by editor | Jun 4, 2019 | Renungan
BONIFACIUS berasal dari Bahasa Latin, Bonum artinya baik. Facere berarti memandang, melihat, menyatakan atau mewujudkan.
Nama itu bisa diartikan orang yang melihat segala sesuatu itu baik, melaksanakan hal-hal yang baik, atau orang yang positif thinking.
Santo Bonifasius adalah Uskup kelahiran Inggris yang ditugaskan menjadi misionaris di Jerman. Ia melihat bahwa tugas yang diembannya berasal dari Tuhan, maka ia melihat itu hal yang paling baik untuk dilaksanakan.
Kendati tugasnya di Jerman sangat berat tetapi Bonifasius menjalankannya dengan sukacita karena yakin Tuhan yang menghendaki.
Dalam bacaan Injil hari ini Yesus menjelaskan kepada para muridNya bahwa mereka bukan dari dunia, sama seperti Yesus bukan berasal dari dunia. Karenanya dunia membenci mereka.
Kita diingatkan bahwa kewargaan kita adalah dari surga, bukan dari dunia ini. Kenyataan bahwa kita bukan dari dunia dapat dilihat kalau kita meniru atau meneladan Yesus yang melakukan karya-karya Allah.
Hal-hal luhur dan bermartabat tinggi menunjukkan bahwa itu berasal dari Allah. Sebaliknya kalau kita melakukan hal-hal yang bermartabat rendah menunjukkan bahwa perbuatan itu berasal dari dunia. Perbuatan-perbuatan terang berasal dari Allah sedangkan perbuatan kegelapan berasal dari dunia.
Yesus selalu mendoakan murid-muridNya agar mereka dipelihara Bapa dalam Nama Yesus.
Pemeliharaan Tuhan itu penting supaya mereka tetap setia dan tekun melaksanakan perbuatan-perbuatan baik yang berasal dari Allah. Dengan demikian mereka adalah saksi-saksi kebaikan Allah.
Sebagaimana Santo Bonifasius yang membela iman menjadi martir di Jerman, ia melakukan kebaikan seperti arti namanya. Ia setia kepada Yesus yang memanggilnya.
Marilah meneladan Santo Bonifasius yang berani melakukan kebaikan dan kebenaran demi membela imannya. Kita pun bisa menjadi saksi-saksi kebaikan dan kebenaran di era kita sekarang.
Memancing ikan di pinggir kali
Kalinya banjir meluap kemana-mana
Santo Bonifasius doakanlah kami
Menjadi saksi Kristus di tengah dunia
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jun 4, 2019 | Renungan
DALAM tradisi pemberangkatan jenasah ada upacara yang disebut “susupan”. Peti jenasah dipanggul beberapa orang, lalu semua anggota keluarga menyusup di bawah peti jenasah.
Mereka berjalan berkeliling selama tiga kali. Maksud dari upacara itu adalah menghormati yang telah meninggal, meneladan hidupnya, meneruskan cita-citanya.
Ada pepatah bijak yang digemakan demi bakti kepada orangtua yakni “Mikul dhuwur mendhem jero” artinya memikul setinggi mungkin dan mengubur sedalam-dalamnya.
Seorang anak harus bisa menjaga nama baik keluarga. Ia harus menjunjung tinggi martabat keluarganya dan menyimpan sedalam-dalamnya kekurangan yang ada.
Menjaga nama baik dan martabat keluarga itulah yang sering dinasehatkan orangtua kepada anak-anaknya. Jika anak hidup dengan baik, maka ia menjaga martabat keluarga.
Sebaliknya jika hidup moralnya tercela, ia mencoreng nama baik keluarganya.
Yesus berkata kepada Bapanya, “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepadaKu untuk Kulakukan. Segala firman yang Engkau sampaikan kepadaKu telah Kusampaikan kepada mereka, dan mereka telah menerimanya”.
Kematian Yesus adalah wujud dari kesetiaanNya melaksanakan kehendak Bapa. Ia telah menjunjung martabat Bapa dengan sabda dan karyaNya di dunia.
SabdaNya sungguh berasal dari Bapa. KaryaNya sungguh adalah kehendak BapaNya. Seluruh tindakan Yesus itu adalah wujud dari “Mikul dhuwur mendhem jero”.
Yesus juga berdoa bagi orang-orang yang percaya kepadaNya. “Bukan untuk dunia Aku berdoa, tetapi untuk mereka yang telah Engkau berikan kepadaKu, sebab mereka adalah milikMu, dan segala milikMu adalah milikKu, dan milikKu adalah milikMu, dan Aku telah dipermuliakan dalam mereka”.
Kita juga diajak mempermuliakan Allah dalam hidup kita. Apa yang kita lakukan adalah wujud dari melaksanakan kehendakNya.
Tingkah laku, tutur kata, pilihan hidup, pekerjaan dan cara kita memperlakukan orang, semoga menggambarkan iman kita akan kasih Yesus.
Demikianlah orang lain akan melihat Yesus yang hidup dalam diri kita. Dengan begitu kita mewujudkan semangat “mikul dhuwur mendhem jero”.
Mata melirik melihat gadis cantik
Kalau tertawa giginya tinggal tiga
Teruslah selalu menjaga nama baik
Martabat keluarga ada di tangan kita
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jun 2, 2019 | Renungan
PENGALAMAN dibuang selama 12 tahun di tengah hutan oleh para Kurawa tidak menghancurkan semangat hidup Putra-putra Pandu.
Dengan licik para Kurawa memenangkan permainan dadu. Namun dalam pengasingan di hutan itu, mereka semakin bersatu, rendah hati dan bijak.
Kurawa ingin mencerai-beraikan mereka, namun justru Pandawa kompak bersatu. Kurawa ingin menghancurkan mereka, tetapi justru mereka makin kuat.
Ketika ditanya oleh Kresna, bagaimana rasa cinta Drupadi kepada suaminya, Drupadi menjawab, “Kakang Prabu, cinta saya kepada suami semakin mendarah-daging, bukan karena harta ataupun tahta tetapi karena kepribadian Puntadewa yang makin bijaksana. Kesetiaan saya hanya untuk suami yang dianugerahkan Hyang Widi selamanya”.
Kesatuan Pandawa lima tak bisa dihancurkan oleh penderitaan. Justru lewat penderitaan itu mereka ditempa menjadi pribadi yang kuat, sabar, rendah hati dan bijaksana.
Yesus menubuatkan kepada para muridnya, “Lihat, saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu diceraiberaikan, masing-masing ke tempatnya sendiri dan kamu meninggalkan Aku seorang diri. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku”.
Sejarah sudah mencatat bagaimana Gereja dan para pengikutnya dirongrong untuk dicerai- beraikan. Namun berkat iman akan Kristus yang bangkit, para murid tetap setia walau banyak penderitaan.
Betapa gentar para murid menghadapi penyaliban Yesus. Mereka meninggalkan Yesus memanggul salib sendiri. Namun Yesus yang bangkit menyatukan mereka.
Roh Kudus dijanjikan untuk menguatkan mereka menjadi saksi. Penderitaan justru memurnikan cinta yang tertanam di hati.
Yesus menguatkan para muridNya, “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia”.
Sabda ini meneguhkan murid-murid untuk tidak takut menghadapi penderitaan. Yesus akan menyertai sampai akhir jaman.
Santo Karolus Lwanga dan kawan-kawan tetap berani dan tak gentar menghadapi penderitaan. Mereka dibunuh karena iman akan Yesus yang telah bangkit.
Mereka yakin Yesus adalah juru selamat yang akan menyertai sampai kehidupan kekal. Penganiayaan dan penderitaan tidak menyurutkan iman Karolus dan kawan-kawannya.
Marilah kita tetap setia kendati derita dan pencobaan harus kita terima. Disitulah iman kita diuji.
Selamat jalan Romo Djono dan Ibu Ani
Semoga damai abadi di surga
Beriman kepada Yesus harus berani
Karena Dia telah mengalahkan dunia
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | Jun 1, 2019 | Renungan
“Sira Gajah Mada patih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: “Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa”.
Artinya, Dia Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, “Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa”.
Dalam kitab Pararaton itu diceritakan bagaimana Gajahmada yang diangkat menjadi mahapatih Majapahit mengangkat sumpah tidak akan lepas puasa atau mukti wibawa jika belum menyatukan Nusantara.
Dia berpuasa dan terus berusaha menyatukan Nusantara di bawah Panji Majapahit. Dia tidak akan hidup tentaram damai jika belum berhasil menyatukan Nusantara dalam Panji gula kelapa (Merah Putih).
Dalam Injil hari ini, Yesus menengadah dan berdoa, “Bapa yang kudus, bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang yang percaya kepadaKu oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua mejadi satu, sama seperti Engkau ya Bapa, ada di dalam Aku, dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga ada di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku”.
Yesus tidak haya berdoa bagi murid-muridNya, tetapi juga semua orang yang percaya kepadaNya oleh pewartaan mereka.
Yesus ingin kita bersatu dengan Bapa di dalam namaNya. Yesus ingin kita bersatu menjadi satu kawanan dalam kerajaanNya. Kematian Yesus ibarat sumpah Palapa Gajahmada.
Yesus ingin, “dimana pun Aku berada mereka juga berada bersama-sama dengan Aku”. Persatuan dan kesatuan dengan Allah itulah yang diperjuangkan Yesus sampai mati.
Kita diajak untuk bersatu rukun di dalam kawananNya, di masyarakat. Sebagaimana kita juga berjuang menyatukan Indonesia dengan Pancasila sebagai ideologi bersama.
Marilah kita terus berjuang rukun bersatu, menjadi satu kawanan, menjadi satu kewargaan Indonesia. Pada hari lahirnya Pancasila ini, marilah kita gemakan persatuan Indonesia.
Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa kita
Tanah air pasti jaya untuk selama-lamanya.
Hidup Pancasila,
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
by editor | May 31, 2019 | Renungan
PADA JAMAN dahulu hiduplah seorang pemuda yang ingin kaya. Maka dia berdoa dan meminta kepada Dewi Laksmi, Dewi kekayaan.
Selama sepuluh tahun dia terus berdoa, tetapi tidak pernah dikabulkan. Akhirnya dia memperoleh pencerahan bahwa kekayaan itu menipu pikiran.
Ia memilih hidup sebagai pertapa di pegunungan Himalaya. Ia bermeditasi dengan takzimnya, dan pada suatu hari, dalam meditasinya, ia didatangi seorang wanita yang sangat cantik gilang gemilang rupawan.
“Siapakah engkau dan sedang apa kau di sini? Katanya. “Aku ini Dewi Laksmi yang kau puja dalam nyanyian selama bertahun-tahun. Aku ingin mengabulkan permintaanmu” kata wanita itu.
“Ah Sang Dewi, aku kini sudah medapat berkat dari meditasiku dan kehilangan keinginan untuk kekayaan. Engkau datang terlambat, kenapa engkau tidak datang dan memenuhi permintaanku dulu-dulu?”
“Untuk berkata kepadamu sebenarnya,” jawab sang dewi, “Jika ingat akan sifat upacara yang kaulakukan begitu setia, engkau sepenuhnya pantas menjadi kaya.Tetapi, karena cintaku kepadamu dan keinginanku akan kesejahteraanmu, maka kutahan dulu.”
Jika anda boleh pilih, maka yang anda utamakan pengabulan permohonan anda atau rahmat tetap berdamai entah doa dikabulkan atau tidak? (Doa Sang Katak 1)
Yesus bersabda, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikanNya kepadamu dalam namaKu. Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam namaKu. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu”.
Sabda Yesus itu sungguh menguatkan kita. Dia berjanji akan mengabulkan permintaan kita. Selama ini mungkin doa-doa kita belum terkabulkan.
Kita harus kembali bertanya, apakah doa-doa kita itu memang sesuai dengan kehendakNya, ataukah hanya untuk egoisme kita sendiri.
Bisa jadi permintaan kita itu sesuatu yang tidak tepat dalam pandangan Allah. Si pertapa itu minta kekayaan, namun setelah sadar bahwa kekayaan itu hanya tipuan, ia tidak memintanya lagi.
Justru ketika dia menemukan kedamaian dalam doanya, ia tetap ingin hidup damai tanpa kekayaan.
Kita disuruh meminta kepada Bapa dalam nama Yesus. Dikabulkan atau tidak, itu kehendak Dia yang akan memberi. Dia lebih tahu kebutuhan kita sesungguhnya.
Bukan kehendak kita yang harus terpenuhi, tetapi kehendakNyalah yang pasti akan memberi kepenuhan dalam hidup kita. Kita tetap harus minta, seperti pertapa yang tentram dalam doanya, supaya Allah meneguhkan doa kita.
Mancing ikan hanya dapat tenggiri. Ikan yang lain semua pada lari.
Jangan berdoa hanya untuk kepentingan sendiri. Pasti Tuhan akan menepati janji.
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwwanto Pr