Puncta 24.06.20 / Pesta Kelahiran St. Yohanes Pembaptis / Lukas 1:57-66.80 / Jalan Hidup

 

KELAHIRAN seorang anak diawali dengan tanda-tanda ajaib atau firasat-firasat tertentu. Ketika Gendari mengandung, ia diliputi rasa dendam dan sakit hati tak terperi kepada Pandu.

Ia adalah putri boyongan Pandu dan berharap menjadi permaisurinya di Hastina. Tetapi dia justru diberikan kepada Destarastra yang buta.

Dendam membara itu semakin berkobar ketika dia tahu bahwa Kunti, istri Pandu telah melahirkan anak laki-laki. Ia bertekad punya anak banyak untuk menumpas keturunan Pandu. Ia sedih, sakit hati, cemburu, gundah, dendam.

Perasaan itu berkobar terus selama kehamilannya. Ketika ia melahirkan, yang keluar adalah gumpalan daging hitam bercampur darah. Ia marah dan daging itu diinjak-injak dan ditendang dan pecah menjadi berkeping-keping.

Malam itu suara harimau mengaum menakutkan. Serigala bersaut-sautan dan erangan binatang malam membuat bulu kuduk berdiri.

Widura mengatakan bahwa tanda-tanda ini adalah firasat yang tidak baik bagi Hastina. Kehancuran darah Kuru menghantui lahirnya Duryudana dan saudara-saudaranya.

Injil bercerita tentang kelahiran Yohanes Pembaptis. Berbeda dengan kisah lahirnya Kurawa, suasana yang melingkupi di sini adalah sukacita.

Para tetangga bersukacita mendengar Elisabet yang sudah lanjut usia itu melahirkan seorang bayi. Lebih terkejut lagi ketika mereka akan memberi nama anak itu.

Seorang anak yang lahir biasanya diberi nama ayahnya. Mereka hendak menamai dia Zakharia, menurut nama bapanya. Tetapi Elisabeth melarang dan berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Hal ini menjadi keheranan bagi semua orang.

Tanda-tanda ajaib menyertai kelahiran Yohanes. Ibunya sudah usia lanjut. Bapaknya menjadi bisu. Namanya berbeda dari garis keturunan leluhur.

Semua orang heran dan berkata, “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertainya.” Yohanes menjadi nabi besar yang menuntun Bangsa Israel bertobat dan mempersiapkan kedatangan Sang Mesias.

Kita bisa merenungkan tanda-tanda, peristiwa-peristiwa atau firasat yang ada di sekitar kita. Bisa jadi itu adalah petunjuk dari Tuhan tentang siapa diri kita.

Hal-hal seperti itu terjadi bukan karena kebetulan. Tetapi menjelaskan rencana atau kehendak Tuhan bagi kita. Sejak di dalam kandungan ibu, kita ini sudah dibentuk oleh Tuhan.

Bagaimana suasana batin seorang ibu juga mempengaruhi kepribadian kita. Dengan menelusuri jejak kelahiran kita, kita bisa bersyukur kepada Tuhan lewat orangtua, keluarga, orang-orang terdekat yang ikut membentuk kita.

Pasang gantungan masker yang kuat.
Bisa dipakai berulang sampai empat.
Kita bisa menjadi orang-orang hebat.
Karena orangtua kita penuh berkat.

Cawas, girab-girab….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 23.06.20 / Matius 7:6.12-14 / Hukum Gema

 

DI tempat saya bertugas, di daerah Klaten ada banyak tempat wisata. Saya sering ke Deles, lereng Merapi menikmati keindahan alam yang sejuk. Ada jurang-jurang yang dalam.

Kalau kita berdiri di sisi jurang, dan kemudian kita berteriak, maka akan ada gema yang kembali memantul kepada kita. Kalau kita meneriakkan kata-kata yang baik, gemanya menirukan kata kita itu.

Sebaliknya, kalau kita berteriak yang jelek, kotor dan jorok, ya kata-kata itu yang akan memantul kembali kepada kita.

Selain pemandangan gunung, ada juga wisata air di Rawa Jombor. Saya dulu sering bersepeda ke sana, duduk di tepi rawa.

Saya melemparkan kerikil ke tengah rawa. Ada riak gelombang yang bergulung kembali menuju ke tempat saya. Kalau saya melemparkan batu, maka riak gelombangnya menjadi besar.

Hari ini Yesus berkata, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki diperbuat orang kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab pada nabi.”

Seperti hukum gema atau gelombang yang bergulung kembali kepada kita, begitulah gambaran perilaku dan sikap kita terhadap sesama dan lingkungan kita.

Kalau kita ingin dihormati orang lain, hendaklah kita menghormati mereka lebih dahulu. Kalau kita ingin diperlakukan dengan baik, maka perlakukanlah sesama dengan baik pula. Apa yang kita lakukan itu akan kembali kepada kita demikian juga.

Janganlah mengharap orang lain akan menghormati kita, kalau kita tidak mau menghormati mereka. Begitulah kalau terjadi ketidaknyamanan relasi dengan orang lain atau lingkungan sekitarnya.

Kita bisa bertanya pada diri kita sendiri, “Apa yang sudah kulakukan sehingga terjadi miskomunikasi?” Jangan terburu-buru menyalahkan orang lain. Ada aksi pasti ada reaksi.

Begitu pula dengan alam lingkungan di sekitar kita. Mengapa terjadi bencana? Kenapa iklim berubah? Kita tidak bisa menyalahkan alamnya yang salah, tetapi cara kita memperlakukan alam itulah yang salah, sehingga alam murka kepada kita.

Kalau kita ingin alam baik kepada kita, kita pun harus menjaga dan memelihara alam itu dengan baik pula. Kalau kita ingin tidak ada banjir, jangan buang sampah sembarangan, jangan tebang hutan seenaknya. Kalau kita menghormati alam, maka dia juga akan menghormati kita.

Memang berbuat baik itu susah, laksana melalui pintu yang sempit. Tetapi kita tetap berusaha melaluinya supaya memperoleh kehidupan. Niat baik pasti selalu akan diberkati. Bersama Tuhan, kita tebarkan kebaikan.

Mengganti sprei di malam yang pekat.
Butuh penerang lampu yang dicolokkan.
Menabur kebaikan akan menuai berkat.
Menanam keburukan menuai kesusahan.

Cawas, janggelut enak banget…
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 22.06.20 / Matius 7:1-5 / Menuding Orang Lain

 

TUHAN memberi kita anggota tubuh yang lengkap. Kita bisa belajar dari anggota-anggota tubuh kita. Tuhan menciptakan anggota tubuh sedemikian pasti ada maksud dan tujuannya.

Mengapa kita diberi mata dua, telinga dua, lubang hidung dua, tetapi hanya diberi mulut satu? Maksudnya adalah supaya kita lebih banyak melihat, mendengar namun sedikit berbicara.

Mulut kita itu bisa seperti pedang tajam. Luka di badan bisa cepat diobati. Tetapi luka oleh kata-kata yang menyakitkan itu susah sekali disembuhkan.

Ada pepatah mengatakan. “mulutmu harimaumu.” Hati-hati dengan perkataan kita, karena suatu saat bisa menerkam kita sendiri. Kata-kata yang keluar dari mulut kita bisa merugikan diri kita sendiri.

Kita juga bisa belajar dari jari jemari kita. Setiap jari punya arti masing-masing. Jari telunjuk salah satunya untuk menunjuk, memerintah, menguasai, menghakimi.

Tetapi ingatlah ketika jari telunjuk mengarah kepada orang lain, jari-jari yang lain menunjuk diri kita sendiri. Itu berarti sebelum menghakimi atau menunjuk orang lain, lihatlah dirimu sendiri.

Yesus berkata dalam kotbah dibukit, “Janganlah menghakimi, supaya kalian tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang telah kalian pakai untuk menghakimi, kalian sendiri akan dihakimi.”

Yesus mengingatkan kita untuk tidak mudah menghakimi orang lain. Di media sosial itu orang mudah sekali menghakimi, menghujat, memfitnah, menuduh, menghina, menjelek-jelekkan orang lain. Berhati-hatilah…..

Yesus berkata, “Ukuran yang kalian pakai untuk mengukur akan ditetapkan pada kalian sendiri.” Orang yang demikian mungkin merasa paling benar sendiri. Mereka tidak mampu melihat kebaikan dalam diri orang lain.

Selumbar di mata saudaramu engkau lihat, tetapi balok di matamu sendiri tidak engkau lihat. Ini mirip dengan pepatah, “Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tiada tampak.” Kekurangan orang lain sekecil apapun tampak jelas, tetapi kelemahan sendiri tidak terlihat.

Kita diundang untuk mawas diri dan mengukur diri kita sendiri sebelum kita menilai atau menghakimi orang lain.

Orangtua kita sering berkata, “Aja dumeh.” Jangan merasa sok. Sok pandai, sok kuasa, sok suci, sok benar, sok jagoan, sok hebat.

Tetapi belajarlah rendah hati, ”tepa selira, empan papan”. Tepa selira itu bisa mengukur diri sendiri. Empan papan itu bisa menempatkan diri dengan siapa dan dimana kita bergaul.

Senam Oneng di malam hari.
Kaki diangkat badan rebahkan diri.
Lebih baiklah orang yang rendah hati.
Tidak sombong dan merasa benar sendiri.

Cawas, selasa, kamis, sabtu…
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 21.06.20 / Minggu Biasa XII / Matius 10:26-33 / Becik Ketitik Ala Ketara

 

YAMAWIDURA paman para Pandawa tahu ada tipu muslihat licik yang dirancang Sengkuni dan para Kurawa. Mereka mengundang Pandawa untuk berpesta di balai “golo-golo.”

Yamawidura mengingatkan kepada Puntadewa dengan bahasa sandi bahwa balai itu dirancang dengan bahan-bahan yang mudah terbakar. Ada niat jahat di balik undangan pesta bagi para Pandawa.

“Golo-golo” artinya diperindah, dihias sedemikian rupa biar tidak kelihatan keropos dalamnya. Sebagai ksatria, para Pandawa tetap hadir dalam perjamuan. Ketika para tamu sedang mabuk pesta, para Kurawa menyulut api sehingga balai itu terbakar habis.

Para Pandawa waspada. Mereka diselamatkan oleh “musang putih” yang membawa mereka ke Kahyangan Sapta Pertala. Niat jahat Kurawa diketahui. Mereka gagal memusnahkan Pandawa.

Pepatah “becik ketitik ala ketara” menjelaskan bahwa niat baik atau rencana jahat itu perlahan-lahan akan terbongkar dan diketahui orang. Tidak ada hal yang tersembunyi dan ditutup-tutupi.

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Janganlah kamu takut kepada mereka yang memusuhimu, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui.”

Pandawa bersikap ksatria dan tidak takut pada musuh yang punya niat jahat. Mereka percaya bahwa garis kehidupan itu hanya Tuhan yang menentukan. Mereka tetap waspada dan hati-hati.

Janganlah takut kepada manusia, tetapi takutlah kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. Kita mesti lebih takut kepada Tuhan daripada takut pada manusia. Tuhanlah yang berkuasa atas hidup kita. Bahkan rambut kepala pun sudah terhitung oleh-Nya.

Jika kita berjalan pada jalur kebenaran, kita tidak perlu takut. Mereka yang berniat jahat, menggali lubang untuk kita, akan terperosok sendiri ke dalamnya.

Perlahan-lahan, satu per satu niat jahat mereka akan terbongkar juga. Ada banyak pelajaran hidup di sekitar kita. Kita tidak perlu takut. Tuhan berpihak pada orang jujur dan benar.

Yesus mengajak kita untuk berani berjuang di jalan Allah. “Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia akan Kuakui di depan Bapa-Ku yang di sorga.”

Seperti Kristus yang berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan, begitu pun kita diajak untuk berada di jalur yang sama. Yesus mengajak kita untuk berani berjuang dan tidak takut terhadap siapa pun.

Sekecil apa pun niat kita, nanti akan diketahui pada akhirnya. Becik ketitik, ala ketara.

Ada pelangi di bola matamu.
Dan hujan pun turun di pagi hari.
Tuhan menyelenggarakan hidupmu.
Ia tidak membiarkan kita berjuang sendiri.

Cawas, tampah di pojok…
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 20.06.20 / PW. Hati Tersuci Perawan Maria / Lukas 2:41-51 / Menyimpan Semua Perkara

 

IBUKU sering berbohong. Ketika anak-anaknya belum makan sampai kenyang, ia bilang tidak lapar, walau belum ada sesuap nasi pun masuk di perutnya.

Ia menunggu sampai anak-anaknya makan kenyang. Ia rela makan sisa-sisa dari semua anaknya. Walau bekerja sampai malam, ibu bilang tidak capek. Ia menunggui sampai anak-anaknya terlelap tidur semua. Bahkan kadang ia tidur hanya satu-dua jam, karena harus mengganti popok adik yang masih kecil.

Ketika aku ragu dan bimbang di jalan imamat, aku pulang ke rumah. Aku tidak berani bilang pada ibuku. Tetapi di tengah malam, ibuku berdoa tentang masalahku.

Aku bisa “nguping” karena rumah kami waktu itu berdinding bambu. Hati seorang ibu menembus hatiku yang gundah gulana. Karena dukungan doa ibu itu, pagi-pagi aku pamit langsung balik ke seminari lagi.

Hari ini Gereja memperingati hati tersuci Santa Perawan Maria. Hati seorang ibu hanya tertuju bagi keselamatan dan kebahagiaan anak-anaknya. Maria dan Yusuf pergi ke bait suci bersama Yesus yang masih berumur duabelas tahun.

Ketika mereka pulang, Yesus tertinggal di bait suci. “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau?”

Tidak ada seorang ibu yang tidak cemas, jika melihat kesusahan anaknya. Hal itu menunjukkan betapa kasihnya seorang ibu kepada puteranya. Setiap anak mempunyai persoalan masing-masing.

Hati seorang ibu tidak pernah lepas dari setiap kesusahan anak-anaknya. Ia mengikuti sejak awal kelahiran sampai akhirnya. Harapan dan doa-doanya dilambungkan untuk kebaikan anak-anaknya. Semua disimpan dalam hatinya yang luas bagai samudera.

Kendati Maria tidak mengerti semua maksud Allah dalam mengarungi jalan hidupnya, ia hanya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya.

Itulah ketaatan mutlak dalam menjawab kehendak Tuhan. Perkara-perkara yang tidak dimengerti disimpan dalam hatinya sendiri. Tidak semua perkara diobral atau diceritakan keluar.

Maria tidak suka bergosip ria. Ia menyimpan perkaranya dan hanya kepada Tuhan saja ia menumpahkan segalanya. Hening dalam doa. Berdialog berdua saja dengan Tuhan untuk semua perkara. Itu akan lebih menentramkan hati.

Mari kita meneladan hati Sang Perawan tersuci ini.

Berjemur di bawah sinar mentari.
Menikmati kicau burung merdu.
Bunda Maria, Perawan yang tersuci.
Doakanlah kami anak-anakmu.

Cawas, melangkah lagi….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr