by editor | Sep 10, 2019 | Renungan
PREAMBULE Undang-Undang Dasar 1945 dalam alinea ketiga dikatakan, “Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”
Sebelum menyatakan kemerdekaan Indonesia, Para pendiri bangsa ini berdoa dan mohon petunjuk bagi peristiwa penting bangsa yakni kemerdekaan Indonesia.
Mereka adalah insan pendoa yang percaya bahwa kemerdakaan terjadi berkat rahmat Allah yang maha kuasa dan keinginan Bangsa Indonesia.
Tetapi diyakini yang pertama adalah berkat rahmat Allah. Pastilah ini semua bisa muncul karena religiusitas para pendiri bangsa kita sangat tinggi.
Sebelum membuat keputusan penting menyangkut seluruh bangsa, mereka berdoa kepada Allah yang maha kuasa.
Dalam Injil hari ini, Yesus mendaki sebuah bukit untuk berdoa. Semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.
Yesus mencari tempat khusus, sepi, jauh dari keramaian. Ia pergi ke bukit. Doanya tidak cuma satu dua jam, tetapi semalam-malaman.
Beda dengan kita, pergi ziarah tetapi doanya hanya setengah jam. Yang banyak adalah pikniknya, acara shoping dan kulinernya.
Yesus pergi ke bukit. Kita pergi ke mall. Yesus berdoa. Kita belanja.
Kita diingatkan oleh Yesus. Sebelum membuat keputusan-keputusan penting, hendaknya diawali dengan doa.
Yesus mau memilih murid-muridNya. Ia mengawalinya dengan pergi menyepi dan berdoa. Ia berdialog degan Allah BapaNya.
Pilihan Yesus atas murid-muridNya sungguh tepat. Semua muridNya, kecuai Yudas Iskariot, adalah murid yang militan. Mereka semua menjadi martir dalam mengikuti Yesus.
Sebagaimana para pendiri bangsa ini juga menyakini bahwa kemerdekaan Indonesia terjadi karena berkat rahmat Allah, kita pun diajak melibatkan Allah dalam seluruh kehidupan kita.
Jangan lupa selalu mengawali seluruh aktivitas dan keputusan hidup kita dengan doa.
Jalan-jalan di pagi hari
Menikmati indahnya sawah
Doa itu ibarat sebuah kunci
Dengannya kita bisa memasuki rumah
Cawas, sekali waktu
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Sep 8, 2019 | Renungan
PERNAH dalam suatu sarasehan Kitab Suci di lingkungan, saya ditanya oleh seorang bapak yang anaknya menjadi romo lulusan luar negeri, “Apakah romo pernah belajar di Roma?”
Lalu meluncurlah pertanyaan-pertanyaan yang menurut kacamata awam adalah pertanyaan mahasiswa teologi tingkat akhir. Bapak itu memang terhormat dan disegani.
Saya menjawab, “Maaf Pak, ijasah saya bukan dari Roma. Saya hanya lulusan “Romasan” (Plesetan dari Promasan sebuah paroki di lereng Perbukitan Menoreh, daerah Sendangsono).
“Saya dulu sekelas dengan Mgr. Haryo di Kentungan. Hanya bedanya, saya duduk di bangku belakang. Mgr, Haryo berdiri di depan kelas.”
Ada banyak tipe orang bertanya. Ada yang ingin mencobai. Dia sebenarnya sudah tahu jawaban yang ditanyakan. Ada yang ingin menjatuhkan dengan pertanyaan yang sulit-sulit.
Ada pula yang memang ingin meminta jawaban karena tidak tahu. Ada pula yang hanya ingin menyombongkan diri merasa tahu segala-galanya dengan cerita diri yang “muluk-muluk”, malah lupa apa yang ditanyakan.
Yesus berhadapan dengan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang merasa paling tahu tentang hukum Taurat dan merasa paling benar.
Mereka mengamat-amati gerak gerik Yesus pada hari Sabat. Kalau-kalau mereka bisa mencari alasan untuk menyalahkan Dia.
Para ahli Taurat dan orang-orang Farisi adalah penjaga hukum. Mereka melaksanakan aturan sekecil-kecilnya. Meraka merasa gelisah jika ada orang melanggar aturan.
Yesus mengkritik cara hidup mereka yang mencari kesalahan orang. Hukum bukan untuk menindas atau menyalahkan orang lain.
Hukum itu untuk kebaikan bukan malah menyengsarakan orang. Manusia lebih utama daripada aturan. Menyelamatkan orang lebih penting daripada taat buta terhadap aturan.
Yesus menyembuhkan orang lumpuh tangannya. Kemanusiaan di atas segala aturan. Contohnya, mobil ambulans yang membawa orang sakit boleh menerobos aturan “bangjo” di jalan.
Apakah anda berani berjuang demi kemanusiaan, kendati harus menghadapi berbagai tantangan?
Minum tuak yang dibikin dari beras ketan
Sebotol dibagi bertiga
Bagaimana orang bilang mencintai Tuhan
Kalau tidak bisa mencintai sesamanya?
Cawas, di suatu sore
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Sep 7, 2019 | Renungan
Dalam bacaan hari ini Yesus memberi tiga syarat menjadi muridNya. Pertama, membenci sanak keluarganya. Kedengaran aneh di telinga kita.
Istilah “membenci” dalam bahasa Semit berarti tidak memihak. Kata “mengasihi” bernuansa memihak. Kalau mau menjadi muridNya harus memihak atau mengasihi Yesus.
Harus membenci saudaranya berarti tidak memihak hubungan kekerabatan, melainkan lebih mengutamakan Yesus yang mewartakan Kerajaan Allah.
Kedua, memikul salib dan mengikuti Yesus. Bukan berarti kita mencari-cari penderitaan, hidup sengsara demi mengikutiNya.
Kita diajak menjadi teman seperjalanan Yesus yang memikul penderitaan kita. memikul salib harus bersama Yesus. Salib berhubungan dengan kemuliaan.
Salib tidak bisa dipisahkan dengan kebangkitan. Kalau salib yang kita panggul tidak sejalan dengan Yesus, bisa-bisa kita tidak menuju pada kebangkitan.
Kalau kita memikul salib jangan sendiri, tetapi bersama Yesus. Pasti akan ringan dan sampai pada kemuliaan.
Syarat ketiga adalah melepaskan harta milik. Setelah diberi gambaran tentang membuat anggaran sebelum membangun rumah dan menghitung jumlah tentara sebelum berperang, Yesus mengatakan bahwa jika orang tidak melepaskan harta miliknya, dia tidak dapat menjadi muridNya.
Mengikuti Yesus itu harus dipikir masak-masak dan dipertanggungjawabkan. Tidak cukup hanya like and dislike, sesaat dan mudah berubah menurut keadaan.
Orang harus berani menanggung resiko, mempertanggungjawabkan dan menerima konsekwensinya.
Kerajaan Allah menurut Yesus dalam perspektif Lukas adalah Kerajaan yang berpihak kepada orang miskin. Berani melepaskan harta milik untuk menolong mereka yang miskin.
Allah ditemukan dalam diri orang miskin. Jika kita berani melepaskan harta demi menolong mereka yang miskin, kita telah menuju ke arah Kerajaan Allah.
Melepaskan diri dari harta milik harus menjadi gaya hidup, bukan hanya sesekali menyumbang panti asuhan. Seperti Yesus yang langsung tergerak oleh belas kasihan kepada orang miskin dan menderita.
Sudahkah kita pantas disebut sebagai murid-muridNya, jika Yesus menuntut syarat-syarat seperti itu ?
Mabuk tuak jatuh ke parit
Basah-basah baju dan celana
Kalau kita mau menjadi murid
Harus berani memanggul salibNya
Cawas, saat mentari di ufuk
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Sep 6, 2019 | Renungan
ADA orangtua yang ngotot datang kepada saya. Mereka meminta saya menikahkan anaknya pada hari yang sudah ditentukan.
Hari itu adalah Sabtu Kliwon. Menurut perhitungan orang pintar itu adalah hari yang paling baik. Waktunya pun sudah ditentukan yakni jam 10.00 lebih sepeluh menit.
Tidak boleh kurang atau lewat dari jam itu. Kalau sampai meleset, mereka akan mengalami petaka, katanya.
Saya menjawab enteng, “Pak, hari itu tepat weton saya je. Kalau saya melanggar, saya juga kena tulah gimana?” Orangtua itu kebingungan.
Saya menjelaskan, “Pak semua hari itu baik adanya. Tuhan tidak menciptakan ini hari sial, ini hari buruk. Masih ingat waktu Tuhan menciptakan alam semesta? Diciptakan siang dan malam, hari pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.”
Yesus dikritik oleh orang-orang Farisi karena murid-muridnya memetik bulir gandum dan memakannya pada hari sabat.
Orang Farisi berkata, “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari sabat?”
Yesus menjawab mereka dengan mengutip kisah Daud dan tentaranya yang makan roti sajian yang dibawa Ahimelek seorang imam bait suci dan bagaimana Harun dan anak-anakya makan roti sajian di tempat kudus. Mereka tidak berdosa.
Kaum Farisi menganggap dirinya paling benar. Mereka merasa paling suci dengan menuruti aneka aturan-aturan keagamaan.
Mereka merasa terusik jika melihat praktek-praktek hidup yang mereka nilai melanggar hukum Taurat, salah satu contohnya adalah hukum sabat.
Kacamata mereka hanya melihat orang lain salah, saya yang paling benar. Maka ketika ada orang lain menyimpang sedikit, mereka langsung menghakimi.
Kita semua disadarkan bahwa hukum dibuat untuk manusia, bukan manusia untuk hukum. Maka Yesus menegaskan bahwa Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.
Tuhan berkuasa atas seluruh waktu karena Tuhan yang menciptakan waktu. Kalau kita membuat hari ini buruk, hari ini jelek, apakah kita melebihi Tuhan? Apakah kita yang menciptakan hari sehingga berhak menilai saat ini jelek, saat itu baik?
Marilah kita menghargai apa yang sudah diciptakan Tuhan dengan baik. Marilah kita juga menghargai sesama kita walaupun mereka berbeda.
Bunga mawar ada durinya
Bunga melati harum baunya
Kalau kita bisa menghargai sesama
Berarti kita juga menghormati yang mencipta.
Cawas, di suatu sore
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Sep 5, 2019 | Renungan
Para Farisi mempertanyakan praktek puasa murid-murid Yesus. Mereka berkata, “Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian pula murid-murid orang Farisi. Tetapi murid-muridMu makan dan minum.”
Yesus menjelaskan dengan perumpamaan. Tidak mungkin menyobek baju baru untuk menambal baju yang tua. Pasti yang tua akan koyak. Baju tua tidak akan kuat disematkan dengan baju yang baru.
Begitu pula anggur baru tidak mungkin ditaruh di kantong yang tua. Kantong itu pasti akan koyak. Anggur baru ditaruh di kantong yang baru pula.
Menghadapi persoalan itu, Yesus menawarkan perubahan mental. Orang melakukan puasa bukan karena kewajiban.
Orang berpuasa bukan karena ada aturan-aturan. Orang berpuasa bukan karena takut hukuman. Orang berpuasa juga bukan karena mengikuti arus umum supaya dilihat sebagai orang yang saleh.
Orang berpuasa karena kesadaran diri dan kehendak bebas karena merasa dicintai Allah.
Ketika mempelai bersama mereka, mereka sangat bersukacita. Mereka merasa dekat dengan mempelai dan dikasihi oleh mempelai. Ketika mempelai tidak ada mereka berpuasa.
Puasa adalah tindakan kerinduan kepada mempelai yang telah mengasihi mereka. Puasa dilakukan dengan sukacita, bebas, tanpa beban, bukan dengan ketakutan karena aturan atau kewajiban.
Puasa adalah perwujudan kasih kepada Tuhan. Perwujudan kasih itu jauh dari ketakutan.
Mau ada orang makan minum di sekitar, silahkan saya tidak takut puasa akan batal. Mau ada warung makan buka silahkan, saya tidak tergoda karena cinta saya kepada Tuhan lebih besar daripada tergiur singgah ke warung.
Saya tidak memaksa orang lain mengikuti kemauan saya karena melaksanakan perintah Tuhan itu adalah keputusan pribadi saya yang bebas dan merdeka.
Yesus menegaskan penghayatan iman itu adalah tindakan pribadi yang bebas. Orang dewasa tahu apa artinya bebas bertanggungjawab.
Ketika orang sudah dewasa dalam beriman, ia tidak perlu dipaksa, harus begini harus begitu. Orang-orang Farisi ingin memaksakan kepada murid-murid Yesus untuk berpuasa seperti mereka.
Kalau apa-apa harus dipaksa dengan aturan-kewajiban, kebebasan dan kemandirian seseorang tidak terwujud.
Ia tidak akan menjadi dewasa dalam iman. Kewajiban iman yang dipaksakan akan menimbulkan beban dan ketakutan.
Sekali lagi Yesus menegaskan kepada kita bahwa melakukan kewajiban iman itu adalah tindakan bebas, dilakukan dengan sukacita, karena kita merasa dikasihi oleh Allah.
Mental bahwa kita adalah sahabat mempelai, bukan budak itulah yang ditekankan Yesus.
Apakah anda merasa bahwa Yesus adalah sahabat anda?
Divonis dokter karena sakit hati akut
Jangan melakukan ibadah hanya karena takut
Cawas, suatu sore yang cerah
Rm. A. Joko Purwanto Pr