Puncta 22.04.20 Yohanes 3:16-21 / Keriang dan Anai-Anai

 

DATANG pertama di Camp Tigal disambut dengan musim keriang. Keriang adalah nama binatang semacam belalang. Bentuknya seperti garengpung, tetapi suaranya memekakkan telinga.

Ia datang pada waktu malam, menyerbu cahaya lampu. Jumlahnya bisa ribuan. Orang-orang menangkapnya dan memotong bulu, kaki dan kepalanya, lalu digoreng menjadi lauk lezat. Lain waktu muncul “laron” atau anai-anai.

Sehabis hujan pertama mereka muncul. Binatang ini juga mencari cahaya. Kita siapkan lampu teplok dan tampah. Mereka akan menyerbu dan mengerumuni cahaya.

Kita tinggal “ayak” dengan tangan, semua bulunya rontok. Lalu dicuci dan digoreng dengan telur. Hmmm …. nyaman sekali. Tapi awas, kalau alergi bisa “biduren” atau gatal-gatal.

Binatang-binatang ini datang hanya untuk memberi kehidupan. Mereka mengorbankan dirinya untuk burung, kelelawar, tokek, cicak dan juga manusia.

Sekali muncul sesudah itu mati demi kehidupan yang lain. Mereka senang kepada cahaya karena hidup mereka demi kebaikan.

Mereka keluar dari tanah, terbang mencari terang/cahaya dan kemudian mati demi kehidupan yang lain. Mereka mengorbankan diri demi keselamatan makhluk.

Begitu juga kasih Allah kepada manusia. “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Allah mengorbankan Putera Tunggal-Nya untuk keselamatan manusia.

Allah-lah yang lebih dahulu mengasihi manusia. Manusia yang jatuh dalam kegelapan dosa tidak mampu menyelamatkan dirinya. Allah berinisiatif menyelamatkan kita.

Maka Ia mengorbankan Putera Tunggal-Nya untuk kita. Kasih itu terwujud dalam pengorbanan. Keriang dan anai-anai atau “laron” itu mengorbakan hidupnya demi keselamatan yang lain. Yesus mati di salib demi kehidupan kita.

Kita ini “dibela-belain” sampai mati oleh Yesus. Allah membela kita, bukan kita yang membela Allah. Maka marilah hidup dengan kasih dan sukacita.

Marilah kita juga berani berkorban demi orang lain. Kasih yang dibagikan tidak akan hilang, tetapi justru akan makin berkembang. Kasih akan nampak dalam pengorbanan-pengorbanan kita.

Ayam goreng di kulkas sungguh merana.
Dingin membeku tak ada yang membuka.
Kasih Allah kepada manusia begitu nyata.
Yesus dikurbankan dan mati bagi kita.

Cawas, tetap di rumah aja….
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 21.04.20 Yohanes 3:7-15 / “Golekana Galihing Kangkung”

 

DALAM sastra Jawa ada ”tembung sanepan.” Sanepan adalah bentuk komunikasi dengan menyebut tanda-tanda atau bahasa kiasan agar kita bisa menemukan makna yang paling dalam bagi kehidupan kita. Kadangkala komunikasi ini bisa menjadi sarana sharing pengalaman yang mendalam.

Misalnya, sanepan-sanepan yang sering kita dengar adalah, “Golekana galihing kangkung” (Carilah inti dalamnya batang kangkung), “Golekana tapaking kuntul nglayang.” (Carilah bekas tapak kaki burung bangau yang terbang), “Golekana Kayu Gung Susuhing Angin.” Dan masih banyak contoh sanepan lainnya.

Inti dalamnya batang kangkung itu hanya hampa, angin belaka. Kita manusia itu bisa hidup karena ada nafas, angin yang ditiukpan ke dalam diri kita. Kita berasal dari kehampaan dan akan kembali kepada yang mengisi kehidupan kita. “Golekana tapaking kuntul nglayang.”

Secara iman Katolik, itu berarti Yesus sendiri. Kuntul itu burung bangau putih. Putih itu lambang kesucian. Ia terbang, berarti naik ke atas, surga. Siapakah yang telah naik ke surga kalau bukan Dia yang berasal dari surga?

“Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga, selain Dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia.”

Bekas tapak kuntul yang melayang, apa dan siapakah itu? Orang-orang yang telah dibaptis dan menjadi pengikut Yesus itulah tanda kelihatan dari Yesus yang naik ke surga.

Kita ini adalah tanda dari kehadiran Kristus sendiri. Orang-orang katolik yang melaksanakan ajaran Kristus adalah tanda dari kehadiran Kristus. Mereka itulah “tapaking kuntul nglayang.”

Pembicaraan Yesus dengan Nikodemus itu memakai perlambang-perlambang tinggi dan dalam. Orang harus dilahirkan kembali dalam air dan roh. Kalimat itu tidak boleh hanya ditangkap secara lahiriah semata.

Kalau hanya diartikan secara letterlijck, maka sulit terjadi. Bagaimana kalau orang sudah tua harus lahir kembali dari rahim ibunya? Begitu cara pikir Nekodemus.

Pembaptisan itulah kelahiran kembali. Orang yang dibaptis, dilahirkan kembali menjadi manusia baru, menjadi Anak Allah. Dengan menjadi Anak Allah ia akan beroleh hidup kekal dalam kerajaan Allah.

Syarat untuk memperoleh hidup kekal adalah percaya kepada Anak Manusia dengan pembaptisan. Dengan demikian orang dilahirkan kembali.

Sarang angin ada dimana?
Di ufuk saat mentari datang.
Kristus Yesus junjungan kita.
Sudah bangkit dan menang.

Cawas, menanti bulan purnama…
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 20.04.20 Yohanes 3: 1-8 / Rama Nitis

 

KISAH wayang ini menggambarkan bagaimana Prabu Ramawijaya di Pancawati lahir kembali dalam diri Prabu Batara Kresna. Sejarah Sang Hyang Wisnu, pemelihara alam semesta mangejawantah dalam diri pribadi-pribadi yang membawa keselamatan.

Pertama menjelma dalam diri dalang Kandhabuwana, Kedua lahir dalam diri Prabu Harjuna Sasrabahu Raja Maespati, Ketiga menjelma dalam diri Raksasa Wisnungkara di Lokapala, keempat lahir dalam diri Prabu Ramawijaya, kelima dalam diri Batara Kresna di Dwarawati.

Keenam manjalma dalam diri Sri Aji Jayabaya di Pamenang, ketujuh dalam diri Prabu Anglingdarma di Malawapati Bojanagara, ketujuh dalam diri Prabu Brawijaya terakhir di Majapahit. Setelah itu Wisnu kembali ke Kahyangan.

Pembicaraan antara Yesus dengan Nikodemus berkisar tentang kelahiran kembali. Nikodemus berpikir lahir kembali secara lahiriah.

“Bagaimana mungkin seorang dilahirkan kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan kembali?”

Namun Yesus berbicara bahwa kelahiran kembali itu terjadi dalam air dan Roh. Dalam diri manusia ada daging dan Roh. Apa yang dilahirkan dari daging adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari roh adalah roh.

Orang yang dilahirkan dari Roh akan hidup secara baru. Ia melihat bukan hanya apa yang nampak di mata. Ia bisa melihat apa yang tidak terlihat.

Seperti orang bisa merasakan desiran angin. Ia mendengar bunyinya, namun ia tidak bisa mengira dari mana angin datang dan kemana dia pergi.

Dunia ini bukan hanya badan “wadhag” atau benda-benda lahiriah semata, ada Roh yang tak kelihatan memimpin kehidupan kita. itulah Roh Kudus yang menerangi dan menuntun langkah kehidupan kita.

Lahir dalam Roh berarti mengikuti kehendak Allah yang menciptakan kita. orang yang lahir dalam Roh berarti dipimpin oleh kehendak Allah. Ia membawa keselamatan, kebaikan, keselarasan, harmoni kehidupan dengan alam semesta.

Pembaptisan berarti kita lahir dalam Roh yang membawa kita menjadi anak-anak Allah. Dengan dibaptis, kita dilahirkan kembali. Kehidupan lama berubah menjadi hidup yang baru.

Roh Kuduslah yang menuntun kita mengarah kepada Bapa. Apakah kita sadar bahwa dengan pembaptisan, hidup kita sudah diperbaharui dalam Roh Kudus? Ataukah kita masih hidup dengan cara lama?

Rumput hijau tak muncul di pagi hari.
Ia layu karena panas terik matahari.
Dalam pembaptisan kita lahir kembali.
Dibimbing menjadi anak Allah yang sejati.

Cawas, selalu berdoa dan berharap….
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 19.04.20 Minggu Paskah II. Pesta Kerahiman Ilahi Yohanes 20:19-31 Mukidi dan Taik Ayam

 

MUKIDI pergi ke gereja naik sepeda. Di tengah jalan ban sepedanya melindas paku tajam, “bleesssss….” Ban sepeda kempes. Mukidi turun tidak percaya. Ia pencet ban sepedanya. “Woow.. kempes.”

Ia tuntun sepedanya beberapa ratus meter. Tali sandal yang dia pakai putus. Sandal dia buang. Dengan kaki telanjang dia berjalan sambil menuntun sepeda.

Tanpa sengaja kakinya menginjak “telek lencung”. Ia tidak percaya. Tangannya meraba kaki yang menginjak benda sedikit lembek. Ia membaui tangannya. “Wow.. taik ayam.”

Kita ini punya rasa ingin tahu, tidak mudah percaya, ingin melihat bukti nyata. Sifat-sifat itu melekat dalam diri kita.

Sudah diminta untuk diam di rumah supaya bisa menyetop penyebaran virus corona, tetapi orang masih tetap berkumpul di kafe atau warung-warung. Rasa ingin tahu dan tidak mudah percaya itulah yang sering mendorong orang berbuat sesuatu.

Sesudah Yesus bangkit, beberapa kali Dia menampakkan diri kepada para murid. Ia memberi salam kepada mereka, “Damai sejahtera bagi kamu.” Dia datang bukan membawa ketakutan, tetapi membawa damai sejahtera.

Tomas atau Didimus adalah salah satu murid yang belum pernah melihat Tuhan. Maka dia tidak percaya kalau tidak melihat dengan mata kepala sendiri. Tidak percaya dan ingin membuktikan sendiri itulah niatnya Tomas.

Seperti Mukidi, sudah tahu dia menginjak taik ayam, namun jarinya masih tetap ingin membuktikan bahwa benar itu taik ayam, bahkan belum puas jika belum menciumnya sendiri.

Tomas sudah mendengar dari cerita beberapa murid, juga para wanita bahwa Yesus bangkit. Tetapi dia ingin membuktikan sendiri bahwa Yesus sungguh bangkit.

Yesus memberi waktu dan tempat khusus kepada Tomas. Ia menampakkan diri saat murid-murid berkumpul bersama Tomas. Akhirnya dia mengakui, “Ya Tuhanku dan Allahku.”

Itulah pengakuan iman yang tulus. Di hadapan Yesus, kita mengakui, Dialah Tuhan dan Allah kita. Tuhan menghibur kita semua, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya.”

Kita tidak mungkin melihat Yesus yang bangkit. Tetapi kendati demikian, kita percaya bahwa Yesus hidup di tengah-tengah kita. Mari kita hidupi iman kita ini dengan saling mengasihi.

Malam-malam pasang property.
Lihat film dengan kacamata.
Yesus bangkit dari mati.
Dia tinggal di tengah kita.

Cawas, bulan di atas telaga…
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 18.04.20 Sabtu Oktaf Paskah Markus 16:9-15 / Duta; “Pergilah Ke Seluruh Dunia…”

 

TIGA KALI para Pandawa mengirim utusan untuk minta dikembalikannya Kerajaan Indraprasta ke tangan mereka. Namun Kurawa bersikukuh tidak mau mengembalikannya.

Yang pertama menjadi utusan adalah Kunti, ibu para Pandawa. Pandawa berpikir, karena seorang ibu, Kunti pasti dihormati oleh Kurawa. Namun ternyata sebaliknya. Kurawa mencemooh dan menolak Kunti.

Posisi Kunti sebagai seorang wanita tidak diakui. Suara Kunti tidak didengarkan oleh Kurawa. Mereka menganggap urusan politik adalah urusan laki-laki. Suara perempuan tidak ada gunanya. Kunti ditolak mentah-mentah oleh Kurawa.

Utusan kedua, Prabu Drupada juga gagal. Duta ketiga adalah Prabu Kresna. Semua gagal dan perang Baratayuda tak terhindarkan.

Dalam bacaan Injil hari ini menggambarkan bahwa posisi perempuan itu lemah. Suara mereka tidak dipercaya. Yesus menampakkan diri kepada Maria Magdalena.

Lalu Yesus menyuruh Maria untuk memberitahukan kepada mereka yang selalu mengiringi Yesus. Tetapi ketika mereka mendengar cerita Maria bahwa Yesus hidup, mereka tidak percaya.

Perempuan dalam tradisi Yahudi tidak diperhitungkan. Kita masih ingat di perikope yang lain, waktu Yesus menggandakan roti. Berapa orang yang ikut makan? Limaribu orang laki-laki. Perempuan tidak dihitung.

Hal itu menunjukkan bahwa posisi perempuan sangat lemah, tidak diperhitungkan. Begitu juga dalam perikope ini. Maria Magdalena adalah orang pertama yang dijumpai Yesus yang bangkit. Tetapi omongannya tidak dipercaya oleh murid-murid lain. Yang notabene adalah laki-laki.

Akhirnya Yesus menampakkan diri kepada mereka. Yesus mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya.

Memang kaum laki-laki lebih banyak berpikir pakai otaknya. Harus ada penjelasan logis dan bisa dicerna otak. Baru mereka akan percaya. Perempuan lebih instinctif menggunakan perasaan dan hati.

Namun tugas penting di sini disampaikan oleh Yesus, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” Tuhan menggunakan aneka cara agar mereka percaya bahwa Dia hidup dan mengutus murid-murid menjadi duta.

Baik laki-laki maupun perempuan sama diutus menjadi duta. Kita diutus menjadi saksi kebaikan Tuhan. Mari kita wartakan….

Pagi-pagi berjemur di mentari.
Lihat rumput hijau tumbuh subur.
Kita semua dipanggil menjadi saksi.
Mewartakan kasih Allah mahaluhur.

Cawas, wouw……
Rm. A. Joko Purwanto Pr