by giasinta | Dec 1, 2020 | Artikel
Oleh: Polycarpus
Memperingati peristiwa kelahiran Yesus Sang Putera, Gereja dan seluruh umatnya tentu harus melakukan persiapan. Persiapan inilah yang kita kenal dengan Masa Adven. Kata ‘Adven’ berasal dari bahasa Latin ‘Adventus’ yang artinya ‘Datang’. Ada dua pengertian kata ‘Adven’. Pertama, menantikan kedatangan Yesus yang dirayakan pada Hari Raya Natal. Kedua, menantikan kedatangan Yesus yang ke dua (parousia) pada akhir zaman. Pengertian ini menandakan Gereja yang berziarah menuju kepenuhannya pada akhir zaman pada saat kedatangan Kristus yang kedua kalinya.
Masa Adven dimulai pada hari Minggu terdekat sebelum Pesta St. Andreas (Rasul) pada setiap 30 November. Masa Adven ini berlangsung selama empat minggu persiapan dan empat hari Minggu. Namun, biasanya minggu terakhir Adven terpotong dengan tibanya Masa Raya Natal. Sulit menentukan awal mula adanya Masa Adven.

Ilustrasi Kelahiran Yesus. Sumber: bmvkatedralbogor.org
Sejarah Penentuan Masa Adven
Pada abad ke-4, bermula dari Perancis, Masa Adven merupakan masa persiapan menyambut Hari Raya Epifani, hari di mana para calon dibaptis menjadi warga Gereja dengan penekanan pada doa dan puasa selama tiga minggu. Kemudian diperpanjang menjadi 40 hari. Sedangkan di Roma Masa Adven belum ada hingga abad keenam. Paus St Gelasius I (wafat tahun 496) merupakan Paus pertama yang menerapkan Liturgi Adven selama 5 hari Minggu. Kemudian pada tahun 1073-1085, Paus St Gregorius VII mengubah jumlah hari minggu dalam Masa Adven menjadi empat hari minggu hingga sekarang. Sekitar abad ke-9, Gereja menetapkan Minggu Adven Pertama sebagai awal tahun penanggalan liturgi Gereja.
Memang sejarah Adven kurang bisa dijelaskan secara rinci, namun makna Masa Adven tetap terfokus pada kedatangan Kristus. Pada masa ini, Kristus sangat-sangat dinantikan kedatangan-Nya di tengah-tengah umat-Nya. Maka, kata ‘Adven’ harus kita maknai sungguh, yakni ‘dulu, sekarang dan di waktu yang akan datang’.
Asal Usul Lingkaran Adven
Selama Masa Adven, kita sering melihat di dekat altar terdapat ‘Lingkaran Adven’ yang terdiri dari empat lilin, yaitu tiga lilin berwarna ungu dan satu lilin berwarna merah muda. Lilin-lilin itu melambangkan keempat minggu dalam Masa Adven. Setiap minggu, sebatang lilin Adven dinyalakan.
Pemilihan warna-warna lilin ini bukan tanpa alasan. Lilin ungu melambangkan pertobatan. Lilin merah muda dinyalakan pada Hari Minggu Adven III yang disebut Minggu ‘Gaudete’ (dalam bahasa Latin berarti sukacita). Warna merah muda dibuat dengan mencampurkan warna ungu dengan putih. Artinya, seolah-olah sukacita yang kita alami pada Hari Natal (yang dilambangkan dengan warna putih) sudah tidak tertahankan lagi dalam masa pertobatan ini (ungu).

Ilustrasi Lilin Adven. Sumber: ikatolik.com
Pada Hari Natal, keempat lilin digantikan dengan lilin-lilin putih. Lingkaran Adven atau Adven wreath biasanya dibuat dari daun-daun segar berwarna hijau. Hal ini diadaptasi dari kebiasaan orang Jerman sebelum Kekristenan berkembang. Sering beberapa dari kita bertanya-tanya, “Mengapa berbentuk lingkaran?”. Jawabannya adalah karena bentuk lingkaran tidak memiliki awal dan akhir. Lingkaran melambangkan Tuhan yang abadi, tanpa awal dan akhir.
Makna Setiap Minggu dalam Masa Adven
Setiap minggu dalam Masa Adven, memiliki arti khusus. Sebagai umat Kristiani, kita diajak untuk merenung dengan tema dan ujub tertentu. Minggu Adven I ditandai dengan sebatang lilin ungu yang memiliki arti tidak hanya pertobatan namun juga berarti harapan. Umat menantikan Yesus Kristus dengan penuh harapan dan sukacita. Lilin pertama yang dinyalakan disebut Lilin Nabi yang mengingatkan bahwa para nabi mewartakan kedatangan Yesus sebagai Mesias.
Minggu Adven II mempunyai arti kesetiaan dan cinta. Ini mengingatkan kita untuk tetap setia mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan. Lilin kedua disebut Lilin Betlehem yang berarti Yesus Kristus Sang Juru Selamat akan lahir di dalam hati kita. Minggu Adven III memiliki arti sukacita yang ditandai dengan dua lilin ungu dan satu lilin merah jambu. Kita bersukacita untuk menyambut kelahiran Yesus. Lilin ketiga disebut Lilin Gembala karena kabar sukacita kelahiran Yesus pertama kali diberitahukan kepada orang-orang yang rendah hati dan tulus.
Minggu Adven IV ditandai dengan tiga lilin ungu dan satu lilin merah muda. Minggu keempat memiliki arti perdamaian. Lilin keempat disebut Lilin Para Malaikat yang melambangkan kebahagiaan dan sukacita menyambut kedatangan Yesus Kristus, Sang Juru Selamat.
Dari semua yang kita ketahui tentang persiapan menyambut lahirnya Yesus Kristus Sang Juru Selamat atau Masa Adven, sudah sepatutnya kita mempersiapkannya dengan sungguh dan dengan sepenuh hati. Pertobatan dan penyesalan yang kita lakukan sebelum memasuki Masa Adven akan membuat hati kita siap dan layak untuk menerima rahmat keselamatan dari Tuhan.
Sumber:
Katolisitas.org <https://www.katolisitas.org/seputar-adven-dan-natal/>
PGI.or.id <https://pgi.or.id/asal-mula-masa-adven/>
Katolikpedia.id <https://katolikpedia.id/masa-adven-agama-katolik/>
by gisel | Oct 24, 2020 | Artikel
Sebagai anggota Gereja Katolik, kita mengenal adanya devosi khusus pada bulan-bulan tertentu dalam kalender liturgi Gereja Katolik yang selalu kita rayakan tiap tahunnya. Contohnya, kita mengenal bahwa bulan Mei disebut sebagai bulan Maria, September sebagai bulan Kitab Suci dan Oktober sebagai bulan Rosario. Namun, masih banyak umat yang belum mengetahui, mengapa kita melakukan 2 bulan untuk berdevosi kepada Bunda Maria, yaitu Mei dan Oktober, lalu apa beda dari keduanya ?
Kita mengetahui ada 2 bulan untuk menghormati Bunda Maria, yaitu pada bulan Mei dan bulan Oktober. Sejarah bulan Mei sebagai Tradisi Suci untuk berdevosi kepada Bunda Maria awalnya didedikasikan untuk memperingati pemberian kehidupan yang baru. Di negara-negara yang memiliki 4 musim seperti Eropa dan Amerika, pada bulan Mei, merupakan permulaan musim semi, dimana pada musim ini merupakan musim bunga-bunga bermekaran dan merupakan iklim yang baik bagi pertanian untuk menanam kembali setelah musim salju. Maka pada bulan Mei didedikasikan sebagai ungkapan syukur kepada Yesus melalui Bunda Maria dan ungkapan penghormatan Maria sebagai “Hawa Baru” yang mana ungkapan Hawa adalah “Ibu dari segala yang hidup”. Maka dari itu Devosi pada bulan Mei dinamakan Bulan Maria.
Kapankah Gereja mulai mendedikasikan bulan Mei sebagai Bulan Maria ??
Sejarah tradisi ini mulai dilakukan pada akhir abad ke-13 dan dipopulerkan oleh para Jesuit di Roma pada tahun 1700-an dan kemudian menyebar ke seluruh Gereja. Pengalaman Iman oleh Paus Pius VII menguatkan Tradisi ini ketika pada tahun 1809, Paus Pius VII ditangkap oleh serdadu Napoleon dan dipenjara. Di dalam penjara, Paus berdoa kepada Yesus melalui perantara Bunda Maria agar ia dapat segera dibebaskan dari penjara. Dalam doanya tersebut Paus berjanji jikalau doanya dikabulkan, maka ia mendedikasikan bulan khusus dimana umat berdevosi kepada Bunda Maria. 24 Mei 1814, Paus dibebaskan dari penjara dan kembali ke Roma. Pada tahun berikutnya Paus Pius VII mengumumkan perayaan “Bunda Maria Penolong Umat Kristen”. Pada tahun 1854, Paus Pius IX mengumumkan dogma “Maria Terkandung Tanpa Noda” dan devosi pada Bunda Maria semakin dikenal.
Lantas apakah perbedaan antara devosi pada bulan Mei dan bulan Oktober ? Mengapa harus 2 kali ?
Berbicara mengenai tradisi selanjutnya yaitu pada Bulan Oktober, kita mundur ke 3 abad sebelumnya yaitu pada tahun 1571. Pada saat itu negara-negara Eropa mendapat ancaman dari Turki dan Kesultanan Ottoman yang melakukan invasi pada negara-negara Eropa. Terdapat ancaman bahwa agama Kristen akan punah di Eropa karena semakin meraja-lelanya kekuasaan Ottoman dan kesempatan negara-negara Eropa bertumpu pada pertempuran Lepanto, untuk menghalau invasi Ottoman di daerah negara-negara di sekitar laut Mediterania, namun jumlah pasukan kesultanan Ottoman melampaui jumlah pasukan Kristen.
Menghadapi ancaman ini, Don Juan dari Austria komandan Armada Katolik, berdoa rosario, memohon pertolongan Bunda Maria. Hal ini kemudian diikuti oleh seluruh pasukan untuk berdoa Rosario. Di Eropa daratan seluruh umat menderaskan doa Rosario melalui seruan Paus Pius V dengan berdoa Rosario di Basilika Santa Maria Maggiore. Dari subuh hingga petang doa Rosario didaraskan demi kemenangan pertempuran Lepanto. Dengan jumlah pasukan yang tak seimbang dan nampaknya tidak mungkin memenangkan pertempuran itu, namun pada 7 Oktober 1571 pasukan Katolik memenangkan pertempuran Lepanto.Mendengar kabar itu, Paus Pius V menetapkan peringatan Rosario dalam Misa di Vatikan pada tiap tanggal 7 Oktober. Kemudian penerusnya Paus Gregorius XIII, menetapkan 7 Oktober sebagai Hari Raya Rosario Suci. Pesta ini awalnya hanya dilakukan oleh gereja-gereja yang altarnya didedikasikan bagi Bunda Maria. Namun pada tahun 1716, Paus Klemens XI menyebarluaskan perayaan ini hingga ke seluruh dunia. Peristiwa Lepanto Battle ini membuktikan bahwa Bunda Maria telah menyertai Gereja dan umat beriman melalui doa Sang Bunda kepada Tuhan Yesus, untuk menyertai kita yang masih berziarah di dunia ini.
Selanjutnya Paus Leo XIII menetapkan bulan Oktober sebagai bulan Rosario pada tanggal 1 September 1883. Bapa suci meminta agar seluruh umat berdoa rosario dan Litani Santa Perawan Maria dari Loreto pada setiap hari di bulan Oktober agar Gereja mendapat bantuan Bunda Maria dalam menghadapi aneka bahaya yang mengancam. Pada 22 September 1891, Paus Leo XIII menerbitkan ensiklik October Mense (The Month of October; Bulan Oktober), yang menyatakan bahwa bulan Oktober dikhususkan kepada Santa Perawan Maria, Ratu Rosario.
Jadi, Dimanakah letak perbedaan bulan Mei dan bulan Oktober ?
Setelah menilik dari sejarah masing-masing bulan devosi kepada Bunda Maria ini, kita dapat melihat adanya perbedaan mendasar yang nampak jelas pada 2 bulan devosi ini, dilihat dari tujuan utama dari devosi ini. Bulan Mei memperingati Bunda Maria sebagai “Hawa baru” yang melahirkan kehidupan. Sedangkan bulan Oktober ditujukan sebagai bulan Rosario.
Bunda Maria memang terbukti telah menyertai Gereja dan mendoakan kita semua, para murid Kristus, yang telah diberikan oleh Tuhan Yesus menjadi anak- anaknya (lih. Yoh 19:26-27). Bunda Maria turut mengambil bagian dalam karya keselamatan Kristus Putera-Nya, dan bekerjasama dengan-Nya untuk melindungi Gereja-Nya sampai akhir jaman. Yang perlu kita lakukan sebagai umat beriman adalah untuk meneruskan Tradisi Suci ini sehingga relasi kita sebagai umat yang masih mengembara di bumi dengan para Kudus di surga tidak terputus dan Maria yang dipilih Allah dalam peristiwa inkarnasi, dipilih juga sebagai pendoa bagi anak-anaknya di bumi, menolong serta menyertai anak-anak-Nya. Maka sebaiknya kita sebagai anak-anak-Nya pun tidak ragu untuk meminta pertolongan kepada Allah melalui perantara Bunda Maria kapanpun dan dimanapun, dan dalam keadaan apapun.
Written by : Dimas
Edited by : Gisella
Sumber :
www.katolisitas.org
parokijetis.com
parokiserpong-monika.org
by giasinta | Oct 19, 2020 | Artikel
Reporter: Maria Fransiska
Dalam Gereja Katolik, beatifikasi (dari bahasa Latin “beatus”, yang berbahagia) adalah suatu pengakuan atau pernyataan yang diberikan oleh Gereja terhadap orang yang telah meninggal bahwa orang tersebut adalah orang yang berbahagia. Beatifikasi diberikan kepada orang yang dianggap telah bekerja sangat keras untuk kebaikan atau memiliki keistimewaan secara spiritual. Seseorang yang mendapat beatifikasi diberi gelar beato untuk laki-laki dan beata untuk perempuan. Proses ini merupakan tahap ketiga dari empat tahapan dalam proses kanonisasi yang biasanya dilakukan setelah mendapat gelar venerabilis (yang pantas dihormati) sebelum mendapat gelar santo atau santa.
Carlo Acutis tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan umat Katolik. Acutis yang diberi gelar Beato pada 10 Oktober ini tercatat sebagai remaja yang memberikan pengabdian besar dalam Ekaristi dan menjadi milenial pertama yang diberkati dengan gelar Beato. Dilansir dari Kompas.com, Carlo Acutis dikenal juga sebagai “Santo Pelindung Internet” meskipun sebelumnya sudah ada satu, akademisi abad ke-7, Isidore de Seville. Mari kita mengenali lebih dalam tentang sosok Carlo Acutis.
Hidup Ekaristis
Acutis lahir pada tanggal 3 Mei 1991, di London, Inggris, tempat orang tuanya bekerja. Beberapa bulan kemudian, orang tuanya, Andrea Acutis dan Antonia Salzano, memutuskan untuk pindah ke Milan saat ia berusia 5 bulan. Acutis yang dibaptis ketika bayi ini belum pernah diajarkan iman Katolik oleh keluarganya. Walaupun begitu, saat masih balita dan belum bersekolah Acutis sudah menunjukan cintanya kepada gereja. Ibu Acutis bercerita bahwa sejak kecil, setiap melewati gedung-gedung gereja di Milan, Acutis akan meminta ibunya untuk masuk melihat Yesus dan meminta ibunya meletakan bunga di bawah kaki Bunda Maria. Disinilah awal di mana Acutis menyentuh hati ibunya untuk kembali mempelajari iman katolik dengan mengikuti kursus teologi.

Beato Carlo Acutis. Sumber: Kompas.com
Pada usianya yang ke-7 tahun, Acutis menerima Komuni Pertama di Biara St. Ambrogio ad Nemus. Sejak saat itu, Acutis berusaha menghadiri setiap misa di gereja. Acutis tidak hanya mengikuti misa hari Minggu, tetapi ia juga tidak pernah absen mengikuti misa harian. Ia juga rajin melakukan pengakuan dosa setiap minggunya. Tindakan Acutis yang rajin mengikuti ekaristi membuat hati keluarganya tergerak untuk kembali ke gereja dan rajin mengikuti misa harian. Antonia Salzano, Ibu Acutis terus terang berkata bahwa sebelum Acutis mempengaruhinya untuk mencintai Ekaristi, ia hanya misa tiga kali, yaitu pada saat dilahirkan, saat mendapat komuni pertama, dan saat menikah. Acutis rajin mengikuti Ekaristi bukan berasal dari desakan keluarganya melainkan keinginan dirinya sendiri.
Kekuatan Acutis berasal dari Ekaristi dan Bunda Maria. Sejak remaja, Acutis rutin berdoa Rosario setiap hari dan di samping devosi ke santo-santa. Ia sering menghabiskan waktu di ruang adorasi. Ia pernah berkata, “Ketika kita sering terpapar matahari kulit kita akan menjadi coklat. Ketika kita menempatkan diri di depan Ekaristi, kita akan menjadi orang suci,”.
Internet sebagai Sarana Pewartaan
Acutis dikenang sebagai anak yang periang dan suka membela teman-temannya yang di-bully, terutama anak-anak disabilitas. Ketika orang tua seorang temannya akan bercerai, Acutis juga melakukan upaya khusus yaitu membawa temannya itu ke dalam keluarganya. Layaknya anak remaja lain, Acutis juga suka bermain sepak bola dan video games. Walaupun ia senang bermain play station tetapi ia bisa mengontrol diri untuk bermain hanya satu jam di setiap pekan. Acutis juga menunjukan kegemarannya dalam hal membaca dan mempelajari ilmu komputer. Pada saat usianya yang ke-8 tahun, Acutis sudah memiliki bakat besar sebagai programmer. Hal yang menarik di sini bukanlah dari talentanya saja, tetapi juga perjalanannya menggunakan talenta tersebut sebagai sarana menjadi misionaris internet.
Acutis prihatin melihat umat Kristiani yang makin menjauh dari Gereja dan sakramen. Ia ingin merangkul mereka kembali, menemukan iman dan keperayaan mereka terhadap Gereja Katolik. Acutis lalu membuat riset mendalam tentang mukjizat Ekaristi di seluruh dunia sejak awal kekristenan sampai masa sekarang dan mendokumentasikannya sejak usia 11 tahun. Hasil dari riset tersebut kemudian diterbitkan di website-nya yang mulai dirintis pada usianya ke-14 tahun. Ia menyatakan di website-nya “Semakin kita sering menerima Ekaristi, semakin kita menyerupai Yesus, sehingga kita akan mengecap rasa surga di bumi ini.”. Acutis juga pernah mempopulerkan istilah “Ekaristi adalah jalan tol ke surga.”.
Menghayati Penderitaan
Ketika ia tidak sedang menulis program komputer atau bermain sepak bola, Acutis dikenal di lingkungannya karena kebaikannya terhadap mereka yang hidup di pinggiran. Ia menjadi sukarelawan di dapur umum di Milan. Ibunya juga berkata “Dengan tabungannya, ia membeli kantong tidur untuk para tunawisma dan di malam hari ia membawakan mereka minuman panas.”

Beato Carlo Acutis. Sumber: Twitter Infobae America
Saat usianya yang ke-15, Acutis didiagnosis menderita leukemia. Ia mempersembahkan penderitaannya untuk Paus Benediktus XVI dan Gereja di mana ia mengatakan “Aku mempersembahkan semua penderitaan yang harus aku derita untuk Tuhan, untuk Paus, dan Gereja.” Carlo Acutis menghembuskan napas terakhirnya pada tanggal 12 Oktober 2006 dan dimakamkan di Assisi sesuai permintaannya.
Ditetapkan sebagai Beato, Teladan bagi Milenial
Proses Acutis untuk mendapat gelar suci dimulai pada tahun 2013. Ia ditetapkan sebagai “Yang Mulia” pada tahun 2018. Untuk diterima sebagai Beato, diperlukan suatu mukjizat yang terjadi dan diakui resmi oleh Vatikan. Mukjizat yang mengantar Acutis menjadi Beato adalah mukjizat penyembuhan seorang anak kecil di Brazil yang menderita penyakit kanker pankreas yang jarang terjadi di dunia pada tahun 2013. Pada 14 November 2019, Dewan Medis yang memproses kanonisasi menyimpulkan memang benar terjadi mukjizat penyembuhan lewat perantaraan doa Acutis.
Setelah memenuhi syarat menjadi Beato, akhirnya pada tanggal 10 Oktober 2020 Carlo Acutis dinobatkan sebagai Beato atau yang berbahagia. Paus Fransiskus menjadikan Acutis sebagai teladan bagi para milenial dengan menulis bahwa Acutis mampu menggunakan internet dan teknologi untuk menyebarkan injil. “Memang benar bahwa dunia digital dapat membuat Anda menghadapi risiko ketergantungan, apatis, dan (hanya) kesenangan sesaat. Namun, jangan lupa bahwa ada anak muda, bahkan ada yang menunjukkan kreativitas bahkan jenius. Itulah yang terjadi pada Beato Carlo Acutis,” tulis Paus pada tahun 2018.
Paus melanjutkan, “Carlo sangat menyadari bahwa seluruh perangkat komunikasi, periklanan, dan jejaring sosial dapat digunakan untuk membuai kita, membuat kita kecanduan konsumerisme dan membeli barang terbaru di pasar, terobsesi dengan waktu luang, terjebak dalam hal-hal negatif. Namun, dia tahu bagaimana menggunakan teknologi komunikasi baru untuk menyebarkan Injil, untuk mengomunikasikan nilai-nilai dan keindahan.”
Pesan untuk Kaum Muda
Kita pun sebagai umat Kristiani dapat belajar dari keteladanan hidup Beato Carlo Acutis. Di tengah pengaruh dunia yang begitu mengikat ternyata roh kudus masih bekerja di dalam diri kita jika kita membuka hati untuk kehadiran-Nya dan taat menjalankan ajaran-Nya. Beato Carlo Acutis menjadi bukti nyata bahwa di era sekarang masih ada anak muda yang tekun menjalankan ajaran Yesus dan menggunakan kemajuan teknologi untuk memberitakan injil. Harapannya, generasi muda Katolik juga semakin semangat mengikuti kristus serta berusaha menggunakan teknologi dengan bijak dan menjadikannya sebagai sarana untuk berbagi kebaikan.
Referensi:
Wikipedia
Kompas.com
by clara | Jun 22, 2020 | Artikel, Misa
Semoga kita dikuatkan oleh Roh Allah sendiri sehingga setiap hari bisa mengulangi jawaban “ya” untuk Yesus, kebenaran kita -Romo Iswahyudi
Pada Minggu (21/6) Gereja St. Maria Assumpta Babarsari mengadakan Misa Hari Raya Yesus Yang Mahakudus melalui live streaming YouTube. Misa ini dipimpin oleh Romo Isyadi, Pr. Melalu live streaming Youtube, Romo Isyadi yang akrab dipanggil Romo Is tersebut mengungkapkan dalam khotbahnya bahwa Injil Matius dikenal sebagai Injil Gerejawi.
Pada Injil tersebut, terlihat bagaimana organisme Gereja ditumbuhkan, katekese dan pewartaan diolah, liturgi dilakukan dan dihayati. Ketika proses itu telah dijalankan, harapannya jemaat bisa memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya. Bagi Matius orang harus menjawab dengan mantab, penuh keyakinan, meng “iyakan” Yesus yg ditawarkan dalam pewartaan , yg dirasakan kehadiranNya dalam liturgi, yg menyatukan umat. Meski berbagai macam rintangan menghadang, iman yg telah diafirmasi dengan kata ” ya ” tidak akan surut.
Pada bacaan Mat 10 : 32 – 33, yang tertulis “Setiap orang yg mengakui Aku dihadapan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yg di Sorga. Tetapi barang siapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yg di Sorga”. Tulisan tersebut dimaknai sebagai, tuntutan yang mendorong manusia untuk memilih dan mengatakan ” ya ” untuk Yesus. Kemantapan iman dan jawaban “ya” ini pula yg akan membuat orang tidak menyangkal Yesus di hadapan manusia.
by clara | Jun 20, 2020 | Artikel, Misa
Pada Minggu (7/6) Gereja St. Maria Assumpta Babarsari mengadakan Misa Hari Raya Tri Tunggal Maha Kudus melalui live streaming YouTube. Misa ini dipimpin oleh Romo Robertus Tri Widodo, Pr dan Romo Iswahyudi, Pr. Melalu live streaming Youtube, Romo Iswahyudi yang akrab dipanggil Romo Is tersebut mengungkapkan dalam khotbahnya bahwa “tag line yang dimiliki oleh Gereja Maria Assumpta Babarsari, yaitu guyub, rukun, dan terlibat merupakan wujud dari Tri Tunggul Maha Kudus itu sendiri”.
Pada Hari Raya Tri Tunggal Maha Kudus, Tuhan Yesus bersabda “Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya” (Yohanes 3:16-18). Romo Is mengatakan bahwa keselamatan yang dialami oleh manusia, tidak lepas dari besarnya cinta Tuhan kepada manusia. Hal tersebut diyakini, karena tidak ada keselamatan, selain keselamatan yang berasal dari Allah Tri Tunggal Maha Kudus.
Terdapat tiga info yang ingin disampaikan pada perayaan Tri Tunggal Maha Kudus, yang pertama Allah Hari Raya Tri Tunggal Maha Kudus merupakan bagian dari misteri iman kristiani. Allah yang Esa atau Allah yang Esa, Allah yang satu, menurut injil Yohanes juga merupakan simbol dari Allah yang dimiliki oleh firman dan roh. Info yang kedua, Allah Tri Tunggal Maha Kudus merupakan Allah yang menciptakan dunia dan seisinya. Info ketiga, gereja dalam sendi-sendi kehidupan, dipenuhi oleh Tri Tunggal Maha Kudus. Allah Tri Tunggal Maha Kudus menjadi daya kekristenan.
Allah Tri Tunggal Maha Kudus, dapat disadari ketika kita mengalami keselamatan, semangat kehidupan menggereja, dan misteri iman kristiani yang dijalani dengan doa-doa harian yang membutuhkan iman sungguh-sungguh.
by giasinta | Jun 19, 2020 | Artikel, Misa
Oleh: Giasinta Berlianti
Pada Minggu (14/6) Gereja St. Maria Assumpta Babarsari mengadakan Misa Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus melalui live streaming YouTube. Misa ini dipimpin oleh Romo Robertus Tri Widodo, Pr. Romo yang akrab disapa dengan Romo Tri ini ketika homili mengungkapkan bahwa biasanya pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, anak-anak di Paroki Babarsari menerima komuni pertama. “Tetapi karena pandemi, penerimaan komuni pertama belum dapat dilaksanakan. Kita semua berharap supaya pandemi ini segera berakhir agar semua umat, bukan hanya yang menerima komuni pertama, dapat hadir untuk menyambut Tubuh Kristus,” ujarnya.
Pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, Tuhan Yesus bersabda “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum daarah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan, dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” (Yohanes 6:53-58). Romo Tri mengatakan bahwa jika kita mendengarkan kutipan injil tersebut, berarti kita diundang untuk makan dan minum darah-Nya. “Rasanya memang ngeri ya, kayak film horor. Tetapi, makna sesungguhnya adalah bagaimana kita semua memahami peristiwa ini sebagai iman yang luar biasa sebagai murid Kristus,” lanjut Romo Tri.
Ketika misa berlangsung, umat biasanya mempersembahkan uang, hasil bumi, dan lainnya untuk gereja. “Tetapi sebenarnya, seharusnya kita mempersembahkan semua, baik suka, duka, maupun pengharapan. Semua itu disatukan dengan kurban salib di altar-Nya yang kudus,” kata Romo Tri. Menurutnya, pada saat itulah terjadi peristiwa iman yang luar biasa. “Dalam konsekrasi, roti dan anggur yang dipersembahkan akan berubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus,” lanjutnya. Peristiwa itu memberikan makna bagaimana korban Kristus dihadirkan ulang, supaya roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus. “Roti itu sejatinya Tubuh Kristus sungguhan. Ketika minum anggur, karena konsekrasi itu berubah menjadi Darah Kristus,” tegas Romo Tri.
Romo Tri juga mengungkapkan bahwa setiap kita sebagai manusia disucikan dan mengalami keselamatan. Ekaristi menjadi perayaan keselamatan bagi setiap manusia yang percaya pada Kristus. “Maka, kita semua diundang untuk mensyukuri ekaristi yang bisa kita rayakan setiap hari, meskipun secara streaming atau virtual,” ujarnya. Menurutnya, setiap umat di masa pandemi pasti berharap bahwa meski secara virtual, esesnsi ekaristi tidak berkurang. “Tuhan memberikan kita kehidupan kekal, membangkitkan kita di akhir zaman, dan melindungi hidup kita,” tambah Romo Tri.
Sebagai manusia, kita semua diundang untuk menyadari pula bahwa ekaristi bukanlah makanan biasa. “Ekaristi adalah pengorbanan Kristus untuk mengalami keselamatan. Oleh karena itu, baiklah kita bersehati dengan Yesus,” ujar Romo Tri. Romo Tri mengatakan bahwa buah ekaristi sama dengan hidup baru. “Maka, aneh rasanya bila orang beriman tidak mau bersatu dengan gerejanya,” tambahnya. Terakhir, Romo Tri mengajak semua umat untuk merayakan ekaristi di masa pandemi ini dengan iman dan penuh rasa syukur.