Renungan Harian

Puncta 20.03.20 Markus 12:28b-34 / Cinta Tuhan = Cinta Sesama

 

Bunda Teresa dari Calcuta yang diangkat menjadi Santa, pernah berkata, “Bagaimana kita bisa mencintai Tuhan yang tak kelihatan kalau kita tidak mampu mencintai sesama kita yang kelihatan sangat dekat di sekitar kita?”

Santa Teresa melihat Allah dalam diri orang miskin, sakit, gelandangan, tuna wisma di pinggir-pinggir jalan di kalkuta India. Mereka adalah wujud nyata wajah Allah.

Maka Santa Teresa mencurahkan hidupnya secara total untuk menolong mereka. Paling tidak mereka bisa mati sebagai manusia bermartabat.

Itulah cinta kepada Allah nyata dalam tindakan kongkret mencintai sesama, bahkan mereka yang sangat menderita dan dikucilkan.

Bacaan Injil hari ini menjelaskan tentang hukum kasih. Yesus ditanya tentang hukum mana yang paling utama. Maka Yesus mengatakan,

“Perintah yang paling utama ialah, kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatanmu. Dan perintah kedua ialah, kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah itu.”

Mengasihi Allah dan mengasihi manusia itu tidak bisa dipisahkan. Itu seperti dua sisi dalam satu keping uang logam. Tidak bisa dipisah-pisahkan.

Orang tidak bisa mengasihi Allah tanpa mengasihi sesama. Orang tidak bisa mengklaim dekat dengan Allah, sering menyebut nama Allah, tetapi menjauh dan membenci sesamanya.

Juga tak sejalanlah kalau orang menyebut nama Allah untuk membenci sesamanya. Dari hukum kasih itu tak bisa dipisahkan antara kasih kepada Allah dengan kasih kepada sesama.

Yesus tidak hanya mengajarkan, tetapi Yesus sungguh melakukanNya menjadi teladan bagi kita. Yesus mengasihi orang-orang kecil, lemah dan tersingkir.

Bahkan Yesus mengorbankan diriNya dengan wafat di kayu salib, demi keselamatan kita. Tangan Yesus yang terentang di salib itu mau mengatakan kepada kita,

“CintaKu padamu takkan berubah walau ditelan waktu. Biarlah kan Kusimpan dalam hati. Cinta yang suci ini. Pasti kan kausadari.”

Marilah kita mengikutiNya, mengasihi Allah dengan mengasihi sesama di sekitar kita. Beranikah kita mengambil jalan ekstrem seperti Yesus, kasih dengan pengorbanan sampai akhir.

Virus corona berasal dari Wuhan
Bisa menyebar ke seluruh dunia
Cintakasih kepada Tuhan
Bisa terwujud dengan mengasihi sesama

Cawas, dalam iman selalu ada harapan
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 19.03.20 HR St. Yusuf, suami Maria Matius 1:16.18-21.24a / Silsilah

l

SAHABAT saya bercerita bahwa dia masih punya garis keturunan dengan Pangeran Hadiwijaya, Adipati Pajang. Dia adalah generasi ke limabelas dari garis Sang Adipati itu.

Ada sertifikat yang menunjukkan garis keturunan itu. Itu berarti ada darah biru yang mengalir di dalam dirinya.

Kalau saya berbicara atau memohon sesuatu, saya harus menunduk dan menyembah dengan takzim, karena saya hanya rakyat jelata. Mungkin dalam gelar keraton, dia boleh menyandang sebutan Raden Ayu atau sejenisnya.

Saya harus memakai basa krama inggil dalam tradisi Jawa, jika saya berkata-kata. Misalnya, “Nyuwun sewu Den Ayu, punapa kepareng kula badhe sowan lan nyuwun palilah penjenengan….”

Silsilah itu menunjukkan status pribadi dan siapa orang itu. Seorang dari darah biru harus dihormati dan disembah.

Menurut silsilahNya, Yesus dilahirkan oleh Maria, yang bersuamikan Yusuf. Dari garis keturunan, Yusuf berasal dari Daud. Kalau dirunut lebih jauh, Yusuf berasal dari keturunan Yakub, Abraham.

Silsilah itu mau menunjukkan asal-usul seseorang. Dengan demikian Yesus adalah keturunan Daud, keturunan Abraham.

Hari ini kita merayakan Santo Yusuf, suami Maria. Dalam Kitab Suci, tidak bayak diceritakan tentang Yusuf. Data yang tertulis sangat sedikit.

Namun walaupun sedikit, tetapi justru menunjukkan bahwa Yusuf adalah orang yang rendah hati dan tulus. Dia adalah pribadi di balik layar.

Tidak banyak diekspos atau dikisahkan. Namun dalam situasi kritis, dia tampil dan mengambil peran. Dia berani mengambil keputusan untuk memperistri Maria, ketika Maria sudah mengandung.

Saat bayi dan ibuNya terancam oleh Herodes, Yusuf tampil menyelamatkan mereka dengan mengungsi ke Mesir.

Sifat lain dari Yusuf adalah siap siaga dan segera bertindak. Ia segera bertindak dalam situasi darurat dan mendesak. Kitab suci menulis,

“Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya.”

Ia tidak menunda-nunda, tetapi sesudah bangun langsung bertindak seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan. Tidak mengulur waktu. Tidak ditambah, tidak dikurangi.

Dalam senyap ia menyelesaikan tanggungjawabnya. Tidak mencari pujian dan penghormatan. Ia dengan tulus dan bangga sebagai pribadi di balik layar. Yang utama adalah Yesus dan Maria, ibuNya.

Sesudah ia dan Maria membawa Yesus ke bait suci, Yusuf dengan tenang dan senyap mundur dari panggung kehidupan. Tidak ada ceritanya lagi.

Mari kita belajar dari Yusuf, semangat tulus, rendah hati, segera bertindak, tanggungjawab, tidak menunda-nunda, tenang, dan sabar. Dan pasti hidup doanya mendalam.

Potong rambut di salon pribadi.
Sudah gratis masih dijamu.
Santo Yusuf yang tulus dan rendah hati.
Ajarilah kami meneladan hidupmu.

Cawas, selamat jalan Dik Giarto, bahagialah di surga.
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 18.03.20 Matius 5:17-19 / Kristus Duta Surgawi

 

PRABU Kresna ditetapkan oleh para Pandawa menjadi duta atau utusan untuk minta kembalinya Negara Astina ke tangan putra-putra Pandu.

Sudah dua kali utusan dikirim, tetapi selalu “gagar wigar tanpa karya” artinya gagal tidak membawa hasil. Duta pertama adalah Kunti, ibu para Pandawa sendiri.

Duta kedua adalah Prabu Drupada, raja di Pancalaradya. Mereka tidak digubris oleh Kurawa. Kini Kresna dipercaya menjadi “duta mungkasi” artinya duta yang diberi wewenang menyelesaikan masalah sampai tuntas.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berkata, “Jangan menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.”

Yesus adalah utusan Allah. Dia adalah Anak Allah yang diutus menjadi “duta mungkasi”. Sebelumnya Allah telah mengutus Musa yang menurunkan Taurat kepada Bangsa Israel.

Lalu para nabi diutus Allah untuk selalu mengingatkan bangsa Israel. Namun mereka tidak mendengarkan para utusan dan tetap menyeleweng. Israel tidak setia kepada Yahwe Allah.

Yesus diutus menjadi duta atau utusan untuk menjadi hakim yang mengadili semua manusia. Bagi bangsa Israel dasar pengadilannya adalah hukum Taurat.

Barangsiapa meniadakan atau tidak melaksanakan hukum Taurat akan menduduki tempat paling rendah dalam kerajaan surga.

Tetapi yang melakukan dan mengajarkan segala perintah Taurat akan menduduki tempat yang tinggi dalam kerajaan surga.

Bagi kita yang mengikuti Kristus, dasar pengadilannya adalah hukum cintakasih. Barangsiapa tidak melakukan hukum kasih, dia akan berada di tempat paling rendah di dalam kerajaan surga.

Namun bagi mereka yang melakukan dan mengajarkan hukum kasih, dia akan menduduki tempat yang tinggi dalam kerajaan surga. Yesuslah yang menjadi duta bagi kita semua.

Yesuslah yang menentukan keselamatan kita. Yesus datang bukan untuk meniadakan hukum. Dia datang untuk menyempurnakan dan menggenapi hukum itu.

Marilah kita mengikutiNya mengamalkan hukum kasihNya kepada sesama manusia.

Bunga merah kuning sedang mekar.
Serasa indah di taman bunga.
Jangan hanya menjadi pendengar.
Tetapi jadilah pelaksana sabda.

Muntilan, Neng apa seneng aku…
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 17.03.20 Matius 18:21-35 / Tujuhpuluh Tujuh kali Tujuh kali

 

SEORANG suami sering marah-marah kepada istrinya. Kalau dia marah selalu menyebutkan kesalahan-kesalahan istrinya di masa lampau.

Kesalahan yang kemarin, yang lalu, seminggu lalu, sebulan dan bahkan kesalahan yang sudah bertahun-tahun bisa diungkap kembali.

Dia ingin menunjukkan diri sebagai “wong lanang” yang berarti ala-ala ning menang. Sang suami itu sedang menutupi ala (jeleknya).

Yang penting harus menang. Maka semua kesalahan sang istri ditumpahkan lagi biar kelihatan jeleknya.

Dalam bacaan Injil hari ini, Petrus bertanya kepada Yesus berapa kali harus mengampuni saudaranya. Batas maksimal kekuatan manusia itu hanya sampai tujuh kali.

Mengampuni sampai dua atau tiga kali saja sudah tak mampu, apalagi sampai berkali-kali. Tujuh kali itu sudah cukup bagi kita. Namun Yesus menjawab,

“Bukan sampai tujuh kali, melainkan tujuh puluh kali tujuh kali.” Itu artinya sampai tak terbatas. Darimana Yesus mendasarkan sabdaNya itu?

Yesus pernah berkata, “Hendaklah kamu sempurna seperti Bapamu di surga sempurna adanya.” Sekali lagi orientasi kita adalah menjadi seperti Bapa yang sempurna.

Yesus mengajak kita mencontoh Bapa yang sempurna. Bapa yang sempurna itu digambarkan oleh Yesus dengan kisah seorang raja yang mengampuni hambanya yang berhutang sepuluh ribu talenta.

Sedang hamba itu meminjamkan kepada temannya seratus dinar. Raja itu mengampuni hamba yang pertama yang hutang lebih banyak.

Tetapi hamba ini tidak mau mengampuni temannya yang hutang hanya sedikit. Kita hitung satu talenta itu berapa dinar.

Dalam kamus kitab suci, satu talenta itu sama dengan enamribu dinar. Kalau sepuluh ribu talenta dikalikan enamribu sama dengan enampuluh juta dinar. Enampuluh juta dibanding dengan seratus dinar?

Betapa sangat tidak seimbang. Maka kalau Allah itu selalu dan terus menerus mengampuni, kita pun harus berani mengampuni kesalahan sesama kita.

Seberapa sering kita berdosa, dan seberapa kali kita datang kepada Allah, Dia akan selalu mengampuni kita. Itulah kerahiman Allah Bapa. Kita tidak perlu sungkan untuk datang kepadaNya. Kita diajak juga sering mengampuni saudara.

Membeli apem di Pasar Legi
Ketemu artis sedang naik bendi
Sesering kita diampuni
Sesering pula kita mengampuni

Cawas, andaikan kau datang kembali
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 16.03.20 Lukas 4:24-30 / Semar Bangun Kahyangan

 

ALKISAH Semar, punakawan Pandawa melihat suasana kerajaan Amarta yang genting. Maka dia berniat membangun kehidupan moral rakyat Amarta.

Dia ingin membangun Kahyangan agar masyarakat mengalami ayem tentrem tata raharja gemah ripah lohjinawi. Namun Kresna melarang dan menghalangi niat Semar.

Dia tahu siapa Semar. Dia hanyalah abdi para ksatria. Dia hanya rakyat jelata yang tidak punya kuasa apa-apa. Semar hanya orang miskin dari Karang Kadhempel yang harus mengabdi dan tunduk pada para ksatria.

Niat baik Semar untuk membangun moral hidup rakyat Amarta ditolak mentah-mentah. Para punggawa Amarta dan Kresna tahu siapakah Semar itu.

Walaupun dia adalah titisan dewa, namun para ksatria itu hanya melihat Semar sebagai hamba, yang tidak punya kuasa apa-apa.

Yesus datang ke kota asalNya di Nasaret. Ia ditolak oleh mereka, karena mereka tahu latar belakang keluargaNya. Mereka menolak pewartaan dan karyaNya di tempat asalNya.

Orang-orang itu tidak mempercayaiNya. Maka Yesus tidak membuat mukjijat di Nasaret. Karena tidak percaya, mereka menolak Yesus. Mereka tahu Yesus hanyalah anak tukang kayu, orang miskin. Mereka melihat latar belakangNya.

Kita pun seringkali berlaku seperti orang-orang Nasaret. Meremehkan orang karena latar belakang hidupnya, keluarganya, status sosialnya.

Kita menilai orang berdasarkan kekurangan-kekurangannya. Kita kurang menghargai mereka karena asal-usulnya. Natanael, salah seorang murid Yesus pernah berkata,

“Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nasaret?” Ada pendapat umum yang bersifat peyoratif tentang Nasaret.

Situasi dan keadaan masyarakat Nasaret dipertanyakan. Maka ketika Yesus kembali ke kotaNya, orang-orang di situ mencibir dan menolakNya.

Zaman dulu jika orang menyebut kampung Badran di Yogyakarta, orang sudah takut. Karena kampung itu terkenal dengan gali, garong, pencopet, dan tindak kejahatan lainnya.

Masyarakat menilai orang dari asal usulnya, latar belakang keluarga dan status sosialnya. Orang tidak melihat kualitas hidupnya.

Penilaian itu mempengaruhi tingkat kepercayaan seseorang. Penilaian seperti itu sangat merugikan dan membuat kita tidak maju dan berkembang.

Isue corona sudah menyebar kemana-mana
Jaga kesehatan dan tetaplah waspada.
Menilai orang bukan dari asal-usulnya.
Tetapi kualitas hidup jauh lebih berguna.

Cawas, selalu jaga diri ya…
Rm. A. Joko Purwanto Pr