by editor | Aug 30, 2019 | Renungan
SUMATRI ingin melamar menjadi punggawa di Kerajaan Maespati. Dia diberi tiga syarat.
Pertama, melamar Dewi Citrawati untuk menjadi permaisuri Prabu Harjunasasrabahu, kedua mengalahkan seribu raja jajahan.
Dua syarat ini berhasil dijalani. Ia menjadi sombong dan ingin menjajagi kemampuan sang raja. Ia menantang perang. Terjadi perang tanding. Sumantri kalah.
Syarat ketiga memindahkan Taman Kahyangan ke Maespati. Ia tak punya daya. Adiknya, Sukrosono yang berwajah raksasa buruk rupa datang membantu.
Ia meninggalkan Sukrosono karena malu punya adik yang buruk sekali. Ia malu dan meremehkan adiknya yang buruk rupa itu.
Namun adiknya ini punya kemampuan linuwih. Ia berhasil memindahkan Taman Kahyangan ke Maespati.
Allah itu maha adil. Ia mengetahui berapa besar kemampuan kita masing-masing. Maka ada yang diberi lima talenta, dua talenta dan satu talenta.
Allah mengajak kita berproses. Tidak mungkin orang yang kemampuannya satu talenta langsung diberi sepuluh talenta.
Allah ingin agar kita berproses setapak demi setapak. Jika pada tahap awal kita berhasil, maka akan diberi tanggungjawab yang lebih besar.
Proses itu penting. Orang tidak boleh langsung melejit tinggi. Namun berproses sebagaimana kita bertumbuh, dari bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa dan menjadi orangtua.
Manusia saja yang kadang memandang Allah tidak adil. Mengapa saya hanya diberi kemampuan segini, sementara yang lain bisa lebih banyak? Mengapa saya tidak diberi talenta seperti orang itu?
Kacamata kita sering dilapisi sifat iri dan cemburu, sehingga menilai Allah tidak adil.
Allah maha mengetahui. Berapa kemampuan kita sudah diukur olehNya. Dia sudah memperhitungkan segalanya.
Seharusnya kita bersyukur dan bertanggungjawab. Bukan justru karena hanya mendapat talenta sedikit lalu tidak melipatgandakan.
Seperti hamba yang diberi satu talenta, dia menguburkan talentanya dan tidak mengembangkannya.
Seberapa pun talenta yang kita punya, wajib kita mengembangkan menjadi berlipat ganda. Disitulah letak tanggungjawab kita.
Allah tidak melihat jumlahnya. Ia menilai tanggungjawab kita. Yang diberi lima dan yang diberi satu sama-sama tanggungjawabnya.
Kalau yang diberi lima, namun tidak melipatgandakannya juga akan dihukum. Dia juga tidak akan diberi tanggungjawab yang lebih lagi.
Seberapa pun kita diberi talenta, itu adalah anugerah yang harus disyukuri.
Jangan kita selalu memandang ke atas, membandingkan dengan orang yang lebih. Tetapi selalu menunduklah ke bawah, mengaca dengan rendah hati.
Kalau kita berani mengaca ke bawah, kita melihat masih ada orang lain yang lebih susah daripada kita.
Cawas, di suatu seja di musim yag lalu
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Aug 30, 2019 | Renungan
BATARA Kresna bertapa tidur di Makambang. Kurawa dan Pandawa berlomba-lomba membangunkan Kresna. Mereka beranggapan siapapun yang ditemani Kresna akan menang perang Baratayuda.
Mereka berebut bisa memboyong Kresna. Doryudana dan Kurawanya tidak berhasil membangunkan. Arjuna berhasil membangunkan Kresna karena dia mengikuti nasehat Semar.
Pamong Pandawa itu menjelaskan bahwa Kresna sedang mejalani “laku ngrogoh sukma.” Untuk itu Arjuna juga diminta melakukan laku tapa yang sama. Doryudana iri karena Arjuna bisa membangunkan Kresna.
Ia dan wadyabalanya memaksa Kresna diboyong ke Hastina. Kresna akhirnya memutuskan mengadakan pemilihan bagi kedua belah pihak.
Doryudana disuruh memiliah antara satu orang Kresna atau seribu raja jajahan. Doryudana lebih memilih seribu raja untuk membantu Baratayuda.
Baladewa marah kepada Doryudana, “Kamu itu raja bodoh. Mengapa memilih seribu raja? Kresna itu Dewa Wisnu, Dewa Kehidupan. Siapapun yang didiami dewanya kehidupan akan mengalami kebahagiaan. Lha kenapa kok memilih seribu raja jajahan yang tidak berguna?”
Bacaan hari ini berkisah tetang sepuluh gadis. Lima yang bodoh dan lima lagi mereka yang bijaksana.
Gadis yang bodoh megira pengantin tidak akan datang pada tengah malam. Gadis yang bijaksana yakin bahwa pengatin bisa datang setiap saat. Mereka meyiapkan segala sesuatunya.
Ketika pengatin tiba-tiba datang, mereka yang bodoh tidak siap. Mereka tidak bisa masuk ke dalam pesta perjamuan nikah.
Perjamuan nikah itu adalah persekutuan manusia dengan Tuhan. Kapan pun Tuhan memanggil kita harus siap setiap saat.
Kita tidak tahu kapan saatnya. Maka kita harus bijaksana menyiapkannya. Kita harus membawa pelita yang selalu menyala.
Orang yang membawa pelita itu ibarat orang yang tekun, mendapat teken, pasti tekan. Tekun seperti gadis yang bijaksana itu teguh kukuh melaksaakan kewajibannya. Teken itu artinya pedoman.
Orang yang pegang teken adalah orang yang mendapatkan pedoman hidup. Setiap orang yang mengikuti pedoman hidup akan sampai (tekan) pada tujuannya.
Marilah kita tekun pada tugas panggilan kita masing-masing supaya kita sampai pada perjamuan nikah Sang Mempelai Agung.
Kita akan punya ibukota
Namanya Penajem Kutai Kertanegara
Marilah kita menjadi orang bijaksana
Yang selalu siap membawa pelita menyala
Cawas, suatu senja
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Aug 30, 2019 | Renungan
RESI Bisma diminta oleh Doryudana untuk maju menjadi senopati dalam perang Baratayuda. Bisma adalah kakek para Kurawa dan Pandawa.
Tak ada senapati Pandawa yang mampu mengalahkan Resi Bisma. Batara Kresna yang adalah titsan Dewa Wisnu tahu bahwa Bisma hanya bisa dikalahkan oleh senapati perempuan.
Maka Kresna minta Srikandi untuk maju berperang melawan Resi Bisma. Mengapa harus senapati perempuan? Waktu masih muda, sebelum menjadi resi atau pendita, Bisma bernama Dewabrata.
Dia pernah menolak cinta Dewi Ambika. Dewabrata tak mau mengingkari janji bahwa dia akan hidup selibat. Dewabrata marah, ia menakut-nakuti Ambika dengan anak panah.
Ternyata anak panah itu terlepas dan menembus dada Ambika. Sebelum ajal, Ambika bersumpah tidak akan naik ke surga jika tidak bergandengan dengan Dewabrata.
Ia akan menitis ke tubuh senapati perempuan dalam perang baratayuda.maka Srikandilah yang akan menembus dada Bisma dengan panahnya.
Dalam Injil hari ini, kematian Yohanes pembaptis ditentukan oleh seorang perempuan, yakni Herodias yang sakit hati karena diperingatkan oleh Yohanes supaya tidak menikah dengan Herodes.
Perempuan yang sakit hati tak bisa dihentikan dengan apapun.herodian memendam sakit hatinya sampai saatnya tiba. Ketika anaknya menyukakan hati Sang Raja, dia diberi janji permintaannya akan dipenuhi.
Anak itu oleh bisikan dendam ibunya meminta kepala Yohanes Pembaptis. Raja Herodes malu mencabut janjinya. Dia memerintahkan prajurit untuk memenggal kepada Yohanes pembaptis di penjara.
Seorang nabi berani mati membela kebenaran. Yohanes mengorbankan nyawanya karena berani mengingatkan raja yang bertindak salah. Pembela kebenaran tidak takut mati.K
ematian itu adalah mahkota perjuangannya. Yohanes menjadi martir karena ia konsisten pada perjuangannya. Sekali berjuang demi kebenaran, Yohanes tidak mundur.
Beranikah kita konsisten pada perjuangan membela kebenaran dan keadilan kendati kesulitan menyongsong kita? Itulah salib kita.
Naik kereta ke Jakarta turun di Gambir
Tersesat sampai Serang, emang sudah nasib.
Santo Yohanes Pembaptis yang martir
Doakanlah kami mampu memanggul salib
Cawas, suatu senja
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Aug 30, 2019 | Renungan
DUNIA ini panggung sandiwara. Ceritanya mudah berubah
Kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani. Setiap kita dapat satu peranan
Yang harus kita mainkan.
Ada peran wajar ada peran berpura pura
Mengapa kita bersandiwara. Mengapa kita bersandiwara
Itulah sepenggal syair lagu milik Ahmad Albar yang masih populer sampai sekarang.
Dunia ini adalah panggung sandiwara yang menampilkan banyak peran kemunafikan dan kejujuran, suka duka, sedih dan bahagia, tangis dan tawa, gagal dan sukses.
Banyak sekali topeng-topeng peran yang kita mainkan. Peran kemunafikan lebih banyak naik panggung kehidupan. Cerita atau kisah hidup manusia mudah sekali berubah.
Melihat realitas hidup di tengah masyarakatnya sendiri, Yesus mengecam perbuatan kemunafikan orang Farisi dan ahli kitab.
Mereka digambarkan seperti kuburan yang dilabur putih. Sebelah luarnya memang tampak bersih, tetapi sebelah dalamnya penuh tulang belulang da pelbagai jenis kotoran.
Misalnya di balik gemerlapnya artis-artis papan atas, ternyata pecandu narkotika. Di balik kehidupan yang glamour para selebriti ternyata tersembunyi perilaku menyimpang dan amoral.
Orang mempertontonkan sikap dermawan, rasa sosial yang tinggi, ternyata hasil korupsi. Dunia ini memang panggung sandiwara.
Akhirnya benar kata-kata ini, “Becik ketitik, ala ketara. Wong sing ndhisiki tumindak ala bakal sirna ing tembe mburine.”
Artinya, orang benar akan terpapar, orang jahat akan sekarat pada akhirnya. Setiap sandiwara kehidupan akan terkuak pada saatnya. Tidak akan ada barang atau perbuatan yang tersembunyi.
Yesus mengajakan kepada kita, “Bersihkanlah lebih dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih.”
Bongkarlah kuburan sebelah dalamnya maka nanti luarnya juga akan dibersihkan. Itu berarti bertobatlah mulai dari dalam diri sendiri lebih dahulu.
Hilangkanlah kemunafikan dari hatimu, maka akan muncul sikap ketulusan dan kejujuran. Berani hidup menjadi diri sendiri dan apa adanya.
Itu tidak mudah. Tetapi lebih baik mulai dari sekarang daripada kita terlambat.
Beyes itu anaknya buaya
Kalau bulus itu mirip kura-kura
Lebih baik hidup apa adanya
Daripada memakai topeng yang pura-pura
Cawas, suatu senja
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Aug 30, 2019 | Renungan
Di suatu persidangan, Hakim itu mengejutkan semua orang yang hadir di ruang sidang. Beliau membebaskan terdakwa kemudian meninggalkan tempat duduknya lalu turun untuk mencium tangan terdakwa.
Terdakwa yang seorang guru SD itu juga terkejut dengan tindakan hakim. Namun sebelum berlarut-larut, sang hakim mengatakan, “Inilah balasan yang harus kulakukan sebagai rasa terima kasihku kepadamu, Guru.”
Rupanya, terdakwa itu adalah gurunya sewaktu SD dan hingga kini ia masih mengajar di SD. Ia menjadi terdakwa setelah dilaporkan oleh salah seorang wali murid, gara-gara ia memukul salah seorang siswanya.
Ia tak lagi mengenali muridnya itu, namun sang hakim tahu persis bahwa pria tua yang duduk di kursi pesakitan itu adalah gurunya.
Yesus mengecam ahli-ahli Taurat dan orang Farisi karena mereka mempraktekkan aturan secara buta. Hukum adalah hukum. Di dalam hukum ada esensi penting yang tidak boleh diabaikan yakni keadilan, belas kasih dan kesetiaan.
Yang satu harus dilakukan, tetapi yang lain jangan diabaikan. Itulah pesan Yesus. Keadilan dan belas kasih adalah dua hal mendasar dalam penerapan hukum.
Orang Farisi dan ahli-ahli kitab itu lebih menekankan hukum secara buta. Mereka bahkan tega menindas orang lain demi terlaksananya hukum.
Hakim itu tahu kalau guru memukul muridnya itu bukan karena benci, dendam atau mau melukai. Dia justru sayang kepada muridnya.
Itu adalah bagian dari proses pengajaran agar anak didiknya mempunyai akhlak yang luhur dan moral yang baik. Hakim itu justru berterimakasih karena pernah dipukul waktu belajar.
Kalau tidak diajar demikian, ia tidak akan menjadi hakim seperti sekarang ini. Jangan disalahkan kalau anak-anak sekarang tidak tahu sopan santun, tidak bisa menghargai orang tua, berani melawan, tidak tahu terimakasih.
Ini semua karena hukum diterapkan secara buta, tanpa melihat rasa keadilan dan belas kasih. Guru takut dilaporkan wali murid karena dianggap melanggar HAM.
Murid salah dibiarkan saja. Akhlak anak hancur karena takut melanggar hukum. Agama seharusnya lebih menekankan kasih sayang dan keadilan. Ia harus membebaskan orang dari rasa takut.
Yesus mengajak kita untuk mengerti esensi hukum. Jangan hanya melaksanakan hukum secara buta.
Raja Dangdut adalah A. Rafik
Ada gadis cantik matanya melirik
Jadi orang tidak usah munafik
Banyak omong perilakunya tidak baik
Cawas, suatu senja
Rm. A. Joko Purwanto Pr