by editor | Apr 16, 2020 | Renungan
FILM berjudul “Manjhi, The Mountain Man” diambil dari kisah nyata seorang pria tua bernama Dasrath Manjhi. Ia membelah gunung seorang diri selama 22 tahun.
Waktu itu ia membawa istrinya, Falguni ke rumah sakit. Ia harus menempuh jarak 70 km dari Gehlaur ke Wazirgang. Karena jarak yang jauh itu istrinya tak terselamatkan. Ia bertekad menembus gunung.
Orang desa menyebut dia gila. Ia butuh waktu 22 tahun untuk memperpendak jarak dari desanya ke rumah sakit.
Setelah gunung itu terbelah, orang-orang desa hanya menempuh jalan satu kilometer menuju rumah sakit. Itu semua berkat seorang tua Dasrath Manjhi yang berani berpikir out of the box.
Para murid kembali ke pekerjaan awal mereka menjadi nelayan. “Aku pergi menangkap ikan,” kata Petrus. “kami pergi juga dengan engkau.” Kata mereka.
Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. Hampir tiga tahun mereka mengikuti Yesus pergi kemana-mana. Tidak pernah menangkap ikan lagi.
Kini mereka kembali menjadi nelayan. Mungkin mereka sudah tidak terampil seperti dulu lagi. Mereka memakai cara-cara lama yang sudah usang dan hasilnya nonsense.
Yesus menampakkan diri di pinggir pantai. Yesus membawa cara baru yang berbeda dengan kebiasaan lama. “”Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka akan kamu peroleh.”
Orang menebarkan jala pada umumnya ke sebelah kiri. Sekarang Yesus menyuruh mereka menebarkan jala ke sebelah kanan. Itulah model Think Out of The Box. Keluar dari tradisi lama. Berani meninggalkan kebiasaan lama.
Atau kalau lebih nyaman menebarkan jala ke kiri, perahunyalah yang harus dibalikkan arahnya. Arah perahunya diubah dari posisi lama ke posisi yang baru. Yang penting berani berubah.
Ketika mereka berani mengubah cara/tradisi maka mereka berhasil. Paskah berarti berani berubah, bertransformasi. Bagaimana kita bisa mempunyai cara pikir out of the box?
Pertama, berhentilah menyalahkan, tetapi berani ambil tanggungjawab. Umumnya orang hanya pandai menyalahkan situasi. Kedua, berhentilah selalu komplain, mengeluh, tetapi cari cara menyelesaikannya. Kita ini dikit-dikit ngeluh, protes, cuma demo-demo di jalan.
Ketiga, berhenti mempertahankan diri, defensif, tetapi mulailah proaktif. Bertahan berarti tidak berani keluar dari zona nyaman.
Keempat, buka wawasan baru dan kembangkan rasa ingin tahu. Jangan hanya berpikiran sempit, hanya untuk diri sendiri. Mari jadilah umat Katolik yang transformatif…
Memasak lodeh dengan terong ungu.
Ditambah daun melinjo dan santan.
Berpikirlah dengan cara yang baru.
Agar tidak ketinggalan zaman.
Cawas, belajar masak sendiri….
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Apr 15, 2020 | Renungan
KISAH kursi hijau di Seminari; pada awal penerimaan jubah di seminari, semua frater sangat senang. Baru pertama kali memakai jubah putih.
Seorang frater malam-malam menggantung jubahnya di balik pintu. Lampu dimatikan mau tidur. Ketika terbangun mau ke kamar mandi, ia membuka mata dan kaget.
Ada putih-putih berdiri di pintu. Ia “kucek-kucek” matanya, benda itu tidak hilang. Ia mulai ketakutan. Ia membuat tanda salib dan berdoa Bapa Kami. Tidak hilang juga. Ia melihat benda putih itu tidak menapak di tanah.
Hantu dalam pikirnya. Makin gemetaran. Ia berdoa lebih khusuk lagi. Mulai keringat dingin bercucuran. Hantu itu tak mau pergi. Mau menyalakan lampu takut, karena saklar listrik ada di dekat sang hantu.
Karena gugup dan bingung, ia mengambil sandal dan melemparkannya ke arah hantu itu. “Glodhag…” suara sandal mengenai pintu. Ia baru tersadar hantu putih itu ternyata jubahnya sendiri yang tergantung di balik pintu. Ia tergeletak di tempat tidur lagi. Hhallaahhhh….
Dengan berbagai cara Yesus membuktikan diri-Nya bahwa Ia bangkit dan hidup. Cerita-cerita penampakan itu masih seperti dongeng belaka bagi mereka. Ketika Yesus hadir di tengah-tengah mereka, mereka tidak percaya.
Yesus berkata, “Damai sejahtera bagimu.” Mereka terkejut dan takut, karena mengangka bahwa mereka melihat hantu. Mereka masih ragu-ragu.
Maka Yesus minta kepada mereka untuk meraba tangan dan kaki-Nya. Hantu tidak punya tulang dan daging. Mereka tercengang, tidak percaya.
Mereka belum yakin. Yesus minta makanan.mereka memberi ikan goreng. Ia memakan-Nya di depan mata mereka. Hantu tidak akan makan ikan atau roti. Hantu makan bunga tujuh warna.
Dengan berbagai cara Yesus membuktikan bahwa Ia hidup. Para murid pelan-pelan menjadi sadar bahwa Yesus Tuhan mengalahkan kematian. Ia sungguh bangkit.
Yesus memberi tugas kepada mereka untuk memberi kesaksian. “Dalam Nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalan saksi dari semuanya ini.”
Marilah kita jadi saksi warta sukacita Paskah ini. Dengan cara dan kapasitas kita masing-masing. Kita bisa membawa kegembiraan dan sukacita kepada semua orang.
Apalagi dalam situasi pandemi korona ini, kita harus mampu membawa harapan dan kegembiraan kepada semua orang. Mari kita wartakan….
Pagi-pagi melihat sawah
Di ufuk timur matahari bersinar terang
Kita wartakan sukacita Paskah
Beri harapan dan sukacita bagi semua orang
Cawas, property disiapkan….
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Apr 15, 2020 | Renungan
KITA semua kenal dengan RA Kartini. Dia berkorespondensi dengan sahabat-sahabatnya di Belanda. Setelah wafat, surat-surat itu dikumpulkan menjadi buku yang berjudul “Door Duisternis tot Licht” yang arti harafiahnya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”.
Oleh Penerbit Empat Saudara, judulnya diganti menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang.” Surat-surat Kartini itu berkisah tentang harapan, cita-cita dan keinginan Kartini agar kaum perempuan di Hindia Belanda mendapat hak yang sama dengan laki-laki.
Kaum perempuan mengalami kegelapan karena ditindas, dijajah dan hanya dijadikan “kanca wingking” , pelengkap bahkan obyek kaum laki-laki.
Ia ingin kaum perempuan “duduk sama rendah berdiri sama tinggi” dengan laki-laki. Ia berharap suatu saat nanti terbitlah terang yakni kesamaan derajad antara laki-laki dan perempuan.
Suasana kegelapan itu dialami dua orang murid yang pulang ke Emaus. Dalam perjalanan mereka “ngudarasa” sharing perasaan, kepada teman baru yang ikut nimbrung.
Mereka kecewa, putus asa, tak berpengharapan lagi. Itu digambarkan dengan “muka muram.” Harapan mereka hancur dengan ucapan, “Padahal kami dahulu mengharapkan…..” dan suasana hati mereka ditegaskan oleh Yesus dengan berkata,
“Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu.” Mereka yang pulang kampung itu digambarkan sebagai orang yang mukanya muram, bodoh, lamban hati. Itulah suasana kegelapan.
Suasana itu berubah ketika mereka mengadakan perjamuan malam. Yesus singgah di rumah mereka dan Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada mereka. Inilah ekaristi.
Yesus berganti posisi menjadi tuan rumah yang membagi roti. Dan ketika itu terbukalah hati mereka. Mereka mengenali Yesus yang membagi roti. “Bukankah hati kita berkobar-kobar?”
Dari muram menjadi berkobar-kobar. Itulah Cahaya atau Terang.
Habis gelap Terbitlah Terang. Mereka langsung kembali ke Yerusalem untuk berbagi cerita bahagia ini. Sesudah ekaristi kita diutus mewartakan kabar sukacita. Ekaristi adalah tempat perjumpaan kita dengan Tuhan.
Pembacaan sabda Tuhan itu untuk persiapan perjumpaan nyata saat Ia memecahkan roti. Sadarkah kita bahwa dalam Ekaristi kita sungguh-sungguh berjumpa dengan Tuhan yang bangkit?
Paskah selalu membawa transformasih hidup. Habis Gelap Terbitlah Terang.
Dari Jakarta menuju Tangerang.
Singgah dulu di Bekasi.
Kristus Bangkit membawa Terang.
Kita diutus menjadi saksi.
Cawas, termenung di pojok kasur…
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Apr 13, 2020 | Renungan
KALIMAT itu pernah diucapkan oleh Yuliet kepada Romeo, kekasihnya. “Apalah arti sebuah nama? Meski disebut dengan nama lain, mawar tetaplah harum semerbak wanginya.”
Demikian keluhan hati Yuliet yang merindukan Romeo dalam drama cinta Romeo dan Yuliet karangan Shakespeare. Cinta mereka terhalang oleh karena dua keluarga yang bermusuhan yakni Capulets dan Mountage.
Nama selalu berhubungan dengan komunitas sosial. Di komunitas seminari menengah kami dulu, ada nama-nama panggilan yang aneh dan lucu; Badrun, Marduk, Jaran, Cicak Garing, Bemo, Gufi, Lombok, Holmes, Bledheg, Dampit dan masih banyak lagi.
Nama panggilan itu di Seminari sangat akrab dan familier sekali, bahkan disebut nama panggilannya, orang akan merasa bangga dan happy saja. Sapaan nama itu menunjukkan kedekatan yang sangat pribadi.
Dalam bacaan hari ini, Maria berada di kubur Yesus. karena sedih dan dukanya, Maria tidak mengenali Yesus yang berdiri di dekatnya. Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman.
“Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, dimana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” Baru ketika orang itu menyapa namanya, “Maria.”
Panggilan itu mengagetkannya. Dan Maria sangat mengenal dengan suara itu, tidak asing di telinganya. Ia berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani, “Rabuni.” Artinya Guru.
Betapa bahagianya ketika kita disapa dengan nama kesayangan kita. Nama itu adalah nama mesra dan hangat, menggambarkan relasi akrab penuh cinta.
Orang lain mungkin menyebut dia, “Magda” atau “Lena” tetapi “Maria” dengan intonasi dan tekanan khas hanya dibuat oleh Yesus, Sang Guru. Maka ia mengenali suara itu adalah suara Gurunya, Yesus sendiri.
Lalu muncullah aneka pengalaman pribadi. Ketika kita akrab dengan seseorang, menyebut satu hal, peristiwa atau nama akan mudah mengingatkan suatu pengalaman pribadi dengannya.
Maka ia berani bersaksi kepada murid-murid-Nya. “Aku telah melihat Tuhan.” Kegembiraan karena disapa oleh Tuhan secara pribadi menggugah semangat untuk bersaksi, mewartakan kabar gembira.
Apakah kita pernah mengalami disapa atau disentuh oleh Allah secara pribadi lewat pengalaman-pengalaman iman? Itulah pengalaman kebangkitan. Ataukah kita punya ikatan relasi pribadi dengan Tuhan? Bagaimana Tuhan menyapa kita?
Jika kita melihat senja di ufuk sana.
Rasanya sangat dekat dengan Tuhan.
Paskah adalah peristiwa sukacita.
Yesus bangkit kalahkan kematian.
Cawas, goyang famire….
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Apr 13, 2020 | Renungan
PANDITA DURNA maju perang di pihak Kurawa. Dialah guru Pandawa. Karena kesaktiannya, tiada yang dapat mengalahkannya. Oleh karena itu Kresna mencari tipudaya supaya lemah kekuatan Durna.
Werkudara disuruh membunuh gajah Estitama tumpakan Prabu Premeya. Ketika gajah mati, Petruk, Gareng dan Bagong disuap untuk menyebarkan berita bohong bahwa Aswatama mati. Aswatama adalah anak Pandhita Durna.
Kresna meminta supaya Pandawa berbohong ketika ditanya siapa yang mati. Bukan Estitama tetapi Aswatama, anak Durna. Hanya Puntadewa yang tidak mau berbohong. Kresna mendikte cara menjawab supaya tidak berbohong.
Kalau Durna bertanya, “Apakah yang mati Aswatama? Iya, Esti diucapkan lirih saja. Tama mati diucapkan keras dan jelas.” Maka saking bingung, sedih dan duka yang mendalam, Durna tidak mendengar kata Esti karena diucapkan lirih.
Yang dikiranya adalah Aswatama mati. Berita ini menghancurluluhkan hatinya. Ia tak berdaya lagi. Maka dengan mudah Trustajumena memenggal kepala Durna dan ditendang-tendang seperti bola mainan.
Kabar tentang Yesus yang hidup jelas menyulitkan posisi para imam dan ahli kitab Yahudi. Para penjaga makam telah mengabarkan apa yang telah terjadi.
Makam kosong, Jenasah Yesus tidak ada di dalamnya. Maka tua-tua Bangsa Yahudi itu berunding untuk menyebarkan berita bohong.
Sesudah berunding dengan kaum tua-tua, mereka mengambil keputusan, lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu dan berkata,
“Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid Yesus datang malam-malam dan mencuri jenasah-Nya ketika kamu sedang tidur. Dan apabila hal ini kedengaran walinegeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa.”
Berita hoax itu sudah ada sejak dahulu. Kebohongan itu seumuran dengan manusia. Kebohongan dipakai untuk menutupi kesalahan.
Kalau para imam kepala itu berbuat jujur, posisi mereka akan terancam dan disalahkan serta tidak dipercaya lagi oleh umat. Mereka menyebarkan berita bohong. Mereka menutupi kenyataan bahwa Yesus bangkit dari mati.
Di dunia medsos ada banyak berita yang belum tentu benar. Kita harus hati-hati menyebarkan berita itu. Jangan mudah menyebarkan berita yang tidak jelas dan belum dikonfirmasi kebenarannya.
Kita akan terkena undang-undang ITE. Maka kalau ada sebuah berita di medsos, cek dulu keakuratannya, dari siapa berita itu muncul, bisa dipercaya atau tidak.
Dan yang paling penting, berita itu berguna atau malah banyak merugikan. Menyebarkan berita bohong berarti fitnah keji. Hati-hati!!!
Bibir monyong terasa indah.
Berita bohong itu adalah fitnah.
Cawas, meminjam property untuk menjebol Benteng Takhesi…
Rm. A. Joko Purwanto Pr