Puncta 29.06.20 / HR. St. Petrus dan Paulus / Matius 16:13-19 / Siapakah Aku ini?

 

KALAU kita naik pesawat, kita tidak mengenal siapa pilotnya. Tetapi kita percaya bahwa dia akan membawa kita ke tempat tujuan dengan selamat.

Begitu juga kalau kita naik kereta api atau naik bus. Kita tidak mengenal masinis atau sopir bus, namun kita yakin bahwa dia akan membawa kita dengan aman.

Tetapi kalau kita mau ke sorga, kita mesti mengenal siapa yang bisa membawa ke sorga itu dengan aman dan selamat. Kita tidak boleh sembarang percaya kepada orang-orang yang menjanjikan sorga.

Ada orang yang menyuruh kita berani mati demi sorga tetapi dia sendiri takut melakukannya. Kita mesti mengenal orang yang memang menjaminkan hidupnya sendiri demi kerajaan sorga.

Yesus menguji sejauhmana pengenalan para murid tentang diri-Nya. Ia memancing mereka dengan pertanyaan, “Kata orang siapakah Anak Manusia itu?”

Para murid mudah menjawabnya, “Ada yang mengatakan Yohanes Pembaptis, ada yang mengatakan Elia, dan ada pula yang mengatakan Yeremia atau salah seorang dari para nabi.”

Pertanyaan semakin dipertajam, bukan kata orang, tetapi menurut diri mereka sendiri, “Menurut kamu siapakah Aku Ini?” Simon Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.”

Itulah pengenalan pribadi Simon bahwa Yesus adalah Anak Allah yang hidup. Karena Petrus mengenal siapa Yesus, maka dia dipercaya untuk memegang kunci kerajaan sorga.

Petrus yakin bahwa Yesus adalah Anak Allah. Maka Yesus juga percaya kepada Petrus untuk diberi wewenang memegang kunci kerajaan sorga.

“Kepadamu akan Kuberikan kunci kerajaan sorga. Apa yang kauikat di dunia akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia akan terlepas di sorga.”

Kita bisa percaya kepada pilot yang tidak kita kenal. Kalau kita mau ke sorga, kita mesti percaya kepada orang yang sungguh kita kenal. Dia yang mau mati demi keselamatan kita, bukan orang yang menyuruh kita mati demi kepentingannya.

Kematian Yesus itu bukti bahwa Dia menjamin keselamatan kita di sorga. Apakah kita sungguh mengenal Yesus? Apakah sungguh kita mengikuti sabda-Nya?

Kalau Yesus bertanya kepada anda, “siapakah Aku ini menurutmu?” Apa jawabanmu kepada-Nya?

Menaiki moge di siang hari.
Menggenjotnya berkali-kali.
Mengenal Kristus secara pribadi.
Pasti ketemu sorga yang kita cari.

Cawas, tampah kecil…
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 28.06.20 / Minggu Biasa XIII / Matius 10:37-42

 

Sumur

Monsinyur Sunarka SJ adalah orang yang ahli mencari sumber air. Banyak orang atau lembaga yang ingin membuat sumur dibantu mencarikan sumber air yang tidak akan kering.

Beliau sering diundang kemana-mana untuk mencari mata air. Kini beliau sudah kembali ke sumber kehidupannya. Tetapi sumber air atau sumur yang dihasilkan beliau tak pernah habis airnya, terus mengalir sepanjang waktu.

Hidup Monsinyur Narka itu juga seperti sumur. Beliau selalu memberi. Banyak orang datang untuk menimba pengalaman hidup dari beliau. Seperti sumur, walaupun setiap hari ditimba airnya, ia tidak kehabisan tetapi justru makin deras dan besar airnya.

Monsinyur Narka sangat ramah, “menyedulur” dan murah hati dengan siapa pun. Walaupun ada orang membuang sampah ke dalam sumur sekalipun , ia “lega lila” dan sabar menerimanya. Siapa pun tanpa pandang status diterimanya dengan gembira.

Ada di dekat beliau, hati rasanya tentram, ayem dan aman. Seperti sumur atau sumber air, begitulah pribadi Monsinyur Sunarka. Selamat jalan Monsinyur. Bapak uskup sudah menemukan sumber air sejati.

Anak-anak zaman sekarang mungkin tidak mengenal sumur timba. Sekarang sumur sudah banyak pakai mesin, tidak harus menimba air di sumur.

Waktu masih di desa dulu tugas saya tiap pagi adalah menimba air untuk mengisi bak mandi sebelum berangkat sekolah.

Salah satu sifat sumur adalah pemberi. Ia diambil terus tetapi tidak kehabisan. Sifat kedua adalah terbuka. Kalau sumur tertutup rapat, airnya akan bau dan tidak sehat. Sifat ketiga dari sumur adalah murah hati. Ia rela berkorban, diambil untuk aneka keperluan hidup.

Hari ini Yesus memberi syarat menjadi murid bagi mereka yang mau mengikuti-Nya. Para murid diminta untuk mengasihi-Nya lebih dari segalanya.

Mereka harus mau berkorban memanggul salibnya, berani kehilangan nyawa dan mau memberi kepada orang lain.

“Barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, ia tidak akan kehilangan upahnya.”

Air adalah lambang kehidupan. Memberi air secangkir saja kepada orang lain berarti memberi kehidupan bagi mereka.

Menjadi murid Yesus berarti tidak boleh egois hanya mementingkan diri sendiri. Yesus mengajak kita untuk berani memanggul salib, berkorban dan memberi diri. Mari kita menjadi sumur bagi orang lain.

Air di sumur “kimplah-kimplah”
Lubang sumurnya seluas tampah
Marilah kita menjadi berkah
Berkat Tuhan akan selalu melimpah

Cawas, pengin naik moge….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 27.06.20 / Matius 8:5-17 / “Empan Papan” atau Tahu Diri

 

PERNAH terjadi ketika sedang misa, terdengar suara panggilan di HP. Orang itu dengan santainya menjawab suara di seberang telpon. Karena situasi sedang hening, maka suaranya terdengar jelas.

Saya menghentikan homili saya. Makin senyap dan tegang. Orang itu masih ngobrol dengan HP sambil menyembunyikan wajahnya di dinding. Umat di sekitarnya sudah mulai resah dan tidak enak.

Ada yang berdecak gelisah. Ada yang “mingsat-mingset” membetulkan posisi duduknya. Ada yang “dehem-dehem” memberi kode untuk segera menghentikan pembicaraan di telepon. Ada yang tertunduk malu. Saya diam dengan muka masam. Entah Tuhan bagaimana.

Berbeda dengan kisah di atas. Perwira Romawi itu tahu diri. Ia bisa menempatkan siapa dirinya di hadapan Tuhan. Ia berkata kepada Tuhan, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku. Katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan.”

Ia merasa diri tidak pantas menerima Yesus di rumahnya. Bisa jadi dia mengerti bahwa dia adalah “orang asing,” bukan teman sebangsa. Ia paham betul dengan posisinya. Ia mungkin tidak terlalu berharap.

Ia hanya memberitahu keadaan hambanya, “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh, dan ia sangat menderita.” Mungkin dia sedikit takut penuh harapan. Namun toh dia tahu diri.

Yesus pun “tahu diri”. Dia tahu apa yang diharapkan oleh perwira itu. Yesus langsung menjawab, “Aku akan datang menyembuhkannya.” Tanpa diminta. Yesus menghargai keyakinan si perwira itu. Ia sangat mengharapkan hambanya dapat sembuh.

Kepedulian si perwira itu sungguh baik. Mungkin jarang seorang atasan peduli sedemikian terhadap bawahannya. Kasih yang sedemikian itu yang berkenan pada Tuhan.

Karena itu, Yesus pun dengan segera menanggapi permintaan perwira. Tanpa harus datang ke rumahnya, Yesus langsung menyembuhkan hambanya, “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Iman seperti perwira itu menyadarkan kita. Kalau kita sungguh percaya, dimana pun Yesus dapat menyembuhkan.

Marilah kita belajar “empan papan” tahu menempatkan diri di hadapan Tuhan. Tuhan pun sangat mengerti apa yang sedang kita harapkan.

Kalau kita bikin masakan.
Dengan telunjuk jari kita mencicipi.
Kalau kita bisa “empan papan”
Tuhan akan selalu memberi.

Cawas, selamat jalan Mgr. Sunarka SJ.
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 26.06.20 / Matius 8:1-4 / Tolong, Terimakasih dan Maaf

 

DALAM pesannya kepada keluarga-keluarga kristiani, Paus Fransiskus pernah menasehati para orangtua untuk mengajarkan tiga hal mendasar bagi anak-anaknya.

Tiga kata ajaib itu adalah tolong, terimakasih dan maaf. Jika anak minta sesuatu kepada orang lain, tidak boleh mengucapkan dengan kalimat perintah – apalagi dengan teriak-teriak – tetapi diawali dengan kata, “minta tolong…”

Kalau anak diberi sesuatu harus diajari untuk mengucapkan terimakasih. Jika anak melakukan kesalahan, dia harus berani mengatakan, “maaf…”

Tiga kata ajaib itu mengajarkan banyak hal tentang hormat, kejujuran, kerendahan hati, solidaritas dan tahu diri.

Dalam Injil hari ini ada seorang kusta yang datang kepada Yesus. ia sujud menyembah dan berkata, “Tuan, jika tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.”

Orang lain yang sakit buta sejak lahir berteriak-teriak, ”Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku.” Ada banyak cara orang minta disembuhkan.

Yang menarik dari orang kusta ini adalah sikap dan kata-katanya. Ia sujud menyembah. Sikap ini sudah menunjukkan ia merendahkan diri di hadapan Tuhan.

Kata-katanya pun mengungkapkan penyerahan diri di hadapan Tuhan, “Jika Tuan mau.” Ia tidak memaksa dengan kata-kata perintah. Tetapi ia menyerahkan diri pada kehendak yang memberi. Ia pasrah tidak menuntut. Ia merendahkan diri tidak memerintah.

Kalau kita berdoa, kita seringkali memaksa Tuhan untuk mengabulkan permohonan kita. Banyak sekali permintaan yang kita sampaikan. Mulut kita “ndremimil” dengan banyak tuntutan.

Seolah-olah Tuhan itu bawahan atau pembantu kita yang dengan semau-maunya kita perintah. Bahkan tidak jarang kita mengancam Tuhan. Akibatnya kalau doa-doa kita tidak terkabul, kita kecewa dan meninggalkan Tuhan.

Kepada sesama saja, kita tidak boleh memaksa atau main perintah, tetapi meminta dengan kata-kata sopan, “minta tolong…”, apalagi dengan Tuhan yang lebih tinggi derajat-Nya.

Sikap orang kusta itu menyadarkan kita untuk merendahkan diri dan percaya kepada kebaikan Tuhan. Ia percaya seratus persen bahwa Tuhan itu baik. Kehendak atau kemauan Tuhan pasti yang terbaik untuk kita.

Sungguh nikmat naik moge.
Dresscodenya celana hitam.
Kalau iman kita sungguh gede.
Kita percaya kebaikan Tuhan.

Cawas, jadahku hilang…
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 25.06.20 / Matius 7:21-29 / Memilih Pondasi Yang Kuat

 

SRI KRISNA bertapa tidur di Jalatunda. Ia berubah menjadi raksasa sebesar Gunung Anakan. Duryudana berusaha membangunkannya. Ia merayu dan berjanji akan memuliakan Kresna di Hastina.

Tetapi tidak berhasil. Arjuna datang bersama Semar. Semar menasehati Arjuna untuk ikut bertapa mengikuti cara Krisna.

Roh Arjuna bertemu dengan Roh Krisna. Mereka kembali ke raganya. Arjuna berhasil membangunkan Krisna. Dia memenuhi janjinya, siapa pun yang bisa membangunkan tapanya, dia akan mendampingi jadi penasehat dalam baratayuda.

Duryudana marah, ia tidak terima. Ia menghadap Krisna. Krisna memberi pilihan kepada Duryudana. Mau memilih seribu raja dengan panglima dan senjata lengkap atau Krisna seorang diri tanpa senjata apa-apa.

Duryudana memilih seribu raja dengan panglimanya. Pikirnya jumlah yang banyak akan mudah mengalahkan Pandawa yang sedikit. Tetapi ia lupa di pihak Pandawa ada Krisna, penjelmaan Dewa Wisnu.

Yesus memberi perumpamaan. Orang yang mendengar dan melaksanakan sabda-Nya seperti orang yang membangun rumah kuat di atas wadas. Walau ada badai topan melanda, rumah itu tetap kokoh.

Tetapi orang yang mendengar tetapi tidak melaksanakan, seperti mereka yang mendirikan rumah di atas pasir. Ketika hujan badai, rumah itu akan roboh dan hancur.

Arjuna mendengarkan nasehat Semar dan berhasil memboyong Krisna. Ia mendengarkan sekaligus melaksanakan amanat. Jika Krisna berada di pihak Pandawa, mereka akan kuat dan menang.

Duryudana tertipu dengan pilihannya. Ia dinasehati Durna supaya memboyong Krisna. Tetapi karena dia lebih memilih kuantitas prajurit, maka ia mengabaikan seorang Krisna.

Itu adalah pilihan bodoh dan tidak bijaksana. Seorang Krisna bisa menghancurkan ribuan prajurit dengan senjata lengkap.

Orang yang mendengar dan melaksanakan sabda Allah adalah orang bijaksana yang mendirikan rumah di atas wadas. Rumah itu akan sangat kuat karena kualitas bahannya bagus.

Orang yang bodoh, ia tidak melaksanakan sabda Tuhan. Dasar hidupnya rapuh seperti rumah di atas pasir. Jika ada kesulitan hidup, orang itu akan limbung tak berdaya karena dasarnya tidak kuat.

Mari kita membangun hidup kita berpondasikan sabda Tuhan. Sabda itu kita wujudkan dalam hidup sehari-hari. Kita akan kuat menghadapi badai kehidupan.

Dua kali dibagi tiga kwadrat.
Hitungan rumit hasilnya tak ketemu.
Kalau kita bangun rumah yang kuat.
Kristuslah yang menjadi batu penjuru.

Cawas, mie lethek….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr