Puncta 12.04.20 Hari Raya Paskah Pagi Yohanes 20:1-9 / Iman Berproses

 

PENGALAMAN iman seorang Desy, Mahasisiwi Psikologi Universitas Indonesia, non katolik yang membuat skripsi berjudul, “Gambaran Resiliensi pada Imam Katolik Dewasa Muda Dalam Menjalani Hidup Selibat.”

Dia menuangkan pengalamannya di tweeter dengan sangat luar biasa. Pada awalnya dia punya gambaran bahwa selibat itu menyalahi kodrat manusia. Seorang imam katolik yang tidak menikah itu adalah hal yang tidak mungkin.

Namun oleh pembimbing skripsinya, dia diminta untuk mengubah image salah itu. Dia mulai baca Injil, KHK, keluar masuk gereja ikut misa, wawancara dengan pastor sebagai respondennya.

Dia mulai mengenal dan tahu banyak tentang kehidupan imam katolik. Bagaimana harus menjalani tiga kaul, pelayanan pastoral, dan aneka tantangan?

Walaupun harus tertunda sampai tiga semester, akhirnya skripsinya selesai dan lulus. Dia menulis, “Tapi yang gue syukuri, gue lulus dengan bonus pandangan baru. Pandangan soal manusia lain, soal agama, soal perbedaan, soal cinta dan komitmen, jadi beda.”

Melihat peristiwa kebangkitan Yesus, murid-murid membutuhkan proses. Para murid tidak langsung memahami. Maria Magdalena melihat makam kosong berpikir bahwa jenasah Yesus diambil orang.

“Tuhan telah diambil orang dari kubur-Nya, dan kami tidak tahu di mana Dia diletakkan.” Ia belum memahami bahwa Yesus harus bangkit. Begitu pula Petrus dan Yohanes yang diberitahu oleh Maria Magdalena.

Mereka tidak berkomentar apa-apa ketika diberitahu Yesus dicuri orang. Mungkin mereka bingung dan tidak langsung berpikir bahwa Yesus telah bangkit. Mereka berlari ke makam untuk melihat bukti makam kosong.

Tetapi kedua murid itu hanya melihat kain kafan dan kain peluh yang sudah tergulung. Jenasah Yesus tidak ada di makam. Dikatakan oleh penginjil,

“Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci, yang mengatakan bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati.”

Untuk memahami Yesus yang bangkit harus membaca Kitab Suci. Baru setelah itu pandangan mereka berubah, dari mengira jenasah Yesus dicuri orang berubah menjadi Yesus sungguh bangkit.

Proses berbeda dialami oleh murid lain yang dikasihi Yesus. Ketika ia sampai di makam, ia menjenguk ke dalam, tidak langsung masuk. Ia menunggu Simon Petrus yang lebih tua.

Orangtua harus didahulukan karena punya wibawa. Lalu masuklah murid yang lain itu; ia melihatnya dan percaya. Karena ia sangat dekat dan dikasihi, maka proses imannya berjalan. Ia melihat dan percaya. Ia percaya bahwa Yesus bangkit.

Apakah kita juga punya proses beriman seperti itu? Kebangkitan Yesus membuat perubahan apa dalam hidup kita? Bagaimana kita menjadi orang Katolik yang trasnformatif dalam dunia sekarang ini?

Masker bentuknya segitiga merah.
Dibagi-bagi untuk menonton TV.
Selamat Hari Raya Paskah.
Tetap di rumah dan Tuhan memberkati.

Cawas, Nonton bulan di teras atas…
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 11.04.20 Malam Vigili Paskah Matius 28:1-10 / Jangan Takut

 

PANDEMI Corona ini membuat ketakutan ke seluruh dunia. Mulai dari Pangeran Charles sampai rakyat jelata diserangnya. Para romo, pendeta, dokter, perawat dan siapa pun menjadi korban dan meninggal.

Dunia dengan segala keributannya seolah berhenti. Ketakutan melanda semua orang. Corona menjadi stigmata yang mengerikan.

Masih lagi diwarnai kisah pilu; ada warga masyarakat yang menolak perawat yang meninggal – padahal dia adalah pahlawan garda depan yang melayani pasien virus corona – dimakamkan di kuburan desa.

Terpaksa harus dibongkar dan dipindah ke tempat lain. Ketakutan berlebihan sampai kehilangan kepekaan hati nurani dan rasa kemanusiaan.

Dalam Injil hari ini, Maria Magdalena dan Maria yang lain ingin menengok kubur Yesus. Mereka memilih waktu menjelang menyingsingnya fajar, masih gelap, agar tidak diketahui siapa pun.

Kendati ada para penjaga di kubur Yesus. Mereka ingin memburati jenasah Yesus. Tiba-tiba terjadi gempa bumi dan malaikat Tuhan menampakkan diri.

Kata malaikat, “Janganlah kamu takut. Aku tahu bahwa kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit seperti yang telah dikatakan-Nya.”

Para wanita itu masih diliputi rasa takut. Mereka pergi dari kubur ingin memberitahu murid yang lain. Tetapi di tengah jalan Yesus menjumpai mereka. Kata-Nya, “Salam bagimu. Janganlah takut.” Yesus menegaskan kembali warta malaikat yakni “Jangan takut.”

Di tengah-tengah pandemi covid19 yang mengharu biru dunia sekarang ini, sabda Yesus menguatkan kita, “Jangan takut.” Dia yang berkuasa atas angin ribut di tengah danau, Dia yang berkuasa mengusir setan, Dia yang berkuasa membangkitkan orang mati, Dia pasti juga berkuasa atas wabah ini.

Jangan takut. Maut tidak mampu menguasai-Nya. Kematian tidak mampu menghentikan-Nya. Yesus hidup dan mendampingi umat-Nya. Jangan takut.

Jangan kita dibelenggu oleh ketakutan. Ketakutan justru membawa kematian. Warta kehidupan itu harus kita bagikan kepada saudara-saudari kita.

Kegembiraan, suka cita, harapan dan semangat hidup itulah yang akan menghalau virus corona ini. Mari kita gembira dan penuh harapan. Mari kita ajak saudara-saudara kita mengalami sukacita. Itulah warta Paskah bagi kita. “Jangan takut…..”

Taman bunga semakin bermekaran.
Langit di senja sangat indah kelihatan.
Mari kita wartakan sukacita dan kegembiraan.
Yesus bangkit memberi harapan.

Cawas, olahraga hilangkan lemak di badan…
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 10.04.20 Jumat Agung Wafat Tuhan Yohanes 18:1- 19:42 / Tumbal di Jum’at Keramat

 

PADA peringatan Wafat Isa Almasih ini kita bisa mengenang sosok-sosok pejuang kemanusiaan seperti Munir yang meninggal secara misterius tanggal 7 September 2004 di dalam pesawat menuju Amsterdam.

Ia adalah pejuang HAM dan kemanusiaan universal. Ia pernah berjuang di KONTRAS (Komisi Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan). Kemungkinan ia banyak mengusik kaum penguasa otoriter waktu itu.

Sebelum itu ada wartawan Bernas Jogja, biasa dipanggil Udin, meninggal dianiaya orang tak dikenal karena tulisan-tulisannya yang kritis dan mengusik penguasa lokal menjelang pemilihan Bupati Bantul. Ia mati karena menyuarakan kebenaran. Ada lagi pejuang seperti Marsinah.

Mereka-mereka ini, dan masih banyak lagi kaum pembela kebenaran dikurbankan menjadi tumbal atau kambing hitam.

Kasus mereka dipendam oleh waktu dan tidak ada penyelesaian yang tuntas. Kematian mereka untuk menegakkan kebenaran demi orang banyak.

Kematian Yesus di salib dapat dimaknai sebagai tindakan solidaritas dan penebusan bagi umat manusia. Hal ini bisa kita baca dari bacaan kedua, Surat kepada Umat Hibrani yang berkata,

“Imam Agung yang kita punya, bukanlah Imam Agung yang tidak dapat merasakan kelemahan kita. sebaliknya Ia sama dengan kita. Ia telah dicobai, hanya saja tidak berbuat dosa.”

Yesus ingin merasakan kelemahan kita sebagai ciptaan. Kita manusia hina karena dosa dan harus mati. Yesus ingin solider dengan kita dan merasakan kematian. Kendati Dia tidak berdosa.

Yesaya sudah menubuatkan tentang Mesias yang menderita demi keselamatan kita. Nabi berkata, “Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kitalah yang dipikulnya, padahal kita mengira, dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Sesungguhnya dia tertikam oleh pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita, derita yang mendatangkan keselamatan bagi kita, ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya, kita menjadi sembuh.”

Betapa bersyukurnya kita ini. Ada orang yang mau mati membela kita ketika kita jatuh dalam dosa. Membela orang baik, itu sesuatu yang normal. Tetapi Yesus membela kita ketika kita berdosa.

Ia mengambil posisi kita dan kita dibebaskan karenanya. Itulah makna kematian Yesus. Ia mati bukan untuk diri-Nya sendiri.

Tetapi Ia berkorban untuk keselamatan kita. Yesus, Tuhan, dengan salib-Mu Engkau telah menebus dunia. Puji Tuhan dan sembah bakti bagi Allah.

Jumat Agung yang sepi sunyi.
Semua kelu menanggung derita di rumah.
Yesus menanggung dosa kita sampai mati.
Agar kita memperoleh keselamatan dan berkah.

Cawas, Jumat keramat…’
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 09.04.20 Kamis Putih Yohanes 13:1-15 / Merendahkan Diri

 

Banyak daerah atau tempat mempunyai tradisi membasuh kaki. Penerimaan tamu, acara perkawinan di beberapa tempat ada acara membasuh kaki.

Makna pertama dari tindakan itu adalah hospitalitas atau keramahtamahan. Seorang tamu dihormati dengan dibasuh kakinya. Kaki kotor karena berjalan jauh.

Makna kedua adalah perendahan diri. Pembasuhan kaki dilakukan oleh hamba atau budak. Dengan membasuh kaki, orang merendahkan diri menjadi hamba.

Makna ketiga, berhubungan dengan hospitalitas tadi, si pembasuh kaki bertindak sebagai tuan rumah.

Pada perayaan Kamis Putih ini, ada banyak tindakan simbolik Yesus yang mengandung makna yang dalam. Ia menyiapkan pesta perjamuan. Yesus bertindak sebagai tuan rumah. Ia mengumpulkan murid-murid-Nya.

Karena ini merupakan “Farewell Party”mungkin Dia ingin memberi kenangan terindah bagi mereka. Yesus menanggalkan jubah-Nya dan mengikat pinggangnya dengan kain lenan. Ia menaggalkan status-Nya sebagai guru yang dihormati.

Lalu mengikat pinggang-Nya dengan kain lenan. Ini adalah ciri seorang hamba yang bertugas melayani. Biasanya murid melayani guru. Tetapi kini Guru melayani murid. Tuhan menjadi manusia, bahkan memilih menjadi hamba. Ini sebuah kebalikan kontras.

Inilah tindakan keteladanan. Yesus menjelaskan hal itu.”Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu.” Keteladanan itu wajib kita lakukan antar saudara. Itulah pesan penting yang harus kita lakukan.

Petrus tidak mau dibasuh. Kalau tidak dibasuh, ia tidak mendapat bagian dalam Diri-Nya. Sebagai tuan rumah Yesus membasuh kaki Petrus. Petrus menjadi tamu-Nya.

Dan jika kita ikut dibasuh, juga kelak akan boleh masuk ke rumah Bapa-Nya. Mendapat bagian dalam Aku berarti juga mendapat warisan dalam Kerajaan-Nya.

Sikap merendahkan diri ini adalah teladan Kristus yang nyata. Kita diwajibkan melakukan juga bagi saudara-saudari kita. Jika kita mau melakukannya, kita akan mendapat bagian dalam Diri-Nya.

Perayaan Kamis Putih ini adalah amanat bagi kita untuk merendahkan diri seperti Kristus yang adalah Guru dan Tuhan telah merendahkan Diri-Nya.

Tercium aroma bawang putih.
Sang pangeran menjauhkan diri.
Pada hari raya Kamis Putih.
Ada teladan untuk merendahkan diri.

Cawas, kamis Putih hati putih…
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 08.04.20 Rabu dalam Pekan Suci Matius 26:14-25 / Mulut Manis Sang Pengkhianat

 

TANGGAL 28 Maret 1830, kira-kira dua hari setelah perayaan Idul Fitri, Jendral de Kock mengundang Pangeran Diponegoro ke rumah Residen di Kedu.

Undangan itu sebenarnya undangan silaturahmi karena baru saja merayakan Idul Fitri. Namun inilah kelicikan Jendral de Kock. Dengan maksud baik Pangeran Diponegoro menghadiri undangan itu.

Namun di tengah perbincangan, Jendral de Kock meminta Pangeran Diponegoro menghentikan peperangan melawan Belanda. Pangeran Diponegoro tidak setuju.

Menurut beliau tidak tepat membicarakan masalah politik ketika umat baru saja merayakan hari raya. Tetapi Jendral de Kock yang tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, tetap memaksa. Waktu ini adalah waktu emas.

Sudah lima tahun Belanda kewalahan menghadapi Diponegoro. Banyak nyawa dan biaya ludes untuk perang di Jawa. Bahkan Belanda membuat sayembara bagi siapa saja yang bisa menangkap Diponegoro akan diberi imbalan 20.000 Gulden.

Sekarang Diponegoro ada di wisma Karesidenan Kedu. Maka De Kock memaksa dan menangkapnya. Saat itu juga Pangeran Diponegoro dibawa ke Semarang, lalu ke Batavia dan akhirnya diasingkan di Makasar sampai wafatnya.

Dalam perjamuan makan, Yudas mengkhianati Yesus. ia menyerahkan Yesus kepada imam-imam kepala dengan imbalan uang tigapuluh perak. Jendral de Kock merancang pengkhianatan dengan undangan silaturahmi.

Yudas mengkhianati Yesus juga saat makan bersama. Jendral de Kock mengundang Pangeran Diponegoro yang saat itu sedang masa hari raya Idul Fitri Ini jebakan yang dirancang oleh Belanda.

Yesus mengumpulkan para murid-Nya untuk makan bersama. Ia tahu saat inilah saat perjamuan terakhir untuk merayakan Paskah Yahudi bersama murid-murid-Nya.

Dalam makan bersama itu Yesus mengatakan terus terang kepada murid-murid-Nya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.”

Kelicikan Yudas masih bisa terlihat dengan berani mengatakan, “Bukan aku ya Rabi?” Ia sudah bermuka dua dan bermulut manis. Muka yang satu berpaling kepada imam-imam kepala, muka yang lain masih mendekati Yesus.

Mulut yang satu menyerahkan-Nya kepada imam-imam, mulut yang lain bermanis-manis dengan Yesus. Itulah mulut pengkhianat. Jika kita hadir dalam undangan Yesus itu, dimanakah kita berpihak?

Siang-siang minum jus manggis.
Diselingi makan ringan kudapan.
Hati-hatilah dengan buaian mulut manis
Dia bisa menjebak kita menuju kehancuran

Cawas, berserah pada janji…
Rm. A. Joko Purwanto Pr