Renungan Harian

Puncta 26.10.20 / Lukas 13:10-17 / Prioritaskan Ambulance

 

“INILAH kalau dari warga yang tidak ada kesadaran untuk mendahulukan mobil ambulance. Pasien yang kami kawal telah berpulang ke rumah khalik. Buat keluarga yang ditinggalkan semoga diberi ketabahan. Percayalah pasien sudah sehat dan tidak merasakan kesakitan lagi,” bunyi caption yang diunggah oleh @escorting-ambulance Medan.

Sebuah mobil ambulance sedang membawa pasien untuk berobat malah dihalangi pengguna jalan. Mereka tidak diprioritaskan supaya bisa sampai rumah sakit dengan cepat. Sirene sudah dibunyikan keras, tetapi mobil-mobil tetap di jalur mereka. Akhirnya pasien itu meninggal sebelum sampai di rumah sakit.

Agustus lalu Damis Sutendi mengantarkan bocah yang koma menuju rumah sakit di Garut dengan ambulan. “Pas sampai di kawasan Pasir Bajing, Kecamatan Banyuresmi, ada satu mobil kijang yang ada di depan tidak mau memberikan jalan,” kata Damis. Akhirnya sampai di ruang gawat darurat, tetapi terlambat, anak itu tak bisa diselamatkan.

Waktu Yesus sedang mengajar di rumah ibadat, ada seorang wanita yang telah delapan belas tahun dirasuki roh. Ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri dengan tegak.

“Hai ibu, penyakitmu telah sembuh.” Kata Yesus. Ia menumpangkan tangan atas wanita itu dan seketika dapat berdiri tegak. Hari itu adalah hari sabat. Pengurus rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari yang dilarang oleh Taurat.

“Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan tetapi jangan pada hari Sabat.”

Tetapi Yesus tidak menghiraukan teguran itu. Ia menjawab, “Hai orang-orang munafik, bukankah kalian semua melepaskan lembu dan keledaimu pada hari Sabat dan membawanya ke tempat minum?

Ada hal yang urgent dan mendesak yang harus diprioritaskan. Aturan adalah bentuk kesepakatan bersama. Namun menyelamatkan nyawa orang harus lebih diutamakan dari kesepakatan itu. Kita wajib memberi prioritas kepada ambulance yang membawa pasien, mobil pemadam kebakaran, presiden atau tamu negara.

Yesus mengajarkan kita untuk mengedepankan mana yang penting, urgent dan mendesak yang harus dilakukan demi menyelamatkan orang. Mari belajar tertib di jalan raya. Memberi jalan kepada ambulance yang bertugas adalah bentuk kepedulian kita kepada yang sedang menderita.

Ada rumah baru warnanya pelangi.
Merah kuning hijau siapa gerangan.
Kalau ada ambulance yang berbunyi.
Berilah jalan agar pasien diselamatkan.

Cawas, malam penuh gelak tawa…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 25.10.20 / Minggu Biasa XXX / Matius 22:34-40

 

“Empati, Gerbang Menuju Aturan Emas”

MENGAPA sebuah dompet yang jatuh di kereta api cepat, Shinkansen di Jepang kemungkinan besar akan kembali kepada pemiliknya? Karena orang Jepang berpikir, kalau dompet ini saya ambil, jangan-jangan pemilik dompet ini tidak punya uang lagi. Dia pasti kebingungan bayar hutang, bayar listrik, bingung beli makan. Dia akan dimarahi oleh istri dan anak-anaknya. Mereka bisa mati oleh perbuatan jahat saya ini.

Orang Jepang punya empati yang sangat tinggi. Maka negaranya aman dan sangat maju karena warganya dididik sejak kecil punya empati. Empati adalah sikap “memposisikan diri saya sebagai dia.” Andaikan saya adalah dia yang sedang kebingungan, kesulitan atau mengalami kesedihan. Itulah empati.

Orangtua, pimpinan atau tokoh yang dihormati memberi contoh kongkret kepada masyarakat. Misalnya, pimpinan yang ketahuan korupsi bunuh diri karena malu. Pejabat yang gagal akan mundur karena dia memakai cermin rakyatnya. Wanita pulang malam terjamin keselamatannya, karena para pria berpikir, gimana kalau dia itu adik, anak atau istri saya. Orang selalu menempatkan diri jika saya ada di pihaknya. Dengan begitu rasa empati akan tumbuh.

The Golden Rule atau Aturan Emas atau Etika Timbal Balik adalah suatu bentuk empati. “Kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri.”
“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.” Itulah perintah agung yang diajarkan Yesus.

Ajakan Yesus itu melampaui rumusan negatif yang diajarkan sebelumnya. Jangan melukai kalau kamu tidak ingin dilukai. Yesus merumuskan secara positif dan aktif menjadi suatu tindakan kongkret kepada orang yang butuh pertolongan. Ia membuat contoh tentang orang Samaria yang baik hati.

Kepada ahli Taurat yang bertanya, Yesus berkata, “Pergilah, dan perbuatlah demikian.”

Yesus menekankan tindakan positif yang membawa manfaat bagi sesama, bukan sekedar menahan diri dari tindakan negatif yang merugikan orang lain.

Para supporter Jepang membersihkan sampah di stadion Rusia saat usai pertandingan piala dunia 2018. Bukan hanya tim Jepang yang menang atas Kolombia, tetapi supporternya menarik simpati masyarakat dunia dengan tindakan bersih-bersih sampah itu.

Kegiatan seperti itu sudah dimulai sejak tim Jepang masuk ke Piala Dunia Perancis 1998. Pasti mereka sudah punya habitus hidup bersih di negaranya. Tidak salah jika Jepang dianggap negara yang bersih dan disiplinnya tinggi.

Beda dengan di Indonesia, setiap kali demo, sampah berserakan di mana-mana, taman kota rusak, pos polisi dibakar, halte bus dan fasilitas publik hancur.
Mereka itu belum bisa membangun saja sudah pandai merusak. Tidak ada empati. Maka Walikota Surabaya marah-marah kepada pendemo.

“Kenapa kamu rusak kotaku, kenapa kamu gak rusak kotamu sendiri. Aku belain wargaku setengah mati,” seru Risma dengan suara bergetar kepada pendemo yang berasal dari luar kota.

Hal itu terjadi karena kita tidak punya empati dan “rasa handarbeni” sebagai warga bangsa. Mari kita belajar berempati dan miliki “rasa pangrasa handarbeni.”

Ada lubang di cendela.
Bisa untuk mengintip matahari.
Kasih kepada sesama,
Adalah wujud kasih pada diri sendiri.

Cawas, La Puerta de Burgos….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 23.10.20 / Lukas 12:54-59 / Lembaga Survey

 

BIASANYA menjelang pilpres atau pilkada bermunculan lembaga-lembaga survey. Ada lembaga survey (LS) independen tetapi juga ada yang pesanan. Semestinya LS bersifat ilmiah, netral, independent, transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. LS yang pesanan biasanya dipakai untuk kepentingan kelompok tertentu sesuai dengan keinginan sang pemesan.

Dulu ada dua kubu LS yang saling mengklaim kemenangan capresnya. Sebelum KPU mengumumkan secara resmi, mereka dengan quickcount sudah mengumumkan capresnyalah yang menang. Tetapi setelah KPU resmi mengumumkan hasil penghitungan suara manual, rakyat bisa menilai dan terbuka matanya, mana LS yang pesanan alias abal-abal dan mana yang asli dan kredibel. LS yang kredibel bahkan siap diaudit oleh Persepsi (Perhimpunan Survey Opini Publik Indonesia). Sedang yang abal-abal takut diaudit karena tidak bisa memenuhi standar sebagai lembaga survey yang ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan.

LS itu menjadi salah satu alat untuk memprediksi, menganalisa dan membantu mengambil kesimpulan atas gejala dan fenomena yang terjadi di lapangan. LS harus mengumpulkan data sebanyak-banyaknya, tidak asal-asalan saja, agar bisa mempunyai variabel kemungkinan yang bisa ditarik sebagai kesimpulan yang akurat dan kredibel. Tanda-tanda atau gejala-gejala zaman sekarang dapat diketahui melalui lembaga survey.

Zaman dahulu belum ada lembaga survey. Orang mengandalkan gejala atau tanda-tanda alam. Maka Yesus berkata kepada orang banyak, “Apabila kalian melihat awan naik di sebelah barat, segera kalian berkata, ’akan datang hujan.’ Dan hal itu memang terjadi. Dan apabila kalian melihat angin selatan bertiup, kalian berkata, ‘Hari akan panas terik.’ Dan hal itu memang terjadi. Hai orang-orang munafik, kalian tahu menilai gelagat bumi dan langit, tetapi mengapa tidak dapat menilai zaman ini?”

Sekarang ini ada banyak alat, cara dan kemungkinan untuk menilai sesuatu itu benar atau salah. Namun orang sering tertutup hatinya dan berpikir sempit. Yang penting kelompokku, ideologiku, golonganku walaupun salah tetap dibela mati-matian. Muncullah Front Pembela Kristus, Alumni Padepokan Wiro Sableng, Barisan Sito Gendheng. Suara hati sudah tumpul. Tidak mau melihat tanda-tanda zaman. Orang atau bangsa tidak akan maju karena terkurung oleh tempurungnya sendiri. Tidak mau terbuka melihat gelagat tanda-tanda zaman. Orang modern yang tidak mau membaca survey akan mudah keliru dan jatuh pada lubang yang sama. Mari kita membuka hati dan pikiran untuk melihat realitas kehidupan.

Malam hari ada bulan purnama.
Melintas diantara dua kartika.
Jika hati dan pikiran kita terbuka.
Kita akan melihat indahnya dunia.

Cawas, senandung malam….
Rm. Alexandre Joko Purwanto,Pr

Puncta 22.10.20 / Lukas 12:49-53 / Sepercik Daya Api

 

KALAU orang tidak mempunyai api akan mengalami kesulitan. Ia tidak bisa masak memasak. Api juga bisa menjadi pelita yang menerangi di malam yang gelap. Kalau sedang musim dingin, api digunakan untuk memberi kehangatan.

Waktu masih kecil, kami sering berkumpul di sekitar “keren” atau tungku untuk menghangatkan badan di kala dingin. Sambil membakar ubi yang dibenamkan di dalam bara api, kami ngobrol penuh kehangatan. Kalau ubi sudah mulai “gosong-gosong” kami cungkil-cungkil dan dikupas sambil ditiup-tiup karena panas.

“Mas, pinjam korek apinya.” Teman yang lupa tidak membawa korek api tidak bisa menyalakan rokoknya. Hidup jadi kurang nikmat.

Api yang kecil bisa sangat bermanfaat dan dibutuhkan oleh orang banyak. Tetapi kalau api yang besar bisa membahayakan. Ia bisa membakar dan menghancurkan kompleks perumahan. Api besar yang tak terkendali bisa membakar hutan yang luas. Kadang hanya karena kecerobohan orang membuang puntung rokok sembarangan, bisa menghanguskan ribuan hektar lahan.

Kami pernah melewati daerah Pelang – Indotani menuju Tembelina, ratusan hektar lahan terbakar – apa sengaja dibakar ya? Asap tebal menyesakkan dada dan menghalangi pandangan. Mata terasa pedas. Jelas tidak sehat untuk pernafasan. Panasnya menyengat terasa sekali di kulit. Api yang sangat besar itu tak mudah dikendalikan dan sangat berbahaya. Bisa menghancurkan semuanya.

Maka ada nasehat, “Jangan suka bermain api.”

Tuhan Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, “Aku datang melemparkan api ke bumi, dan betapa Kudambakan agar api itu selalu menyala. Aku harus menerima baptisan dan betapa susah hati-Ku sebelum hal itu berlangsung.”

Api itu lambang daya kekuatan yang terus menyala dan mengobarkan. Baptisan adalah pengangkatan Yesus sebagai Anak Allah. Ketika Yesus dibaptis, terdengarlah suara dari langit, “Engkaulah Anak-ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.” Puncak baptisan Yesus adalah salib-Nya. Dengan salib,Ia diangkat secara sempurna sebagai Anak Allah.

Kehadiran Yesus yang membawa api, daya kekuatan Roh Kudus memang menimbulkan pertentangan. Bagi mereka yang berada di bawah kuasa gelap, api Yesus adalah ancaman. Kuasa kegelapan akan melawan terang api. Tetapi bagi mereka yang hidup jujur, bersih, suci, api adalah daya yang memberi semangat hidup. Apakah kita mau memilih hidup di bawah kuasa kegelapan atau mengikuti kuasa terang yakni Yesus sendiri?

Pilihan itu akan menimbulkan pertentangan. Itulah konsekwensi mengikuti Yesus.

Punya mimpi pada suatu hari.
Bisa ziarah ke Tanah Suci.
Yesus datang membawa api.
Agar kita selamat sampai akherat nanti.

Cawas, pesanan puncta terus mengalir….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 21.10.20 / Lukas 12:39-48 / Romo Mangunwijaya

 

HOTEL Le Meridien Jakarta penuh dengan peserta seminar. Hari itu tanggal 10 Februari 1999 diadakan seminar tentang peran buku dalam membentuk masyarakat Indonesia baru oleh Yayasan Obor. Yang menjadi nara sumber adalah Romo Mangunwijaya, Mohammad Sobary, Sapardi Djoko Damono, Ignas Kleden dan Karlina Leksono Supelli.

Ketika waktu istirahat, Kang Sobary menemui Romo Mangun ingin berbicara. Ia disambut Romo Mangun dengan sapaan hangat. Mereka berdua mencari tempat sepi di lorong hotel dekat tempat seminar. Belum lama mereka ngobrol, Romo Mangun tiba-tiba bersandar di bahu Kang Sobary. Dia mengira Romo hanya kecapekan, tertidur. Tetapi makin lama tubuhnya makin berat oleh beban Romo Mangun yang menggelendotnya. Perasaannya mulai cemas. Romo Mangun tidak sadarkan diri.

Romo Mangun ditidurkan di atas karpet. Ikat pinggang dilonggarkan, kancing baju dilepas, kacamata diletakkan. Romo Mangun mulai mendengkur dan nafasnya mulai lemah. Kang Sobary menekan dada untuk membantu pernafasan. Tenaga medis dipanggil. Mereka memasang alat bantu pernafasan. Tetapi semua terjadi begitu cepat. Romo Mangun meninggal saat sedang menjalankan tugas. Si Burung Manyar itu pergi di pangkuan sahabatnya, Mohammad Sobary.

Hari ini Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Camkanlah ini baik-baik. Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang,ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Hendaklah kalian juga siap sedia, karena Anak Manusia akan datang pada saat yang tidak kalian sangka-sangka.”

Kematian itu seperti pencuri. Kita tidak tahu kapan datangnya. Begitu juga kapan Anak Manusia akan datang, kita tidak tahu persis waktunya. Yang bisa dilakukan hanyalah bersiap-siaga. Jangan sampai terlena atau bahkan mengabaikannya.

Yesus menggambarkan persiapan itu dengan hamba yang siap siaga ketika tuannya datang. “berbahagialah hamba, yang didapati tuannya sedang melakukan tugasnya, ketika tuan itu datang.” Bahkan tuan itu akan memberi tanggungjawab yang lebih besar lagi.

Semakin dia bisa bertanggungjawab, semakin diberi tugas yang lebih besar lagi. ”Barangsiapa diberi banyak, banyak pula yang dituntut daripadanya. Dan barangsiapa dipercaya banyak, lebih banyak lagi yang dituntut daripadanya.”

Seperti Romo Mangun itu, beliau punya banyak talenta. Beliau budayawan, arsitek, penulis, dosen, pemerhati kaum kecil, penggerak lingkungan, dan seorang pastor projo Semarang. Tugas dan tanggungjawabnya yang begitu banyak dilaksanakan sampai tuntas. Beliau adalah hamba yang berbahagia karena didapati Tuhan sedang melakukan tugasnya. Kita pun bisa menjadi hamba seperti itu.

Tiap pagi berolahraga berdua.
Sambil menikmati bunga-bunga.
Marilah kita selalu siap siaga.
Menjalankan tugas dengan setia.

Cawas, mengejar burung gereja…
Romo Alexandre Joko Purwanto, Pr