Renungan Harian

Puncta 03.02.21 / Markus 6:1-6 / Kagum Pada Romo Tamu

 

KALAU hari raya Natal atau Paskah biasanya ada romo tamu yang membantu. Umat sangat senang dan mengagumi romo-romo tamu yang datang. “Kalau romo A itu kotbahnya gayeng, suka melawak, kita jadi terhibur,” kata seorang umat. Ada umat lain lagi berkata, “Romo itu hebat sekali, dia pandai dan gagah.” Kalau gadis-gadis atau ibu-ibu berbisik-bisik, “Romonya ganteng ya kayak artis Kim Sun Ho atau Han So Hee.”

Romo tamu biasanya selalu dipuji-puji. Tetapi di rumahnya sendiri, di kampungnya, orang-orang berkomentar bermacam-macam. Ada tetangga yang berkata, “Oh dia itu kan anak buruh bangunan Kang Karyo to? Tiap pagi cari pasir di sungai.” Teman sepermainannya bilang, “ Dia itu kalau main kartu suka curang, nyimpan kartu As dibawah kakinya.”

Teman yang lain berkata, “Dia dulu sering nyuri tebu sama saya.” Teman-teman perempuan bilang, “Dia itu suka godain kami kalau pulang malam-malam dari doa lingkungan. Dia suka “nyawuri” pasir dari arah kuburan. Kami ketakutan lari tunggang langgang.”

Yesus pulang ke kampung asal-Nya, Nasaret. Mereka heran dan takjub mendengar pengajaran-Nya. “Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?”

Tetapi ketika mereka tahu latar belakang keluarganya dan dari mana dia berasal, mereka kecewa dan menolak Dia. “Bukankah Dia ini tukang kayu, anak Maria? Bukankah Ia ini saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?”

Orang-orang Nasaret itu menilai bukan dari apa yang dilakukan-Nya tetapi dari latar belakang atau asal-usulnya. Mereka meremehkan keluarga dan sanak saudara-Nya. Mereka tidak percaya dan menolak Yesus. Sangat disayangkan.

Iman itu membutuhkan keterbukaan dan kerendahan hati. Tidak cukup hanya dengan kagum dan takjub. Terbuka menerima kehadiran Tuhan dan rendah hati mempersilahkan Tuhan berkarya dalam diri kita.

Tidak terjadi banyak mukjijat di Nasaret karena mereka tidak mau terbuka menerima Yesus.

Kita mungkin sering tepuk tangan sorak sorai, menyanyi gegap gempita mengagumi Yesus, tetapi kita lupa untuk membuka diri dan dengan rendah hati mengundang Yesus untuk mengubah kita.

Ya seperti umat yang kagum pada romo tamu, habis itu hilang tidak ada apa-apanya. Bahkan ke gereja mingguan pun tidak pernah muncul.

Mimpi buruk saat tidur siang.
Dikejar-kejar orang setengah gila.
Janganlah kita menilai seseorang,
Hanya melihat dari sisi luarnya saja.

Cawas, menghitung hari…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 02.02.21 / Pesta Yesus dipersembahkan di Bait Allah / Lukas 2:22-40

 

“Tedhak Siten”

SALAH satu tahapan hidup seorang anak dalam tradisi Jawa adalah ritual ‘tedhak siten’. Tedhak siten berarti turun tanah. Saat anak berumur 7 bulan dalam hitungan Jawa, dia mulai belajar berjalan.

Ritual ini juga mengandung harapan orangtua bagi si anak. Ubarampe atau sarana-sarana yang dipakai melambangkan doa dan harapan orangtua.

Ada makanan “jadah tujuh warna” yakni nasi ketan yang dijojoh sampai lembut. Warnanya hitam, merah, putih, kuning, biru, jingga dan ungu. Jadah lambang kehidupan. Warna adalah lambang jalan hidup yang harus dilalui si anak. Ia akan menghadapi kegelapan (hitam) namun selalu ada titik terang atau jalan yang baik (putih).

Tumpeng lambang pengharapan orangtua agar anak sukses dan berguna. Kacang panjang berharap agar umurnya panjang. Sayur kangkung lambang kesejahteraan. Kecambah lambang kesuburan. Ayam ingkung lambang kemandirian.

Setelah menapaki jadah tujuh warna, anak akan dibimbing menapakkan kakinya di tangga yang dibuat dari tebu Arjuna. Dengan harapan agar si anak mencontoh Raden Arjuna yang tangguh dan bertanggungjawab. Tebu juga berarti “antebing kalbu” menapaki ibu Pertiwi.

Lalu anak akan dimasukkan ke dalam kurungan ayam yang dihiasi aneka warna. Di dalam kurungan itu ditaruh aneka benda. Ada uang, cincin, buku, alat tulis, cermin, mainan, mobil-mobilan dll. Benda pertama yang dipilihnya menjadi gambaran hobi dan masa depannya.

Maria dan Yusuf melakukan suatu ritual keagamaan yakni mempersembahkan anak sulung kepada Tuhan di Bait Suci. Mereka membawa sepasang burung tekukur dan dua ekor anak burung merpati sebagai ubarampe atau sarana.

Simeon menubuatkan masa depan Yesus. “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan dan membangkitkan banyak orang di Israel, dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan.”

Kedatangan Yesus menjadi pemenuhan berkat bagi mereka yang merindukan Allah. Tetapi juga menimbulkan perbantahan di antara kaum kuasa agama dan politik. Hal itu sudah diramalkan oleh Simeon di Bait Suci.

Setiap orangtua pasti punya harapan besar bagi anak-anaknya. Bagaimana orangtua menyiapkan dan mendukung agar harapan itu dapat terwujud?

Gerimis datang tidak pernah reda.
Guntur sahut menyahut bergema di telinga.
Kebahagiaan orangtua menjadi sempurna.
Jika anak-anak hidup rukun damai sejahtera.

Cawas, senja berkabut…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 01.02.21 / Markus 5:1-20 / Legion dari Kahyangan Setra Gandamayit

 

ROH Jahat senang menunggangi pikiran-pikiran jahat sehingga akan menghasilkan tindakan-tindakan jahat. Bathari Durga dan Bathara Kala, ratu dan rajanya roh jahat itu suka merasuki “ngangslupi” para Kurawa yang punya pikiran jahat menghancurkan para ksatria. Para Kurawa berniat menghancurkan Pandawa tumpes tapis. Roh jahat membantu mereka mencelakakan para putra Pandu. Misalnya dengan membangun Bale Sigolo-golo, mengajak bermain judi, atau mengelabui Bima untuk terjun ke samudera dengan alasan bagus mencari banyu suci perwitasari.

Roh jahat itu tidak hanya tunggal, tetapi bisa jamak, gerombolan. Ketika Yesus mengajar di dalam rumah ibadat Kapernaum, ada seorang yang kerasukan roh jahat.

Tetapi saat Yesus sampai di daerah orang Gerasa, ada roh jahat yang banyak merasuki seseorang. Nama roh itu Legion karena jumlahnya banyak.

Suatu niat jahat muncul dari roh yang jahat. Misalnya niat hendak korupsi. Keinginan korupsi itu bisa tunggal bisa jamak. Ada pejabat korupsi seorang diri. Tetapi juga ada korupsi berjamak, dilakukan bersama-sama. Misalnya ada niatan korupsi seluruh instansi, atau sekelompok orang ingin kudeta, ganti ideologi.

Yesus dapat mengatasi aneka model roh jahat, baik yang tunggal maupun yang banyak, legion. Akhirnya mereka datang tunduk sujud kepada-Nya. Mengapa demikian? Mereka tahu Yesus adalah Anak Allah.

Roh jahat yang di rumah ibadat itu berkata, “Aku tahu siapa Engkau, yakni Yang Kudus dari Allah.”

Legion yang di pekuburan itu juga berkata, “Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah yang Mahatinggi?”

Roh jahat itu pandai bermain sandiwara, berpura-pura. Kalau di rumah ibadat ya berpakaian layaknya di gereja. Kalau di rumah dinas ya pakai pakaian dinas. Kalau di tempat kerja ya pakai baju kerja.

Roh jahat itu ada dimana-mana. Korupsi di rumah ibadat atau gereja ada juga. Jangan dikira roh jahat tidak suka tempat ibadat.

Legion tinggal di pekuburan, Setra Gandamayit, kahyangannya Bathari Durga.

Yesus mengalahkan roh jahat, karena Dia adalah Anak Allah. Jika kita digoda oleh roh jahat, kita mengandalkan Yesus.

Maka kita mesti dekat dan percaya pada Yesus agar kita mampu mengatasi kuasa jahat.

Lemper dibuat dari nasi ketan.
Dicampur sedikit dengan santan kelapa.
Sehebat apapun godaan setan.
Dia akan kalah oleh kekuatan doa.

Cawas, hati berbunga-bunga…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 31.01.21 – Minggu Biasa IV Thn B/1 – Markus 1:21-28

 

Arjuna dan Buta Cakil

DALAM pertunjukan wayang, ada adegan perang kembang. Perang antara seorang ksatria dan raksasa. Ksatria itu bisa Arjuna atau Abimanyu. Raksasa yang menghadang selalu Buta Cakil.

Raksasa berperawakan kurus kering kerontang kurang gizi, tetapi bicaranya “ceriwis” nyerocos tak bisa berhenti. Giginya “pating cringih” menonjol seperti duri-duri tajam.

Jika berperang gerakannya “pethakilan” dan suaranya “pating cemruwit” seperti anak burung ribut diloloh induknya. Banyak omong, banyak tingkah, merasa paling hebat sendiri.

Sebaliknya Arjuna atau Abimanyu sebagi ksatria bersikap tenang, berwibawa tanpa banyak kata-kata. Kata dan tindak tanduknya diperhitungkan dengan seksama.

Dia tidak bertindak dengan sembarangan, tanpa perhitungan. Tidak banyak mengumbar kata-kata kosong. Sekali bertindak, tuntas semuanya.

Arjuna pernah bertapa di Gua Mintaraga, bergelar Begawan Ciptaning. Cipta artinya membuat, menciptakan, mengadakan. Ning artinya hening, sunyi, tenang. Keheningan menciptakan atau menghasilkan kekuatan penuh wibawa dan kuasa.

Dalam bertindak atau perang melawan kejahatan, Arjuna tidak banyak bertingkah serabutan. Tindakan dan tutur katanya terukur penuh wibawa.

Orang yang bernama Ciptaning semestinya belajar dari Arjuna.

Yesus mengajar di rumah ibadat Kapernaum. Orang-orang takjub mendengar pengajaran-Nya sebab Ia mengajar dengan penuh wibawa, tidak seperti ahli Taurat.

Ia menghadapi orang yang kerasukan setan. Seperti Buta cakil, orang itu berteriak-teriak dan bertingkah polah tidak karuan, menjerit-jerit dan menggoncang-goncangkan orang itu. Yesus menghardik, “Diam, keluarlah daripadanya.” Setan itu takluk.

Mereka semua takjub. Peristiwa itu menjadi buah bibir. “Apa ini? Suatu ajaran baru? Guru ini berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahat pun Ia perintah dan mereka taat kepada-Nya.”

Orang berwibawa tidak perlu banyak kata-kata. Tetapi sekali berkata, semua tunduk dengan takzimnya.

Kemarin badai taufan dikalahkan, kini roh jahat disikat. Yesus, Engkaulah andalanku.

Tuhan bentengku, perisaiku.
Batu karangku panglimaku.
Tak gentar aku di rumah-Mu.
Aman aku di tangan-Mu.

Cawas, nasi goreng kepala bandeng…..
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 30.01.21 / Markus 4:35-41 / Beratnya Badai Kehidupan

 

“TUHAN itu dimana ya romo.” Kata seorang ibu yang datang konseling di kamar tamu. “Suami saya meninggalkan saya ketika anak masih kecil. Saya harus memeliharanya sendiri. Berat romo menjadi single parent. Tapi saya jalani semampu saya.” Ibu itu berkisah sambil “kembeng-kembeng” berkaca-kaca matanya.

“Anak saya tumbuh kurang kasih sayang romo. Dia kehilangan figure seorang ayah. Di sekolah sering berkelahi dengan teman-temannya. Kumpul-kumpul dengan geng anak nakal. Beberapa kali berurusan dengan polisi. Saya sangat sedih romo.” Ia “sesenggukan” menahan tangis.

Anak saya pernah bilang, “biar saya mati dihajar polisi gak papa, biar nanti jadi terkenal, biar bapak saya tahu, nanti dia akan ambil aku di tahanan. Semua ini gara-gara papa gak pernah pulang.” Saya ikut merasakan betapa berat badai yang dihadapi ibu ini.

Belum selesai gelombang yang satu, datang gelombang berikutnya. Ibunya meninggal karena sakit. Usahanya gulung tikar karena pandemi covid. “Romo, saya tidak punya harapan lagi.” Katanya lirih hampir tak bersuara lagi.

“Sebentar ibu,” saya masuk ke kamar mengambil sesuatu. “Ini bisa menjadi harapan,” saya memberinya sebuah rosario. “Apakah ibu pernah berdoa rosario?”
“Tidak sempat romo, tidak ada waktu untuk berdoa.”

Sekarang saatnya untuk berseru minta pertolongan Tuhan. Saya mengajaknya berdoa.

Para murid dan Yesus pergi ke seberang danau dengan perahu. Di tengah danau, mengamuklah taufan yang sangat dasyat. Yesus sedang tidur di buritan. Para murid ketakutan diterjang badai. “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?”

Yesus menghardik angin itu dan danau pun tenanglah. “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” kata Yesus.

Kata-kata itu juga tertuju pada kita.

Setiap hari kita ditemani Yesus. Ada salib di rumah kita. Mengapa kita tidak datang kepada-Nya, mengapa kita tidak berseru dan berdoa?

Bahtera itu adalah hidup kita. Yesus ada di dalamnya. Jika badai menerjang bahtera, kita mengandalkan Dia. Yesus berkuasa atas alam semesta. Badai dan taufan tunduk kepada-Nya.

Begitu pun badai kehidupan, Yesus mampu mengatasinya. Jangan pernah lupa, Dia bersama kita.

Bunga wijayakusuma berkembang.
Putih kemilau sangat menakjubkan.
Jika badai kehidupan menerjang.
Pegangi salib, dia sumber kekuatan.

Cawas, sedang galau….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr