Puncta 15.06.21 / Selasa Biasa XI / Matius 5: 43-48

 

“Mengasihi Musuh?”

SUN TZU adalah seorang jendral dari kekaisaran Wu yang hidup pada 544 – 496 SM. Ia dikenal sebagai ahli strategi perang, selain juga seorang filsuf yang terkenal.

Pemikirannya masih banyak dipakai dalam kepemimpinan, managemen dan aneka macam startegi bisnis sampai sekarang. Sun Tzu banyak dikenal karena tulisannya yang berjudul The Art of War.

Di antara ungkapan-ungkapan yang terkenal antara lain; “Untuk mengetahui siapa musuhmu, kamu harus menjadi seperti mereka. Jaga temanmu agar tetap dekat dan jagalah musuhmu agar lebih dekat lagi.”

Seorang kaisar Cina menggunakan strategi Sun Tzu. Sang Kaisar mengatakan bahwa ia ingin melenyap semua musuh-musuhnya.

Berapa hari kemudian orang-orang menyaksikan bahwa kaisar itu duduk, makan, dan bersenda gurau dengan musuh-musuhnya.

Bawahannya menjadi heran dan bertanya, “Paduka, bukankah paduka mengatakan bahwa paduka ingin melenyapkan semua musuh?”

Kaisar itu menjawab, “Itu benar. Saya sudah melenyapkan musuh-musuh itu. Saya menjadikan mereka sahabat saya.”

Sedikit mirip dengan strategi Sun Tzu, Yesus mengajarkan kepada murid-murid-Nya untuk mengasihi musuh-musuh.

“Kalian telah mendengar bahwa disabdakan, ‘Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.’ Tetapi Aku berkata kepadamu, ‘Kasihilah musuh-musuhmu, dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”

Yang membedakan ajaran Yesus adalah motivasinya. Kalau Sun Tzu ingin mencari kemenangan. Yesus ingin agar murid-murid-Nya menjadi sempurna seperti Bapa di surga sempurna adanya.

Kita tidak mengalahkan musuh tetapi mengasihi musuh. Menang dan kalah itu kedudukannya tidak sejajar. Yang menang di atas, yang kalah di bawah. Kalau mengasihi itu menjadi sejajar, sama sederajat. Tidak ada atas bawah.

Dengan mengasihi musuh kita disebut anak-anak Allah. Hal itu tidak mudah. Menerima orang yang tidak seide dengan kita saja sulit, apalagi mengasihi orang yang membenci kita.

Kalau kita tidak mampu mengasihi musuh, maka jangan buat orang lain menjadi musuh. Tuntutan Yesus memang berat. Apakah anda masih mau mengikuti-Nya?

Beli pecel kembang turi.
Lima ribu harga sebungkus.
Mari kita saling mengasihi.
Itulah tanda murid-murid Yesus.

Cawas, merepih alam….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 14.06.21 / Senin Biasa XI / Matius 5: 38-42

 

“The Golden Rule: Mengasihi”

DALAM Kitab Perjanjian Lama (Keluaran, Imamat dan Ulangan) sudah tertulis hukum pembalasan “mata ganti mata, gigi ganti gigi”.

Dalam codex Hamurabi (1780 SM) di Kerajaan Babilonia hukum pembalasan ini sudah menjadi undang-undang.

Hukum pembalasan (Latin: lex talionis) adalah asas bahwa orang yang telah melukai orang lain harus diganjar dengan luka yang sama oleh pihak yang dirugikan, atau menurut interpretasi yang lebih halus korban harus menerima ganti rugi yang setimpal.

Maksud di balik asas tersebut adalah untuk membatasi kompensasi pada nilai kerugian. Orang tidak boleh membalas sesuka hati, sewenang-wenang

Dalam PL ada 9 contoh (nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki, lecur ganti lecur, luka ganti luka, bengkak ganti bengkak, patah ganti patah) yang bisa dibalaskan.

Dalam perikope ini Yesus hanya menyebut dua sebagai contohnya, “mata ganti mata, gigi ganti gigi.”

Hukum pembalasan diganti menjadi hukum cintakasih. Yesus berkata, “Kalian mendengar, bahwa dahulu disabdakan, ‘Mata ganti mata, gigi ganti gigi.’ TETAPI Aku berkata kepadamu, ‘Janganlah kalian melawan orang yang berbuat jahat kepadamu. Sebaliknya, bila orang menampar pipi kananmu, berikanlah pipi kirimu.”

Kata TETAPI sengaja saya beri huruf besar dan tebal karena kata itu menunjukkan arti sebaliknya dari epigram sebelumnya.

Dengan ajaran kasih, Yesus mengubah aturan dunia. Ada tiga tahap perubahan. Pada awalnya prinsip “asu gedhe menang kerahe”. Yang besar, kuat, dia yang menang. Ini prinsip sewenang-wenang, chaos, kacau.

Keadaban manusia mulai memikirkan asas “keadilan.” Mata ganti mata, gigi ganti gigi. Kompensasi dibatasi sejauh apa yang dihilangkan. Namun asas kedua ini masih mengandung unsur balas dendam.

Yesus mengubah balas dendam dengan cintakasih. Asas ketiga; mengasihi adalah asas yang paling luhur. Kasih terwujud dalam pengampunan, tidak membalas tetapi memberi lebih yang diminta atau dituntut. “Berikanlah kepada orang apa yang dimintanya.”

Dunia yang diwarnai oleh egoisme, hitungan ekonomis “untung rugi” seringkali sulit menerapkan asas cintakasih.

Yang penting aku untung, aku senang, aku kaya, aku enak. “bodo amat orang lain mau susah, sengsara, menderita.” Emang Gue pikirin…?

Sikap apatis ini membuat orang tidak mau peduli dengan keadaan sosial, membiarkan masalah. Ia tak mau mengampuni sebagai wujud kasih.

Mengampuni bukan tindakan hina atau rendah. Justru pengampunan itu sesuatu yang luhur dan bermartabat. Bersediakah kita untuk mengampuni sebagai wujud kasih?

Nonton sinetron bareng teman.
Pengin nangis tapi gengsi.
Jangan suka balas dendam.
Hati-hati tensinya tinggi.

Cawas, salam sehat dan waras….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 13.06.21 / Minggu Biasa XI / Markus 4: 26-34

 

“Kesabaran Adalah Emas”

DASRATH Manjhi membelah gunung untuk membuat jalan menuju rumah sakit. Kerja “gila” itu dilakukan selama 22 tahun. Ia melakukan sendiri dan hanya menggunakan palu dan linggis. Ia berhasil memotong jarak dari 55 km menjadi 15 km menuju rumah sakit.

Sekarang semua orang di desa Gehlor, Bihar, India memanfaatkan jalan itu. Banyak orang sakit bisa diselamatkan karena kerja keras, kesabaran dan ketekunan seorang Manjhi.

Menggapai sebuah impian yang baik membutuhkan perjuangan. Membangun keluarga yang bahagia juga butuh waktu yang lama. Menempuh cita-cita yang tinggi butuh kesabaran dan perjuangan.

Seperti seorang petani yang ingin panenannya berhasil, ia harus kerja keras, mulai memilih benih yang baik, tanah yang subur, memelihara dengan sabar dan berpasrah pada pemeliharaan Tuhan.

Yesus menampilkan dua perumpamaan tentang benih yang ditabur dan biji sesawi. Kerajaan Allah seperti benih yang ditabur. Ia bertumbuh pelan-pelan tanpa disadari. Pada akhirnya buahnya berlipat ganda.

Kita bisa belajar menjalani hidup dari kedua perumpamaan ini. Pertama, hidup itu ada di tangan Allah. Yang berkuasa adalah Allah. Kita seperti benih yang ditaburkan. Kita diajak terbuka dan pasrah pada cara kerja Allah.

Kedua, biji sesawi (Mustard seeds) itu sangat kecil, tetapi bisa tumbuh menjadi pohon yang besar. Segala sesuatu dimulai dari yang kecil, sederhana. Dengan kesabaran, hal-hal kecil akan berbuah menjadi besar.

Ketiga, pertumbuhan benih itu butuh waktu. Para petani itu menunggu dengan sabar dan tawakal. Sikap sabar dalam hidup itu perlu. Orang tidak boleh tergesa-gesa mencari hasil.

Budaya instant jadi godaan di zaman modern. Sabar dalam proses, tekun dalam usaha, rajin dalam bertindak jadi modal mencapai keberhasilan.

Keempat, pohon sesawi yang sudah besar akan menjadi tempat bernaung dan bersarang burung-burung. Keberhasilan hidup kita bukan untuk diri sendiri, tetapi bisa dibagikan untuk orang lain.

Jika kita sudah berhasil, jangan lupa diri, tapi ingatlah orang lain. Berikan dirimu untuk menjadi sarang dan naungan yang aman bagi yang lain.

Walau tidak ada bulan purnama,
Langit tetap indah karena bintang kejora.
Jangan pernah putus asa dan kecewa.
Kesabaran akan menuai hasilnya.

Cawas, menjaga asa….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 12.06.21 / PW. Hati Suci St. Perawan Maria / Matius 5:33-37

 

“Aja Lamis”

Aja sok gampang janji wong manis yen ta amung lamis.
Becik aluwung prasaja nimas ora agawe cuwa.
Akeh tulada kang demen cidra uripe rekasa.
milih sawiji endi kang suci tanggung bisa mukti.

(Jangan mudah berjanji kalau ternyata hanya pura-pura.
Lebih baik terbuka saja tidak akan bikin kecewa.
Banyak contoh orang yang ingkar, hidupnya sengsara.
Pilihlah satu mana yang suci dijamin hidupmu bahagia)

LAGU yang dinyanyikan Waljinah ini sarat dengan nasehat yang baik. Intinya agar kita tidak mudah bersumpah palsu. Senang janji-janji tetapi tidak pernah ditepati.

Didi Kempot juga menulis lagu dengan judul “Janji Palsu”.

Sebagian liriknya berbunyi:
Ning nyatane kabeh kuwi palsu. Wis ra padha sing kok ucapke mring aku
Awakku nganti kuru amarga janjimu kabeh kuwi janji palsu.
Yen kowe tresna ning apa nglarani aku. Yen kowe setya ning apa ngapusi aku. Yen kowe seneng ning apa lali janjimu. Yen kowe temen ning apa ninggalke aku.

Yesus mengingatkan agar kita tidak mudah mengucapkan janji-janji, entah demi langit, demi bumi, demi surga atau demi apapun. Yang paling penting adalah apa yang diucapkan mulut dapat dilakukan dalam tindakan.

Kualitas diri akan terlihat jika perkataan dan perbuatan itu sama.

Yesus berkata, “Jika ya, hendaklah kalian katakan; ya, jika tidak, hendaklah kalian katakan; tidak.” Yesus ingin kita mengatakan kebenaran.

Jangan sampai kita berdusta yang seharusnya ya dikatakan tidak. Malah yang tidak dikatakan ya. Jika demikian, hidup menjadi kacau.

Marilah kita belajar jujur pada diri kita sendiri. Jika kita berani jujur pada diri sendiri, kiranya kita tidak akan berani bersumpah palsu atau mengumbar janji pada orang lain.

Membeli bubur di pasar pagi hari.
Berani jujur tanda kedewasaan diri.

Cawas, lebih baik diam diri…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 11.06.21 / HR. Hati Yesus Yang Mahakudus / Yohanes 19: 31-37

 

“Hati Yang Luka”

Berulang kali aku mencoba selalu untuk mengalah.
Demi keutuhan kita berdua walau kadang sakit.
Lihatlah tanda merah di pipi bekas gambar tanganmu.
Sering kau lakukan bila kau marah menutupi salahmu.
Samakah aku bagai burung di sana yang dijual orang?
Hingga sesukamu kau lakukan itu, kau sakiti aku.

SYAIR lagu Betharia Sonata ini menggambarkan hati seorang istri yang luka karena disakiti oleh suaminya. Suami yang membagi cinta, suka marah, menampar pipi dan mengingkari janji setia sungguh membuat hati sang istri menderita.

Begitu pun Allah, dalam bacaan pertama Allah menunjukkan kasih setia-Nya kepada Israel. Allah selalu setia tetapi Israel sering mengingkari Allah.

Hosea disuruh mengambil Gomer, si pelacur untuk dijadikan istrinya. Itu adalah lambang Allah yang mengasihi Israel, yang sering melacurkan diri dengan alah-alah lain.

“Hati-Ku berbalik dari segala murka. Belas kasihan-Ku bangkit serentak. Aku tidak akan melaksanakan murka-Ku yang bernyala-nyala, tidak akan membinasakan Efraim lagi.” Allah sungguh mengasihi umat-Nya dan setia pada janji-Nya.

Puncak kasih Allah itu nyata dengan mengutus Yesus Putera Tunggal-Nya. Sabda, karya, tindakan Yesus menunjukkan Allah yang mengasihi tanpa batas. Ia menuntaskan kasih-Nya melalui wafat-Nya di kayu salib.

Hati Yesus ditikam oleh tombak menjadi lambang cinta-Nya yang total dikurbankan sampai mati.

Hati Yesus yang luka menunjukkan empathy dan belarasa-Nya dengan kedukaan dan penderitaan kita. Yesus tidak hanya menangisi dosa kita, tetapi Dia juga merasakan ditikam hati-Nya yang paling dalam. Sakit hati Yesus merasakan penderitaan kita.

Hanya orang yang pernah mengalami penderitaan bisa mengerti dan memahami apa artinya menderita. Yesus mengalami derita yang paling dalam. Bukan hanya derita fisik, tetapi Dia juga dikhianati, ditinggalkan murid-murid-Nya. Ia sangat mengerti penderitaan kita.

Jika kita sekarang sedang luka, sakit, menanggung derita, mari kita berlindung di bawah hati-Nya yang maha kudus. Mari kita datang kepada Dia yang mengerti derita dan beban hidup kita.

Hati Yesus yang Mahakudus, jadikanlah hatiku seperti hati-Mu.

Wangi mawar tak harum selamanya.
Indah dipandang hanya sesaat saja.
Jika beban hidup sedang mendera,
Hati Yesus terbuka merangkul kita.

Cawas, kuketuk hatimu….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr

Puncta 10.06.21 / Kamis Biasa X / Matius 5:20-26

 

“Belajar dari Nelson Mandela”

AFRIKA Selatan tercabik-cabik oleh politik apartheid, perbedaan warna kulit. Ketika Nelson Mandela menjadi presiden pertama dari kaum Kulit Hitam, ia berpikir keras bagaimana menghapus sistem apartheid di negaranya dan membangun nasionalisme.

Ia mendapat celah. Olahraga Rugby. Usaha ini tidak mudah. Waktu itu Rugby adalah olahraga untuk kulit putih. Sementara kaum kulit hitam tidak menyukai jenis olehraga ini. Waktu itu Rugby jadi simbol rasisme di Afrika Selatan.

Cara berpikir Mandela ada di atas kaumnya. Ia ingin tim nasional Springbok bisa menjadi tali pemersatu nasionalisme Afrika Selatan. Kaum kulit hitam ingin springbok dibubarkan. Tetapi Mandela kukuh mempertahankannya.

Ia memberi motivasi kepada Francoise Pienaar, kapten Springbok untuk menjadi role model bagi timnya. Mandela memberi semangat mereka agar menjadi tim yang kuat. Mereka berkeliling ke seluruh negeri dan mengajak kaum muda mencintai rugby.

Pertandingan demi pertandingan akhirnya dimenangkan oleh Springbok. Dan pada puncaknya adalah final piala dunia rugby. Afrika Selatan bisa mengalahkan Selandia Baru pada tahun 1995.

Seluruh rakyat Afrika Selatan bersatu. Tidak ada lagi pembedaan warna kulit. Mandela mampu menyembuhkan luka masa lalu yakni sistem apartheid yang memecah belah rakyat.

Yesus berkata, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.”

Kendati tidak nampak, sistem pembedaan itu juga ada di sekitar kita. Beda agama, warna kulit, etnis, budaya, daerah dan gender. Kalau kita tidak punya kualitas hidup yang lebih, kita tidak akan diakui. Kalau cara hidup kita hanya standar-standar pada umumnya, kita tidak akan terpilih. Contoh buruknya, orang Kristen, jadi pejabat tinggi, ikut-ikutan korupsi. Hancuuur deh….

Yesus menuntut para murid-Nya untuk bersikap “magis.” Cara berpikir, bertindak, bersikap, ambil keputusan, buat kebijakan harus “lebih” daripada orang pada umumnya. Kalau tidak, kita tidak akan diperhitungkan. Kita tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Nelson Mandela sudah membuktikan. Ayo tunjukkan semangat “magis” dalam hidupmu.

Belajarlah cara berpikir seorang Nelson Mandela.
Menghapus warna kulit di Afrika Selatan.
Jangan merasa cukup sama dengan umumnya.
Kamu hanya akan jadi budak tak diperhitungkan.

Cawas, semangat “magis”…..
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr