Puncta 04.07.20 / Matius 9:14-17 / Jurgen Klopp dan Liverpool

 

SETELAH menunggu tiga puluh tahun, akhirnya Liverpool mengangkat piala liga Inggris. Orang dibalik pencapaian sukses itu adalah Jurgen Klopp, manager yang bertangan dingin.

Tidak mudah menyatukan pelatih dan pemain dalam sebuah klub. Sehebat apa pun pelatih atau pemain, tetapi kalau keduanya tidak cocok maka tidak akan ada trophi yang diboyong.

Deretan pelatih hebat seperti Roy Hodgson, Gerard Houllier, Rafael Benitez, Brendan Rogers. Bahkan Kenny Douglish pernah dua kali menangani Liverpool tetapi juga gagal menorehkan prestasi.

Kini Jurgen Klopp dipandang mampu mendampingi para pemain sehingga penantian panjang mengangkat piala Liga tercapai tahun ini. Anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula.

Hari ini Yesus memberikan perumpamaan kepada orang banyak tentang anggur dan kain penambal yang baru. “Tak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua. Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru. Dan dengan demikian, terpeliharalah kedua-duanya.”

Sinkronisasi dan keharmonisan dalam dinamika hidup itu penting. Perutusan Yohanes dan Yesus itu berbeda. Yohanes mengantar orang pada pertobatan. Yesus menyatakan bahwa Kerajaan Allah sudah hadir.

Puasa Yohanes adalah lambang pertobatan, untuk menyiapkan kedatangan mempelai. Ketika Sang Mempelai yakni Kristus sudah datang, orang mengalami sukacita. Pada saat itu orang tidak berpuasa.

Sudah lama kita menantikan Sang Juru Selamat. Kristus hadir membawa keselamatan. Pantaslah kita bersukacita. Seperti fans Liverpool bergembira karena sang pelatih mengantarkan juara.

Kehadiran Kristus itu juga membawa sukacita karena kita berhasil mengalahkan dosa, kita juga juara. Selama tigapuluh tahun mereka puasa juara, kini mereka bersukacita karena Jurgen Klopp hadir melatih mereka. Yesus Kristus juga hadir membawa kita berhasil mengalahkan maut dan derita. Kita semua bergembira.

Sebagaimana para pemain itu mengikuti instruksi pelatinya agar dapat juara, begitu pula kita diajak mengikuti sabda Kristus agar kita selamat. Pelatih dan pemain itu seperti anggur dan kantong yang baru.

Mari kita menyesuaikan dengan ajaran sang Pelatih kita yakni Yesus supaya kita memperoleh piala keselamatan di akhir zaman.

Hujan deras bikin banjir.
Ikan-ikan sembunyi di bawah somil.
Jangan ragu dan kawatir.
Ikut Yesus pasti selamat dan berhasil.

Cawas, cetuju….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 03.07.20 / Pesta St. Tomas Rasul / Yohanes 20:24-29

 

Berbahagia Yang Tidak Melihat.

 

DALAM diri kita itu ada sifat keingintahuan yang besar dan tidak mudah percaya. Misalnya, orang tahu bahwa ban sepeda yang ditumpangi meletus. Ia masih turun dari sepeda dan memencet ban yang sudah kempis itu.

Lalu lagi, orang sudah tahu bahwa ia menginjak tahi ayam ( telek lencung ), ia masih meraba telapak kakinya dan mencium bau tahi ayam itu dihidungnya.

Pernahkah anda melakukan itu? Itulah tandanya kita tidak mudah percaya dan ingin membuktikan apa yang sedang kita alami.

Hari ini kita memperingati Santo Tomas, rasul. Tomas adalah seorang Galilea, yang dipilih Yesus menjadi murid-Nya. Ia bekerja sebagai nelayan pembantu, bukan pemilik perahu.

Sebutan lain dari Tomas adalah Didimus. Ia seorang yang jujur apa adanya, terbuka dan terus terang, berpendirian tegas dan tidak “ela-elu” hanya ikut suara orang banyak. Ia mandiri dan punya pemikiran sendiri.

Ketika Yesus menampakkan diri kepada para murid, ia tidak ada bersama dengan mereka. Maka ia tidak percaya kalau tidak melihat dan mengalaminya sendiri.

“Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya, dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, aku sama sekali tidak akan percaya.”

Yesus menanggapi pernyataan Tomas. Ia datang dan menampakkan diri-Nya kepada para murid dan secara khusus untuk Tomas.

Ketika mendapati Yesus, Tomas berkata, “Ya Tuhanku dan Allahku.” Inilah pengakuan iman yang tulus. Tomas mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Allah karena Ia sungguh bangkit.

Penulis Injil kemudian meneguhkan kepada para pembaca selanjutnya bahwa pengalaman Tomas itu unik. Tidak setiap orang bisa berjumpa dengan Yesus seperti dirinya.

Maka Yesus mengatakan,”Karena melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

Kita tetap berbahagia dan yakin, kendati tidak melihat, namun percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Putera Allah yang telah bangkit mulia. Anda tetap yakin walau anda tidak melihat Yesus yang bangkit? Berbahagialah anda.

Setiap sore menikmati senja.
Membelah angkasa berwarna jingga.
Tidak melihat namun percaya.
Itulah iman yang membawa bahagia.

Cawas, jingga…jingga…
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 02.07.20 / Matius 9:1-8 / Berpikir Jahat

 

DI laman facebook, saya membaca postingan dengan gambar sketsa wajah Pak Jokowi. Bagaimana penilaian orang terhadap Pak Jokowi sebagai presiden.

Kalau marah = Presiden drama, akting aja di kamera. Kalau diam = Presiden kok gak bersikap apa-apa mau jadi apa neh negara. Kalau senyum = Presiden kok cengengesan gak ada kharisma.

Lalu di bawahnya diberi komentar, “Susah emang mimpin negeri +62 ini… Salah semua, rakyatnya “jago2”.

Saya kira itu bukan penilaian sebagian besar orang, hanya segelintir orang yang tidak suka pada kepemimpinan sang presiden. Saya merasa banyak orang yang senang dan memuji Pak Jokowi dengan segala kebijakannya.

Belum ada presiden yang hebat dan berani seperti ini. Hanya orang-orang yang tidak suka saja yang menilai negatif terhadapnya.

Dalam Injil hari ini, Yesus menyembuhkan orang lumpuh sekaligus mengampuni dosanya. Tetapi bagi ahli-ahli Taurat, Yesus dituduh menghujat Allah.

Ketika Yesus berkata kepada si lumpuh, “Percayalah anak-Ku, dosamu sudah diampuni,” ahli-ahli Taurat itu berkata dalam hatinya, “Ia menghojat Allah.”

Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata, “Mengapa kalian memikirkan hal-hal yang jahat dalam hatimu?”

Kalau orang sudah diracuni pikiran jahat, maka apapun  yang dikeluarkan adalah hal-hal yang jahat. Apalagi dibumbui dengan perasaan tidak suka.

Para ahli Taurat tidak suka kepada Yesus karena pengajaran-Nya sangat berwibawa, berbeda dengan mereka. Banyak orang yang percaya dan mengikuti Yesus. Hal ini sangat mengkawatirkan mereka. Bisa-bisa pengikut mereka lari menjadi murid Yesus.

Pikiran para ahli Taurat itu selalu jelek. Hatinya diliputi rasa kebencian dan dendam. Mereka mencari celah untuk menjatuhkan Yesus. Segala tindakan Yesus selalu salah di mata mereka.

Bagi Yesus keselamatan orang lebih diutamakan daripada penilaian ahli-ahli kitab. Ia bertindak mengampuni dosa, karena Ia adalah Putera Allah. Ia menyelamatkan orang karena itulah misi-Nya datang ke dunia.

Pikiran mempengaruhi tindakan. Bila pikiran kita baik, tindakan dan ucapan kita akan baik. Namun jika pikiran kita jahat, segala tindak tanduk kita juga akan menghasilkan hal-hal yang jahat.

Hati-hatilah dengan pikiran kita. Tanamkan hal-hal baik dalam pikiran kita sendiri.

Memuji pacar seperti Limbuk.
Wajahnya cantik bagai Dewi Sinta.
Kalau kita suka berprasangka buruk.
Hidup kita akan banyak menderita.

Cawas, hatiku gembira….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 01.07.20 / Matius 8:28-34 / “Jer Basuki Mawa Beya”

 

PEPATAH di atas menjelaskan bahwa orang yang ingin selamat, sukses atau berhasil harus berani berkorban. Tidak ada keberhasilan tanpa pengorbanan.

Misalnya, anak yang ingin berhasil dalam study, maka ia harus berjuang dan mau berkorban. Mengorbankan waktu bermain, memperbanyak jam belajarnya.

Begitu juga jika seseorang ingn berhasil dalam usaha, dia harus mau berkorban demi keberhasilannya itu.

Dalam bacaan hari ini Yesus masuk ke perkampungan orang Gadara. Di sana ada dua orang yang kerasukan setan keluar dari pekuburan.

Mereka berteriak-teriak, “Apakah urusan-Mu dengan kami hai Anak Allah? Adakah Engkau datang ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?”

Setan itu tahu bahwa Yesus adalah Anak Allah, dan Dia datang untuk mengadili kejahatan mereka. Waktunya akan tiba setan-setan itu akan disiksa dalam api neraka.

Namun mereka minta supaya boleh memasuki kawanan babi. Yesus mengijinkan, “Pergilah.” Babi-babi itu terjun ke danau dan mati di sana.

Babi-babi itu pada awalnya tenang mencari makan. Namun setelah dirasuki setan, mereka menjadi liar, tak terkendali dan menggila. Mereka celaka dan akhirnya binasa, mati di dalam danau.

Inilah gambaran orang yang dikuasai roh jahat. Kematian babi-babi itu membawa keselamatan bagi dua orang Gadara itu. Mereka yang tadinya berteriak-teriak menakutkan, kini menjadi tenang, normal, bebas dari penderitaan dan selamat.

Untuk selamat, orang harus berkorban. Ia harus mau meninggalkan yang jahat atau kuasa setan, dan bertekun mengikuti kuasa kebaikan yaitu Allah sendiri.

Untuk menuju kepada kebaikan, ada “biaya” yang harus dikeluarkan. Ada pengorbanan yang harus dilakukan. Tidak ada keberhasilan tanpa usaha keras.

Ada koperasi simpan pinjam menjanjikan bunga sangat tinggi. Banyak orang tergiur, bahkan lembaga gereja, konggregasi menyimpan uangnya bermilyar-milyar dengan mimpi mendapat hasil berlipat-lipat tanpa kerja keras.

Sekarang mereka gigit jari karena KSP ini tak bisa membayar kewajibannya dan dilaporkan ke pengadilan. Tidak ada kesuksesan dicapai dengan enak-enak, malas-malasan, tanpa kerja giat.

Pengorbanan babi-babi yang terjun ke danau itu membawa keselamatan bagi dua orang yang kerasukan setan.

Hidup mereka selamat, damai, tenang dan tentram. Sayang orang Gadara tidak mau menerima kehadiran Yesus yang membawa keselamatan. Bersama Yesus akan selamat.

Minum kopi bibir jadi hitam.
Lidah hanya bisa menjilat-jilat.
Kuasa setan hidup jadi kelam.
Ikut Yesus kita akan selamat.

Cawas, share the love….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 30.06.20 / Matius 8:23-27 / Bukan Sulap Bukan Sihir

 

BANYAK pesulap-pesulap top di dunia. Misalnya, Houdini, David Blaine, Christ Angel. Di Indonesia kita mengenal Demian Aditya, Deddy Corbuzier, Romy Rafael.

Tetapi nama yang satu ini sangat melekat di dunia sulap internasional dengan trik-triknya yang hebat. Siapa lagi kalau bukan David Copperfiled.

Ia pernah menghilangkan Patung Liberty, menembus tembok raksasa China, melayang di Grand Canyon dan meloloskan diri dari penjara Alcatraz yang super ketat itu.

Ia pernah berencana menghilangkan Tugu Monas Jakarta, tetapi dilarang oleh pemerintah. Lha wong hanya sulapan aja kok dilarang. Lama-lama nanti ada larangan untuk tertawa. Maka tertawalah sebelum tertawa itu dilarang….

Hari ini Yesus tidak membuat sulapan. Ia menghardik angin dan danau. Lalu danau menjadi tenang kembali.

Yesus naik perahu bersama para murid di danau. Tiba-tiba mengamuklah angin, lalu perahu mereka ditimbus gelombang. Yesus dengan tenangnya tidur di buritan. Para murid sangat ketakutan. Mereka membangunkan Yesus.

Yang ditegur pertama adalah murid-murid yang tidak percaya. “Mengapa kalian takut, hai orang yang kurang percaya.” Kemudian Ia menghardik angin dan danau.

Semua orang heran dan tertegun. “Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” Yesus adalah Allah. Ia berkuasa atas semesta alam. Langit dan bumi tunduk kepada-Nya. Kalau kita bersama Yesus, kita tidak perlu takut.

Pengalaman para murid itu menggambarkan pengalaman kita mengarungi samudera kehidupan. Kadang kita ditimpa mara bahaya, kesulitan, ancaman gelombang, dan badai kehidupan. Kita tidak sadar bahwa Yesus ada di dalam perahu kita.

Kita mengalami ketakutan dan kawatir. Kita diajak untuk selalu berdoa. “Tuhan tolonglah, kita binasa.” adalah sebuah doa. Jangan pernah meninggalkan Yesus agar perahu kita selamat. Berdoalah selalu dan setiap saat, Dia akan menolong kita tanpa syarat.

Kepada pesulap saja kita percaya dan kagum, apalagi kepada Yesus yang menguasai seluruh alam semesta. Dia juga menguasai seluruh hidup kita. Serahkanlah hidupmu kepada-Nya, maka masa depanmu akan aman sejahtera.

Senja di ufuk sudah memerah.
Sangat nikmat ngopi di waktu malam.
Sujudlah kepada Yesus dan menyembah.
Ia berkuasa atas semesta alam.

Cawas, kepengin ngopi hitam….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr

Puncta 29.06.20 / HR. St. Petrus dan Paulus / Matius 16:13-19 / Siapakah Aku ini?

 

KALAU kita naik pesawat, kita tidak mengenal siapa pilotnya. Tetapi kita percaya bahwa dia akan membawa kita ke tempat tujuan dengan selamat.

Begitu juga kalau kita naik kereta api atau naik bus. Kita tidak mengenal masinis atau sopir bus, namun kita yakin bahwa dia akan membawa kita dengan aman.

Tetapi kalau kita mau ke sorga, kita mesti mengenal siapa yang bisa membawa ke sorga itu dengan aman dan selamat. Kita tidak boleh sembarang percaya kepada orang-orang yang menjanjikan sorga.

Ada orang yang menyuruh kita berani mati demi sorga tetapi dia sendiri takut melakukannya. Kita mesti mengenal orang yang memang menjaminkan hidupnya sendiri demi kerajaan sorga.

Yesus menguji sejauhmana pengenalan para murid tentang diri-Nya. Ia memancing mereka dengan pertanyaan, “Kata orang siapakah Anak Manusia itu?”

Para murid mudah menjawabnya, “Ada yang mengatakan Yohanes Pembaptis, ada yang mengatakan Elia, dan ada pula yang mengatakan Yeremia atau salah seorang dari para nabi.”

Pertanyaan semakin dipertajam, bukan kata orang, tetapi menurut diri mereka sendiri, “Menurut kamu siapakah Aku Ini?” Simon Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.”

Itulah pengenalan pribadi Simon bahwa Yesus adalah Anak Allah yang hidup. Karena Petrus mengenal siapa Yesus, maka dia dipercaya untuk memegang kunci kerajaan sorga.

Petrus yakin bahwa Yesus adalah Anak Allah. Maka Yesus juga percaya kepada Petrus untuk diberi wewenang memegang kunci kerajaan sorga.

“Kepadamu akan Kuberikan kunci kerajaan sorga. Apa yang kauikat di dunia akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia akan terlepas di sorga.”

Kita bisa percaya kepada pilot yang tidak kita kenal. Kalau kita mau ke sorga, kita mesti percaya kepada orang yang sungguh kita kenal. Dia yang mau mati demi keselamatan kita, bukan orang yang menyuruh kita mati demi kepentingannya.

Kematian Yesus itu bukti bahwa Dia menjamin keselamatan kita di sorga. Apakah kita sungguh mengenal Yesus? Apakah sungguh kita mengikuti sabda-Nya?

Kalau Yesus bertanya kepada anda, “siapakah Aku ini menurutmu?” Apa jawabanmu kepada-Nya?

Menaiki moge di siang hari.
Menggenjotnya berkali-kali.
Mengenal Kristus secara pribadi.
Pasti ketemu sorga yang kita cari.

Cawas, tampah kecil…
Rm. A. Joko Purwanto, Pr