by editor | Apr 27, 2020 | Renungan
WARUNG bakmi Bu Slamet itu hampir tutup. Masa pandemi ini memaksa orang tinggal di rumah. Ketika Pak Slamet mau menutup pintu, sebuah sepeda motor ojol datang,
“Pak warungnya dah mau tutup? Aduh tolong pak, ini saya ada satu pesanan. Nyuwun tulung sanget pak.” Mas Ojol itu memohon. “Seharian ini tak ada yang pesen online Pak. Saya pulang tidak bawa hasil apa-apa ini nanti.”
Dia mengiba. Pak Slamet menatap Bu Slamet dengan wajah cemberut. Tapi Bu Slamet langsung menyalakan kompor dan mulai memasak pesanan Mas Ojol.
Tak lama Bu Slamet membuat nasi goreng pesanan. Ia menghampiri Mas Ojol dan menyerahkan dua bungkus. “Lho hanya satu kok bu pesanan saya.” Mas Ojol heran diberi dua. “Yang satu untuk Mas dan keluarga untuk makan di rumah.”
Mas Ojol itu menitikkan airmata. Sepanjang hari dia belum makan. Ia mengucapkan banyak terimakasih kepada Bu Slamet. “Terimakasih ibu, Tuhan membalas yang berlimpah untuk ibu.” Katanya sambil berlalu untuk menghantar satu-satunya pesanannya.
Makan adalah kebutuhan pokok manusia. Kelaparan bisa menimbulkan pertengkaran. Perang bisa timbul karena rebutan lahan subur yang menghasilkan bahan pokok makanan.
Roti adalah kebutuhan hidup orang Israel. Ketika di padang gurun, mereka diberi roti oleh Yahwe melalui Musa hamba-Nya. Mereka berteriak-teriak kepada Musa karena bangsa itu kelaparan dan hampir mati di tengah gurun yang gersang.
Yesus mengatakan kepada orang banyak bahwa Dialah roti hidup yang turun dari surga. “Akulah roti hidup. Barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.”
Yesus memberi hidup kepada dunia. Ia juga bersabda, “Yang makan Tubuh-Ku dan minum darah-Ku, ia akan memperoleh hidup kekal.”
Yesus memberikan Diri-Nya untuk kehidupan manusia. Yesus mengurbankan diri menjadi makanan bagi kita agar semua orang hidup. Dalam Ekaristi Yesus menyerahkan nyawa-Nya untuk kita.
Ekaristi menjadi kebutuhan rohani kita. kita pantas bersyukur karena Ekaristi – kendati sekarang kita belum bisa mengikutinya – Yesus menyediakan makanan rohani untuk kehidupan kekal.
Semoga Roti Hidup itu juga membuat kita mampu memberi hidup kepada orang lain, seperti Bu Slamet tadi.
Oneng dan Bajuri buka-buka warung.
Mereka juga siapkan thermogun.
Di masa pandemi ini kita jangan bingung.
Mari kita saling menolong seperti juragan.
Cawas, punya thermogun……
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Apr 26, 2020 | Renungan
WAKTU itu saya turne ke stasi Sebuak di Paroki Nanga Tayap. Saya singgah di rumah ketua stasi, Pak Agus namanya. Dia buka warung kecil di rumahnya.
Beberapa kali ada pembeli datang ke rumahnya, “Mak, kenapa warungnya tutup, kami mau beli kebutuhan.” Bu Agus menjawab dari dalam rumah, “Maaf ya bu, kami mau sembahyang dulu. Warungnya tutup dulu.”
Saya bertanya kepada Bu Agus, “Kenapa gak dilayani dulu, kan itu rejeki datang.”
Kata Bu Agus, “Ah rejeki bisa dicari Romo. Tetapi sabda Tuhan itu rejeki hidup untuk selamanya.”
Saya menjawab, “Apa gak rugi kalau hari Minggu tutup karena sembahyang ke gereja?” “Tidak Romo, Tuhan sudah memberi rejeki yang lebih berguna untuk hidup kami.” Katanya.
Orang banyak mencari Yesus ke Kapernaum setelah mereka dikenyangkan dengan roti untuk lima ribu orang laki-laki. Yesus mengetahui motivasi mereka.
Ia berkata, “Sesungguhnya kamu mencari Aku bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal.”
Keluarga sederhana itu mengajari saya untuk mensyukuri apa yang diberikan Tuhan. Untuk apa memperoleh banyak harta tetapi hatinya tidak tentram?
Maka Yesus menasehati orang-orang, “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai ke hidup kekal.”
Keluarga itu memberi insight pada saya bahwa Sabda dan Ekaristi jauh lebih penting daripada harta duniawi.
Apakah yang kita kejar selama ini? Harta kekayaan? Kemewahan? Popularitas? Kekuasaan? Semua itu akan musnah, hilang lenyap. Namun sabda Tuhan kekal abadi selamanya.
Marilah kita melakukan pekerjaan yang membawa keselamatan kekal, yakni percaya kepada Yesus Utusan Allah.
Mulut bernyanyi riang tanda sukacita.
Bokong megal megol sambil mencuci panci.
Apalah artinya kita mengejar harta dunia.
Jika kita tidak selamat di akherat nanti.
Cawas, bergoyang-goyang riang…
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Apr 24, 2020 | Renungan
KETIKA diberi tugas bermisi ke Ketapang oleh Bapak Uskup, saya hanya bisa mengatakan “Ya saya siap.” Siap karena harus taat pada pimpinan.
Tetapi sesudah keluar kamar beliau, saya bingung karena belum pernah ke Kalimantan, tidak tahu medan pelayanan, tidak kenal orang-orang di sana. Apalagi mendengar cerita-cerita seram di Kalimantan, “Orang di sana makan manusia.”
Setelah menginjakkan kaki di Ketapang, hal-hal yang menakutkan itu langsung hilang. Ada begitu banyak orang yang baik dan murah hati, ramah dan suka menolong. Sejak itu saya merasa di rumah sendiri.
Medan pastoral memang berat tetapi mewartakan Injil harus dijalankan. Ada banyak umat yang merindukan kehadiran imam melayani sakramen-sakramen. Hambatan dan rintangan selalu ada. Tetapi Tuhan selalu memberi jalan mengatasinya.
Hampir sembilan tahun tak terasa. Kalau diberi tugas lagi, saya tidak akan bingung. Saya siap bukan karena taat pimpinan, tetapi karena sadar ini adalah perintah Tuhan.
Hari ini Tuhan Yesus menampakkan Diri dan mengutus para murid, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” Perintah agung ini diberikan agar iman para rasul diwariskan kepada semua orang.
Setiap orang juga menyadari tugas perutusan ini. Dimana pun kita berada, kita ini adalah misionaris. Ada banyak cara kita bermisi.
Ada yang pergi ke pelosok-pelosok daerah mewartakan Injil bagi mereka yang belum mengenal Yesus. Ada yang pergi dari keuskupan yang satu ke keuskupan yang lain, diutus untuk bermisi.
Namun ada pula yang bermisi ke dalam secara internal di tengah keluarga kita sendiri dan dalam hati kita masing-masing. Keluarga kita sendiri, hati kita ini juga perlu diberi warta Injil.
Ada areal hati kita ini yang membutuhkan sentuhan sabda Tuhan. Hati yang keras membatu, hati yang angkuh dan sombong, hati yang penuh dengan iri, dengki, dendam dan fitnah. Hati yang tidak mau mengampuni.
Realitas hati seperti itulah yang membutuhkan warta Injil. Keluarga yang baik-baik belum tentu tidak membutuhkan sentuhan Tuhan. Relasi keluarga yang dingin, hampa dan tanpa komunikasi mesra juga merupakan lahan untuk bermisi.
Hidup komunitas yang hambar dan saling mendiamkan, ini juga wilayah bermisi. Dunia yang semakin egois, persaingan dan permusuhan, ini juga membutuhkan warta Injil. Mari kita wartakan Kabar Gembira di mana pun kita berada.
Pergi ke sawah menanam semangka.
Rumput-rumput tumbuh di sampingnya.
Perintah agung diberikan kepada kita.
Wartakan Injil ke seluruh dunia.
Cawas, senja yang indah….
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Apr 23, 2020 | Renungan
KAUM ibu itu selalu saja punya aneka macam cara untuk mengolah segala sesuatu. Ketika tugas di Paroki Nanga Tayap, saya kagum dan memuji keterlibatan para ibu yang dengan sukarela mendukung berbagai macam acara: Kursus Persiapan Perkawinan, Musyawarah Paroki, Pertemuan ketua-ketua umat, forum komunikasi antar stasi dan pesta-pesta hari raya selalu diramaikan oleh ibu-ibu.
Mereka menyiapkan masakan di dapur untuk semua peserta. Mereka membawa beras, daun ubi, labu, timun, sayur-sayuran dan ikan salai dengan sukarela. Dari pengalaman, tidak pernah kekurangan, tetapi selalu berlebih. Walaupun pada awalnya tumbuh rasa kawatir dan kebingungan, namun di tangan ibu-ibu semua makan dengan kenyang dan ada sisa yang bisa dibawa pulang.
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengajar banyak orang dan Dia jatuh belaskasihan karena mereka kelaparan. Para murid-Nya kebingungan menghadapi begitu banyak orang. Mereka hanya mengeluh dan angkat bahu melihat banyaknya orang berkumpul.
“Roti seharga duaratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Andreas melihat ada kemungkinan, “tetapi apalah artinya lima roti dan dua ikan untuk orang sebanyak ini?” Mereka tidak mampu mengatasi masalah. Angkat tangan dan tidak bisa berbuat banyak.
Yesus menyuruh mereka duduk di atas rerumputan. Rumput adalah makanan domba. Yesus sebagai gembala, sedangkan orang banyak itu adalah domba-domba-Nya. Sang Gembala menyediakan makanan untuk domba-domba-Nya.
Ia mengambil roti, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ; demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu sebanyak yang mereka kehendaki. Inilah tndakan ekaristis.
Ketika kita hanya mengeluh tentang kekurangan, kelemahan dan ketidak-mampuan, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Tetapi ketika yang kecil, sedikit itu disyukuri dan dibagi-bagikan, maka akan menjadi berkelimpahan. Yesus mengubah cara pandang kita. Anak kecil yang tak diperhitungkan, yang hanya sedikit, yang tidak dihargai dan dianggap. Jika disyukuri, maka akan menjadi besar dan berkelimpahan serta bermanfaat banyak.
Mari dengan mata batin yang jeli kita belajar menghargai, memperhitungkan serta memberi tempat bagi mereka yang kecil, lemah, miskin dan sederhana. Mereka akan membuat kita menjadi berkelimpahan penuh berkat.
Berjalan di pematang sawah melihat senja.
Bulan sudah mengintip di atas telaga.
Yesus memilih yang kecil dan hina.
Untuk menumbangkan yang sombong dan perkasa.
Cawas, hati penuh syukur…
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Apr 22, 2020 | Renungan
SANG Bima Sena disuruh gurunya mencari Tirta Pawitra Mahening Suci, “ngelmu kasampurnaning dumadi”. Ilmu itu adanya di dasar samudera. Ia harus menceburkan diri di dasar samudra.
Dengan mengalahkan naga di dasar samudera, Bima bertemu dengan Dewa Ruci, Anak bajang yang berpakaian mirip seperti dirinya. Bima diwejang apa artinya “ngelmu kasampurnaning dumadi.”
Kesempurnaan sejati itu hanya akan tercapai bila manusia sudah tidak tergantung pada panca inderanya sendiri. Jika manusia masih menggunakan daya panas matahari, desirnya angin, sejuknya air dan kaki masih berpijak di atas bumi, maka manusia belum bisa mencapai kesempurnaan hidup. Karena manusia berasal dari bumi, maka dia tak mampu mencapai kesempurnaan sejati. Hanya Allah yang Maha Sempurna.
Tirta Pawitra Mahening Suci itu perlambang atau sanepan. Tirta itu artinya air, yang arti luasnya adalah kehidupan. Dimana ada air ada kehidupan. Pawitra berarti bening.
Air yang bening akan memberi kehidupan segala makhluk. Mahening dari kata maha dan ening. Itu artinya ketentraman lahir batin. Suci artinya terhindar dari segala noda dosa.
Dalam kehidupan ini, carilah hidup yang sempurna yang bisa memberi ketentraman lahir dan batin. Jauhilah segala dosa maka hidupmu akan suci. Itulah maknanya Tirta Pawitra Mahening Suci.
Dalam perbincangan dengan Nikodemus, Yesus menjelaskan, siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata dalam bahasa bumi.
Manusia belum bisa mencapai kesempurnaan karena kakinya masih berpijak di atas bumi. Yesus datang dari atas dan berasal dari Bapa.
Ia mengatakan apa yang dikehendaki Bapa. Ia memberi kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya. Tetapi manusia tidak bisa menerima-Nya.
Kita ini harus terus menerus mengusahakan kesucian agar dapat menerima sabda-Nya. Hanya dengan hati suci kita bisa menerima sabda Yesus. kita diajak percaya pada sabda-Nya.
Dengan percaya pada sabda Yesus, kita akan memperoleh hidup kekal. Nikodemus diajak untuk memehami kehendak Allah yang mengutus Putera Tunggal-Nya.
Ia yang rela mati untuk menebus dosa kita. Betapa besarnya kasih Allah kepada manusia sehingga Ia mengutus Putera-Nya dan mati untuk kita. Agar kita yang berasal dari dunia ini beroleh hidup kekal-Nya di surga.
Thengkleng istimewa menu makan siang.
Disajikan dengan penuh kejutan.
Yesus Kristus Sang Putera Terang.
Turun ke dunia membawa keselamatan.
Cawas, hatiku damai…..
Rm. A. Joko Purwanto Pr