by editor | Sep 4, 2019 | Renungan
Wibawa dan kuasa Yesus nampak dalam perikop Injil hari ini. Yesus yang adalah anak tukang kayu menyuruh Simon dan teman-temannya untuk menjala ikan.
Simon adalah nelayan yang berpengalaman. Hidup mereka ada di danau Genesaret. Mata pencaharian mereka mencari ikan di danau.
Sehari-hari mereka bergumul dengan perahu, jala, musim, ikan, dan segala tetek bengeknya. Mereka pastilah ahli mencari ikan. Dimana ikan-ikan berkumpul dan dapat dijala, pastilah mereka paham.
Para nelayan mencari ikan pada malam hari. Mereka berangkat sore, menuju ke tengah danau dan sepanjang malam menjala ikan.
Namun malam itu nampaknya mereka sial. Tidak mendapat apa-apa. Hal ini nampak dalam dialog antara Yesus dan Simon.
Yesus berkata kepada Simon, “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.”
Jawab Simon, “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa.”
Mereka yang ahli tentang mencari ikan telah sepanjang malam bekerja keras tapi nihil tak satupun ikan ditangkap.
Kalimat yang penting adalah, “Tetapi atas perintahMu aku akan menebarkan jala juga.”
Kehebatan, keahlian, profesionalitas, kompetensi, prestasi yang top markotop tidak ada apa-apanya di hadapan Yesus.
Kita tidak bisa menyombongkan semua itu di hadapan Tuhan. Petrus yang ahli menangkap ikan, tidak bisa apa-apa. Dia akhirnya taat dan menyerah pada Tuhan.
Ketika orang mengandalkan kemampuannya sendiri ternyata hasilnya nol. Tetapi kalau segala sesuatu kita lakukan dalam nama Tuhan, hasilnya melimpah.
Yesus mengajak Simon ke tempat yang dalam. Di air yang dangkal pastilah ikan-ikannya hanya yang kecil-kecil saja. Di air dalam ada banyak ikan yang besar-besar.
Yesus mengajak mereka berani lebih ke dalam. Tantangan dan resikonya besar. Tetapi kalau Tuhan bersama kita, pasti akan mendapat hasil yang berlimpah.
Beranikah kita menerima ajakan Yesus untuk bertolak ke tempat yang dalam?
Alamatku ada di Dusun Brangkal
Sulit dicari pada waktu malam
Hidup kita jangan hanya dangkal-dangkal
Beranilah memasuki yang lebih dalam
Cawas, di suatu pagi
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Sep 3, 2019 | Renungan
MASIH terkenang perjalanan turne Natal di pedalaman. Berangkat pagi-pagi benar melayani di satu stasi pertama.
Setelah selesai misa, melanjutkan ke stasi berikutnya dengan jarak tempuh tidak kurang dari duapuluh kilometer. Istirahat sebentar dengan sajian kopi panas.
Berikutnya harus jalan lagi untuk melanjutkan pelayanan di stasi lain. Sehari bisa melayani tiga stasi dalam pelayanan Natal.
Karena begitu banyak stasi atau kampung yang harus dikunjungi, perayaan Natal bisa berlangsung sampai Januari.
Setiap hari dalam ekaristi selalu mendengar lagu Malam Kudus, walaupun misanya pagi atau siang, lagunya tidak menjadi pagi kudus atau siang kudus.
Sebagai romo harus berpindah-pindah melayani umat di kampung-kampung agar bisa merayakan kelahiran Tuhan.
Di Kapernaum Yesus mengajar dan menyembuhkan orang yang sakit. Karena itu mereka meminta Yesus untuk tetap tinggal di Kapernaum.
Namun Yesus tidak mau menetap di satu tempat. Yesus berkata, “Juga di kota-kota lain Aku harus mewartakan Injil Allah sebab untuk itulah Aku diutus.”
Karya keselamatan harus diwartakan kepada semua orang. Dimana pun warta Kerajaan Allah harus disampaikan. Semua orang harus diberi warta keselamatan Allah.
Yesus diutus untuk itu. Yesus tahu panggilanNya untuk menyembuhkan dan menyelamatkan semua orang.
Bagi para romo saat harus menghadapi situasi sulit, kata-kata Yesus itu bisa diterjemahkan, “Untuk itulah aku ditahbiskan.”
Ketika para pasutri menghadapi masalah keluarga, kata-kata Yesus bisa berbunyi, “Untuk itulah aku dipersatukan.” Untuk para guru yang menghadapi murid-murid yang sulit, kata-kata Yesus bisa meneguhkan, “Untuk itulah aku dipanggil menjadi guru…”
Ketika kita menghadapi berbagai kesulitan, kita bisa meneguhkan diri lewat sabda Yesus, “Untuk itulah aku diutus.”
Beranikah kita dalam menghadapi segala situasi, kita berprinsip seperti Yesus, “Untuk itulah aku diutus ?”
Dengan suka memetik buah rambutan
Dahannya patah jatuh ke bawah
Menghadapi aneka macam tuntutan
Dengan tekun dan setia tetap melangkah
Cawas suatu malam yang indah
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Sep 2, 2019 | Renungan
ONTOREJO adalah anak Bima dari Dewi Nagagini dari Kahyangan Saptapertala. Ontorejo mempunyai kesaktian yang luar biasa.
Ia memiliki kesaktian racun atau bisa yang keluar dari air liurnya. Apa saja yang terkena air liur Ontorejo akan mati.
Bahkan bayangan orang yang dijilat oleh Ontorejo bisa tewas. Dalam istilah Jawa, orang yang memiliki kesaktian itu disebut idu geni.
Apa yang diucapkan mempunyai daya kekuatan yang berbahaya, bahkan bisa mematikan seperti api.
Idu geni atau air liur yang berdaya seperti api, yakni membakar dan memusnahkan. Kesaktian Ontorejo itu digunakan untuk senjata dalam peperangan.
Racun yang keluar dari air liur Ontorejo itu panas seperti api yang membakar.
Kata-kata Yesus juga mempunyai wibawa, daya kekuatan. Pada waktu berada di Kapernaum, Yesus mengajar di rumah ibadat.
Orang-orang yang mendengar pengajaranNya sangat takjub. Sabda Yesus itu penuh dengan kuasa. Kuasa dari kata-kata Yesus itu terbukti ketika Dia mengusir setan.
Ia menghardik setan itu agar jangan mengganggu orang itu. Setan itu tunduk dan taat oleh kata-kata Yesus. “Diam! Keluarlah dari padanya.” Setan pun keuar dari orang itu.
Semua orang takjub dan berkata satu sama lain, “Alangkah hebatnya perkataan ini! Dengan penuh wibawa dan kuasa, Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat, dan mereka pun keluar.”
Memang benar, kata-kata kita mempunyai daya kekuatan. Yesus menyadarkan kita bahwa apa yang ada dalam pikiran akan tertuang dalam perkataan dan terwujud dalam perbuatan.
Beberapa hari yang lalu kami kumpul reuni merto 81-85, mengadakan pelatihan bersama Mas Bebet. Dia meyakinkan bahwa kata-kata bisa mempunyai daya kekuatan yang luar biasa. Kita bisa memotong benda keras dengan sepotong sedotan plastik pipih.
Yang harus dibangun adalah mindset dalam pikiran kita. kalau kita punya pikiran yang baik, positif dan benar, pasti tutur kata dan perbuatan kita akan positif juga.
Yesus telah memberi teladan kepada kita bagaimana kata-kata mempunyai daya kekuatan yang besar.
Maka berhati-hatilah dengan kata-katamu. Suatu saat apa yang kamu katakan akan terwujud menjadi kenyataan.
Beli rujak dicampur mangga
Dinikmati bersama teman di pinggir jalan
Kata kita seperti pedang bermata dua
Bisa mematikan tapi juga bisa menghidupkan
Cawas di suatu senja
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Sep 1, 2019 | Renungan
Kita semua pasti tahu kalau orang-orang Yahudi menantikan kedatangan Mesias.
Mesias bagi mereka adalah pembawa keselamatan lahir batin dunia akherat sampai tuntas. Mesias itu digambarkan sebagai Yang Maha Agung yang datang dari antah berantah.
Mesias tak diketahui asal-usulnya tetapi dia datang mengubah total seluruh bumi. Bumi menjadi serba baru seluruhnya karena kuasa Mesias itu.
Maka ketika Yesus mengutip Kitab Nabi Yesaya, ”Roh Tuhan ada padaKu. Sebab Aku diurapiNya untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin. Dan Aku diutusNya memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, penglihatan kepada orang-orang buta, serta membebaskan orang-orang yang tertindas. Aku diutusNya memberitakan bahwa tahun rahmat Tuhan telah datang.”
Orang-orang Yahudi sangat heran. Apalagi ketika Yesus meyakinkan meraka bahwa Dia datang sebagai kegenapan kitab Nabi. Mereka tidak percaya.
Ketidak-percayaan itu ditujukan dengan sikap penolakan mereka kepada Yesus.
Mereka semua tahu siapa Yesus dan darimana Dia datang. Mereka tahu bagaimana kehidupan keluarga Yesus.
Pasti tidak sesuai dengan kondisi Mesias yang mereka percayai.Tahu bahwa orang-orang sekampungNya menolak, Yesus justru menunjukkan kedegilan hati mereka.
Tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. Mereka disindir oleh Yesus karena mereka menutup hati terhadap pewartaanNya.
Ketika kita tidak percaya, maka tidak akan terjadi perubahan hidup yang membebaskan. Ketika kita menutup diri terhadap sesuatu yang baru, kita sedang berjalan mundur.
Sikap orang-orang Nasaret itu harus menjadi pelajaran berharga bagi kita. Jangan menghakimi seseorang sebelum kita tahu persis duduk persoalannya.
Orang-orang Nasaret itu tidak percaya, bahkan mereka menolak Yesus dan ingin melemparkanNya ke tebing.
Yesus menunjukkan kuasaNya. Ia lewat dari tengah-tengah mereka, lalu pergi. Tanpa mereka berani menyentuh kulitNya sedikitpun.
Yesus diam lewat di antara mereka, tetapi diam yang berwibawa. Tidak akan ada orang yang berani menghalangi orang benar.
Jika kita berani membela dan mengatakan yang benar, diam pun adalah kekuatan dasyat yang mempesonakan.
Marilah kita belajar seperti Yesus, berani berkata tentang kebenaran kendati ditolak dan dijauhi dunia sekitarnya.
Jalan jalan ke Sampangan
Jangan lupa singgah di pelabuhan
Bertindaklah berdasarkan kebenaran
Jangan hanya karena kabar palsu dan kebohongan
Cawas, pada suatu waktu
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Aug 31, 2019 | Renungan
PADA suatu hari Petruk dihinggapi wahyu Maningrat, Cakraningrat dan Widayat. Ia menjadi Ratu di Lojitengara bergelar Raja Wel Geduwel Beh. Supaya ia dapat menjadi raja, dia harus duduk di singgasana Astina.
Maka disuruhlah Patihnya mencuri singgasana itu. Waktu dia mau duduk di singgasana, ia terjungkal tak berdaya. Dewa membisikkan supaya ia memangku sebuah boneka.
Boneka itu tidak lain adalah tuannya, Abimanyu. Ketika dia memangku Abimanyu, ia berhasil duduk di singgasana. Abimanyu adalah orang yang berhak duduk di atas singgasana Astina.
Dialah yang akan menurunkan Parikesit pewaris Hastinapura. Petruk menyadari diri sebagai rakyat jelata yang rendah. Rakyatlah yang harus memangku rajanya.
Raja tak mungkin berkuasa, kalau tidak dipangku rakyatnya. Petruk adalah gambaran rakyat yang sederhana, kawula alit yang berbudi luhur.
Bacaan Injil hari ini menceritakan Yesus yang mengingatkan kita untuk sadar merendahkan diri. “Barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.”
Petruk atau Punokawan itulah gambaran rakyat jelata yang kadang tdak sadar akan posisinya. Petruk tidak sadar bahwa tugasnya hanya memangku penguasa.
Ia bukan raja yang sesungguhnya. Ia tidak boleh sombong ketika sedang duduk di kursi penguasa. Ia berasal dari rakyat jelata.
Petruk menyadari kedudukannya sebagai Panakawan. Pana itu pinter kawan itu sahabat.
Panakawan adalah sahabat yang pinter memberi nasehat kepada bendaranya (tuannya). Batur (hamba) itu bukan penguasa.
Ketika Petruk menjadi raja, gaya dan polah hidupnya tidak sesuai, malah dipermalukan banyak orang.
Sabda Yesus itu tetap relevan bagi kita di zaman sekarang, “Barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.”
Lebih baik jadi Petruk yang sederhana
Daripada jadi Sengkuni patih yang jumawa
Berbagialah orang yang suci dan rendah hatinya
Hidupnya akan mulia selamanya
Cawas, desa yang indah nan menawan.
Rm. A. Joko Purwanto Pr