by editor | Mar 7, 2021 | Renungan
“Rombak Bait Suci”
SEBELUM naik ke Gunung Sinai, ada ngarai luas di padang gurun, dekat Biara St. Chatarine. Dari kejauhan terlihat sebuah batu yang berbeda dari yang lainnya. Batu besar itu tergambar siluet seekor lembu. Achmad si guide lokal menceritakan kepada kami kepercayaan yang terjadi dalam Kitab Suci.
Ketika Musa turun dari Gunung Sinai, didapatinya Bangsa Israel menyembah seekor lembu emas. Mereka berpaling dari Yahwe. Musa marah dan melemparkan patung lembu emas itu ke batu. Sampai sekarang gambar lembu itu terpatri pada batu.
Achmad berkata, “Itulah peringatan kepada kita semua supaya hanya menyembah Tuhan Allah saja, jangan menyembah alah-alah lain.”
Dalam Injil hari ini, Yesus membuat tindakan dramatis dan simbolik. Ia mengusir para pedagang kambing, domba, lembu dan merpati. Ia menjungkirbalikkan meja-meja penukar uang di Bait Suci. Ia memperingatkan kepada orang banyak, “Jangan membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.”
Yesus mencanangkan revolusi mental. Bait Suci bukan tempat bisnis transaksional. Bait Suci adalah tempat membangun relasi berdasarkan kasih Allah, bukan untung rugi demi kepentingan pribadi.
Logika dagang dengan prinsip untung rugi diganti dengan logika kasih dengan prinsip pengorbanan.
Yesus menganalogkan diri-Nya sebagai Bait Suci. “Rombaklah Bait Suci ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.”
Yesus mengingatkan kembali bagaimana relasi dengan Allah harus dibangun melalui Diri-Nya sebagai Bait Allah.
Dalam bacaan pertama, Musa juga mengingatkan Bangsa Israel untuk terus membangun relasi dengan Allah dengan mentaati hukum-hukum-Nya. Jangan pernah menyeleweng dan meninggalkan Allah. Jangan percaya pada dewa-dewa buatan tangan manusia.
Apakah kita masih sering bertransaksi dengan Allah? Apakah kita ke gereja masih dengan logika dagang? Kalau tidak menguntungkan, tidak mau berelasi dengan Allah?
Pengin jalan-jalan ke Pulau Bali.
Kangen nasi lawar dengan sup babi.
Dengan Tuhan jangan mikir untung rugi.
Kasih Tuhan bagi kita hanya ingin memberi.
Cawas, nyanyian jiwa….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, P
by editor | Mar 6, 2021 | Renungan
Dasyatnya Memaafkan:
“Tie A Yellow Ribbon Round The Old Oak Tree”
I’m coming home. I’ve done my time.
Now I’ve got to know what is and is it mine.
If you received my letter telling you I’d soon be free,
Then you’ll know just what to do if you still want me,
SEPENGGAL syair lagu di atas pernah menduduki puncak tangga lagu dunia di tahun 1973. Lagu itu ditulis berdasar kisah nyata tentang dasyatnya pengampunan.
Seorang suami tinggal di daerah White Oak, Georgia. Ia punya istri yang cantik. Tetapi setiap malam ia mabuk dan suka cekcok dan memukuli anak-istrinya.
Ia mencuri deposito istrinya dan pergi ke New York. Di sana ia mencoba bisnis tapi bangkrut. Lalu ia terlibat penipuan, kejahatan narkotika dan sex bebas. Akhirnya ditangkap polisi dan dipenjara selama tiga tahun.
Ketika hari pembebasan hampir tiba, ia menulis surat kepada istrinya. Ia rindu berkumpul di tengah keluarga. Ia berharap istri dan anak-anaknya mau menerima dan memaafkannya.
“Sayangku, jika engkau masih ingin aku kembali kepadamu, ikatkanlah sehelai pita kuning pada salah satu pohon Oak yang ada di pusat kota. Apabila aku lewat dan tidak menemukan sehelai pita kuning, maka tidaklah mengapa. Aku akan tahu dan mengerti. Aku tidak akan turun dari bis dan akan terus melanjutkan perjalananku ke Miami.” Demikian tulisnya.
Hari pembebasan tiba. Ia naik bus menuju Miami, Florida. Ia akan melewati kota kecil White Oak, tempat istri dan anak-anaknya. Ia mohon kepada sopir bus untuk berjalan pelan-pelan saat melewati pusat kota. Ia ingin melihat apakah ada sehelai pita kuning terikat di pohon oak.
Tiba-tiba keheningan pecah. Semua orang di bus bersorak dan bertepuk tangan. Tidak hanya sehelai pita kuning, tetapi ratusan pita kuning bergelantungan di pohon tua itu. Ia menangis tersedu-sedu.
Istri dan anak-anaknya masih menunggu dan mengasihinya. Istri dan anak-anaknya berlari menyambutnya. Mereka berpelukan. Itulah dasyatnya pengampunan.
Begitulah Allah seperti Bapa yang baik hati, selalu mengampuni anak-anak-Nya yang berdosa. “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju, sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.”
Jika seorang ibu bisa mengampuni suaminya yang telah berkhianat padanya, betapa Allah yang maharahim akan mengampuni kita yang telah berdosa. Itulah dasyatnya kasih Allah.
Jalan-jalan di kota Surabaya.
Makan rawon dengan telur asinnya.
Pengampunan Allah selalu terbuka.
Asal kita mau datang kepada-Nya.
Cawas, senandung rindu….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Mar 5, 2021 | Renungan
RAHWANA yang gila kuasa ingin merebut Gua Kiskenda, wilayah Subali. Ia berperang melawan Subali. Namun Rahwana kalah oleh ajian Pancasona yang dimiliki Subali. Subali mengampuni Rahwana. Bahkan diterima sebagai muridnya.
Hasrat ingin memiliki ajian Pancasona, membuat Rahwana bermuka manis. Ia pandai menjilat, membujuk rayu, berpura-pura baik. Ia mau menjaga keselamatan Subali bahkan jika harus mengorbakan nyawa sekalipun. Ia mohon agar aji Pancasona diberikan kepadanya supaya bisa melindungi Subali.
Subali termakan tipu muslihat Rahwana. Ia mewariskan aji Pancasona kepada muridnya yang pandai bersandiwara itu. Aji Pancasona jatuh ke tangan Rahwana. Ia makin digdaya dan ingin menguasai seluruh dunia.
Karena yang tahu rahasia ajian itu hanya Subali, Rahwana takut kalau-kalau Subali mengambilnya kembali.
Maka rahwana mencari tipu daya untuk membunuh Subali. Ia kemudian mengadu-domba Subali dan Sugriwa, adiknya.
Rahwana memainkan gosip yang membuat Subali marah. Ia bercerita bahwa Dewi Tara, kekasih Subali diperlakukan buruk oleh Sugriwa. Kakak beradik ini berkelahi. Matilah Subali oleh tipu daya Rahwana.
Begitulah Rahwana ini orang yang “ditulung malah menthung.” Ia ditolong oleh Subali, tetapi dia justru mencelakai dan mengarah kematian orang yang sudah menolongnya.
Yesus membuat perumpamaan tentang penggarap kebun anggur yang jahat. Mereka sudah ditolong, boleh menggarap kebun anggur. Tetapi mereka justru menangkap, memukul para hamba, bahkan membunuh anak pemilik kebun anggur. Mereka ingin merampas kebun anggur itu.
Itulah sindiran bagi para imam-imam dan tua-tua Bangsa Yahudi. Mereka membunuh anak pemilik kebun anggur itu. Mereka menolak dan membunuh Yesus. Oleh karenanya keselamatan diberikan kepada bangsa-bangsa lain.
Bagaimana dengan kita? Apakah kita seperti para imam dan tua-tua Yahudi? Apakah kita sebagai orang yang tak tahu diuntung? Tak tahu berterimakasih? Menyia-nyiakan keselamatan yang diberikan Tuhan?
Taman subur penuh rerumputan,
Tiap hari disiram dengan air hujan.
Tuhan menawarkan keselamatan,
Janganlah kita membuang kesempatan.
Cawas, senja itu….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Mar 3, 2021 | Renungan
Hidup ini adalah kesempatan.
Hidup ini untuk melayani Tuhan
Jangan sia-siakan waktu yang Tuhan beri
Hidup ini harus jadi berkat.
Kendati lagu ini sederhana, namun sarat maknanya. Waktu adalah kesempatan dan peluang yang tak mungkin datang kembali. Maka kesempatan itu jangan pernah disia-siakan. Waktu untuk menjadi berkat itu jangan pernah dibuang percuma. Nanti kita akan menyesal seumur hidup.
Cerita tentang orang kaya dan Lazarus menjelaskan agar kita tidak membuang kesempatan untuk menjadi berkah bagi orang lain.
Orang kaya itu selalu memakai jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari bersuka ria dalam kemewahan. Ia sangat menikmati kemewahannya dan lupa ada orang miskin di sampingnya.
Hidup dan kekayaannya hanya untuk dirinya sendiri. Ia tidak peduli terhadap dunia sekitarnya. Tembok egoisme menutupi hatinya. Ia sudah merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Di pintu hatinya sudah ada peringatan “Awas ada anjing galak.”
Orang kaya itu tidak mau mendekati si miskin. Tetapi anjing-anjingnya yang dilepas untuk menjilati borok-borok orang miskin itu.
Kesempatan agar hidup menjadi berkat musnah karena egoisme pribadi. Ketika dia harus mempertanggungjawabkan hidupnya di hadapan Sang Hakim Agung, orang kaya itu terlempar ke tempat penyiksaan abadi.
Sementara Lazarus si miskin itu membiarkan dirinya dijilati anjing-anjing si kaya. Ia memberikan dirinya untuk hidup makhluk lain. Ketika dia mati, pangkuan Bapa Abraham sudah menantinya.
Ia yang mau berkorban, pada akhirnya memperoleh kemuliaan. Ia yang rela menderita, akhirnya memperoleh pahala.
Waktu tidak bisa diputar mundur. Peluang hilang. Kesempatan lenyap. Kebaikan sirna tak bisa diulang kembali. Maka jangan sia-siakan waktu yang Tuhan beri. Ambil waktu dan tarik kesempatan serta sambar peluang sekecil apa pun untuk berbuat baik.
Karena bukan apa yang kita miliki yang akan menentukan hidup kita kemudian, tetapi apa yang kita buat terhadap saudara kita yang lemah, miskin, kecil dan tersingkir. Sudahkah kita ambil peluang berbuat baik?
Berakit-rakit ke hulu,
Berenang-renang ke tepian.
Bersakit-sakit dahulu,
Bersenang-senang kemudian.
Cawas, ambil peluangmu….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by gisel | Mar 3, 2021 | Artikel
Vatikan telah merilis suatu ensiklik yang sangat dinantikan dari Bapa Paus Fransiskus. Namun apakah umat sudah memahami apa itu ensiklik sebenarnya? Ensiklik adalah surat yang diedarkan Bapa Suci kepada umat Katolik di seluruh dunia dan sering ditujukan juga kepada semua orang yang berkehendak baik, yaitu non-Katolik yang mungkin ingin membaca dokumen tersebut.
Ensiklik Kepausan memberikan analisis, dalam terang Injil dan Tradisi Gereja, tentang masalah-masalah yang relevan bagi umat beriman. Paus sebelumnya telah menerbitkan ensiklik tentang berbagai topik, mulai dari studi Kitab Suci (Leo XIII, 1893) hingga penebusan umat manusia di dalam Kristus dan martabat manusia (Yohanes Paulus II, 1979).
Lalu apa hubungannya dengan “Fratelli Tutii”?
“Fratelli Tutti” berarti “semua saudara dan saudari” dan diambil dari nasihat Santo Fransiskus dari Assisi. Nasihat ini merupakan prinsip dan pedoman bagi para biarawan yang termasuk dalam ordo religius yang didirikan oleh Santo Fransiskus. Di awal ensiklik, Paus Fransiskus menarik perhatian kita pada poin 25 dari Nasihat, di mana Santo Fransiskus “menyerukan cinta yang melampaui batasan geografi dan jarak, dan menyatakan diberkati semua orang yang mencintai saudara mereka ‘sebanyak ketika dia jauh darinya seperti saat dia bersamanya ‘.
“Fratelli Tutti” merupakan judul dari ensiklik ketiga yang diterbitkan Paus Fransiskus setelah Laudato si (Puji Bagi-Mu) yang diliris tahun 2015. Ensiklik ini diresmikan di Assisi pada tanggal 4 oktober 2020 bertepatan dengan pesta Santo Fransiskus dari Assisi yang menjadi inspirasi utama dalam pembuatan ensiklik ini. Frasa Fratelli Tutti diambil dari nasihat Santo Fransiskus yang berarti “Semua Bersaudara”. Ensiklik ini bertujuan untuk mendorong keinginan akan persaudaraan dan persahabatan sosial.
Siapa itu Santo Fransiskus dari Asisi? Dan Mengapa Paus mengambil insprirasi darinya dalam membuat ensiklik ini ?
Santo Fransiskus lahir di Assisi pada akhir abad ke-12 dan lahir dari keluarga yang kaya raya. Saat muda ia sempat memberontak untuk menjalankan bisnis ayahnya dan menghabiskan waktunya dengan bersenang-senang. Namun sikapnya itu berubah total setelah dia mengikuti peperangan dan harus masuk penjara selama setahun. Dia menghabiskan waktunya dengan menyendiri dan meminta penerangan kepada Tuhan. Setelah itu, dia memutuskan untuk meninggalkan kesenangan duniawi dan menyerahkan diri seluruhnya ke kehidupan kemiskinan kerasulan. Bersama dengan Santa Klara dari Assisi, ia mendirikan beberapa ordo religius yaitu Ordo Fransiskan, ordo Klara Miskin dan ordo Fransiskan Sekuler. Ordo-ordo ini terdiri dari umat awam yang tidak mengambil kaul religius, tetapi memilih untuk menjalankan prinsip-prinsip Fransiskan dalam kehidupan sehari-hari.
Santo Fransiskus dikenal sebagai santo pelindung ekologi. Ia juga paling dikenal karena menemukan Tuhan dalam kemiskinan dan kesederhanaan, dalam kontemplasi dan dalam pekerjaan. Dalam lingkungan alam, Santo Fransiskus juga mencari persahabatan dengan semua makhluk Tuhan. Dia sering digambarkan dikelilingi oleh burung dan binatang liar dan mengenakan tunik wol kasar yang biasanya dipakai petani miskin di Umbria tempat asalnya. Seperti yang dikatakan paus dalam Fratelli Tutti, “Kemanapun dia pergi, dia menabur benih perdamaian dan berjalan bersama orang miskin, yang terlantar, yang lemah dan yang terbuang, saudara dan saudari yang paling hina” (FT, 2).
Salah satu inspirasi utama Paus Fransiskus untuk ensiklik baru ini adalah kisah di mana Santo Fransiskus mengunjungi Sultan Malik-el-Kamil di Mesir, pada saat Perang Salib, sebagai upaya untuk mengakhiri konflik antara Kristen dan Muslim. Ini ditawarkan sebagai model cinta Kristiani, yang juga dijalani oleh “orang miskin Assisi” di tanah airnya. Seperti yang dikatakan paus, “Di dunia pada masa itu, penuh dengan menara pengawas dan tembok pertahanan, kota-kota adalah teater perang brutal antara keluarga-keluarga yang berkuasa, bahkan ketika kemiskinan menyebar ke pedesaan. Namun di sana Fransiskus dapat menyambut kedamaian sejati ke dalam hatinya dan membebaskan dirinya dari keinginan untuk menggunakan kekuasaan atas orang lain.
Pesan dari Fratelli Tutti
Paus Fransiskus telah menulis surat ensiklik ini sebelum virus corona menyerang dan mengubah segalanya mulai dari ekonomi global hingga kehidupan sehari-hari. Dia mengatakan bahwa pandemi, bagaimanapun, telah mengonfirmasi keyakinannya bahwa lembaga politik dan ekonomi saat ini harus direformasi untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang paling dirugikan oleh virus corona.
Keadaan darurat kesehatan global akibat pandemi telah membantu menunjukkan bahwa “tidak ada yang dapat menghadapi kehidupan dalam isolasi” dan bahwa waktunya telah benar-benar datang untuk “bermimpi, menjadi satu keluarga manusia” di mana kita semua adalah “saudara dan saudari “(7- 8).
- Refleksi tentang distorsi di era komtemporer.
Dalam bab pertama, ensiklik ini merefleksikan tentang banyak distorsi di era kontemporer: manipulasi konsep-konsep seperti demokrasi, kebebasan, keadilan; hilangnya makna komunitas sosial dan sejarah; keegoisan dan ketidakpedulian terhadap kebaikan bersama; logika pasar berdasarkan keuntungan dan budaya pemborosan; pengangguran, rasisme, kemiskinan; disparitas hak dan penyimpangannya seperti perbudakan, perdagangan manusia, pelecehan terhadap perempuan yang dipaksa menggugurkan kandungan dan perdagangan organ (10-24).
Hal diatas memaparkan realitas dunia yang digambarkan sebagai suasana gelap. Ketika badai Covid-19 menerpa perahu dunia, tersingkaplah topeng bernama ‘kemajuan global’, suatu kemajuan yang nyatanya tidak mampu menangkal krisis, karena mengutamakan keselamatan individu atau kelompok, tetapi mengabaikan persaudaraan.
Kisah Injil utama yang diangkat dalam Fratelli Tutti adalah perumpamaan tentang Orang Samaria yang Baik hati. Kisah menarik tentang orang asing yang bertindak sebagai tetangga sejati bagi pria yang dirampok dan dipukuli di pinggir jalan menawarkan “kriteria untuk menilai setiap proyek ekonomi, politik, sosial dan agama” (FT, 69). Hal ini menggerakkan kita untuk menanggapi saudara perempuan atau laki-laki kita yang membutuhkan, siapa pun mereka, dari mana pun mereka berasal (FT, 72) Kita ditantang untuk keluar, bertindak sebagai tetangga, dan menjangkau semua orang yang membutuhkan.
Sebuah masyarakat yang diwarnai oleh persaudaraan akan menjadi masyarakat yang mempromosikan pendidikan dalam dialog untuk mengalahkan “virus” dari “individualisme radikal” (105) dan memungkinkan setiap orang untuk memberikan yang terbaik dari diri mereka sendiri.
- Melindungi para imigran
Sementara itu, sebagian dari bab kedua dan keempat didedikasikan untuk isu migran. Dengan kehidupan mereka yang “dipertaruhkan”, melarikan diri dari perang, penganiayaan, bencana alam, perdagangan yang tidak bermoral, direnggut dari komunitas asalnya, para migran harus disambut, dilindungi, didukung dan diintegrasikan.
Paus juga menyerukan untuk membangun dalam masyarakat konsep “kewarganegaraan penuh”, dan menolak penggunaan istilah “minoritas” secara diskriminatif (129-131). Yang paling dibutuhkan di atas segalanya – terbaca dalam dokumen tersebut – adalah tata kelola global, sebuah kolaborasi internasional untuk migrasi yang mengimplementasikan perencanaan jangka panjang.
- Seni perjumpaan dalam masyarakat.
Dari bab enam, “Dialog dan persahabatan dalam masyarakat”, selanjutnya muncul konsep hidup sebagai “seni perjumpaan” dengan semua orang, bahkan dengan dunia pinggiran dan dengan masyarakat asli, karena “kita masing-masing dapat belajar sesuatu dari orang lain.”
Dialog sejati, memang memungkinkan seseorang untuk menghormati sudut pandang orang lain, kepentingan mereka yang sah dan di atas segalanya kebenaran martabat manusia.
Pembangunan perdamaian adalah “upaya terbuka, tugas yang tidak pernah berakhir” dan oleh karena itu penting untuk menempatkan pribadi manusia, martabatnya, dan kebaikan bersama sebagai pusat dari semua aktivitas (230- 232).
Bagaimana umat Katolik menanggapi ensiklik ini?
Dalam kondisi pandemi seperti ini, tatanan kehidupan kita telah berubah. Bahkan kehidupan menggereja kita pun ikut berubah saat pandemic datang. Di tengah keterbatasan yang ada, umat Katolik diajak untuk menemukan cara baru dalam mengimani Yesus Kristus dan tetap mewartakan sabda-Nya.
Dalam mewujudkan semangat persaudaraan, marilah bersama-sama keluar dan saling membantu satu sama lain layaknya saudara terutama mereka yang sangat membutuhkan bantuan kita. Persaudaraan manusia akan dipupuk dan dipelihara melalui cinta kasih. Paus Francis menulis, “Cinta, pada akhirnya, lebih dari sekadar serangkaian tindakan kebajikan. Tindakan-tindakan cinta bersumber dalam persatuan yang semakin diarahkan kepada orang lain, menganggap mereka sebagai bernilai, layak, menyenangkan dan indah terlepas dari penampilan fisik atau moral mereka”(Fratelli Tutti, nr. 94).
Sebagai umat Katolik, kita juga bisa berdoa untuk persatuan antar bangsa dan kelompok masyarakat, dengan harapan dunia kita bisa pulih bahkan setelah pandemic dengan semangat perdamaian dan persaudaraaan.
Pesan bagi Kaum Muda
Titik tolak dan spirit dasar Ensiklik Fratelli Tutti dari Paus Fransiskus ialah persaudaraan universal dalam cara hidup Fransiskus Assisi: Ia memperlakukan segenap makhluk sebagai saudara dan saudari. Santo Fransiskus mengajak kita untuk mencintai sesama baik yang jauh maupun yang dekat. Bagi Santo Fransiskus, semua makhluk adalah saudara. Semua manusia makhluk dari daging.
Sebagai kaum muda yang begitu dekat dengan dunia digital, kita tahu maraknya isu-isu pembullyan, hoax, dan hate speech yang terjadi pada media-media sosial yang ada. Dan sebagai generasi penerus Gereja, hendaklah kita memaknai semangat yang tertuang dalam ensiklik ini dalam kehidupan kita, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun hidup dalam bermedia sosial. Kita bisa melakukan hal-hal sederhana dengan terus menyebarkan berita baik, tidak ikut berkomentar buruk, dan menjaga sikap kita di dunia virtual itu, sehingga semangat dasar Fratelli Tutti, dimana kita menganggap semua makhluk adalah saudara, bisa terwujud.
Kita sebaiknya mengupayakan keselamatan sebagai satu persaudaraaan, bukan sebagai individu. Indah rasanya bersolider sebagai saudara. Pandemi corona membuka topeng egoisme, dan menyingkap kenyataan bahwa kita telah mengabaikan harta bersama yang paling berharga, yaitu menjadi saudara satu sama lain.
Sumber tambahan:
Kompas.com
Cafod.org.uk
Written by : Chika
Edited by : Gisella