by editor | Apr 13, 2020 | Renungan
GUNAWAN Wibisana adalah adik bungsu Rahwana di Alengka. Rahwana merebut Dewi Sinta dari Rama. Hawa nafsu membuat Rahwana jadi gelap mata.
Peperangan besar antara balatentara Rama dan Rahwana tak terhindarkan. Wibisana menyarankan agar Sinta dikembalikan kepada Rama. Namun saran itu tak digubris oleh Rahwana.
Wibisana tak menyetujui perbuatan jahat kakaknya. Maka ia lari dari Alengka dan membela Rama. Ia memilih berpihak ke Rama, karena Rama berada di pihak yang benar. Oleh Rahwana, Wibisana dituduh sebagai pengkhianat.
Kalau Wibisana berkhianat kepada kakaknya demi membela kebenaran. Yudas Iskariot mengkhianati Yesus demi keuntungan pribadinya. Ia menjual Yesus kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat dengan harga tigapuluh keping perak.
Petrus juga diingatkan oleh Yesus bahwa ia akan mengkhianati-Nya sampai tiga kali sebelum ayam berkokok. “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu; sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.”
Wibisana meninggalkan kakak kandungnya. Ia lebih memilih berada di pihak yang benar, yakni Rama. Kebenaran itu mengatasi hubungan darah dan kebangsaan.
Kendati saudara atau satu garis darah, apalagi hanya satu bangsa, suku, ras atau kelompok, kalau ada di pihak salah, maka tidak perlu dibela. Itulah pilihan seorang ksatria. Berani membela yang benar.
Petrus ingin membela Yesus, tetapi caranya tidak tepat untuk saat ini. Akan ada saatnya, Petrus mati demi membela imannya pada Yesus. Yesus tidak ingin mengajarkan kekerasan dibalas dengan kekerasan. Ia mengajarkan cintakasih.
Dalam situasi sulit menghadapi lawan dan teman, Yesus tetap konsisten mengajarkan cintakasih. Kendati ada yang berkhianat, menyangkal, melarikan diri meninggalkan-Nya, Yesus tetap tenang dan menguasai diri. Kasih-Nya tidak berubah kepada yang memusuhi-Nya.
Kendati kita juga pernah dikhianati, dan betapa sakitnya hati ini, kita bisa belajar dari Yesus yang tidak berubah kasih-Nya. Mengasihi akan lebih bermanfaat daripada membenci, mendendam dan menghukum.
Merangkai bunga-bunga kertas.
Ditata di meja persembahan.
Belajar mengasihi tanpa batas.
Walaupun sulit dan butuh pengurbanan.
Cawas, menunggu saatnya tiba…
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Apr 13, 2020 | Renungan
DALAM sebuah kisah selalu ada tokoh antagonis. Dalam Film Batman ada tokoh jahat namanya Joker. Di Film Spiderman, tokoh antagonisnya adalah Venom.
Dalam kisah Star Wars, ada tokoh jahat namanya Dark Vader. Dalam kisah pewayangan kita bisa melihat tokoh antagonis dalam diri Sengkuni. Dialah sebetulnya yang mengendalikan para Kurawa.
Dengan licik dan “julig” Sengkuni mengejar harta, kekuasaan dan kehormatan. Otak dari jiwa angkara murka nan serakah para Kurawa adalah Patih Sengkuni. Dialah yang mengendalikan Raja muda Hastina, Duryudana.
Dengan pikiran licik Sengkuni berusaha menghancurkan Pandawa agar Negeri Hastina tetap dikuasai Kurawa. Dengan fitnah keji dia merebut tahta Patih Hastina dari Gandamana.
Dia selalu menipu dan berbohong kepada Destarastra yang buta demi kepentingannya sendiri. Sengkunilah yang jadi otak kejahatan dan keserakahan para Kurawa.
Dalam Injil hari ini kita melihat sisi gelap kehidupan Yudas Iskariot. Dalam perikope ini ditunjukkan bagaimana Yudas mempunyai kebiasaan buruk yang berhubungan dengan uang.
Ia memegang kas kelompok. Nampaknya dia tidak jujur. Penginjil mengatakan, “Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.”
Kemunafikannya diperlihatkan ketika ia menyindir Maria saudari Lazarus yang meminyaki kaki Yesus dengan minyak narwastu yang mahal.
“Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tigaratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?”
Nampaknya pikirannya logis, rasional dan bermoral tinggi. Ia memikirkan nasib orang-orang miskin. Tetapi di balik itu ternyata ada niat jelek yakni memikirkan kantongnya sendiri.
Ada orang-orang di dekat Yesus yang mencari keuntungan pribadi. Di gereja, orang-orang seperti ini tidak sedikit. Biar nampak aktif di gereja, bahkan menjadi pengurus, tetapi di balik itu mencari nafkah untuk kepentingan sendiri.
Ada banyak tipe murid Yesus. Ada yang pemberani seperti Petrus. Ada yang setia seperti Yohanes. Ada yang tulus seperti Maria. Tetapi ada pula tipe murid seperti Yudas. Mencari keuntungan dan tega menikam dari belakang.
Marilah kita memurnikan motivasi kita dalam mengikuti Yesus. Tuhan murnikanlah hatiku untuk setia mengikuti-Mu.
Minggu Palma tanpa kehadiran umat.
Hanya ditemani suara musik yang lembut.
Waspadalah dengan teman yang dekat.
Ia bisa menjadi musuh dalam selimut.
Cawas, sunyi sepi sendiri….
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Apr 4, 2020 | Renungan
DIREKTUR Jendral WHO mengumumkan penyakit baru yang sekarang menjadi pandemi global sebagai COVID 19. Nama itu gabungan dari CO yakni Corona. VI dari kata Virus. D singkatan Disease. 19 menunjukkan tahun munculnya.
Demikian kata Tedros Adhanom Ghebreyesus di Jenewa Swiss, 11 Februari 2020. Corona dari bahasa Latin yang artinya mahkota. Virus itu bentuknya seperti mahkota raja.
Corona atau mahkota raja ini sangat ditakuti karena menyebar dan menyerang begitu cepat dan mematikan. Jumlah penderita terdeteksi di seluruh dunia pada awal April ini mendekati hampir satu juta orang. Hal ini menggambarkan bagaimana si Mahkota ini menebar kekawatiran di seluruh dunia.
Kita memasuki masa pekan suci. Tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kita merayakan pekan suci di rumah masing-masing karena pandemi virus corona.
Hari Minggu ini kita umat Kristiani juga menyambut seorang Raja. Dia datang tanpa mahkota yang menebar ketakutan. Yesus adalah Raja tanpa mahkota. Ia memasuki kota Yerusalem hanya naik seekor keledai beban.
Yesus masuk kota Yerusalem memenuhi nubuat para nabi. “Katakanlah kepada Putri Sion; lihat rajamu datang kepadamu. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai,seekor keledai beban yang muda.”
Kadang kita ini salah kaprah. Membuat visualisasi Minggu Palem, romo naik kuda. Kuda itu berbeda dengan keledai. Kuda itu lambang keprajuritan.
Ia simbol perang. Padahal Yesus datang tidak membawa perang, tetapi damai. Memilih simbol harus hati-hati supaya tidak disalah artikan.
Yesus datang membawa damai dan kelemah-lembutan. Misi-Nya adalah membawa damai dan cintakasih. Ia tidak memilih kuda atau unta, tetapi keledai beban.
Ia mau menanggung beban dosa-dosa kita. Ia mau menerima kesengsaraan kita. Itulah raja yang kita kenangkan pada Minggu Palma ini.
Kekuatan Yesus bukan seperti virus corona yang menebarkan malapetaka. Tetapi Ia menebarkan virus cinta ke seluruh dunia. Ia tidak membawa senjata perang.
Tetapi Dia membawa damai dan kelembutan. Ia tidak membawa permusuhan, tetapi Dia menyalurkan persahabatan. Ia tidak membawa ketakutan, tetapi Dia menebarkan harapan dan semangat.
Marilah kita lawan virus corona ini dengan virus cinta yang dibawa Yesus pada pekan suci ini. Tuhan Yesus Sang Raja Cinta doakanlah kami dan bebaskanlah kami dari virus corona ini.
Ke Medari lewat Pakem
Selamat memasuki Pekan Suci dan Berkah Dalem.
Cawas, semangat lawan corona….
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Apr 3, 2020 | Renungan
RENE GIRARD seorang pemikir Perancis abad XX mengembangkan sebuah teori untuk mengupas suatu krisis kekerasan dalam masyarakat yang disebut Teori Kambing Hitam.
Kultur masyarakat itu mudah pecah. Kalau di tengah masyarakat terjadi krisis karena konflik atau kekacauan, maka untuk mencari solusinya dicarilah kambing hitam yang dapat dipersalahkan.
Kambing hitam yang paling rentan adalah kelompok minoritas. Seperti yang terjadi pada abad 14 ketika wabah pes menyerang seluruh Eropa.
Saking dasyatnya wabah itu sampai disebut The Black Death. Waktu itu terjadi permusuhan antara Kristen dan Yahudi. Sekelompok orang fanatik menyalahkan kaum Yahudi. Merekalah biang keladi dari wabah ini.
Maka terjadilah pengejaran dan pembunuhan kaum Yahudi. Mereka disalahkan sebagai kambing hitam. Begitu pun di Indonesia ketika terjadi pergolakan pada pertengahan tahun 1960an. Sekelompok masyarakat dijadikan kambing hitam dan dihancurkan.
Dalam bacaan Injil hari ini diceritakan bagaimana runcingnya pertentangan antara Yesus dan kaum Yahudi. Makin banyak orang Yahudi yang percaya menjadi pengikut Yesus. Ini sangat mengkawatirkan.
Akan terjadi masalah dengan agama dan sosial kemasyarakatan. Mahkamah agama Yahudi berkumpul dan mereka berkata, “Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mukjijat. Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita.”
Lalu Kayafas, Imam Agung memainkan teori kambing hitam. “Kamu tidak tahu apa-apa dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh bangsa kita ini binasa.”
Yesus harus dikurbankan sebagai kambing hitam dari permasalahan agama, sosial dan politik. Yesus harus mati untuk keselamatan seluruh bangsa. Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia.
Benih itu harus mati, supaya dapat tumbuh berkembang dan berbuah banyak. Sesudah kebangkitan, benih itu tumbuh dalam diri para murid dan tak bisa dimatikan. Iman akan Yesus tumbuh dimana-mana.
Lalu Gamaliel seorang anggota Mahkamah Agama Yahudi mengingatkan, “Jangan bertindak terhadap orang-orang ini, biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak dapat melenyapkan orang-orang ini, mungkin ternyata juga nanti, bahwa kamu melawan Allah.” Yesus adalah Anak Domba Allah yang dikurbankan untuk menyelamatkan dunia.
Pagi-pagi sudah siram-siram bunga.
Yang muncul merah kuning warnanya.
Yesus harus mati untuk keselamatan dunia.
Agar kita dapat hidup dan menjadi berkat bagi sesama.
Cawas, main bola di rumah saja….
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Apr 2, 2020 | Renungan
SULIT menghadapi kelompok WTS (Waton Sulaya) atau kelompok “Daniel Waluya” (Dikandhani ngeyel waton sulaya). Mereka itu asal melawan dan berusaha menjatuhkan.
Hantam dahulu urusan belakang, itulah prinsipnya. Pokoknya lawan!!!! Asal sudah keluar kata “Pokoknya”, sulit untuk dijelaskan baik-baik. Diajak dialog pun, yang keluar urat di leher makin tegang.
Beberapa waktu lalu, kita bisa melihat dan mendengar, bagaimana Presiden didesak untuk membuat keputusan lockdown secara nasional. Dia dikritik tidak berbuat apa-apa, lambat bertindak, dicemooh oleh lawan politiknya.
Ditengah situasi genting itu, ibundanya dipanggil Tuhan. Orang-orang yang tidak menyukainya, mengkritik dengan pedas seolah tidak mau mengerti bagaimana perasaan kehilangan orang yang dikasihinya.
Namun Presiden tetap tenang, tegar dan sabar menghadapi semuanya. Akhirnya dibuatlah keputusan Presiden tentang gugus tugas percepatan penanganan virus corona.
Lalu dibuat Kepres Pembatasan Sosial Berskala Besar. Namun bagi kelompok WTS dan Daniel Waluya, tindakan apa pun akan selalu dilawan dan ditolak, dan dianggap salah.
Pertentangan Yesus dengan orang-orang Yahudi tidak hanya secara ideologi atau perdebatan mulut saja, namun sudah sampai pada permusuhan secara fisik.
Mereka ingin melempari Yesus dengan batu. Orang yang sudah dihinggapi rasa benci, perbuatan baik apa pun tidak akan diterima.
Yang tidak bisa diterima oleh orang-orang Yahudi adalah bahwa Yesus menyebut diri-Nya berasal dari Allah. Ia menyamakan diri-Nya dengan Allah. Bagi mereka Yesus dianggap menghojat Allah.
Apa pun yang diperbuat oleh Yesus tidak bisa diterima orang-orang Yahudi. Walaupun Yesus menyembuhkan orang sakit, memelekkan orang buta, membangkitkan orang mati, menyembuhkan orang lumpuh, namun hal itu tidak dianggap sebagai karya Allah. Prinsipnya mereka tidak mau mengakui bahwa Yesus adalah Allah.
Dibutuhkan keterbukaan dan kerendahan hati untuk bisa memahami Yesus adalah Allah. Semua karya dan hidup Yesus menampakkan kebaikan Allah. Bagi orang yang tetap tegar hatinya, akan sulit memahami akan hal ini.
Berbuat ini salah, berbuat itu juga salah. Semua serba salah. Orang-orang seperti itu layaknya buaya yang mulutnya menganga menanti jatuhnya mangsa. Dia serang kanan kiri dan betapa senangnya kalau musuhnya itu jatuh.
Hari-hari ini kita akan mendengarkan bagaimana Yesus dengan tegar, namun tetap tenang menghadapi lawan-lawan-Nya. Mendekati pekan suci, makin terasa bagaimana tajamnya perbedaan paham Yesus dengan orang-orang Yahudi.
Marilah kita juga tegar memasuki pekan suci yang sulit dengan kondisi wabah corona ini.
Pengumuman Pak Lurah hadapi pandemi.
Tidak boleh kumpul para suami istri.
Ikut Yesus mewartakan kebenaran sejati.
Tantangannya berat dan bertubi-tubi.
Cawas, puasa dulu…
Rm. A. Joko Purwanto Pr