by editor | Jun 27, 2020 | Renungan
Sumur
Monsinyur Sunarka SJ adalah orang yang ahli mencari sumber air. Banyak orang atau lembaga yang ingin membuat sumur dibantu mencarikan sumber air yang tidak akan kering.
Beliau sering diundang kemana-mana untuk mencari mata air. Kini beliau sudah kembali ke sumber kehidupannya. Tetapi sumber air atau sumur yang dihasilkan beliau tak pernah habis airnya, terus mengalir sepanjang waktu.
Hidup Monsinyur Narka itu juga seperti sumur. Beliau selalu memberi. Banyak orang datang untuk menimba pengalaman hidup dari beliau. Seperti sumur, walaupun setiap hari ditimba airnya, ia tidak kehabisan tetapi justru makin deras dan besar airnya.
Monsinyur Narka sangat ramah, “menyedulur” dan murah hati dengan siapa pun. Walaupun ada orang membuang sampah ke dalam sumur sekalipun , ia “lega lila” dan sabar menerimanya. Siapa pun tanpa pandang status diterimanya dengan gembira.
Ada di dekat beliau, hati rasanya tentram, ayem dan aman. Seperti sumur atau sumber air, begitulah pribadi Monsinyur Sunarka. Selamat jalan Monsinyur. Bapak uskup sudah menemukan sumber air sejati.
Anak-anak zaman sekarang mungkin tidak mengenal sumur timba. Sekarang sumur sudah banyak pakai mesin, tidak harus menimba air di sumur.
Waktu masih di desa dulu tugas saya tiap pagi adalah menimba air untuk mengisi bak mandi sebelum berangkat sekolah.
Salah satu sifat sumur adalah pemberi. Ia diambil terus tetapi tidak kehabisan. Sifat kedua adalah terbuka. Kalau sumur tertutup rapat, airnya akan bau dan tidak sehat. Sifat ketiga dari sumur adalah murah hati. Ia rela berkorban, diambil untuk aneka keperluan hidup.
Hari ini Yesus memberi syarat menjadi murid bagi mereka yang mau mengikuti-Nya. Para murid diminta untuk mengasihi-Nya lebih dari segalanya.
Mereka harus mau berkorban memanggul salibnya, berani kehilangan nyawa dan mau memberi kepada orang lain.
“Barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, ia tidak akan kehilangan upahnya.”
Air adalah lambang kehidupan. Memberi air secangkir saja kepada orang lain berarti memberi kehidupan bagi mereka.
Menjadi murid Yesus berarti tidak boleh egois hanya mementingkan diri sendiri. Yesus mengajak kita untuk berani memanggul salib, berkorban dan memberi diri. Mari kita menjadi sumur bagi orang lain.
Air di sumur “kimplah-kimplah”
Lubang sumurnya seluas tampah
Marilah kita menjadi berkah
Berkat Tuhan akan selalu melimpah
Cawas, pengin naik moge….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
by editor | Jun 26, 2020 | Renungan
PERNAH terjadi ketika sedang misa, terdengar suara panggilan di HP. Orang itu dengan santainya menjawab suara di seberang telpon. Karena situasi sedang hening, maka suaranya terdengar jelas.
Saya menghentikan homili saya. Makin senyap dan tegang. Orang itu masih ngobrol dengan HP sambil menyembunyikan wajahnya di dinding. Umat di sekitarnya sudah mulai resah dan tidak enak.
Ada yang berdecak gelisah. Ada yang “mingsat-mingset” membetulkan posisi duduknya. Ada yang “dehem-dehem” memberi kode untuk segera menghentikan pembicaraan di telepon. Ada yang tertunduk malu. Saya diam dengan muka masam. Entah Tuhan bagaimana.
Berbeda dengan kisah di atas. Perwira Romawi itu tahu diri. Ia bisa menempatkan siapa dirinya di hadapan Tuhan. Ia berkata kepada Tuhan, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku. Katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan.”
Ia merasa diri tidak pantas menerima Yesus di rumahnya. Bisa jadi dia mengerti bahwa dia adalah “orang asing,” bukan teman sebangsa. Ia paham betul dengan posisinya. Ia mungkin tidak terlalu berharap.
Ia hanya memberitahu keadaan hambanya, “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh, dan ia sangat menderita.” Mungkin dia sedikit takut penuh harapan. Namun toh dia tahu diri.
Yesus pun “tahu diri”. Dia tahu apa yang diharapkan oleh perwira itu. Yesus langsung menjawab, “Aku akan datang menyembuhkannya.” Tanpa diminta. Yesus menghargai keyakinan si perwira itu. Ia sangat mengharapkan hambanya dapat sembuh.
Kepedulian si perwira itu sungguh baik. Mungkin jarang seorang atasan peduli sedemikian terhadap bawahannya. Kasih yang sedemikian itu yang berkenan pada Tuhan.
Karena itu, Yesus pun dengan segera menanggapi permintaan perwira. Tanpa harus datang ke rumahnya, Yesus langsung menyembuhkan hambanya, “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Iman seperti perwira itu menyadarkan kita. Kalau kita sungguh percaya, dimana pun Yesus dapat menyembuhkan.
Marilah kita belajar “empan papan” tahu menempatkan diri di hadapan Tuhan. Tuhan pun sangat mengerti apa yang sedang kita harapkan.
Kalau kita bikin masakan.
Dengan telunjuk jari kita mencicipi.
Kalau kita bisa “empan papan”
Tuhan akan selalu memberi.
Cawas, selamat jalan Mgr. Sunarka SJ.
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
by editor | Jun 25, 2020 | Renungan
DALAM pesannya kepada keluarga-keluarga kristiani, Paus Fransiskus pernah menasehati para orangtua untuk mengajarkan tiga hal mendasar bagi anak-anaknya.
Tiga kata ajaib itu adalah tolong, terimakasih dan maaf. Jika anak minta sesuatu kepada orang lain, tidak boleh mengucapkan dengan kalimat perintah – apalagi dengan teriak-teriak – tetapi diawali dengan kata, “minta tolong…”
Kalau anak diberi sesuatu harus diajari untuk mengucapkan terimakasih. Jika anak melakukan kesalahan, dia harus berani mengatakan, “maaf…”
Tiga kata ajaib itu mengajarkan banyak hal tentang hormat, kejujuran, kerendahan hati, solidaritas dan tahu diri.
Dalam Injil hari ini ada seorang kusta yang datang kepada Yesus. ia sujud menyembah dan berkata, “Tuan, jika tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.”
Orang lain yang sakit buta sejak lahir berteriak-teriak, ”Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku.” Ada banyak cara orang minta disembuhkan.
Yang menarik dari orang kusta ini adalah sikap dan kata-katanya. Ia sujud menyembah. Sikap ini sudah menunjukkan ia merendahkan diri di hadapan Tuhan.
Kata-katanya pun mengungkapkan penyerahan diri di hadapan Tuhan, “Jika Tuan mau.” Ia tidak memaksa dengan kata-kata perintah. Tetapi ia menyerahkan diri pada kehendak yang memberi. Ia pasrah tidak menuntut. Ia merendahkan diri tidak memerintah.
Kalau kita berdoa, kita seringkali memaksa Tuhan untuk mengabulkan permohonan kita. Banyak sekali permintaan yang kita sampaikan. Mulut kita “ndremimil” dengan banyak tuntutan.
Seolah-olah Tuhan itu bawahan atau pembantu kita yang dengan semau-maunya kita perintah. Bahkan tidak jarang kita mengancam Tuhan. Akibatnya kalau doa-doa kita tidak terkabul, kita kecewa dan meninggalkan Tuhan.
Kepada sesama saja, kita tidak boleh memaksa atau main perintah, tetapi meminta dengan kata-kata sopan, “minta tolong…”, apalagi dengan Tuhan yang lebih tinggi derajat-Nya.
Sikap orang kusta itu menyadarkan kita untuk merendahkan diri dan percaya kepada kebaikan Tuhan. Ia percaya seratus persen bahwa Tuhan itu baik. Kehendak atau kemauan Tuhan pasti yang terbaik untuk kita.
Sungguh nikmat naik moge.
Dresscodenya celana hitam.
Kalau iman kita sungguh gede.
Kita percaya kebaikan Tuhan.
Cawas, jadahku hilang…
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
by editor | Jun 24, 2020 | Renungan
SRI KRISNA bertapa tidur di Jalatunda. Ia berubah menjadi raksasa sebesar Gunung Anakan. Duryudana berusaha membangunkannya. Ia merayu dan berjanji akan memuliakan Kresna di Hastina.
Tetapi tidak berhasil. Arjuna datang bersama Semar. Semar menasehati Arjuna untuk ikut bertapa mengikuti cara Krisna.
Roh Arjuna bertemu dengan Roh Krisna. Mereka kembali ke raganya. Arjuna berhasil membangunkan Krisna. Dia memenuhi janjinya, siapa pun yang bisa membangunkan tapanya, dia akan mendampingi jadi penasehat dalam baratayuda.
Duryudana marah, ia tidak terima. Ia menghadap Krisna. Krisna memberi pilihan kepada Duryudana. Mau memilih seribu raja dengan panglima dan senjata lengkap atau Krisna seorang diri tanpa senjata apa-apa.
Duryudana memilih seribu raja dengan panglimanya. Pikirnya jumlah yang banyak akan mudah mengalahkan Pandawa yang sedikit. Tetapi ia lupa di pihak Pandawa ada Krisna, penjelmaan Dewa Wisnu.
Yesus memberi perumpamaan. Orang yang mendengar dan melaksanakan sabda-Nya seperti orang yang membangun rumah kuat di atas wadas. Walau ada badai topan melanda, rumah itu tetap kokoh.
Tetapi orang yang mendengar tetapi tidak melaksanakan, seperti mereka yang mendirikan rumah di atas pasir. Ketika hujan badai, rumah itu akan roboh dan hancur.
Arjuna mendengarkan nasehat Semar dan berhasil memboyong Krisna. Ia mendengarkan sekaligus melaksanakan amanat. Jika Krisna berada di pihak Pandawa, mereka akan kuat dan menang.
Duryudana tertipu dengan pilihannya. Ia dinasehati Durna supaya memboyong Krisna. Tetapi karena dia lebih memilih kuantitas prajurit, maka ia mengabaikan seorang Krisna.
Itu adalah pilihan bodoh dan tidak bijaksana. Seorang Krisna bisa menghancurkan ribuan prajurit dengan senjata lengkap.
Orang yang mendengar dan melaksanakan sabda Allah adalah orang bijaksana yang mendirikan rumah di atas wadas. Rumah itu akan sangat kuat karena kualitas bahannya bagus.
Orang yang bodoh, ia tidak melaksanakan sabda Tuhan. Dasar hidupnya rapuh seperti rumah di atas pasir. Jika ada kesulitan hidup, orang itu akan limbung tak berdaya karena dasarnya tidak kuat.
Mari kita membangun hidup kita berpondasikan sabda Tuhan. Sabda itu kita wujudkan dalam hidup sehari-hari. Kita akan kuat menghadapi badai kehidupan.
Dua kali dibagi tiga kwadrat.
Hitungan rumit hasilnya tak ketemu.
Kalau kita bangun rumah yang kuat.
Kristuslah yang menjadi batu penjuru.
Cawas, mie lethek….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
by editor | Jun 23, 2020 | Renungan
KELAHIRAN seorang anak diawali dengan tanda-tanda ajaib atau firasat-firasat tertentu. Ketika Gendari mengandung, ia diliputi rasa dendam dan sakit hati tak terperi kepada Pandu.
Ia adalah putri boyongan Pandu dan berharap menjadi permaisurinya di Hastina. Tetapi dia justru diberikan kepada Destarastra yang buta.
Dendam membara itu semakin berkobar ketika dia tahu bahwa Kunti, istri Pandu telah melahirkan anak laki-laki. Ia bertekad punya anak banyak untuk menumpas keturunan Pandu. Ia sedih, sakit hati, cemburu, gundah, dendam.
Perasaan itu berkobar terus selama kehamilannya. Ketika ia melahirkan, yang keluar adalah gumpalan daging hitam bercampur darah. Ia marah dan daging itu diinjak-injak dan ditendang dan pecah menjadi berkeping-keping.
Malam itu suara harimau mengaum menakutkan. Serigala bersaut-sautan dan erangan binatang malam membuat bulu kuduk berdiri.
Widura mengatakan bahwa tanda-tanda ini adalah firasat yang tidak baik bagi Hastina. Kehancuran darah Kuru menghantui lahirnya Duryudana dan saudara-saudaranya.
Injil bercerita tentang kelahiran Yohanes Pembaptis. Berbeda dengan kisah lahirnya Kurawa, suasana yang melingkupi di sini adalah sukacita.
Para tetangga bersukacita mendengar Elisabet yang sudah lanjut usia itu melahirkan seorang bayi. Lebih terkejut lagi ketika mereka akan memberi nama anak itu.
Seorang anak yang lahir biasanya diberi nama ayahnya. Mereka hendak menamai dia Zakharia, menurut nama bapanya. Tetapi Elisabeth melarang dan berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Hal ini menjadi keheranan bagi semua orang.
Tanda-tanda ajaib menyertai kelahiran Yohanes. Ibunya sudah usia lanjut. Bapaknya menjadi bisu. Namanya berbeda dari garis keturunan leluhur.
Semua orang heran dan berkata, “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertainya.” Yohanes menjadi nabi besar yang menuntun Bangsa Israel bertobat dan mempersiapkan kedatangan Sang Mesias.
Kita bisa merenungkan tanda-tanda, peristiwa-peristiwa atau firasat yang ada di sekitar kita. Bisa jadi itu adalah petunjuk dari Tuhan tentang siapa diri kita.
Hal-hal seperti itu terjadi bukan karena kebetulan. Tetapi menjelaskan rencana atau kehendak Tuhan bagi kita. Sejak di dalam kandungan ibu, kita ini sudah dibentuk oleh Tuhan.
Bagaimana suasana batin seorang ibu juga mempengaruhi kepribadian kita. Dengan menelusuri jejak kelahiran kita, kita bisa bersyukur kepada Tuhan lewat orangtua, keluarga, orang-orang terdekat yang ikut membentuk kita.
Pasang gantungan masker yang kuat.
Bisa dipakai berulang sampai empat.
Kita bisa menjadi orang-orang hebat.
Karena orangtua kita penuh berkat.
Cawas, girab-girab….
Rm. A. Joko Purwanto, Pr
by editor | Jun 22, 2020 | Renungan
DI tempat saya bertugas, di daerah Klaten ada banyak tempat wisata. Saya sering ke Deles, lereng Merapi menikmati keindahan alam yang sejuk. Ada jurang-jurang yang dalam.
Kalau kita berdiri di sisi jurang, dan kemudian kita berteriak, maka akan ada gema yang kembali memantul kepada kita. Kalau kita meneriakkan kata-kata yang baik, gemanya menirukan kata kita itu.
Sebaliknya, kalau kita berteriak yang jelek, kotor dan jorok, ya kata-kata itu yang akan memantul kembali kepada kita.
Selain pemandangan gunung, ada juga wisata air di Rawa Jombor. Saya dulu sering bersepeda ke sana, duduk di tepi rawa.
Saya melemparkan kerikil ke tengah rawa. Ada riak gelombang yang bergulung kembali menuju ke tempat saya. Kalau saya melemparkan batu, maka riak gelombangnya menjadi besar.
Hari ini Yesus berkata, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki diperbuat orang kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab pada nabi.”
Seperti hukum gema atau gelombang yang bergulung kembali kepada kita, begitulah gambaran perilaku dan sikap kita terhadap sesama dan lingkungan kita.
Kalau kita ingin dihormati orang lain, hendaklah kita menghormati mereka lebih dahulu. Kalau kita ingin diperlakukan dengan baik, maka perlakukanlah sesama dengan baik pula. Apa yang kita lakukan itu akan kembali kepada kita demikian juga.
Janganlah mengharap orang lain akan menghormati kita, kalau kita tidak mau menghormati mereka. Begitulah kalau terjadi ketidaknyamanan relasi dengan orang lain atau lingkungan sekitarnya.
Kita bisa bertanya pada diri kita sendiri, “Apa yang sudah kulakukan sehingga terjadi miskomunikasi?” Jangan terburu-buru menyalahkan orang lain. Ada aksi pasti ada reaksi.
Begitu pula dengan alam lingkungan di sekitar kita. Mengapa terjadi bencana? Kenapa iklim berubah? Kita tidak bisa menyalahkan alamnya yang salah, tetapi cara kita memperlakukan alam itulah yang salah, sehingga alam murka kepada kita.
Kalau kita ingin alam baik kepada kita, kita pun harus menjaga dan memelihara alam itu dengan baik pula. Kalau kita ingin tidak ada banjir, jangan buang sampah sembarangan, jangan tebang hutan seenaknya. Kalau kita menghormati alam, maka dia juga akan menghormati kita.
Memang berbuat baik itu susah, laksana melalui pintu yang sempit. Tetapi kita tetap berusaha melaluinya supaya memperoleh kehidupan. Niat baik pasti selalu akan diberkati. Bersama Tuhan, kita tebarkan kebaikan.
Mengganti sprei di malam yang pekat.
Butuh penerang lampu yang dicolokkan.
Menabur kebaikan akan menuai berkat.
Menanam keburukan menuai kesusahan.
Cawas, janggelut enak banget…
Rm. A. Joko Purwanto, Pr