by editor | May 4, 2021 | Renungan
“Kalung Emas”
Lagu ciptaan Didik Kempot itu dinyanyikan dengan suara mendayu-dayu. Bapak setengah baya ini seperti sedang mengungkapkan isi hatinya. Syair lagu Kalung Emas itu menggambarkan seorang lelaki yang ditinggal istri tercintanya.
Istrinya sedang dimabuk asmara dengan orang lain. Ia sudah lupa dengan suami dan meninggalkannya.
“Kalung emas sing ana gulumu. Saiki wis malih dadi biru. Luntur kaya tresnamu. Luntur kaya atimu. Saiki kowe lali karo aku.
Kalung emas kuwi biyen tak tuku. Tak pasrahke mung kanggo sliramu. Gedhe rasa tresnaku ya mung kanggo sliramu. Ra nyana kowe lali karo aku.”
(Kalung emas yang ada di lehermu. Sekarang sudah berubah jadi biru. Luntur kayak cintamu. Luntur kayak hatimu. Kini engkau sudah melupakanku.
Kalung emas itu dulu kubeli. Kupasrahkan hanya untuk dirimu. Cintaku hanya untukmu. Tak kuduga kau melupakanku).
“Hampir sepuluh tahun kami menikah. Ia meninggalkanku saat aku terpuruk dan gagal. Sifatnya mulai berubah dan menjauhiku. Ia mulai pergi dengan orang lain. Aku lari cari hiburan di karaoke sambil minum.” Ceritanya dengan sendu.
“Sudah sekian lama kami bersama, ternyata saya belum sungguh mengenal pribadinya. Semua hanya topeng kepura-puraan,” katanya lirih seperti putus asa.
Filipus sudah cukup lama mengikuti Yesus. namun dia belum cukup mengenal siapa Yesus dan siapa Bapa-Nya.
Filipus berkata, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa kepada kami, dan itu sudah cukup bagi kami.”
Kata Yesus kepadanya, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku?”
Yesus menjelaskan bahwa Dia ada di dalam Bapa dan Bapa ada di dalam Dia. Ia hidup menyatu dengan Bapa. Jika mengenal Kristus berarti mengenal Bapa. Jika orang melihat Yesus berarti melihat Bapa.
Relasi Yesus dengan Bapa sungguh erat menyatu. Relasi seperti itu dapat menjadi model dan pola relasi suami istri.
Lamanya waktu tidak menjamin kedekatan sebuah relasi. Nyatanya bapak tadi sudah menikah hampir sepuluh tahun, tetapi mereka tidak sungguh mengenal karakter pribadi pasangannya.
Bukan soal banyaknya waktu, tetapi kualitas relasi personal yang menentukan. Bapa mengasihi Yesus dan Yesus setia pada Bapa.
Dalam diri Yesus kita melihat Allah yang mengasihi tanpa batas. Dengan melihat Yesus, kita melihat Allah yang penuh belas kasih.
Kita masih butuh pengenalan yang lebih mendalam dengan Tuhan dan pasangan hidup kita.
Menanam padi di pinggir sawah.
Sawah subur hijau daunnya.
Kita bersyukur dikasihi Allah.
Mari kita membuka diri kepada-Nya.
Cawas, selalu bersyukur…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | May 4, 2021 | Renungan
Pesta Perak; “Di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”
SANGAT menarik dan mendalam homili Rm. Indra Sanjaya waktu merayakan pesta perak imamat yang tertunda April kemarin.
Tertunda karena semestinya dirayakan tahun lalu. Tetapi karena ada pandemi, Unio baru merayakan tahun ini.
Romo Indra merenungkan kata-kata Yesus yang dijadikan motto tahbisan mereka; “Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”
Pasti saya tidak dapat mengingat dan menjelaskan semuanya. Tetapi yang sangat mengesan adalah bahwa pengalaman menjadi imam selama duapuluh lima tahun dengan jatuh bangun, lekuk liku perjuangan, bisa berjalan hanya karena Dia yang memanggil.
Para pestawan ingin bersyukur karena Dia selalu setia, kendati kita manusia kadang tidak setia, mudah jatuh seperti bejana tanah liat.
Bejana yang rapuh itu dipakai oleh Allah untuk melaksanakan karya keselamatan-Nya. Allah dengan kesadaran penuh mengambil resiko memakai manusia yang lemah untuk melakukan karya penyelamatan.
Ia terinspirasi oleh kotbah Paus Benediktus XVI tentang imamat; “This audacity of God is the true grandeur concealed in the word “priesthood.”
Ada resiko besar bahwa karya-Nya akan gagal karena dipercayakan kepada manusia yang lemah. Tetapi Dia tetap memilih para hamba-Nya untuk menjadi imam. Inilah resiko terbesar Allah.
Kesadaran diri sebagai orang yang lemah itu semakin menegaskan bahwa sabda Yesus dalam perikop ini sangat relevan di segala kondisi. “Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”
Yesus adalah pokok anggur dan kita ini ranting-ranting-Nya. Ranting tidak akan menghasilkan buah kalau ia terpisah dari pokoknya.
Demikian pun para imam, sebagai manusia yang lemah, ia tidak akan berhasil kalau tidak tinggal dalam pokok anggur yakni Kristus sendiri.
Kendati ada imam yang pandai kotbah, ceramah, seminar, terkenal dimana-mana, karya sosial hebat, manager ulung, sukses membangun mercu suar yang megah. Dosa kesombongan, cari eksis diri dan pujian selalu menggoda. Itulah salah satu kelemahan dalam bejana yang rapuh.
Namun begitu, Allah tetap berani ambil resiko memilih yang lemah ini.
Kerapuhan itu semakin menyadarkan bahwa ranting tidak dapat berbuah kalau tidak bersatu dengan pokok anggurnya. Sehebat-hebatnya kita, tidak akan berhasil kalau terpisah dari Kristus Sang Pokok Anggur.
Sore-sore masih kerja lembur.
Menanam rumput dan memetik bunga.
Yesus adalah Sang Pokok Anggur.
Kita adalah ranting-rantingnya.
Cawas, syukur atas kasih-Nya…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | May 1, 2021 | Renungan
“We Are One : Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku”
BERMULA dari unggahan sebuah video yang viral, seorang nenek memukuli cucunya di simpang Charitas Palembang hari Rabu yang lalu. Nenek ini memaksa cucunya, TK yang berumur 8 tahun untuk mengemis di pinggir jalan.
Karena setoran yang kurang, nenek ini memukul dan menjambak rambut cucunya. Tindakan orangtua yang kurang terpuji ini ditindaklanjuti oleh polisi.
Suryani mengaku nekat menyuruh cucunya itu untuk mengemis sejak satu pekan terakhir.
“Karena sekarang lagi sekolah di rumah jadi saya mengajaknya untuk mengemis,” kata Suryani saat diperiksa penyidik.
Uang hasil mengemis yang dikumpulkan oleh TK digunakan untuk kehidupan mereka sehari-hari. “Saya menyesal,” kata nenek Suryani.
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia, dan kamu telah melihat Dia.”
Kata Filipus kepada-Nya, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa kepada kami, dan itu sudah cukup bagi kami.”
Yesus menjelaskan kepada Filipus, “barangsiapa melihat Aku, ia melihat Bapa.” Yesus dan Bapa adalah satu.
Kalau masih bimbang, Yesus minta supaya kita melihat pekerjaan-pekerjaan-Nya. Setidak-tidaknya dengan melihat pekerjaan Yesus, kita bisa mengenali Bapa yang mengutus-Nya.
Nenek yang sehari-harinya mengemis itu menyuruh cucunya ikut mengemis. Cucu yang masih kecil itu melakukan apa yang diperintahkan neneknya.
Dari cucu yang mengemis itu, kita bisa mengenali neneknya yang juga pengemis.
Yesus melakukan apa yang diperintahkan Bapa-Nya. Bapa yang baik dan mengasihi, mengutus Yesus untuk mengasihi dan menyelamatkan manusia.
Dari pekerjaan atau karya-karya Yesus, kita bisa mengenal Bapa-Nya.
Maka Yesus berkata, “Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa, dan Bapa di dalam Aku, atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.”
Kalau kita ini menjadi anak-anak Allah, semestinya kita juga melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Allah.
Kalau Allah adalah Bapa kita – setiap kali kita sebut doa Bapa kami – apakah orang lain bisa melihat siapa Bapa di dalam diri kita?
Bulan Mei bulan Maria.
Mari ziarah ke Ambarawa.
Allah adalah Bapa kita.
Kalau kita melakukan kehendak-Nya.
Cawas, Doakanlah kami ya Bunda…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Apr 28, 2021 | Renungan
“Janda Bolong”
SUATU pagi ada umat menawari saya, “Romo, mau mencoba pelihara janda bolong? Barangnya masih kecil romo. Romo mau satu atau dua?”
Jangan berpikir yang negatif dulu.
Setelah dicermati ternyata janda bolong itu sejenis tanaman. Orang Jawa menyebutnya, “Ron dho bolong” arti sebenarnya adalah daun-daun yang berlubang.
Karena pengucapannya disambung; randha bolong, orang salah menterjemahkannya. Randha diterjemahkan menjadi janda. Randha bolong jadi janda yang punya lubang. Hadeeew payah…
Diterjemahkan dari bahasa Inggris-Monstera adansonii, monstera Adanson, tanaman keju Swiss, atau tanaman lima lubang, adalah spesies tanaman berbunga dari keluarga Araceae yang tersebar luas di sebagian besar Amerika Selatan dan Amerika Tengah.
Tanaman ini sedang meroket harganya karena didesain oleh “penghobi” tanaman yang ingin meraup untung. Apalagi dengan nama yang seksis dan bombastis; Janda bolong.
Padahal gak ada hubungannya sama sekali dengan janda.
Orang memburu tanaman yang sedang ngetren. Padahal dia tidak sadar hanya jadi korban demi mengejar keuntungan.
Lama-lama tanaman itu teronggok dan tak terawat serta tidak ada harganya.
Inilah yang disebut distorsi atau penyimpangan suatu fakta. Memutarbalikkan suatu kata sehingga arti dan isinya menjadi berbeda.
Itu dibuat demi mencari keuntungan tak peduli tentang isi dan kebenarannya.
Yesus tidak mau bertindak seperti itu. Ia tidak menciptakan distorsi. Ia menyatakan kebenaran. Ia menyatakan firman Allah.
“Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia percaya bukan kepada-Ku, tetapi Dia yang telah mengutus Aku, dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia yang telah mengutus Aku.”
Apa yang disampaikan Yesus bukan omong kosong. Ia mewartakan kebenaran Allah sendiri.
“Bukan dari diri-Ku sendiri Aku berkata-kata, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku, untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan. Dan Aku tahu bahwa perintah-Nya itu adalah hidup yang kekal.”
Para produsen tanaman itu menipu konsumen. Mereka menjual janda bolong, tetapi yang disodorkan hanyalah daun-daun berlubang.
Maka teliti dulu sebelum membeli. Cermati dulu isi pewartaannya, jangan mudah terkecoh. Nanti hanya menyesal di kemudian hari.
Kita percaya pada Yesus. apa yang Dia wartakan bukan menipu atau mengecoh. Dia menyampaikan kebenaran, yakni Allah sendiri. Apakah anda percaya?
Ribut-ribut dengan janda bolong.
Hanya daun berlubang melompong.
Jangan percaya pada berita bohong.
Hanya bikin kacau dan pikiran kosong.
Cawas, jangan bohong….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Apr 26, 2021 | Renungan
“On Eternal Patrol”
TRADISI kemaritiman sungguh agung dan bermakna dalam sekali. Bersama dengan gugurnya para patriot TNI AL dalam kapal selam Nanggala 402 dengan 53 awak di laut utara Bali pada 21 April yang lalu, kita berduka tetapi ada rasa bangga dengan para prajurit yang gugur dalam tugas.
Tradisi kelautan mengatakan bahwa mereka tidak hilang atau missing, tetapi mereka On Eternal Patrol, yaitu melakukan patroli selamanya di tengah samudera tanpa pernah kembali ke base camp atau pelabuhan.
Suatu tugas mulia untuk menghormati mereka yang gugur dan tidak diketemukan. Prajurit angkatan laut melakukan tugasnya sampai akhir dengan gagah berani di tengah lautan luas.
Mereka tidak memakai istilah “Rest in Peace” atau meninggal dunia, tetapi prajurit AL bilang, “Fair Wind and Following Seas.” Ungkapan itu berarti selamat berlayar dan mengarungi samudera yang tenang dan damai.
Mereka tidak meninggal tetapi mengarungi lautan dengan tenang dan indah. Istilah yang bermakna dalam dan bikin merinding.
Ini adalah salam hormat bagi para pelaut yang melakukan tugas dengan berani dan penuh tanggungjawab. Ini adalah ungkapan toast atau salam kebanggaan saat memulai pelayaran, uji coba kapal, masa pensiun hingga pemakaman prajurit AL.
Pekerjaan mereka menunjukkan sikap tanggungjawab dan siapa mereka sejatinya.
Yesus ditanya oleh orang-orang Yahudi, apakah Dia benar-benar Mesias? “Katakan terus terang kepada kami.” desak mereka.
Yesus tidak menjawab langsung tetapi Dia menunjukkan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan-Nya yang memberi kesaksian siapa Dia sesungguhnya.
“Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku itulah yang memberi kesaksian tentang Aku.”
Sebagaimana prajurit Angkatan Laut melakukan tugasnya di lautan dengan penuh tanggungjawab dan keberanian, begitu pun Yesus yang berasal dari Bapa melakukan tugas-Nya atas nama Bapa.
Pekerjaan-pekerjaan itulah yang menunjukkan kualitas pribadi-Nya. Yesus meyakinkan mereka, “Aku dan Bapa adalah satu.”
Pekerjaan-pekerjaan kita menunjukkan siapa diri kita sesungguhnya. Kalau kita ini citra Allah, maka semestinya kita melakukan apa yang dikerjakan Allah.
Para awak Nanggala 402 memberi teladan tentang apa yang semestinya dilakukan sebagai manusia sejati. Tugas mereka sampai gugur di lautan menunjukkan jiwa maritim sejati.
Pekerjaan Yesus yang melakukan kehendak Allah menunjukkan bahwa Dia adalah Anak Allah. Dia mati untuk melakukan kehendak Allah, menebus seluruh manusia dan alam semesta.
Mari kita tunjukkan siapa kita dengan menuntaskan pekerjaan-pekerjaan kita demi kebaikan bersama.
Hormat salam bagi awak Nanggala.
Gagah berani berlayar menuju keabadian.
Siapa diri kita yang sesungguhnya,
Nampak dari apa yang selalu kita kerjakan.
Cawas, semoga damai abadi….
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr
by editor | Apr 25, 2021 | Renungan
“Pintu Darurat”
SEORANG bapak, Walkidi naik pesawat. Kebetulan dia duduk di dekat pintu darurat. Pramugari cantik mendatangi dan menjelaskan, “Maaf pak, Kebetulan bapak duduk di samping pintu darurat. Untuk itu kami mohon kerjasamanya. Jika ada kejadian di mana pesawat terpaksa mendarat darurat, silakan bapak membuka pintu darurat ini agar penumpang bisa keluar dari pintu tersebut. Untuk lebih jelasnya, silakan baca petunjuknya di buku instruksi keselamatan.”
Walkidi mengangguk tanda sudah jelas.
Di tengah penerbangan, pilot berkata, “Para penumpang yang terhormat, ada gangguan pada mesin pesawat. Kita akan mendarat darurat. Silahkan pakai pelampung dan sabuk pengaman. Ikuti petunjuk para petugas.”
Setelah ada aba-aba: Evacuate! Evacuate!, Walkidi diminta membuka pintu darurat.
Ia mendorong tetapi pintu tidak terbuka. Semua orang makin panik. Ia dorong-dorong terus tapi pintu tak bergerak.
Akhirnya pintu depan dan belakang pesawat terbuka. Semua orang lari menuju pintu untuk menyelamatkan diri.
Walkidi selamat dan marah kepada pramugari. Mengapa pintu darurat tidak bisa dibuka.
Pramugari berkata, “Apakah bapak membaca buku petunjuknya? Pintu darurat itu tidak didorong, tetapi ditarik ke dalam baru dibuang keluar.”
Muka Walkidi merah padam menahan malu.
Yesus berkata, “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat; ia akan masuk dan keluar, dan menemukan padang rumput.”
Gembala masuk melalui pintu. Ia tahu cara membuka pintu dan menemui dombanya. Orang asing tidak tahu bagaimana cara membuka pintu. Ia hanya bisa merusak, mendobrak atau memanjat tembok.
Domba-domba tidak mengenal suaranya, bahkan mereka lari daripadanya.
Yesus adalah pintu menuju domba-domba. Kalau kita mau menjadi gembala, mari kita masuk melalui Dia. Mari kita mengikuti cara-Nya sehingga domba-domba aman di kandang-Nya.
Walkidi tidak tahu cara membuka pintu, tetapi dia tidak mau membaca buku petunjuknya.
Kalau Yesus adalah pintu, kita harus membaca buku petunjuknya yakni Injil agar kita bisa mengerti seluk beluk pintu itu, dan akhirnya kita bisa menjalankan dan mengikuti petunjuknya.
Maukah kita mengikuti petunjuk-Nya?
Jalan-jalan ke Tawangmangu.
Naik ke bukit lihat Candi Cetha.
Yesus Kristus adalah pintu,
Yang mengantar kita sampai ke surga.
Cawas, malam penuh bintang…
Rm. Alexandre Joko Purwanto, Pr