Puncta 04.12.19 Matius 5: 29-37 / Berbelarasa

 

Menurut perhitungan Bank Dunia, jumlah orang yang hidup di bawah garis kemiskinan sekitar 10 persen dari total populasi dunia. Angka itu turun 36 persen dibandingkan pada era-1990-an.

Dari angka 10 persen itu, 15,7 persen berada di Negeria. Sedangkan di Indonesia terdapat 2,1 persen. Namun tingkat kesenjangan kaya-miskin di Indonesia justru meningkat.

Bank Dunia menyimpulkan empat penyebab meningkatnya tingkat kesenjangan kesejahteraan atau pendapatan masyarakat Indonesia.

Pertama, kesempatan atau peluang mendapat hidup layak tidak setara. Lead Economist Bank Dunia Vivi Alatas menyebut, ketimpangan dimulai sejak anak-anak lahir, terutama di pelosok daerah.

“Ketika lahir, anak-anak kehilangan kesempatan mendapatkan akses sanitasi, kesehatan, dan pendidikan,” katanya.

Kedua, ketidaksetaraan pekerjaan. Pekerja yang punya keahlian tinggi menerima kenaikan gaji namun pekerja kasar tidak memiliki peluang untuk meningkatkan keahliannya. Alhasil, mereka terjebak dalam produktivitas rendah, sektor informal dan gaji rendah.

Ketiga, terpusatnya kekayaan pada segelintir orang yang kemudian diturunkan ke generasi berikutnya.

Keempat, rentan terhadap goncangan perubahan ekonomi. Sekitar 28 juta orang Indonesia saat ini tergolong miskin dan 68 juta orang termasuk rentan miskin. Kelompok inilah yang bisa terporosok bila ada guncangan ekonomi.

Melihat kondisi masyarakat seperti ini, kita diajak untuk meneladan sikap Yesus seperti dalam bacaan Injil hari ini. “HatiKu tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan.”

Yesus punya belarasa yang tinggi terhadap orang yang menderita. Ia mengajak murid-muridNya untuk menolong mereka. Yesus mengajari mereka untuk bertindak jika menghadapi orang sakit, menderita, kelaparan.

Kita bisa menolong tanpa harus menunggu kita kaya atau berkelimpahan. Para murid hanya mempunyai 7 roti dan beberapa ikan kecil. Tetapi yang sedikit itu sangat berguna bagi banyak orang yang membutuhkan. Tuhan berkarya melipatgandakan yang sedikit menjadi banyak, bahkan ada sisanya.

Yang pertama harus dibangun adalah sikap peduli, belarasa. Kedua adalah bertindak semampu kita. kalau kita mau berbagi, pasti akan ada kelebihan. Tuhan akan melengkapi kekurangan kita. Maukah kita peduli kepada orang yang menderita di sekitar kita?

Kalau lagi sakit
Rasanya cuma pengin mencubit
Mau berbagi sedikit
Tuhan membuatnya menjadi bukit

Cawas, Mendung hanya berkedip
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 03.12.19 Pesta St. Fransiskus Xaverius, Imam Markus 16: 15-20 / Sang Misionaris Agung

 

HARI ini Gereja memperingati St. Fransiskus Xaverius. Seorang imam Yesuit yang mewartakan Injil sampai di India, Maluku, Filipina, Tiongkok dan Jepang.

Ia hidup pada tahun 1506-1552. Ia termasuk cikal bakal pendiri Sarekat Jesus bersama dengan Ignasius Loyola. Ia memulai misi pewartaan iman pada tahun 1540.

Oleh Ignasius dia diutus pergi ke Goa, India. Ia memulai misinya dengan mengajarkan prinsip-prinsip agama dan praktik-praktik kebajikan. Sepanjang hari dia mengerjakan pelayanannya.

Sejak pagi ia menolong dan menghibur orang sakit di rumah sakit dan di penjara-penjara yang kotor dan bau, kemudian berkeliling di jalan-jalan sambil membunyikan bel memanggil anak-anak dan para budak untuk berkatekese.

Mereka berkumpul mengelilinginya dan ia mengajarkan syahadat iman (credo), doa-doa, dan nilai-nilai kristiani kepada mereka. Ia mengadakan misa untuk para penderita lepra, berkhotbah di depan umum, serta mengunjungi rumah-rumah penduduk.

Keramahan dan kelembutan karakternya, serta perhatiannya yang penuh kemurahan hati, begitu memikat hati banyak orang. Cinta dan kerendahan hatinya membuatnya menempatkan diri sebagai seseorang yang sederajat dengan mereka.

Ia makan makanan yang sama dengan makanan orang miskin, yaitu nasi dan air. Ia juga tidur di atas tanah dalam sebuah gubuk sebagai tempat tinggalnya. Hal ini dilakukkannya dalam mewartakan Injil sampai di Ambon Maluku. Maka gereja Katedral Ambon berlindung pada jasa Sang Misionaris Agung ini.

Dalam bacaan hari ini, Yesus memberi perintah kepada murid-muridNya, “Pergilah ke seluruh dunia. Beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”

Perintah ini tetap menggema sampai sekarang. Semua orang yang sudah dibaptis diutus untuk mewartakan Kabar Sukacita.

Bukan hanya para imam, bruder,suster atau biarawan biarawati saja yang diutus. Tetapi semua orang yang sudah dibaptis.

Anda sudah dibaptis? Maka perintah ini juga ditujukan kepada anda tanpa kecuali. Mewartakan Injil tidak harus mengajar agama, berkotbah, membaptis, atau menjadi imam.

Cukup dengan berbuat baik, hidup tertib dan rajin, sopan dan tawakal, menjadi orang katolik yang mau melayani sesama dengan tulus. Itu semua sudah bermisi di tengah masyarakat.

Fransiskus Xaverius telah menanam benih iman kristiani. Kita sekarang yang harus memupuk dan memeliharanya supaya berkembang subur agar nilai-nilai Injili semakin dikenal luas di masyarakat. Maukah anda memulai?

Ada es lilin yang tidak manis
Yang dibuat dari buah pisang
Kita semua adalah misionaris
Mewartakan Injil kepada semua orang

Cawas, mengaduk semen biar kuat
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 02.12.19 Matius 8:5-11 / Tidak Layak

 

DALAM tradisi militer, senioritas-yunioritas itu sangat dijaga. Bawahan harus tunduk pada atasan.

Seorang bawahan yang tidak menghormati atasannya bisa dihukum. Ada atasan yang sampai gila hormat. Semua harus dilayani.

Injil hari ini bercerita tentang seorang perwira. Seorang perwira Romawi pastilah seorang yang sangat terhormat.

Dia disegani oleh anak buahnya. Segala perintahnya adalah titah yang harus ditaati. Namun kisah dalam Injil hari ini berkisah lain. Ia seorang perwira yang sangat peduli terhadap anak buahnya. Hambanya sedang menderita sakit.

Perwira ini bukan tipe orang yang jaim. Ia mau terjun langsung dengan beban penderitaan hambanya. Ia tidak merasa pamornya luntur dengan membantu bawahannya.

Dengan statusnya sebagai pejabat tinggi, perwira ini merendahkan diri di hadapan Yesus. Biasanya pejabat tinggi merasa paling bisa mengatasi semuanya, kecuali istrinya sendiri.

Ia datang memohon. Tidak ada kamus minta tolong bagi pejabat. Yang ada adalah perintah. Dalam Injil hal itu jelas tergambar. Perwira itu seperti “melapor” kepada Yesus,

“Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh, dan ia sangat menderita.” Ini adalah laporan, bukan minta tolong. Gengsi seorang pejabat tinggi meminta. Biasanya ia tinggal perintah. Yesuslah yang menawarkan diri, “Aku akan datang menyembuhkannya.”

Sikap Yesus itu mengubah mindset si perwira. Gengsinya yang tinggi runtuh oleh tawaran kerendahan hati Yesus. “ing atase” (susah menterjemahkan istilah ini-red) seorang guru terhormat, “keraya-raya” (siap direpotin) mau datang ke rumahnya.

Maka perwira itu sadar diri, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku. Katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.” Merasa tidak pantas itulah yang muncul dalam diri sang perwira.

Bagi Yesus inilah sikap iman kepada Allah. Semua orang di hadapanNya tidak ada yang pantas. Sikap inilah yang dihargai oleh Yesus. kita semua adalah pendosa yang dikasihi Allah.

Maka Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Kujumpai pada seorang pun di Israel.”

Pada masa advent ini kita semua diajak merendahkan diri di hadapan Allah seperti perwira Romawi itu.

Hanya dengan merendahkan diri, Allah akan turun datang kepada kita. segala usaha manusia yang ingin “naik” menyamai Allah adalah sia-sia. Tetapi kalau kita mau merendahkan diri, Allah akan datang, hadir menolong kita.

Terompet tahun baru sebentar lagi
Mengguntur seperti deru Palapa
Kalau kita mau merendahkan diri
Tuhan datang menolong kita

Cawas, merdu tiupan angin terjepit
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 01.12.19 Minggu Advent I Matius 24:37-44 / Berjaga-jaga

Pada umumnya orang baru memasang CCTV ketika sudah kemalingan. Kadang orang tidak peduli dengan keamanan rumahnya. Baru sadar membuat kunci yang aman kalau ada kejadian pencurian. Warga menggalakkan jaga ronda kampung kalau sudah terjadi pencurian. Pada saat itu pencuri pasti tidak akan datang. Mereka akan beraksi ketika warga terlena. Mereka menunggu waktu yang tepat saat warga tidak berjaga-jaga.

Nasehat Yesus pada Minggu advent pertama ini adalah, “Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. Tetapi ketahuilah ini, jika tuan rumah tahu pada waktu mana pencuri datang waktu malam, pastilah ia berjaga-jaga, dan tidak membiarkan rumahnya dibongkar. Sebab itu, hendaklah kamu selalu siap siaga, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.”

Nabi Nuh adalah contoh orang yang siap siaga dan berjaga-jaga. Pertama, dia peka mendengarkan perintah Tuhan. Dia disuruh membuat bahtera untuk seluruh anggota keluarga dan semua jenis ternak di bumi. Peka mendengarkan sabda itu penting supaya kita mengetahui, sehati seperasaan dengan Tuhan. Peka berarti mampu memahami kehendak dan rencana Tuhan. Selain menjalani hidup yang normal, berjaga-jaga berarti memberi waktu ekstra kepada Tuhan.

Berjaga-jaga berarti juga taat kepada Tuhan. Nuh mentaati perintahNya kendati bagi banyak orang itu sesuatu yang aneh bahkan di luar akal. Untuk apa membuat bahtera wong tidak ada hujan atau banjir? Berjaga-jaga berarti melihat jauh ke depan yang orang lain tidak sempat memikirkan. Orang yang berjaga-jaga adalah orang yang mempunyai visi.

Masa Advent ini adalah masa untuk berjaga-jaga menanti kedatangan Tuhan. Menanti kedatangan Tuhan yang akan kita kenangkan dalam pesta Natal. Tetapi juga menanti kedatangan Kristus yang kedua pada akhir zaman. Pesan Yesus jelas bagi kita, marilah kita berjaga-jaga agar hidup kita tidak terlena oleh kesenangan dunia yang memabukkan. Berjaga itu tidak pasif sehingga membosankan, tetapi aktif menggairahkan. Sambil berjaga-jaga kita berbuat sesuatu yang berguna bagi kebaikan sesama. “Mumpung masih ada kesempatan buat kita, mengumpulkan bekal perjalanan abadi” kata Ebiet.

Sore pasang tenda
Malamnya hujan pun reda
Advent sudah tiba
Marilah kita berjaga-jaga

Cawas, berjaga-jaga sambil cukur
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 30.11.19 Pesta St. Andreas Rasul Matius 4:18-22 / Umat Katolik Yang Transformatif

 

BEBERAPA waktu lalu sedang diadakan TEPAS (Temu Pastoral) dari masing-masing kevikepan di Keuskupan Agung Semarang. Fokus yang dibahas adalah Umat Katolik yang transformatif.

Umat Katolik adalah kita semua yang sudah dibaptis dan disatukan dalam Tubuh Mistik Kristus. Transformatif berarti berdaya ubah bagi diri sendiri dan sesama.

Tokoh-tokoh dalam Kitab Suci yang telah mengalami transformasi adalah Wanita Samaria, Zakeus, Paulus dan para murid Yesus, seperti Petrus dan Andreas.

Hari ini kita merayakan pesta St. Andreas, rasul. Bersama dengan Petrus saudaranya, ia mengalami transformasi. Awalnya mereka adalah penjala ikan.

Ketika berjumpa dengan Yesus, mereka menjadi penjala manusia. Mereka hanya hidup di sekitar perahu dan danau. Kini mereka hidup di dekat Yesus berkeliling kemana-mana untuk menyelamatkan manusia.

Perjumpaan dengan Yesus membuat hidup mereka berubah. Mereka tidak lagi hanya mencari kebahagiaan untuk diri sendiri, tetapi mengupayakan kebahagiaan bagi sesama yakni keselamatan kekal.

Setiap orang Katolik yang dibaptis semestinya mengalami transformasi diri, pertobatan menjadi manusia baru. Baptis itu adalah kunci untuk perubahan diri.

Sebagaimana Andreas meninggalkan perahu dan pekerjaannya, lalu menjadi murid Yesus, begitulah orang katolik yang dibaptis telah berjumpa dengan Yesus. Ia meninggalkan cara hidup lama (perahu) menuju cara hidup baru (Anak Allah).

Transformasi itu adalah gerak keluar kita untuk menjadi garam dan terang bagi masyarakat. Daya baptis yang kita terima mengarahkan langkah kita untuk mampu berdaya ubah bagi sesama.

Misalnya, kita bisa memberi teladan untuk disiplin, budaya antri, membuang sampah pada tempatnya, tidak memakai plastik demi kelestarian lingkungan hidup.

Dalam dunia yang diracuni sikap intoleran kita kembangkan semangat kasih. Dalam dunia politik yang disusupi nafsu kuasa, kita kembangkan budaya melayani.

Kita semua dipanggil dalam kapasitas kita masing-masing untuk berdaya ubah. Marilah kita menjadi garam dan terang. Itulah panggilan kita sebagai orang Katolik.

Maka kalau menjadi Katolik berarti mau berubah dan mengubah. Siapkah anda berubah?

Jalan-jalan pakai batik bermotif
Hiasan kepala pakai kain terikat
Kalau jadi umat Katolik yang transformatif
Harus berani menggarami masyarakat

Cawas, udara tetap panas
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 29.11.19 Lukas 21:29-33 / SabdaNya Kekal Selamanya

 

SUDAH duapuluh abad sabda Yesus itu menggema di relung hati manusia, dari generasi ke generasi.

Dunia terus berubah, tetapi sabdaNya tetap untuk selamanya. sabdaNya tetap up to date menjawab segala zaman.

Langit dan bumi akan berlalu. Dari orde lama ke orde baru. Dari zaman serba manual menuju zaman digital. Dari zaman batu mengarah ke generasi milenial.

Tetapi sabda Tuhan tak pernah berubah. Ia tetap menunjukkan kasih setiaNya kepada manusia.

Hal itu dikatakan Yesus kepada murid-muridNya, “Sungguh angkatan ini takkan berlalu sebelum semuaya terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi sabdaKu takka berlalu.”

Kesetiaan Tuhan adalah abadi. JanjiNya kekal untuk selamanya. Tuhan tidak pernah mengingkari janjiNya. Ia terus membimbing umatNya.

Kendati kita harus jatuh bangun dalam memperjuangkan kesetiaan, tetapi Tuhan tetap sabar dan setia. sabdaNya sekali terucapkan berlaku selamanya.

Itulah sebabnya ketika Petrus ditantang untuk mengundurka diri, seperti yang dibuat oleh orang-orang, dengan lantang ia berkata,

“Tuhan kepada siapakah kami akan pergi? SabdaMu adalah sabda hidup dan kekal.” St. Paulus juga meyakini sabda Yesus itu dengan menegaskan, “Scio qui credidi” (Aku tahu kepada siapa aku percaya).

Kedua tokoh itu tidak meragukan akan sabda Yesus. sabdaNya memberikan kehidupan kekal dan sugguh dapat dipercaya. Makanya mereka berani mengorbankan hidup mereka demi mewartakan Yesus.

Karena adanya pribadi-pribadi yang terpikat pada Kristus itulah sabdaNya menggema sampai sekarang, menyebar ke segala penjuru bumi.

Apakah kita yang telah terpikat oleh Kristus dan sudah dibaptis dalam NamaNya juga berani mewartakan sabdaNya kepada orang-orang di sekitar kita? sehingga kendati bumi berlalu namun sabda Kristus kekal selamanya.

Kalau kita mau makan nangka
Pasti kita akan kena getahnya
Kalau kita sudah terpikat sabdaNya
Mewartakan kasihNya adalah panggilan kita

Cawas, selalu semangat dalam cita
Rm. A. Joko Purwanto Pr