Puncta 20.02.22 || Minggu Biasa VII || Lukas 6: 27-38

 

Kualitas Anak Allah; Murah Hati.

AVUL Pakir Jainulabdeen Abdul Kalam atau yang biasanya disebut dengan APJ Abdul Kalam merupakan Presiden India ke 11 dari tahun 2002-2007.

Beliau cerita: Suatu hari ibu menyiapkan makan malam setelah sehari bekerja keras. Ia menghidangkan sabzi (sayuran dengan rempah dan kari) dan roti gosong.

Ayahku makan dengan enak dan tidak menunjukkan reaksi kecewa atau marah. Aku mendengar ibu meminta maaf karena roti gosong.

Aku tidak pernah lupa apa yang dikatakan ayahku, “Sayang, sesekali aku juga menyukai roti gosong.”

Sebelum tidur aku bertanya pada ayah, apa ayah benar-benar menyukai roti gosong?

Ayah memelukku dan berbisik, “Ibumu telah bekerja berat sepanjang hari. Roti gosong tidak pernah menyakiti siapapun. Kata-kata kasarlah yang akan menyakiti.

Kau tahu nak, hidup ini penuh ketidak-sempurnaan. Ayah pun bukan lelaki sempurna dan belajar menerima ketidaksempurnaan.

Hidup ini singkat, jagalah tutur kata dan tingkah laku kita, jangan sampai menyakiti orang-orang di sekitar kita.”

Aku tidur dalam pelukan mimpi yang sangat indah.

Dalam Injil hari ini, Yesus mengingatkan kita sebagai anak-anak Allah. Kualitas anak Allah ya meniru sikap Allah sendiri, yaitu murah hati.

Yesus bertanya, “Kalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun mengasihi orang-orang yang mengasihi mereka.”

Kualitas anak Allah berbeda dengan orang berdosa. Mereka hanya mengasihi orang-orang yang mengasihi mereka; yang sepaham, seide, seagama, sealiran, satu budaya, satu bahasa.

Anak Allah harus bisa mengasihi semua orang bahkan yang tidak sealiran, seagama, juga yang berbuat jahat sekalipun.

“Kalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepadamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian.”

Orang serumah saja kadang berbeda pendapat – lihat contoh keluarga Abdul Kalam di atas – apalagi di suatu masyarakat atau bangsa.

Silang pendapat, beda cara pandang adalah hal biasa. Jangan mudah marah dan berlaku kasar, yang justru menyakiti.
Tetaplah mengasihi dan berlaku baik.

“Hidup ini hanya sebentar,’ kata ayah Abdul Kalam. “Jangan menyakiti orag-orang tercinta.”

Kualitas anak Allah nampak bagaimana kita bersikap terhadap mereka yang memusuhi, menentang, melawan dan berada di seberang kita.

Sikap Daud terhadap Saul dapat menjadi teladan bagi kita. Kendati Saul berbuat jahat dan ingin melenyapkan Daud, tetapi Daud tetap mengasihi dan menghormati Saul. Daud memandang Saul sebagai orang yang diurapi, dipilih Allah.

Mari kita membangun sikap hidup sebagai anak-anak Allah. Kita perlu memiliki cara pandang bagaimana Allah memandang kita.

Allah kita itu baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterimakasih dan terhadap orang-orang jahat.

Hendaklah kita murah hati sebagaimana Bapa murah hati adanya.

Lihat lava gugur dari kawah,
Meluncur jauh ke arah Muntilan.
Berlakulah sebagai anak Allah,
Berani mengasihi tanpa membedakan.

Cawas, mari murah hati….
Rm. A.Joko Purwanto, Pr

Puncta 19.02.22 || Sabtu Biasa VI/C || Markus 9: 2-13

 

Mandalika yang Eksotik.

SEBELUM menjajal sirkuit Mandalika, Lombok, para pembalap MotoGP disuguhi pemandangan eksotik di sekitar arena balap.

Marques mencicipi air kelapa muda yang segar sambil mengagumi pantai yang biru.

Sementara Quartararo berenang, para rider lain ada yang berjemur di pasir putih, bersepeda, bermain volley pantai.

Bastianini yang baru pertama kali ke Indonesia mengeksplorasi pemandangan indah di Lombok dengan menulis status di instagramnya, “Troppo bello” (Sangat indah).

Miguel Oliveira menulis, “What a place. Can’t wait to ride the track.”

Mereka terkagum-kagum dengan keindahan alam Lombok. Mereka mencicipi kegembiraan dan sukacita sebelum menjajal sirkuit Mandalika.

Perjuangan yang sesungguhnya adalah memenangkan pole position di race utama dan meraih juara.

Ini hanya sesi latihan, menjajal track sebelum mereka nanti tampil berlomba di bulan Maret.

Mereka tidak boleh terlena oleh keindahan dan kesenangan. Mereka harus turun dan berjuang di perlombaan yang sesungguhnya.

Setelah Yesus berbicara tentang penderitaan-Nya, Ia membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes naik ke gunung yang tinggi.

Yesus berubah rupa di depan mereka. Yesus menunjukkan keilahian-Nya.

Petrus sangat gembira melihat pemandangan itu. “Rabi, betapa bahagianya kami berada di sini.”

Kalau zaman itu ada medsos, mungkin Petrus dan teman-temannya akan mengunggah status di laman mereka.

Mungkin komen mereka; “Wonderful moment” atau “Amazing.”

Mereka diajak mencicipi kemuliaan Yesus di atas gunung.

Pesan yang paling penting adalah sabda Allah yang berkata, “Inilah Anak-Ku yang terkasih, dengarkanlah Dia.”

Kita diajak mendengarkan dan mengikuti-Nya.

Mengikuti Yesus berarti siap turun gunung dan berani memanggul salib. Inilah perjuangan yang sesungguhnya.

Seperti para pembalap yang tidak boleh terlena pada keindahan alam Lombok, tapi siap berjuang dalam perlombaan.

Begitu pula kita, para murid tidak boleh terlena pada peristiwa rohani di atas gunung, namun berani turun dan terjun di dunia nyata untuk berjuang memanggul salib.

Seperti para nabi, Elia, Yohanes Pembaptis dan juga Yesus yang ditolak, dicemooh, disingkirkan, bahkan dibunuh, kita dipanggil mendengarkan mereka dan siap memanggul salib kita.

Inilah perlombaan sesungguhnya. Kita harus berani terjun di dalamnya. Mari kita siap berlomba memanggul salib kita setiap hari.

Berakit-rakit dahulu
Berenang-renang ke tepian.
Bersakit-sakit dahulu
Bersenang-senang ke Taiwan.

Cawas, dengarkah Dia….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 18.02.22 || Jum’at Biasa VI/C || Markus 8: 34-9:1

The Mission ala Kalimantan.

BEBERAPA hari kemarin daerah Simpang Hulu, Ketapang diguyur hujan berhari-hari. Balai Berkuak dikepung banjir. Pak Gio di Simpangdua juga mengabarkan air merendam sampai setinggi dada orang dewasa. Banyak akses jalan terputus dan hancur tak bisa dilalui.

Romo-romo yang bertugas di Botong berjibaku menembus jalan-jalan tikus di hutan karena jalan yang biasa dilewati putus terendam banjir.

Melihat video perjuangan Romo Wawan SJ dan Rm. Mardi SJ membuat hati bangga, berkobar dan haru.

Mereka berjuang menembus jalan setapak di hutan, jalan licin berlumpur, meniti jembatan darurat hanya dari sebatang papan kayu.

Motor bisa terperosok ke sungai. Perjuangan yang berat dan melelahkan. Seperti adegan Film The Mission.

Kalau direnung-renungkan, untuk apa semua ini? Kenapa harus susah-susah, menantang medan yang sulit, pergi ke tempat terpencil, jauh dari hingar bingar keramaian kota?

Apa yang mendasari perjuangan dan keberanian mereka sampai melakukan hal “se-gila” ini?

Kita dibantu menjawab pertanyaan di atas dari perikope Injil hari ini. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, harus menyangkal diri, memikul salibnya, dan mengikut Aku.

Karena barang siapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barang siapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkan nyawanya.”

Ya mereka adalah Sarekat Jesus. Mereka siap menyangkal diri dan memanggul salib. Itulah motivasi dasar dari semua perjuangan ini.

Kita semua disebut sahabat-sahabat Jesus, sudahkah kita ikut memanggul salib dan berani menyangkal diri?

Para misionaris ini sedang mempertaruhkan nyawanya demi mewartakan Injil. Apa yang mereka kejar? Kenikmatan harta dunia? Bukan, mereka ingin menyelamatkan jiwa-jiwa. Itu yang lebih penting daripada memperoleh seluruh dunia.

Beban salib yang berat, jika ditanggung bersama, apalagi diterima dengan sukacita akan menjadi ringan. Rm. Mardi ikut merasakan beban yang dialami umat. Ia menyatu dengan umat dan menjalani dengan sukacita.

Komentarnya di WAG menunjukkan kedalaman hidup rohani yang “menep”(mengendap). Ia menulis, “Jalani saja Padre….umat merasakan hal yang sama (hidup yang berat), dan bisa saling mendorong dan memanggul beban bersama sambil tetap tersenyum.”

Apakah kita sudah mampu memanggul beban hidup sambil tersenyum? Apakah kita punya empati dengan umat yang sedang memanggul salib berat?

Apakah kita berani menyangkal diri dan ikut membantu memanggul salib mereka?

Menyangkal diri dan memanggul salib itulah syarat untuk mengikuti Dia.

Wayang itu dulu sarana siar agama.
Kok mau dimusnahkan begitu saja.
Apalah artinya memiliki seluruh dunia.
Jika kehilangan cinta orang-orang di dekat kita?

Cawas, kejar saja cinta, jangan dunia….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 17.02.22 || Kamis Biasa VI/C || Markus 8: 27-33

 

Sungguh Kenalkah Kita?

Pembicaraan di meja makan itu topiknya tentang perkawinan. Awalnya mereka hanya mengeluhkan anak laki-laki yang belum juga mau menikah. Padahal banyak cewek-cewek yang mengejarnya.

Ada yang sudah punya rumah, mobil bahkan perusahaan. Tapi pemuda ini belum juga tertarik menentukan pilihan.

“Kan harus mengenal karakter pribadinya ya Romo, tidak asal seneng dari sisi lahiriahnya saja.” kata cowok itu memberi alasan.

“Om dulu kenal tante hanya tiga bulan lho. Kenalan pun melalui teman. Tapi kami sama-sama berkomitmen untuk setia seumur hidup. Puji Tuhan sudah berjalan puluhan tahun gak ada masalah. Anak muda sekarang mah beda, banyak yang dipikirkan.” Kata pamannya.

“Kami ini lho Romo,” kata mamanya menimpali. “Tiada hari tanpa beda pendapat dengan suami. Semakin dekat, makin mengenal, semakin banyak misterinya juga. Kami sudah lama menikah, tetapi selalu ada hal-hal baru yang kadang tidak bisa kami pahami.”

Itulah misteri relasi suami istri yang tak mungkin tersingkap secara sempurna.

Relasi Yesus dengan para murid juga ada romantikanya sendiri.

Dalam perjalanan, Yesus ingin menguji sejauh mana pengenalan para murid tentang Diri-Nya.

Maka Dia bertanya; “Kata orang siapakah Aku ini?”

“Ada yang mengatakan Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan Elia, ada pula yang mengatakan; seorang dari para nabi,” jawab mereka.

Yesus bertanya lebih pribadi. “Tetapi menurut kamu, siapakah Aku ini?”

Petrus langsung menjawab, “Engkaulah Mesias.”

Apa yang disampaikan Petrus benar. Namun masih perlu dipastikan lagi isi rumusan itu.

Makanya Yesus melarang mereka dengan keras supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang hal itu.

Ketika Yesus mengajarkan bahwa Anak Manusia harus menderita, ditolak para tua-tua, lalu dibunuh dan bangkit, Petrus menarik Yesus dan menegur-Nya.
Petrus tidak mau Yesus mengajarkan begitu.

Dari sini jelas bahwa Petrus tidak mengenal sungguh apa arti Mesias yang dimaksudkannya. Ada beda pendapat Mesias menurut Yesus dan Mesias menurut Petrus. Ada yang tidak nyambung.

Disinilah dinamika relasi yang terus menerus dimurnikan. Begitu pun dalam romantika suami istri di keluarga.

Semakin lama semakin dekat semakin mengenal, tetapi juga ada hal-hal baru yang belum diketahui juga. Kadang ada beda pendapat yang menimbulkan kemarahan.

Yesus marah kepada Petrus karena beda pemahaman.

“Enyahlah Iblis. Sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”

Beda pendapat yang sangat mendasar tentang perutusan Yesus. Maka Yesus memarahi Petrus yang barusan menyebut Yesus adalah Mesias.

“Kalau istri sudah tertidur di samping saya, saya sering memandangi wajahnya. Saya selalu bersyukur diberi wanita hebat nan luar biasa, yang mengenal dan mau hidup dengan saya, walau sering saya membuatnya marah dan menjengkelkan. Untung selama ini saya tidak pernah membentaknya dengan kata kasar, apalagi memukulnya. Maturnuwun Gusti, Engkau memberi istri yang baik hati.” Kata suami dalam hati seraya mencium kening istrinya.

Kita harus lebih memikirkan kehendak Allah daripada kehendak sendiri.

Pergi ke Jogja harus melewati Mlati,
Dari jalan Kaliurang naik ke Merapi.
Cinta kadangkala susah dipahami,
Katanya mengenal namun tidak mengerti.

Cawas, berusaha lebih memahami,,,
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 16.02.22 || Rabu Biasa VI/C || Markus 8: 22-26

 

Berproses dan Percaya

AJANG pencarian bakat Amerika (AGT) selalu memberi kejutan yang luar biasa dan tak terduga.

Pada episode ke 14 muncul Kodi Lee, seorang buta dan autis yang tampil dengan suara emas dan permainan lembut pianonya.

Yang paling hebat adalah ibunya, Tina Lee yang mendampingi Kodi sampai dia menemukan bakat di bidang musik dan nyanyi.

Tina dengan sabar membimbing, menyemangati, mengarahkan anaknya sehingga berkembang bakatnya. Ia menuntun anaknya di panggung AGT dan memberi support kepadanya.

Ketika suaranya terdengar di awal lagu, para juri langsung terhenyak kagum. Kodi bisa mengambil nada-nada sulit dengan baik. Ia menyanyikan lagu “ A Song for You.”

Semua penonton berdiri dan bertepuk tangan menyambut dengan gegap gempita penampilan memukau pemuda autis dan buta ini.

“Apa yang baru saja kita lihat benar-benar mengagumkan. Aku tidak tahu bagaimana rasanya hidup di dunia Kodi, yang aku tahu kalian berdua memiliki hubungan yang hebat. Suaramu sangat fantastis, tone suaramu sangat apik, dan terima kasih telah mempercayai kami di pertunjukan ini. Aku akan selalu mengingat penampilan ini sampai akhir hayatku,” kata Simon Cowel, salah satu juri.

Kendati matanya tidak melihat, tetapi dunia Kodi menjadi terbuka lebar. Peristiwa ini membuat hidupnya berubah. Ia melihat masa depannya menjadi cerah.

Relasi hebat antara ibu dan anak inilah yang memungkinkan terjadinya mukjijat penemuan bakat yang luar biasa.

Tina percaya suara Kodi adalah anugerah Tuhan. Kodi dengan taat mengikuti bimbingan ibunya.

Di dalam Injil juga ada relasi baik antara orang buta dengan Yesus. Orang buta itu sangat beruntung masih bisa berbicara. Inilah anugerah dan kelebihan yang dimiliki. Ia taat mengikuti perintah Yesus.

Ada proses penyembuhan yang dibuat Yesus. Dia memisahkan si buta ke luar kampung. Dia meludahi mata si buta lalu mengetesnya.

“Aku melihat orang. Kulihat mereka berjalan-jalan, tetapi tampaknya seperti pohon-pohon yang berjalan.” Kata si buta.

Lalu Yesus meletakkan tangan pada mata si buta. Orang itu kemudian bisa melihat dengan jelas. Ia menjadi sembuh, dapat melihat dunia sekitarnya.

Ada dua hal penting dalam penyembuhan ini. Pertama, mau berproses. Kedua, ada relasi saling percaya.

Orang buta itu mau dibimbing dan mengikuti proses penyembuhan. Ada hubungan saling percaya antara si buta dengan Yesus.

Ketika kita menderita sakit, kita maunya cepat-cepat sembuh, kalau perlu pakai jalan pintas.

Selalu ada proses yang harus dilewati. Kita diajak melaluinya dengan sabar tahap demi tahap.

Saling percaya akan membuka pada peristiwa-peristiwa besar. Kodi dan ibunya punya rasa saling percaya yang tinggi. Bakat yang terpendam dapat ditemukan karena keterbukaan dan saling percaya.

Orang buta itupun percaya dan taat pada bimbingan Tuhan. Ia bisa melihat karena taat pada proses yang ditunjukkan Tuhan.

Ketika kita sedang terpuruk, apakah kita mau berproses dengan Tuhan dan mempercayakan diri kita kepada-Nya?

Sejak subuh terus diguyur hujan,
Matahari malu tertutup mega-mega.
Bila kita percaya pada karya Tuhan,
Kita juga mau berproses bersama-Nya.

Cawas, selalu dan tetap percaya….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 15.02.22 || Selasa Biasa VI/C || Markus 8:14-21

 

Ragi Kebencian dan Adu Domba.

MENJELANG pemilu, konstelasi politik di negeri ini biasanya meningkat. Tidak sadar kita digiring dalam bingkai pilihan kubu agama dan nasionalis. Seagama saja bisa beda kubu. Masyarakat jadi terpecah belah.

Pengalaman di DKI jadi trauma politik yang menghancurkan. Agama dijadikan alat politik. Agama yang seharusnya mencerahkan kehidupan, tetapi dipakai segelintir orang untuk kepentingan politiknya.

Inilah ragi yang terus ditaburkan di masyarakat sampai sekarang. Ragi yang membuat sistem politik menjadi busuk, merusak dan memecah belah.

Jangan terlena dan waspadalah tahun 2024 pasti akan terjadi lagi.

Yesus memperingatkan para murid-Nya tentang ragi kaum Farisi dan Herodes.

Kaum Farisi adalah kelompok agama dalam Yudaisme. Mereka lebih kaku dalam aturan-aturan lahiriah; hukum Sabat, pakaian jubah-jubah, cuci tangan, cawan, perkakas ibadat. Ragi kaum Farisi adalah munafik dan legalistik.

Kaum Farisi merasa diri paling benar dalam beragama karena mereka merasa telah menjalankan aturan daripada orang lain. Mudah menghakimi dan menyalahkan orang lain.

Orang dibuat takut dengan aturan agama yang selalu menghukum. Mereka suka memberi beban kepada orang lain, namun mereka sendiri tidak mau menyentuh beban itu.

Ragi kelompok Herodes adalah rasa nyaman oleh kebijakan politik Herodes. Kelompok Herodian adalah kaum politikus yang mendukung Herodes. Bagi mereka Herodes adalah mesias.

Mereka merasa nyaman diberi kedudukan politis, ekonomi dan fasilitas negara. Mereka bisa korupsi dengan aman dan lancar.

Yesus menjuluki Herodes sebagai serigala karena kejam dan menghalalkan segala cara. Contohnya pembunuhan Yohanes Pembaptis dan nantinya juga menyalibkan Dia.

Yesus dipandang oleh kelompok Herodian sebagai ancaman kemapanan.

Yesus mengingatkan para murid agar tidak tercemar ragi Herodes. Ambisi dan nafsu politik yang merusak tidak boleh ditiru.

Nilai-nilai Injil harus bisa menggarami politik, bukan praktek politik kotor yang menggarami hidup kita. Politik diarahkan untuk kebaikan bersama, demi keadilan, kebenaran dan cinta kasih. Bukan demi ambisi pribadi dan kelompok tertentu.

Yesus mengajarkan kekuasaan itu untuk melayani, bukan untuk menindas demi keuntungan pribadi.

Mari kita mulai cerdas berpikir. Coba kita perhatikan, lebih-lebih di tahun depan, agama dan politik akan dimainkan demi ambisi kekuasaan.

Kaum Farisi dan Herodian akan bergabung untuk membungkam kebenaran dengan segala cara, demi kepentingan mereka, bukan demi keselamatan bangsa.

Marilah kita menjadi warga negara yang cerdas berpolitik. Jangan mudah dibodohi dengan janji-janji surga demi elite tertentu. Sesudah mereka berkuasa lalu lupa pada rakyat yang tetap menderita.

Mari kita teliti ragi apa yang sekarang sedang disebar di masyarakat kita.

Gajah berkelahi melawan gajah,
Pelanduk mati di tengah-tengah.
Jangan mudah kita dipecah belah,
Yang untung hanya negeri sebelah.

Cawas, tebarkan kebaikan…
Rm. A. Joko Purwanto, Pr