Renungan Harian

Puncta 25.03.21 / HR. Kabar Sukacita / Lukas 1:26-38

 

“Kabar Sukacita?”

SEPASANG suami istri dari Stasi di pedalaman datang ke pastoran. Sang suami dengan terbata-bata dan ketakutan bilang, “Pastor, bisakah saya minta tolong. Pastor menikahkan anak saya secepatnya?”
“Umurnya berapa?” tanyaku. “Anak perempuan saya umurnya empatbelas tahun.”
“Cowoknya?” cecarku. “Limabelas Pastor.”

Bau arak menyengat tercium dari mulut bapak yang hanya menunduk kelu. Itu tanda stress berat, takut, punya beban berat, ada rasa bersalah. Takut datang menghadap pastor kalau tidak minum arak dulu. Dengan arak orang baru berani ngomong banyak. Ia meratap memohon dengan sangat.

Aku sudah menduga pasti anaknya hamil karena pergaulan bebas. Ibunya bercerita kalau anaknya sering kumpul di rumah dengan cowoknya ketika mereka sedang kerja di kebun sawit.

“Nasi sudah jadi bubur, bagaimana lagi Pastor. Kami harus bisa menerima dan menghadapi persoalan ini.”

Aku menghargai keinginan mereka dan mendukung untuk merengkuh dan memelihara anaknya.

Tetapi adat menuntut mereka harus segera menikah. Bagi gereja ini masalah yang problematis dan memprihatinkan.

Berita kehamilan itu bisa membawa sukacita. Tetapi masalah yang menyertainya belum tentu menggembirakan bagi yang mengalaminya. Mungkin begitu yang dialami Maria.

Pada awal menerima kabar dari malaikat, Maria terkejut dan bingung, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku tidak bersuami?”

Yang menggembirakan bukan soal Maria akan mengandung, tetapi kesanggupannya untuk menanggung beban yang begitu berat. Itulah berita sukacitanya. Maria berani mengatakan YA atas tanggungjawab besar itu.

Yang menjadi kabar sukacita adalah saat Maria berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

Dengan YA Maria itu, karya keselamatan Allah dimungkinkan terjadi, menjadi nyata. Allah menjadi manusia dan tinggal bersama kita.

Pasutri itu akhirnya merangkul dan menerima anaknya yang hamil. Mereka rela mengambil tanggungjawab untuk menyelamatkan anaknya. Itulah kabar yang menggembirakan.

Jika kita berani mengambil tanggungjawab kita – seberat apa pun – sehingga banyak orang mengalami berkat, maka disitulah kabar sukacitanya.

Bunda Maria ajarilah kami berkata YA, seperti engkau menjawab YA kepada Tuhan dan berpasrah kepada kehendak-Nya.

NB singkatan dari Nota Bene.
Kalau dibalik jadi Bene Nota.
Maria Ratu Pecinta Damai,
Ajari kami untuk tetap setia.

Cawas, hanya kosong di bawah NB….
Rm. Alexandre Joko Purwanto,Pr

Puncta 24.03.21 / Yohanes 8: 31-42 / Negara-Negara Paling Damai

 

MENURUT Global Peace Index, Islandia adalah negara yang paling damai di dunia. Asia menempatkan Singapura di urutan 10 besar dan Indonesia ada di peringkat 41.

Penilaian ini didasarkan pada tingkat keamanan dan keselamatan, konflik sosial dan tren kebahagiaan hidup.

Negara-negara Nordic seperti Finlandia, Islandia, Swedia, Norwegia dan Denmark selalu masuk daftar sebagai negara yang damai, aman dan makmur.

Kalau menyebut negara-negara paling tidak korup, maka keluar lagi Denmark, Swedia, Finlandia, Norwegia.

Tetapi anehnya justru negara-negara Nordic itu kebanyakan warganya malah atheis alias tidak beragama. Mereka dipandang tidak relijius atau sering disebut kafir.

Sedangkan kita yang menyebut diri keturunan Abraham, bangsa religius, manusia agamis justru sering berbuat intoleran, kriminal, gesekan SARA, korupsi, mabuk agama dan ribut-ribut melulu.

Yesus berdebat dengan orang-orang Yahudi sampai pada asal-usul mereka. Orang-orang itu mengaku sebagai keturunan Abraham. “Kami adalah keturunan Abraham, dan tidak pernah menjadi hamba siapa pun.”

Orang yang melakukan dosa adalah hamba dosa. Orang yang melakukan kehendak Allah adalah anak Allah.

Jika mereka menyebut keturunan Abraham seharusnya mereka taat melakukan kehendak Allah, karena Abraham percaya pada janji Allah dan melakukan perintah-Nya.

“Sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham. Tetapi yang kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku.”

Jika mereka ini mengaku keturunan Abraham semestinya sevisi, sepikir dan seperasaan dengan perjuangan Yesus untuk membawa damai dan keselamatan bagi dunia.

Kita mengaku religius, tetapi kelakuan kita jauh dari nilai-nilai religius. Kita mengaku beragama namun tindakan kita justru menjauh dari inti agama. Agama yang semestinya menjadi rahmat indah bagi dunia, justru diperalat oleh oknum-oknum demi kepentingan pribadinya.

Kita harus bertanya mengapa masyarakat yang dianggap atheis, tidak beragama seperti Swedia, Denmark atau Finlandia justru bisa menciptakan damai, sejahtera, toleran dan bebas konflik.

Sementara itu kita bisa belajar dari negara-negara yang berideologi agama harus berjuang keras menciptakan perdamaian dan ketentraman. Dimanakah peran agama?

Habis jalan-jalan sambil berolahraga.
Dilanjut semprot-semprot tanaman.
Kalau kita mengaku orang beragama,
Hidupnya ditandai dengan cinta dan toleran.

Cawas, membawa damai…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 23.03.21 / Yohanes 8: 21-30 / Firasat

 

HAMPIR satu tahun ibu meninggalkan kami. Tetapi rasanya seperti baru kemarin saja. Sebelum sakit, ibu pernah bilang, “Aku pengin yen ditimbali Gusti ora sah nganggo lara suwe-suwe.” (Kalau nanti aku dipanggil Tuhan, aku ingin tidak pakai sakit lama-lama). Waktu itu aku hanya menjawab tanpa pikir panjang, “Ya doa saja sama Tuhan ta Bu, yang penting nyuwun sehat terus.”

Kurang lebih satu bulan kemudian, ibu terkena stroke. Ini serangan yang keempat kalinya. Kami berusaha semaksimal mungkin agar ibu sembuh. Namun dokter bilang, “Kita berusaha semaksimal untuk ibu. Tetapi kalau selamat, ibu hanya bisa berbaring terus.” Dokter menjelaskan kondisi ibu. Kami tidak henti-hentinya berdoa mohon mukjijat kesembuhan.

Tetapi apa yang dikatakan ibu sebulan sebelumnya benar. Beliau hanya sepuluh hari di rumah sakit. Bapak sudah punya firasat. Bapak berpesan, “Mbok ibumu diberi minyak suci.”

Aku bersama adik, suster dan perawat berdoa untuk menerimakan sakramen perminyakan bagi ibu. Sepanjang hari itu aku menemani ibu. Aku membisikkan di telinganya untuk pasrah kepada Tuhan.

Kunyanyikan lagu “Ndherek Dewi Maria” kesukaan ibu. Esok paginya ibu sungguh-sungguh “ndherek Dewi Maria” diantar menuju rumah Bapa.

Yesus memberi firasat kepada orang banyak ketika Dia berkata, “Aku akan pergi, dan kamu akan mencari Aku. Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang.” Orang-orang tidak menangkap firasat itu. Mereka malah menduga kalau-kalau Yesus mau bunuh diri.

Yesus berbicara tentang kematian-Nya. Ia akan kembali kepada Bapa. Ia berasal dari atas, sedang kita manusia berasal dari bawah. Manusia akan kembali menjadi tanah. Yesus akan bangkit kembali kepada Bapa. Orang-orang Farisi tidak mengerti bahwa Ia berbicara tentang Bapa.

Orang baru akan memahami ketika Yesus sudah ditinggikan, yakni tergantung di salib. “Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu bahwa Akulah Dia.”

Kematian memang sebuah misteri. Tetapi misteri itu kadang disingkapkan melalui tanda atau firasat yang sering tidak kita sadari. Ketika peristiwa itu berlangsung, kita baru memahami apa yang sudah diungkapkan sebelumnya.

Yang membuat kita bisa menerima semua misteri itu hanyalah iman. Karena kita percaya, punya imanlah yang membuat kita mampu membuka celah akan aneka misteri kehidupan.

Marilah kita memperkuat iman kita agar semakin memahami maksud Allah yang tersembunyi.

Susah payah membangun rumah,
Lupa memasang pintu jendela.
Betapa tak terselami misteri Allah,
Hanya iman saja yang bisa menolong kita.

Cawas, belajar memahami….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 22.03.21 / Yohanes 8: 1-11 / Hakim Yang Adil

 

CUACA sangat dingin di New York pada tahun 1930. Kemiskinan dan kelaparan melanda dimana-mana. Seorang nenek tua yang miskin tidak punya roti untuk cucunya yang kelaparan.

Anaknya sakit dan tidak punya pekerjaan yang tetap. Ia harus menanggung hidup keluarga karena suaminya pergi meninggalkannya. Tak ada roti yang bisa dimakan. Dengan terpaksa ia mencuri roti di sebuah toko.

Penjaga toko mengetahui dan melaporkannya kepada jaksa kota. Jaksa menuntut dengan hukuman berat dengan maksud memberi rasa jera pada masyarakat. Nenek tua itu diadili karena perbuatannya mencuri.

Hakim Florello Laguardia mengadili perkara itu. “Maafkan saya, nenek tua. Saya harus menghukum anda, karena semua warga sama di hadapan hukum. Anda harus membayar denda sebesar 10 dollar. Jika tidak mampu membayar, harus diganti hukuman kurungan satu tahun penjara.”

Nenek tua itu bersimpuh di lantai dan memohon dengan iba. Ia menangis meratapi nasibnya. Melihat itu, sang hakim tergerak oleh belas kasihan. Ia kemudian melepaskan topinya dan mengeluarkan uang dari dompetnya dan memasukkannya ke dalam topi hakim.

“Atas nama pengadilan, saya juga menjatuhkan denda kepada tiap orang yang hadir di ruang sidang ini sebesar 50 sen, sebab anda semua menetap di kota ini, dan membiarkan seseorang kelaparan sampai harus mencuri untuk memberi makan cucunya.”

Palu diketuk hakim. Topi hakim diedarkan agar semua pengunjung membayar denda.

Akhirnya wanita tua itu keluar ruangan dengan membawa uang 47 dollar dan 50 sen, termasuk dari jaksa dan penjaga toko yang sedikit malu karena telah menuntut nenek tua itu.

Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa seorang wanita yang ketahuan berbuat zinah. Mereka minta pendapat Yesus tentang hal ini. Mereka mau mencobai Yesus bagaimana memutus perkara ini.

Dengan bijak dan cerdik Yesus berkata, “Barangsiapa diantara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Lalu pergilah mereka seorang demi seorang meninggalkan wanita itu.

Kepada perempuan itu, Yesus juga mengambil sikap, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Pengampunan itulah tanda kasih Allah yang terbesar. Allah lebih mengasihi manusia yang bertobat. Seperti Gembala yang mencari domba yang hilang, begitulah Allah lebih mencari manusia bertobat untuk diselamatkan.

Memetik bunga sekuntum demi sekuntum,
Dirasakan harumnya dicium dengan hidung.
Mari kita lebih mengasihi daripada menghukum,
Kasih dan pengampunan adalah sifat Allah yang agung.

Cawas, mengampuni lebih dahsyat…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

.

Puncta 21.03.21 / Minggu Prapaskah V / Yohanes 12: 20-33

 

“Ivan Fernandes dan Abel Mutai”

KISAH inspiratif ini terjadi pada lomba Maraton Burlada Navarre di Spanyol 2012. Lomba itu diikuti oleh pelari asal Spanyol, Ivan Fernandes dan Abel Mutai, peraih perunggu kategori 3000 meter Olimpiade London. Mutai melesat jauh di depan hampir mencapai finish. Fernandes berada di belakangnya.

Tiba-tiba Mutai berhenti, ia bingung dengan tanda-tanda arah menuju garis finish. Fernandes paham akan situasi ini. Ia berteriak agar Mutai terus berlari.

Namun pelari asal Kenya itu tidak paham Bahasa Spanyol yang diucapkan Fernandes. Akhirnya Fernandes mendorong Mutai untuk berlari di depannya sampai menembus garis finish.

Para wartawan heran dan mencecar pertanyaan kepada Fernandes, “Mengapa anda melakukan itu? Bukankah anda bisa membiarkan dan menyalibnya sehingga anda juara?”

Ivan menjawab: “Impian saya adalah suatu hari nanti, kita dapat hidup bersama dan memiliki moral yang baik di dalam masyarakat”.

“Tetapi anda bisa menang dan menyabet medali emas?” Dengan senyum Ivan menjawab: “Tapi apa manfaat dari kemenangan saya? Apa kehormatan dari medali itu? Apa yang akan ibu saya pikirkan dan katakan tentang kemenangan saya”.

Ketika Yesus tahu orang-orang Yunani datang diantar oleh Filipus dan Andreas kepada-Nya, Ia justru berkata, “Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika mati, ia akan menghasilkan buah banyak.”

Yesus tidak gila pujian atau hormat. Ia tidak membanggakan diri telah berhasil membuat orang-orang Yunani percaya dan datang kepada-Nya.

Tetapi Ia bersyukur karena telah memuliakan Bapa-Nya. “Sekarang jiwa-Ku terharu, dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini. Bapa, muliakanlah nama-Mu.”

Ivan Fernandes itu tidak ingin menang dengan cara yang konyol, memanfaatkan kebodohan orang lain. Ia menjunjung nilai etik berolahraga. Moral dan sportivitas tertanam dalam lebih sekedar mengejar medali.

Seperti biji gandum yang mati, agar menghasilkan buah banyak. Ivan mau mengalah, agar nilai-nilai moral ditanam dan berbuah banyak di tengah masyarakat.

Yesus mengejar bukan kemuliaan dunia, tetapi memilih salib, ditinggikan dari bumi, agar semua orang ditarik datang kepada-Nya untuk diselamatkan.

“Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi baragsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.”

Ivan tidak memikirkan dirinya sendiri. Ia tidak mengejar piala untuk dirinya sendiri. Ia merelakan kemenangannya bagi pelari Kenya itu. Tetapi tindakan Ivan itu akan dikenang dunia sampai ke hidup yang kekal.

Semalaman bicara soal pribadi,
Tentang berkorban dan mencintai.
Kemenangan itu bukan soal medali,
Tetapi sebuah integritas dan harga diri.

Cawas, empat kali medali…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr