Puncta 14.04.20 Selasa Oktaf Paskah Yohanes 20:11-18 / Apalah Arti Sebuah Nama?
KALIMAT itu pernah diucapkan oleh Yuliet kepada Romeo, kekasihnya. “Apalah arti sebuah nama? Meski disebut dengan nama lain, mawar tetaplah harum semerbak wanginya.”
Demikian keluhan hati Yuliet yang merindukan Romeo dalam drama cinta Romeo dan Yuliet karangan Shakespeare. Cinta mereka terhalang oleh karena dua keluarga yang bermusuhan yakni Capulets dan Mountage.
Nama selalu berhubungan dengan komunitas sosial. Di komunitas seminari menengah kami dulu, ada nama-nama panggilan yang aneh dan lucu; Badrun, Marduk, Jaran, Cicak Garing, Bemo, Gufi, Lombok, Holmes, Bledheg, Dampit dan masih banyak lagi.
Nama panggilan itu di Seminari sangat akrab dan familier sekali, bahkan disebut nama panggilannya, orang akan merasa bangga dan happy saja. Sapaan nama itu menunjukkan kedekatan yang sangat pribadi.
Dalam bacaan hari ini, Maria berada di kubur Yesus. karena sedih dan dukanya, Maria tidak mengenali Yesus yang berdiri di dekatnya. Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman.
“Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, dimana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” Baru ketika orang itu menyapa namanya, “Maria.”
Panggilan itu mengagetkannya. Dan Maria sangat mengenal dengan suara itu, tidak asing di telinganya. Ia berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani, “Rabuni.” Artinya Guru.
Betapa bahagianya ketika kita disapa dengan nama kesayangan kita. Nama itu adalah nama mesra dan hangat, menggambarkan relasi akrab penuh cinta.
Orang lain mungkin menyebut dia, “Magda” atau “Lena” tetapi “Maria” dengan intonasi dan tekanan khas hanya dibuat oleh Yesus, Sang Guru. Maka ia mengenali suara itu adalah suara Gurunya, Yesus sendiri.
Lalu muncullah aneka pengalaman pribadi. Ketika kita akrab dengan seseorang, menyebut satu hal, peristiwa atau nama akan mudah mengingatkan suatu pengalaman pribadi dengannya.
Maka ia berani bersaksi kepada murid-murid-Nya. “Aku telah melihat Tuhan.” Kegembiraan karena disapa oleh Tuhan secara pribadi menggugah semangat untuk bersaksi, mewartakan kabar gembira.
Apakah kita pernah mengalami disapa atau disentuh oleh Allah secara pribadi lewat pengalaman-pengalaman iman? Itulah pengalaman kebangkitan. Ataukah kita punya ikatan relasi pribadi dengan Tuhan? Bagaimana Tuhan menyapa kita?
Jika kita melihat senja di ufuk sana.
Rasanya sangat dekat dengan Tuhan.
Paskah adalah peristiwa sukacita.
Yesus bangkit kalahkan kematian.
Cawas, goyang famire….
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 13.04.20 Matius 28:8-15 / Menyebarkan Hoax
PANDITA DURNA maju perang di pihak Kurawa. Dialah guru Pandawa. Karena kesaktiannya, tiada yang dapat mengalahkannya. Oleh karena itu Kresna mencari tipudaya supaya lemah kekuatan Durna.
Werkudara disuruh membunuh gajah Estitama tumpakan Prabu Premeya. Ketika gajah mati, Petruk, Gareng dan Bagong disuap untuk menyebarkan berita bohong bahwa Aswatama mati. Aswatama adalah anak Pandhita Durna.
Kresna meminta supaya Pandawa berbohong ketika ditanya siapa yang mati. Bukan Estitama tetapi Aswatama, anak Durna. Hanya Puntadewa yang tidak mau berbohong. Kresna mendikte cara menjawab supaya tidak berbohong.
Kalau Durna bertanya, “Apakah yang mati Aswatama? Iya, Esti diucapkan lirih saja. Tama mati diucapkan keras dan jelas.” Maka saking bingung, sedih dan duka yang mendalam, Durna tidak mendengar kata Esti karena diucapkan lirih.
Yang dikiranya adalah Aswatama mati. Berita ini menghancurluluhkan hatinya. Ia tak berdaya lagi. Maka dengan mudah Trustajumena memenggal kepala Durna dan ditendang-tendang seperti bola mainan.
Kabar tentang Yesus yang hidup jelas menyulitkan posisi para imam dan ahli kitab Yahudi. Para penjaga makam telah mengabarkan apa yang telah terjadi.
Makam kosong, Jenasah Yesus tidak ada di dalamnya. Maka tua-tua Bangsa Yahudi itu berunding untuk menyebarkan berita bohong.
Sesudah berunding dengan kaum tua-tua, mereka mengambil keputusan, lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu dan berkata,
“Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid Yesus datang malam-malam dan mencuri jenasah-Nya ketika kamu sedang tidur. Dan apabila hal ini kedengaran walinegeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa.”
Berita hoax itu sudah ada sejak dahulu. Kebohongan itu seumuran dengan manusia. Kebohongan dipakai untuk menutupi kesalahan.
Kalau para imam kepala itu berbuat jujur, posisi mereka akan terancam dan disalahkan serta tidak dipercaya lagi oleh umat. Mereka menyebarkan berita bohong. Mereka menutupi kenyataan bahwa Yesus bangkit dari mati.
Di dunia medsos ada banyak berita yang belum tentu benar. Kita harus hati-hati menyebarkan berita itu. Jangan mudah menyebarkan berita yang tidak jelas dan belum dikonfirmasi kebenarannya.
Kita akan terkena undang-undang ITE. Maka kalau ada sebuah berita di medsos, cek dulu keakuratannya, dari siapa berita itu muncul, bisa dipercaya atau tidak.
Dan yang paling penting, berita itu berguna atau malah banyak merugikan. Menyebarkan berita bohong berarti fitnah keji. Hati-hati!!!
Bibir monyong terasa indah.
Berita bohong itu adalah fitnah.
Cawas, meminjam property untuk menjebol Benteng Takhesi…
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 12.04.20 Hari Raya Paskah Pagi Yohanes 20:1-9 / Iman Berproses
PENGALAMAN iman seorang Desy, Mahasisiwi Psikologi Universitas Indonesia, non katolik yang membuat skripsi berjudul, “Gambaran Resiliensi pada Imam Katolik Dewasa Muda Dalam Menjalani Hidup Selibat.”
Dia menuangkan pengalamannya di tweeter dengan sangat luar biasa. Pada awalnya dia punya gambaran bahwa selibat itu menyalahi kodrat manusia. Seorang imam katolik yang tidak menikah itu adalah hal yang tidak mungkin.
Namun oleh pembimbing skripsinya, dia diminta untuk mengubah image salah itu. Dia mulai baca Injil, KHK, keluar masuk gereja ikut misa, wawancara dengan pastor sebagai respondennya.
Dia mulai mengenal dan tahu banyak tentang kehidupan imam katolik. Bagaimana harus menjalani tiga kaul, pelayanan pastoral, dan aneka tantangan?
Walaupun harus tertunda sampai tiga semester, akhirnya skripsinya selesai dan lulus. Dia menulis, “Tapi yang gue syukuri, gue lulus dengan bonus pandangan baru. Pandangan soal manusia lain, soal agama, soal perbedaan, soal cinta dan komitmen, jadi beda.”
Melihat peristiwa kebangkitan Yesus, murid-murid membutuhkan proses. Para murid tidak langsung memahami. Maria Magdalena melihat makam kosong berpikir bahwa jenasah Yesus diambil orang.
“Tuhan telah diambil orang dari kubur-Nya, dan kami tidak tahu di mana Dia diletakkan.” Ia belum memahami bahwa Yesus harus bangkit. Begitu pula Petrus dan Yohanes yang diberitahu oleh Maria Magdalena.
Mereka tidak berkomentar apa-apa ketika diberitahu Yesus dicuri orang. Mungkin mereka bingung dan tidak langsung berpikir bahwa Yesus telah bangkit. Mereka berlari ke makam untuk melihat bukti makam kosong.
Tetapi kedua murid itu hanya melihat kain kafan dan kain peluh yang sudah tergulung. Jenasah Yesus tidak ada di makam. Dikatakan oleh penginjil,
“Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci, yang mengatakan bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati.”
Untuk memahami Yesus yang bangkit harus membaca Kitab Suci. Baru setelah itu pandangan mereka berubah, dari mengira jenasah Yesus dicuri orang berubah menjadi Yesus sungguh bangkit.
Proses berbeda dialami oleh murid lain yang dikasihi Yesus. Ketika ia sampai di makam, ia menjenguk ke dalam, tidak langsung masuk. Ia menunggu Simon Petrus yang lebih tua.
Orangtua harus didahulukan karena punya wibawa. Lalu masuklah murid yang lain itu; ia melihatnya dan percaya. Karena ia sangat dekat dan dikasihi, maka proses imannya berjalan. Ia melihat dan percaya. Ia percaya bahwa Yesus bangkit.
Apakah kita juga punya proses beriman seperti itu? Kebangkitan Yesus membuat perubahan apa dalam hidup kita? Bagaimana kita menjadi orang Katolik yang trasnformatif dalam dunia sekarang ini?
Masker bentuknya segitiga merah.
Dibagi-bagi untuk menonton TV.
Selamat Hari Raya Paskah.
Tetap di rumah dan Tuhan memberkati.
Cawas, Nonton bulan di teras atas…
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 11.04.20 Malam Vigili Paskah Matius 28:1-10 / Jangan Takut
PANDEMI Corona ini membuat ketakutan ke seluruh dunia. Mulai dari Pangeran Charles sampai rakyat jelata diserangnya. Para romo, pendeta, dokter, perawat dan siapa pun menjadi korban dan meninggal.
Dunia dengan segala keributannya seolah berhenti. Ketakutan melanda semua orang. Corona menjadi stigmata yang mengerikan.
Masih lagi diwarnai kisah pilu; ada warga masyarakat yang menolak perawat yang meninggal – padahal dia adalah pahlawan garda depan yang melayani pasien virus corona – dimakamkan di kuburan desa.
Terpaksa harus dibongkar dan dipindah ke tempat lain. Ketakutan berlebihan sampai kehilangan kepekaan hati nurani dan rasa kemanusiaan.
Dalam Injil hari ini, Maria Magdalena dan Maria yang lain ingin menengok kubur Yesus. Mereka memilih waktu menjelang menyingsingnya fajar, masih gelap, agar tidak diketahui siapa pun.
Kendati ada para penjaga di kubur Yesus. Mereka ingin memburati jenasah Yesus. Tiba-tiba terjadi gempa bumi dan malaikat Tuhan menampakkan diri.
Kata malaikat, “Janganlah kamu takut. Aku tahu bahwa kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit seperti yang telah dikatakan-Nya.”
Para wanita itu masih diliputi rasa takut. Mereka pergi dari kubur ingin memberitahu murid yang lain. Tetapi di tengah jalan Yesus menjumpai mereka. Kata-Nya, “Salam bagimu. Janganlah takut.” Yesus menegaskan kembali warta malaikat yakni “Jangan takut.”
Di tengah-tengah pandemi covid19 yang mengharu biru dunia sekarang ini, sabda Yesus menguatkan kita, “Jangan takut.” Dia yang berkuasa atas angin ribut di tengah danau, Dia yang berkuasa mengusir setan, Dia yang berkuasa membangkitkan orang mati, Dia pasti juga berkuasa atas wabah ini.
Jangan takut. Maut tidak mampu menguasai-Nya. Kematian tidak mampu menghentikan-Nya. Yesus hidup dan mendampingi umat-Nya. Jangan takut.
Jangan kita dibelenggu oleh ketakutan. Ketakutan justru membawa kematian. Warta kehidupan itu harus kita bagikan kepada saudara-saudari kita.
Kegembiraan, suka cita, harapan dan semangat hidup itulah yang akan menghalau virus corona ini. Mari kita gembira dan penuh harapan. Mari kita ajak saudara-saudara kita mengalami sukacita. Itulah warta Paskah bagi kita. “Jangan takut…..”
Taman bunga semakin bermekaran.
Langit di senja sangat indah kelihatan.
Mari kita wartakan sukacita dan kegembiraan.
Yesus bangkit memberi harapan.
Cawas, olahraga hilangkan lemak di badan…
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 10.04.20 Jumat Agung Wafat Tuhan Yohanes 18:1- 19:42 / Tumbal di Jum’at Keramat
PADA peringatan Wafat Isa Almasih ini kita bisa mengenang sosok-sosok pejuang kemanusiaan seperti Munir yang meninggal secara misterius tanggal 7 September 2004 di dalam pesawat menuju Amsterdam.
Ia adalah pejuang HAM dan kemanusiaan universal. Ia pernah berjuang di KONTRAS (Komisi Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan). Kemungkinan ia banyak mengusik kaum penguasa otoriter waktu itu.
Sebelum itu ada wartawan Bernas Jogja, biasa dipanggil Udin, meninggal dianiaya orang tak dikenal karena tulisan-tulisannya yang kritis dan mengusik penguasa lokal menjelang pemilihan Bupati Bantul. Ia mati karena menyuarakan kebenaran. Ada lagi pejuang seperti Marsinah.
Mereka-mereka ini, dan masih banyak lagi kaum pembela kebenaran dikurbankan menjadi tumbal atau kambing hitam.
Kasus mereka dipendam oleh waktu dan tidak ada penyelesaian yang tuntas. Kematian mereka untuk menegakkan kebenaran demi orang banyak.
Kematian Yesus di salib dapat dimaknai sebagai tindakan solidaritas dan penebusan bagi umat manusia. Hal ini bisa kita baca dari bacaan kedua, Surat kepada Umat Hibrani yang berkata,
“Imam Agung yang kita punya, bukanlah Imam Agung yang tidak dapat merasakan kelemahan kita. sebaliknya Ia sama dengan kita. Ia telah dicobai, hanya saja tidak berbuat dosa.”
Yesus ingin merasakan kelemahan kita sebagai ciptaan. Kita manusia hina karena dosa dan harus mati. Yesus ingin solider dengan kita dan merasakan kematian. Kendati Dia tidak berdosa.
Yesaya sudah menubuatkan tentang Mesias yang menderita demi keselamatan kita. Nabi berkata, “Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kitalah yang dipikulnya, padahal kita mengira, dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Sesungguhnya dia tertikam oleh pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita, derita yang mendatangkan keselamatan bagi kita, ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya, kita menjadi sembuh.”
Betapa bersyukurnya kita ini. Ada orang yang mau mati membela kita ketika kita jatuh dalam dosa. Membela orang baik, itu sesuatu yang normal. Tetapi Yesus membela kita ketika kita berdosa.
Ia mengambil posisi kita dan kita dibebaskan karenanya. Itulah makna kematian Yesus. Ia mati bukan untuk diri-Nya sendiri.
Tetapi Ia berkorban untuk keselamatan kita. Yesus, Tuhan, dengan salib-Mu Engkau telah menebus dunia. Puji Tuhan dan sembah bakti bagi Allah.
Jumat Agung yang sepi sunyi.
Semua kelu menanggung derita di rumah.
Yesus menanggung dosa kita sampai mati.
Agar kita memperoleh keselamatan dan berkah.
Cawas, Jumat keramat…’
Rm. A. Joko Purwanto Pr