by editor | Jul 29, 2020 | Renungan
ACARA nuba adat di kampung selalu ramai diikuti banyak orang. Seluruh warga kampung turun ke sungai. Bahkan tetangga-tetangga kampung juga ada yang ikut. Riuh rendah suasana memburu ikan di sungai.
Acara misa hari minggu bisa kalah dengan acara nuba. Orang tidak pergi ke gereja tetapi pergi ke sungai. Ada yang membawa tombak, bubu, jaring, jala, karung. Ikan-ikan di sungai akan “mabuk” karena racun tuba, yakni akar batang tuba yang ditumbuk beramai-ramai sehingga mengeluarkan racun.
Racun tuba itu dihanyutkan ke sungai sehingga ikan-ikan akan muncul ke permukaan karena pusing. Orang tinggal menangkap dengan jaring atau jala atau tombak seperti trisula. Ikan-ikan kemudian dipilih. Yang baik, besar dibawa pulang dengan karung. Yang kecil dan buruk dibuang.
Dalam bacaan hari ini, Yesus memberi perumpamaan kepada orang banyak, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan pelbagai jenis ikan. Setelah penuh, pukat itu ditarik orang ke pantai. Lalu mereka duduk dan dipilihlah ikan-ikan itu, ikan yang baik dikumpulkan di dalam pasu, yang buruk dibuang.”
Pada akhir zaman, Tuhan akan memisahkan orang jahat dari orang benar. Seperti ikan-ikan yang buruk itu dibuang, demikianlah orang-orang jahat akan dicampakkan ke dalam dapur api. Demikianlah kita akan menghadapi pengadilan terakhir pada akhir zaman.
Tidak ada manusia yang sempurna. Tetapi manusia juga berusaha mencapai kesempurnaan. Bagaimana usaha itu pada akhirnya, Tuhan akan menentukan. Saya sendiri percaya bahwa kasih Tuhan lebih besar daripada ketidak-sempurnaan kita.
Allah adalah kasih. Jika bapa yang jahat saja bisa memberi yang baik untuk anak-anaknya, betapa Bapa kita yang di surga.
Kasih dan pengampunan Allah tidak membuat kita semaunya saja. Kita tetap harus berusaha hidup dengan benar. Hidup yang benar tidak akan merugikan kita.
Kebenaran akan mendatangkan keselamatan, damai sejahtera, ketentraman, harmoni dalam kebersamaan. Marilah menjalani hidup kita dengan benar.
Naik turun bukit menyusuri lembah.
Menikmati hamparan hijau sawah.
Menjalani hidup itu tidak mudah.
Berusahalah agar bisa menjadi berkah.
Cawas, nggarap sawah….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
by editor | Jul 29, 2020 | Renungan
“Srikandi”
PUTERI Prabu Drupada dari Pancala ini dikenal “canthas, trengginas, panas, lincah, tomboi, tetapi juga cantik dan seksi. Bayangkan dia seperti Catherine Zeta Jones yang menjadi Elena, istri Alejandro alias Zorro.
Kecantikannya membuat semua pria mencuri-curi pandang kepadanya. Arjuna walau sudah punya Subadra, terpikat akan kemolekan Srikandi. Dua perempuan ini hidup di Kesatrian Madukara. Srikandi bukan tipe wanita domestik. Ia adalah perempuan yang aktif di lapangan. Ia pandai berperang terutama memanah.
Dalam perang Baratayuda, Srikandi maju menjadi panglima berhadapan dengan Resi Bisma yang sakti. Srikandi mampu mengalahkan Bisma dengan panahnya.
Subadra adalah tipe wanita lembut, tenang, halus, istri yang baik dan setia di rumah. Sangat jarang Subadra diidolakan. Perempuan modern, berprestasi, berkelas, sukses dan maju sering disebut sebagai Srikandi-Srikandi masa kini.
Hari ini kita merayakan pesta Santa Marta. Dikisahkan dalam Injil Lukas, Marta menjamu Yesus di rumahnya. Ia sibuk melayani semua keperluan Yesus dan rombongan. Segalanya disiapkan dengan sempurna.
Ia sibuk mengatur sana-sini agar Yesus dan murid-murid-Nya puas singgah di rumahnya. Sedangkan Maria, saudarinya tenang-tenang duduk dekat kaki Yesus mendengarkan Dia. Maria lebih suka mendengarkan sabda Yesus.
Keduanya sebetulnya memilih bagiannya dengan baik. Keduanya saling melengkapi. Tetapi menjadi kurang baik ketika muncul rasa iri hati dan “nggresula” atau mengeluh.
Jika Marta tidak “nggresula” dan melayani dengan tulus dan senang hati, mungkin Yesus juga akan memujinya. Tetapi Marta berkata, “Tuhan, tidakkah Tuhan peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.”
Dua hal yang dapat kita petik sebagai buah renungan hari ini. Pertama, jika kita sudah berani memilih, lakukan itu dengan tulus ikhlas. Jangan iri terhadap pilihan orang lain.
Kedua mendengarkan dekat kaki Tuhan itu juga sebuah nilai keutamaan. Mendengarkan dengan baik itu jarang dilakukan orang.
Kebanyakan orang sekarang banyak bicara dan melihat. Apa-apa dikomentari, bahkan dihujat. Lalu terjadilah percekcokan, pertengkaran, saling membenci. Diam mendengarkan itu lebih baik. Paling tidak kita tidak menimbulkan kegaduhan.
Srikandi wanita lincah canthas dan seksi.
Ia berjuang demi harga diri.
Janganlah kita senang iri hati.
Melihat orang lain berhasil di puncak prestasi.
Cawas, hitam diatas putih…
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
by editor | Jul 27, 2020 | Renungan
PAGELARAN wayang menggambarkan pegelaran hidup manusia. Kelir atau layar adalah dunia tempat hidup manusia. Maka dijejerlah aneka wayang dengan sifat-sifatnya.
Di sebelah kanan adalah sifat baik, terdiri dari para ksatria, brahmana dan raja. Sebelah kiri adalah sifat buruk atau jahat yang diwakili para raksana-raseksi, gandarwa dan buta.
Kisah pewayangan selalu menggambarkan pertempuran antara kebaikan dan kejahatan. Inti nasehatnya adalah semua yang hidup bakal “ngundhuh wohing pakarti.”
Semua orang akan memetik hasil dari apa yang ditanamnya. Kebenaran pada akhirnya akan selalu menang. Kejahatan akan dihukum.
Realitas kehidupan manusia juga diwarnai dua unsur yang saling berhubungan dan berlawanan. Ada siang ada malam, matahari-bulan, terang-gelap, besar-kecil, baik-buruk, benar-salah, yin-yang, positif-negatif, maskulin-feminim, berkat-kutuk, surga dan neraka. Ada kawan ada lawan. Ada rahmat, ada dosa.
Sejak manusia ada, dua unsur itu silih berganti selalu muncul. Semua itu untuk mengingatkan manusia agar selalu berusaha mengejar hal yang baik dan menjauhi hal yang buruk, supaya hidupnya dilimpahi berkat dan dijauhkan dari segala kutuk.
Dalam Injil Yesus menjelaskan arti perumpamaan gandum dan ilalang. “Orang yang menaburkan benih baik adalah Anak Manusia. Ladang itu ialah dunia. Benih yang baik adalah anak-anak Kerajaan dan lalang adalah anak-anak si jahat. Musuh yang menabur benih ilalang ialah iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman, dan para penuai itu malaikat. Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikianlah juga pada akhir zaman.”
Manusia diberi kebebasan untuk memilih, apakah mau jadi benih gandum atau benih ilalang. Apa yang dipilih akan menentukan pada akhirnya.
Gandum akan dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam lumbung. Tetapi ilalang akan diikat dan dibakar ke dalam api.
Kalau memilih hidup baik berarti berkat, jika memilih yang buruk berarti menuai kutuk. Yesus mengingatkan, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan.”
Ini adalah warning, peringatan agar kita memilih yang benar. Kebebasan memilih diberikan kepada manusia tetapi konsekuensi atas pilihan itu juga harus ditanggungnya.
Silahkan anda bebas mau memilih yang mana; kebaikan atau kejahatan, jadi gandum atau ilalang, berkat atau kutuk.
Ke Kali Adem naik kijang roda empat.
Menikmati puncaknya gunung Merapi.
Pilihlah kebaikan maka hidupmu jadi berkat.
Jangan sampai dibuang ke dalam tanur api.
Cawas, jadwal praktikum ….
Rm. A.Joko Purwanto, Pr
by editor | Jul 26, 2020 | Renungan
WAKTU menjadi frater di Tahun Rohani Jangli, kami diajari membuat roti oleh suster-suster Elisabet. Kami diajari bagaimana mencampur tepung dan ragi, sedikit garam dan air secukupnya, berapa ukuran yang tepat untuk membuat roti.
Untuk membuat roti dibutuhkan bahan: 250 gram Tepung Terigu Protein, 5,5 gram / 0,5 sachet Ragi Instan, 30 gram / 2 sdm Margarin, 15 gram / 1 sdm Susu Putih Bubuk, 45 gram / 3 sdm Gula, 1 sdt Garam, 1 Butir Telur Ayam dan 250 ml Air Mineral.
Almarhum Rm. Suparyono dulu pandai bikin roti tawar ini. Dia selalu berhasil membuat roti bisa mengembang. Buatan saya tidak mengembang bahkan mengkal.
Romo Par bilang, “kamu kurang kalis atau kurang merata mengaduknya. Dua tangan dipakai untuk mengaduk dengan kekuatan penuh. Sampai adonan itu kenyal.” Katanya memberitahu rahasianya.
“Adonan yang sudah merata didiamkan dan ditutup dengan kain selama tiga puluh menit.” Dia menasehati saya. Setelah beberapa kali latihan, akhirnya berhasil juga membuat roti tawar.
Hari ini Yesus memberi perumpamaan lagi tentang biji sesawi yang ditabur dan tumbuh berkembang menjadi pohon yang bercabang-cabang. Juga ada perumpamaan tentang ragi yang diaduk di dalam tepung dan membuat adonan menjadi mengembang.
Yesus tidak menjelaskan apa-apa. Mungkin Yesus berharap kepada kita yang menjadi murid-Nya untuk dapat menjadi ragi.
Jika Kerajaan Allah diumpamakan ragi, kita yang adalah anak-anak Kerajaan diminta untuk membuat tepung menjadi mengembang.
Tepung bisa diartikan dunia. Ragi atau kita sebagai anak-anak Kerajaan diutus masuk ke dunia dan mengembangkan dunia agar dapat menjadi roti yang enak.
Agar kita dapat mengembangkan dunia, seperti ragi yang kamir di dalam adonan, kita pun diharapkan bisa “manjing ajur ajer” di dalam dunia. Kita merasuki segala bidang kehidupan.
Misalnya, orang Katolik harus masuk ke dunia politik. Bidang politik harus diberi ragi supaya nilai-nilai Katolik mewarnai dunia kita.
Ada banyak bidang kehidupan yang bisa kita masuki. Sekarang bukan hanya dunia nyata yang butuh ragi, dunia maya atau media sosial pun butuh ragi kristiani.
Nilai-nilai Injil bisa dimasukkan untuk menyucikan semua bidang kehidupan kita. Maukah kita menjadi ragi yang bisa memberi kebaikan dan mengembangkan?
Ingat penerbangan dari Abu Dhabi.
Selimut biru jadi penghangat badan.
Murid Kristus harus menjadi ragi.
Membuat dunia menjadi nyaman.
Cawas, kurikulum….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
by editor | Jul 25, 2020 | Renungan
“Harta Yang Paling Berharga”
PANDU sangat mencintai Madrim. Ketika istrinya itu hamil, ia “ngidham” meminta kepada suaminya untuk bisa naik lembu Andini. Lembu Andini itu adalah tunggangan Batara Guru, rajanya para dewa.
Permintaan tersebut terlalu berani. Hal ini dianggap pelecehan bagi para dewa. “Ing atase” seorang manusia ingin naik lembu milik dewata. Karena cintanya kepada Madrim, Pandu meminta ijin ke Kahyangan untuk meminjam lembu Andini. Batara Guru murka.
“Pukulun, sebagai suami dan raja maharaja, saya harus bisa memenuhi permintaan istri saya. Dia adalah segala-galanya bagi saya. Apa pun yang terjadi saya berani menanggungnya. Saya bersedia mati masuk neraka jahanam. Demi Madrim mutiara hidupku, saya memohon ijin, meminjam Lembu Andini, tunggangan Paduka Pukulun.”
Bagi Pandu, tidak ada harta yang paling berharga kecuali kebahagiaan istrinya. Ia berani bersumpah siap mati demi terpenuhinya keinginan Madrim. Sumpah Pandu benar-benar terjadi. Kebahagiaanya tidak lama. Ia dan Madrim mati setelah melahirkan anak kembar, Pinten dan Tangsen.
Dalam bacaan hari ini, Yesus menggambarkan bahwa Kerajaan surga itu seumpama harta terpendam yang ditemukan orang. Ia menjual seluruh miliknya dan membeli ladang itu.
Kerajaan surga itu seumpama mutiara yang sangat berharga. Ia menjual semua miliknya untuk mendapatkan mutiara itu.
Bagi kita semua, apakah harta yang paling berharga dalam hidup ini? Masing-masing orang bisa berbeda-beda tergantung pilihan prioritasnya.
Ada yang menjawab keluarga sebagai harta paling berharga. Ada yang menjawab; anak, pasangan hidup, pekerjaan, prestasi, kesuksesan, hobby, kesehatan, kesenangan, dll. Kita berani mengorbankan segalanya demi mendapatkan hal yang paling berharga itu.
Apakah ada yang menemukan bahwa Allah adalah harta yang paling berharga? Dan kemudian berani meninggalkan segalanya demi mengasihi Allah?
Yesuslah orang yang menemukan Allah sebagai harta tak terperi, sehingga Dia berani mati dan lepas bebas meninggalkan segalanya demi melaksanakan kehendak-Nya.
Mari kita menemukan mutiara atau harta paling berharga dalam hidup kita. maka seluruh hidup kita ini akan menjadi sebuah perjuangan terus menerus untuk memperolehnya.
Harta yang paling berharga adalah keluarga.
Istana yang paling indah adalah keluarga.
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga.
Mutiara tiada tara adalah keluarga.
Cawas, kurikulum daring….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr