by editor | Aug 3, 2020 | Renungan
KARENA virus corona yang menyebar kemana-mana, kini membasuh tangan menjadi aturan wajib dilakukan dimana-mana. Selain pakai masker dan jaga jarak, orang harus sesering mungkin mencuci tangan. Ini dilakukan demi kesehatan.
Dahulu kala membasuh tangan sudah biasa dilakukan karena itu adalah aturan hidup dan ibadah. Cuci tangan bukan soal higienis tetapi sudah menjadi ritual keagamaan untuk mencucikan diri. Tidak mencuci tangan berarti najis. Seperti halnya kalau orang mau berdoa harus mencuci anggota badan supaya suci bersih. Kebersihan dan kesucian dituntut bagi orang yang beribadah kepada Allah. Dalam Kitab Talmud Yahudi bahkan dikatakan orang yang tidak mencuci tangan sebelum makan disamakan dengan orang yang berzinah dengan pelacur.
Membasuh tangan juga menjadi tanda “tidak bersalah” (Ulangan 21.6). Hal ini juga dibuat oleh Pontius Pilatus yang merasa tidak bersalah dengan kematian Yesus. Ia membasuh tangannya di tengah orang banyak. Dalam tradisi Yahudi, pembasuhan tangan tidak sekedar untuk kesehatan (higienis) tetapi sudah menjadi ritual aturan yang mengikat perilaku orang.
Dari dasar tersebut, orang-orang Farisi mempersoalkan kepada Tuhan Yesus Kristus, mereka mempertanyakan murid-murid-Nya yang melangkahi tradisi orang-orang Yahudi dengan tidak mencuci tangan mereka sebelum makan. Yang dimaksudkan bukanlah pencucian tangan biasa dengan tujuan higienis melainkan sesuatu yang bersifat ritual. Sebab, orang-orang Farisi dan semua orang Yahudi tidak makan sebelum mencuci tangan mereka sampai ke siku.
Pandangan Yesus berbeda dengan orang Farisi. “Dengarkan dan camkanlah, bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.” Bukan tindakan lahiriah atau yang nampak dari luar yang bisa menajiskan orang, tetapi apa yang keluar dari seseorang itulah yang menajiskannya. Pikiran kotor, niat jahat, tutur kata yang buruk dan perilaku yang tidak baik kepada sesama itulah yang bisa menajiskan orang. Bukan karena tidak cuci tangan, basuh kaki, cuci muka lalu orang jadi najis.
Ibarat orang buta membimbing orang buta, Orang Farisi merasa paling benar. Maka mereka memprotes murid-murid Yesus yang tidak melakukan adat hukum Taurat. Padahal mereka sendiri hanya bisa mengajarkan tidak mau melaksanakannya.
Orang datang memberi kwitansi.
Kita sepakat tanda sudah jadi.
Jadi orang jangan senang menghakimi.
Nanti kamu hanya meniru orang Farisi.
Cawas, pelajaran matematika…
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
by editor | Aug 2, 2020 | Renungan
BEBERAPA kali mengadakan perjalanan lewat air sungguh menyenangkan. Tetapi tidak demikian ketika mengadakan perjalanan mau ikut SAGKI di Jakarta. Satu-satunya jalan yang bisa ditempuh adalah lewat laut sebelum mencapai Pontianak.
Penerbangan Ketapang-Pontianak tidak ada karena kabut asap tebal. Lewat jalan darat membutuhkan waktu yang panjang. Kami terpaksa mengambil jalan lewat laut dengan naik speedboat dari Sukadana ke Pontianak.
Kursi di dalam speedboat penuh sesak. Barang-barang juga menumpuk penuh di atapnya. Mendung tebal tanda akan hujan. Cuaca sedang tidak bersahabat.
Tidak ada pilihan lain. Mesin speedboat itu mulai meraung-raung menembus gelombang tinggi. Hujan, mendung gelap, gelombang menggoncang membuat miris juga. Kami semua diam tepekur, tidak ada yang bersuara.
Kadang terlihat garis pantai. Tetapi kadang hilang karena tingginya gelombang. Kami dihempaskan. Perjalanan terasa lama sekali. Waktu itu aku sudah pasrah. Jika harus mati, semoga masih bisa ditemukan terdampar di pinggir pantai.
Semua penumpang “ndremimil” berdoa mohon keselamatan. Saya tidak lepaskan rosario di jari saya. Kami sampai di Batuampar. Gelombang masih tinggi, tetapi hujan mereda. Kami baru tenang ketika sudah masuk ke muara Kapuas. Gedung-gedung menjulang sudah kelihatan. Itulah Pontianak.
Para murid naik perahu diterjang angin sakal. Mereka diombang-ambingkan gelombang. Gelap gulita di tengah malam, perahu mereka dihempaskan angin kencang. Mereka sangat ketakutan.
Yesus tiba-tiba datang berjalan di atas air. Mereka mengira melihat hantu. Rasa takut membutakan hati mereka. Yesus berkata, “Tenanglah, Akulah ini, jangan takut.”
Petrus masih tidak percaya.Ia ingin membuktikan bahwa itu adalah Tuhan. Ia ingin mendekat dan berjalan di atas air. Yesus memanggilnya. Tetapi karena angin kencang, Petrus takut dan tenggelam. Yesus menarik tangannya dan berkata, “Orang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”
Yesus masuk di dalam perahu mereka dan seketika itu juga redalah angin dan gelombang. Mereka aman karena Yesus ada di tengah-tengah mereka. Murid-murid mengakui Yesus sungguh Anak Allah.
Kita ini seperti orang yang naik perahu menempuh samudera kehidupan. Kadang ada badai dan prahara dalam hidup. Kadang ada gelombang dalam keluarga. Kita diminta untuk mengundang Tuhan dalam biduk kita.
Kalau mengandalkan diri sendiri kita tidak akan mampu. Tetapi jika Tuhan ada di dalam perahu kita, pasti aman. Jangan pernah meninggalkan Tuhan supaya biduk kita aman dan tenteram.
Senja telah datang.
Bulan Purnama bersinar temaram.
Jika kita bersama Tuhan.
Hidup kita akan aman tenteram.
Cawas, purnama penuh harap….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
by editor | Aug 1, 2020 | Renungan
“Didi Kempot”
CORONA sungguh menghancurkan sendi-sendi kehidupan banyak orang. perekonomian lumpuh, banyak pengangguran, pariwisata, sekolah, tempat ibadah ditutup. Korban berjatuhan tidak hanya orang awam, tenaga medis, dokter banyak yang meninggal.
Penderitaan dan beban hidup mencekik semua. Tergerak oleh kesusahan banyak orang, prihatin dengan suasana mudik menjelang hari raya Idul Fitri tiba, Didi Kempot membuat konser amal dari rumah tanggal 11 April 2020 yang lalu.
Didi Kempot mengajak Sobat Ambyar dan banyak orang untuk berbagi dalam kesusahan karena virus corona.
Antusias penonton luar biasa. Dalam waktu dua jam sudah langsung terkumpul 4 milyar rupiah. Didi Kempot membagun rasa solidaritas warga.
Di running text KompasTV ada yang menyumbang sepuluh ribu rupiah, duapuluh ribu, limapuluh ribu. Mereka adalah kaum kecil yang senang berempati dan tergerak hati untuk menolong.
Konser ditutup pukul 22.26 wib. Donasi yang terkumpul sebesar 5.3 milyar rupiah. Ini adalah warisan fenomenal seorang Didi Kempot. Tidak lama setelah itu, kita semua dibuat ambyar atas kepergiannya yang mendadak.
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berbelarasa dengan orang banyak yang mengikuti-Nya. Lima ribu fans menyertai-Nya, belum wanita dan anak-anak. Mereka kelaparan.
Kata Yesus, “Kamu harus memberi mereka makan.” Para murid mau lari cuci tangan, tidak mau bertanggungjawab untuk menolong mereka. “Suruhlah orang banyak itu pergi.” Mungkin kita juga begitu. Kalau ada masalah, kita lepas tangan dan tak mau direpotkan.
Tidak dengan Yesus. Dia tergerak hati oleh belas kasihan melihat kesusahan mereka. “Tidak perlu mereka pergi.” Tetapi para murid masih mencari-cari alasan untuk menghindar.
Mereka masih mengeluh dengan kekurangan. “Pada kami hanya ada lima roti dan dua ikan.” Mengeluh atas kekurangan itu paling mudah. Tetapi tidak menyelesaikan masalah. Yesus mengambil inisiatif. “Bawalah kemari.”
Ia mengucapkan doa syukur dan membagi-bagikan lima roti dan dua ikan itu kepada para murid untuk dibagikan kepada orang banyak. Bahkan kemudian sisa dua belas bakul. Kalau kita mengeluh, beban itu makin berat.
Tetapi kalau kita mau bersyukur, selalu ada jalan dan hidup menjadi penuh berkah. Ketika hidup disyukuri, terbuka lebar jalan dari Allah. Ketika mau berbagi, pertolongan datang tak terduga.
Didi Kempot mempraktekkan ajaran lima roti dua ikan. Bagi orang beriman Katolik, lima ditambah dua bukan tujuh, tetapi limaribu dan duabelas bakul. Hidup itu harus disyukuri selalu. Lalu akan muncul anugerah berlimpah.
Jalan pagi dengar suara burung tekukur.
Tetap jaga jarak dan rajin cuci tangan.
Seberat apa pun hidup tetap ada syukur.
Jangan pernah mengeluh, Tuhan beri jalan.
Cawas, menunggu jadwal kuliah….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
by editor | Jul 31, 2020 | Renungan
“Sabda Pandita Ratu”
PERANG Baratayuda itu bukan sembarang perang. Ini adalah perang suci. Perang antara kebaikan dan kejahatan. Ini adalah tempat orang menegakkan keadilan dan kebenaran.
Perang ini diibaratkan sebagai kesempatan orang hutang harus melunasi, orang pinjam harus mengembalikan, orang bersumpah atau kaul harus memenuhinya.
Seperti Bisma yang bersumpah akan mati dalam baratayuda jika ada senopati perempuan titisan Dewi Amba, kekasihnya, yakni Srikandi.
Sengkuni mati dirobek-robek kulitnya oleh Bima. Hal ini terjadi karena Sengkuni pernah menghina Kresna yang sedang tapa semedi dengan melempar kulit pisang.
Duryudana mati dipukul gada oleh Bima. Hal ini melunasi perkataan Resi Meitreya yang tidak berdosa namun dibunuh Duryudana. Drupadi memenuhi kaulnya; tidak akan keramas jika tidak memakai darah Dursasana.
Dulu dengan garang Dursasana pernah “njambak dan ngudhal-udhal” rambut Drupadi. Dia tidak akan memakai kutang kalau tidak pakai kulit sengkuni. Dia dipermalukan Sengkuni di depan umum.
Dengan penuh birahi Sengkuni berusaha melepaskan kain penutup tubuh Drupadi kala permainan dadu. Drupadi bersumpah atas kematian mereka yang mempermalukannya. “Sapa nandur bakal ngundhuh” artinya siapa menabur bakal menuai.
Herodes mengalami ketakutan yang traumatik ketika mendengar kabar tentang kemunculan Yesus. Ia menduga bahwa Yohanes Pembaptis telah hidup kembali. Dalam pesta meriah di istana, putri Herodias menari dan membuat semua hadirin berdecak kagum.
Herodes bersumpah akan memberikan apa saja yang diminta putrinya. Ibunya menaruh dendam kesumat kepada Yohanes pembaptis karena mencela perkawinannya. Kesempatan itu tiba. Ia menyuruh putrinya minta kepala Yohanes Pembaptis dipenggal dan ditaruh di atas talam.
Sumpah yang sudah diucapkan tidak bisa dibatalkan. “Sabda pandita ratu tan kena wola-wali” artinya titah atau sabda raja dan ulama/pandita sekali jadi, tak boleh berubah-ubah.
Yohanes menjadi korban kekejian raja yang tidak bijaksana. Ia malu mencabut sumpahnya dan memilih Yohanes dikorbankan. Hati-hati kalau kita terlalu bahagia sampai lupa diri. Kita tidak mampu mengontrol ucapan dan tindakan kita.
Seperti Herodes, ia tidak peduli mengorbankan orang benar. Seperti para Kurawa yang mabuk kemenangan, mereka lupa etika, tatakrama. Mereka lupa diri dan jatuh pada tindak kekejian.
Herodes juga lupa diri sampai tega mengorbankan nyawa orang lain. Kita diingatkan, “sapa nandur bakal ngundhuh.” (siapa yang menanam, dia akan menuai).
Hari ini potong sapi dan lembu.
Merayakan hari Idul Adha.
Hati-hati dengan ucapanmu.
Suatu saat akan terwujud nyata.
Cawas, jaga jarak…..
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
by editor | Jul 30, 2020 | Renungan
“Jangan Tidak Percaya Dulu”
ADA orang “pintar” di kampung sebelah desa. Orang dari luar sering datang ke rumahnya. Mereka justru datang dari tempat yang jauh-jauh. Mereka datang ke situ untuk minta penyembuhan, minta nasehat, minta diberi lancar usahanya, minta dapat jodoh atau lulus test PNS.
Bagi banyak orang dari luar, bapak itu terkenal sebagai orang pintar atau dukun. Mereka datang dengan membawa kembang tiga warna. Ada yang diselipi dengan sebungkus rokok kretek. Pasti juga ada uangnya entah banyak atau sedikit, sebagai ucapan terimakasih.
Tetapi tetangga-tetangga di desa itu memandang bapak itu sebagai orang biasa saja. Orang kampung tidak percaya dia sebagai orang “pintar.” Mereka sering bertemu di sawah.
Sehari-hari tidak menunjukkan sebagai orang yang punya “aji linuwih.” Tetapi tamu-tamunya justru banyak dari tempat yang jauh, bahkan ada yang naik mobik bagus.
Di Kapernaum dan di kota-kota lain,Yesus dikenal sebagai Guru yang berkuasa. Mereka menyebut-Nya juga sebagai nabi, bahkan Mesias yang dijanjikan Tuhan. Yesus banyak membuat mukjijat di mana-mana.
Orang banyak berbondong-bondong datang untuk mendengarkan ajaran-Nya. Mereka yang sakit ingin disembuhkan. Bahkan ada anak yang mati dibangkitkan. Orang dari mana-mana mempercayai Yesus sebagai “orang pintar.”
Tetapi ketika Dia pulang ke Nasaret tempat asal-Nya, orang-orang hanya takjub dan heran atas kuasa-Nya itu. “Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu?”
Orang-orang mengagumi, tetapi mereka tidak menerima-Nya. Karena mereka tahu siapa Yesus dan keluarga serta saudara-saudara-Nya. Mereka kecewa dan menolak-Nya.
Sepenggal lirik Lagu Ebiet G Ade berjudul Kalian Dengarkan Keluahanku ini menggambarkan situasi orang yang ditolak dimana-mana. “Tetapi nampaknya semua mata memandangku curiga. Seakan hendak telanjangi dan kuliti jiwaku.”
Yesus ditolak di kampung-Nya sendiri. Penolakan ini menutup karya-karya besar Yesus. Dia tidak membuat mukjijat apa pun di Nasaret. Barangkali kita tidak sampai menolak Yesus, namun hanya sampai kagum saja.
Kita hanya kagum, tetapi belum sampai percaya. Orang yang percaya berani menggantungkan hidup sepenuhnya dan rela berkorban apa pun yang dituntut-Nya.
Ketika dituntut untuk total mengikuti-Nya, tapi kita malah mundur teratur. Disitulah kita baru sampai level kagum pada-Nya. Kalau kita mau percaya, kita akan melihat pengalaman-pengalaman luar biasa dengan-Nya.
Mau anggrek atau aglonema.
Tinggal ambil di taman bunga.
Buka hatimu untuk percaya.
Rahmat Tuhan akan datang segera.
Cawas, ndolani simbah….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr