada di dalam Dia. Ia hidup menyatu dengan Bapa. Jika mengenal Kristus berarti mengenal Bapa. Jika orang melihat Yesus berarti melihat Bapa.
Relasi Yesus dengan Bapa sungguh erat menyatu. Relasi seperti itu dapat menjadi model dan pola relasi suami istri.
Lamanya waktu tidak menjamin kedekatan sebuah relasi. Nyatanya bapak tadi sudah menikah hampir sepuluh tahun, tetapi mereka tidak sungguh mengenal karakter pribadi pasangannya.
Bukan soal banyaknya waktu, tetapi kualitas relasi personal yang menentukan. Bapa mengasihi Yesus dan Yesus setia pada Bapa.
Dalam diri Yesus kita melihat Allah yang mengasihi tanpa batas. Dengan melihat Yesus, kita melihat Allah yang penuh belas kasih.
Kita masih butuh pengenalan yang lebih mendalam dengan Tuhan dan pasangan hidup kita.
Menanam padi di pinggir sawah.
Sawah subur hijau daunnya.
Kita bersyukur dikasihi Allah.
Mari kita membuka diri kepada-Nya.
Cawas, selalu bersyukur…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 02.05.21 / Minggu Paskah V / Yohanes 15:1-18
Pesta Perak; “Di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”
SANGAT menarik dan mendalam homili Rm. Indra Sanjaya waktu merayakan pesta perak imamat yang tertunda April kemarin.
Tertunda karena semestinya dirayakan tahun lalu. Tetapi karena ada pandemi, Unio baru merayakan tahun ini.
Romo Indra merenungkan kata-kata Yesus yang dijadikan motto tahbisan mereka; “Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”
Pasti saya tidak dapat mengingat dan menjelaskan semuanya. Tetapi yang sangat mengesan adalah bahwa pengalaman menjadi imam selama duapuluh lima tahun dengan jatuh bangun, lekuk liku perjuangan, bisa berjalan hanya karena Dia yang memanggil.
Para pestawan ingin bersyukur karena Dia selalu setia, kendati kita manusia kadang tidak setia, mudah jatuh seperti bejana tanah liat.
Bejana yang rapuh itu dipakai oleh Allah untuk melaksanakan karya keselamatan-Nya. Allah dengan kesadaran penuh mengambil resiko memakai manusia yang lemah untuk melakukan karya penyelamatan.
Ia terinspirasi oleh kotbah Paus Benediktus XVI tentang imamat; “This audacity of God is the true grandeur concealed in the word “priesthood.”
Ada resiko besar bahwa karya-Nya akan gagal karena dipercayakan kepada manusia yang lemah. Tetapi Dia tetap memilih para hamba-Nya untuk menjadi imam. Inilah resiko terbesar Allah.
Kesadaran diri sebagai orang yang lemah itu semakin menegaskan bahwa sabda Yesus dalam perikop ini sangat relevan di segala kondisi. “Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”
Yesus adalah pokok anggur dan kita ini ranting-ranting-Nya. Ranting tidak akan menghasilkan buah kalau ia terpisah dari pokoknya.
Demikian pun para imam, sebagai manusia yang lemah, ia tidak akan berhasil kalau tidak tinggal dalam pokok anggur yakni Kristus sendiri.
Kendati ada imam yang pandai kotbah, ceramah, seminar, terkenal dimana-mana, karya sosial hebat, manager ulung, sukses membangun mercu suar yang megah. Dosa kesombongan, cari eksis diri dan pujian selalu menggoda. Itulah salah satu kelemahan dalam bejana yang rapuh.
Namun begitu, Allah tetap berani ambil resiko memilih yang lemah ini.
Kerapuhan itu semakin menyadarkan bahwa ranting tidak dapat berbuah kalau tidak bersatu dengan pokok anggurnya. Sehebat-hebatnya kita, tidak akan berhasil kalau terpisah dari Kristus Sang Pokok Anggur.
Sore-sore masih kerja lembur.
Menanam rumput dan memetik bunga.
Yesus adalah Sang Pokok Anggur.
Kita adalah ranting-rantingnya.
Cawas, syukur atas kasih-Nya…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 01.05.21 / Sabtu Paskah IV / Yohanes 14: 7-14
“We Are One : Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku”
BERMULA dari unggahan sebuah video yang viral, seorang nenek memukuli cucunya di simpang Charitas Palembang hari Rabu yang lalu. Nenek ini memaksa cucunya, TK yang berumur 8 tahun untuk mengemis di pinggir jalan.
Karena setoran yang kurang, nenek ini memukul dan menjambak rambut cucunya. Tindakan orangtua yang kurang terpuji ini ditindaklanjuti oleh polisi.
Suryani mengaku nekat menyuruh cucunya itu untuk mengemis sejak satu pekan terakhir.
“Karena sekarang lagi sekolah di rumah jadi saya mengajaknya untuk mengemis,” kata Suryani saat diperiksa penyidik.
Uang hasil mengemis yang dikumpulkan oleh TK digunakan untuk kehidupan mereka sehari-hari. “Saya menyesal,” kata nenek Suryani.
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia, dan kamu telah melihat Dia.”
Kata Filipus kepada-Nya, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa kepada kami, dan itu sudah cukup bagi kami.”
Yesus menjelaskan kepada Filipus, “barangsiapa melihat Aku, ia melihat Bapa.” Yesus dan Bapa adalah satu.
Kalau masih bimbang, Yesus minta supaya kita melihat pekerjaan-pekerjaan-Nya. Setidak-tidaknya dengan melihat pekerjaan Yesus, kita bisa mengenali Bapa yang mengutus-Nya.
Nenek yang sehari-harinya mengemis itu menyuruh cucunya ikut mengemis. Cucu yang masih kecil itu melakukan apa yang diperintahkan neneknya.
Dari cucu yang mengemis itu, kita bisa mengenali neneknya yang juga pengemis.
Yesus melakukan apa yang diperintahkan Bapa-Nya. Bapa yang baik dan mengasihi, mengutus Yesus untuk mengasihi dan menyelamatkan manusia.
Dari pekerjaan atau karya-karya Yesus, kita bisa mengenal Bapa-Nya.
Maka Yesus berkata, “Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa, dan Bapa di dalam Aku, atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.”
Kalau kita ini menjadi anak-anak Allah, semestinya kita juga melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Allah.
Kalau Allah adalah Bapa kita – setiap kali kita sebut doa Bapa kami – apakah orang lain bisa melihat siapa Bapa di dalam diri kita?
Bulan Mei bulan Maria.
Mari ziarah ke Ambarawa.
Allah adalah Bapa kita.
Kalau kita melakukan kehendak-Nya.
Cawas, Doakanlah kami ya Bunda…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
Puncta 28.04.21 / Rabu Paskah IV / Yohanes 12:44-50
“Janda Bolong”
SUATU pagi ada umat menawari saya, “Romo, mau mencoba pelihara janda bolong? Barangnya masih kecil romo. Romo mau satu atau dua?”
Jangan berpikir yang negatif dulu.
Setelah dicermati ternyata janda bolong itu sejenis tanaman. Orang Jawa menyebutnya, “Ron dho bolong” arti sebenarnya adalah daun-daun yang berlubang.
Karena pengucapannya disambung; randha bolong, orang salah menterjemahkannya. Randha diterjemahkan menjadi janda. Randha bolong jadi janda yang punya lubang. Hadeeew payah…
Diterjemahkan dari bahasa Inggris-Monstera adansonii, monstera Adanson, tanaman keju Swiss, atau tanaman lima lubang, adalah spesies tanaman berbunga dari keluarga Araceae yang tersebar luas di sebagian besar Amerika Selatan dan Amerika Tengah.
Tanaman ini sedang meroket harganya karena didesain oleh “penghobi” tanaman yang ingin meraup untung. Apalagi dengan nama yang seksis dan bombastis; Janda bolong.
Padahal gak ada hubungannya sama sekali dengan janda.
Orang memburu tanaman yang sedang ngetren. Padahal dia tidak sadar hanya jadi korban demi mengejar keuntungan.
Lama-lama tanaman itu teronggok dan tak terawat serta tidak ada harganya.
Inilah yang disebut distorsi atau penyimpangan suatu fakta. Memutarbalikkan suatu kata sehingga arti dan isinya menjadi berbeda.
Itu dibuat demi mencari keuntungan tak peduli tentang isi dan kebenarannya.
Yesus tidak mau bertindak seperti itu. Ia tidak menciptakan distorsi. Ia menyatakan kebenaran. Ia menyatakan firman Allah.
“Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia percaya bukan kepada-Ku, tetapi Dia yang telah mengutus Aku, dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia yang telah mengutus Aku.”
Apa yang disampaikan Yesus bukan omong kosong. Ia mewartakan kebenaran Allah sendiri.
“Bukan dari diri-Ku sendiri Aku berkata-kata, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku, untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan. Dan Aku tahu bahwa perintah-Nya itu adalah hidup yang kekal.”
Para produsen tanaman itu menipu konsumen. Mereka menjual janda bolong, tetapi yang disodorkan hanyalah daun-daun berlubang.
Maka teliti dulu sebelum membeli. Cermati dulu isi pewartaannya, jangan mudah terkecoh. Nanti hanya menyesal di kemudian hari.
Kita percaya pada Yesus. apa yang Dia wartakan bukan menipu atau mengecoh. Dia menyampaikan kebenaran, yakni Allah sendiri. Apakah anda percaya?
Ribut-ribut dengan janda bolong.
Hanya daun berlubang melompong.
Jangan percaya pada berita bohong.
Hanya bikin kacau dan pikiran kosong.
Cawas, jangan bohong….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr