Renungan Harian

Puncta 28.02.20 Matius 9:14-15 / Masa Puasa

 

NASEHAT PUASA dari Paus Fransiskus adalah Puasa mengeluarkan kata-kata yang menyerang dengan kata-kata yang manis dan lembut. Puasa kecewa atau tidak puas, dan penuhilah dirimu dengan rasa syukur.

Puasa marah, dan penuhilah dirimu dengan sikap taat dan sabar. Puasa pesimis, penuhilah dengan optimis. Puasa khawatir dan penuhilah dirimu dengan percaya pada Tuhan.

Puasa meratap/mengeluh dan nikmatilah hal-hal sederhana dalam kehidupan. Puasa stress dan penuhilah dirimu dengan doa. Puasa dari kesedihan dan kepahitan, penuhilah hatimu dengan sukacita.

Puasa egois dan gantilah dengan belarasa pada yang lain. Puasa dari sikap tidak bisa mengampuni dan balas dendam, gantilah dengan pendamaian dan pengampunan.

Puasa ngomong banyak dan penuhilah dirimu dengan keheningan dan siap sedia mendengarkan orang lain.

Hari ini dalam bacaan Injil, murid-murid Yohanes bertanya kepada Yesus tentang waktu puasa. “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa tetapi murid-muridMu tidak?”

Yesus menerangkan bahwa saat berpuasa itu adalah saat dimana tidak ada mempelai. Ketika mempelai diambil dari mereka maka saat itulah mereka berpuasa, prihatin.

Mempelai itu adalah Yesus sendiri. Ketika Yesus bersama dengan kita, kita bersukacita. Fokus utamanya adalah Yesus yang membawa keselamatan dan sukacita.

Kita perlu berpuasa ketika kita jauh dari Yesus. maka saat berpuasa itu tidak dibatasi oleh waktu. Kapan saja kita bisa berpuasa. Lebih-lebih ketika kita mengalami jauh dari Tuhan.

Hidup terasa kering dan hambar. Hidup dipenuhi dengan nafsu dan kepentingan diri pribadi. Hidup terasa “nggrangsang, ngoyo” dan egois.

Pada saat itulah kita membutuhkan waktu untuk berpuasa. Ketika kita merasa jauh dari Tuhan, disitulah kita perlu berpuasa.

Maka nasehat Paus Fransiskus di atas, bisa dilakukan kapan saja. Kita bisa berpuasa. Puasa itu bukan soal aturan atau kewajiban. Puasa itu soal niat kita untuk memperbaiki diri dan berbuat baik.

Waktu ini hanya sarana. Tujuan kita berpuasa adalah memperbaiki diri kita dalam relasi dengan Tuhan dan sesama.

Apa yang disampaikan Paus itu bisa kita buat tanpa harus menunggu waktu puasa. Kapan saja kita boleh berpuasa.justru di saat kita merasa jauh dari Tuhan, waktu itu kita butuh puasa.

Hari ini usiaku limapuluh lima
Seringkali lupa-lupa tanda bahwa sudah mulai tua
Mohon maaf saya mengirim dua puncta
Yang di awal tadi untuk renungan hari berikutnya

Cawas, hari ini penuh candatawa
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 27.02.20 Lukas 9:22-25 / Kesetiaan Drupadi

 

SETELAH permainan dadu selesai, Pandawa diusir dari negaranya dan harus hidup di hutan selama duabelas tahun.

Semua harta, tahta, wanita ludes habis dipertaruhkan dalam permainan. Pandawa dibuang dan harus menderita dalam pengembaraan, “dadi sudra sampali”.

Yang setia menemani mereka adalah Kunti sang ibu, dan Drupadi, istri Yudistira. Sebelum melepas mereka, Kresna bertanya kepada Drupadi, “Bagaimana rasamu harus mengikuti suami yang menderita dan dibuang di tengah hutan?”

Drupadi wanita yang lembut hati itu menjawab, “Cintaku tak sedikit pun berubah. Justru sekarang aku makin melihat Yudistira yang sesungguhnya. Kasihku tidak didasari pada harta, kuasa atau kedudukan seseorang. Aku akan mengikutinya sampai akhir, walau harus menderita sekali pun.”

Hari ini Yesus berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya.”

Drupadi adalah perempuan yang sadar akan hal itu. Ia mengikuti suaminya meskipun harus menderita di hutan.

Cintanya kepada suami justru makin bersinar cemerlang ketika suaminya tidak lagi memiliki segalanya. Yudistira tidak punya kuasa dan kerajaan lagi.

Semuanya hilang musna saat kalah dalam permainan dadu dengan Kurawa. Ia dihina, diejek, dicemooh dan direndahkan oleh musuhnya.

Tetapi Drupadi tetap menerima Yudistira dan mengikutinya dalam penderitaan di hutan. Ia ikut memikul penderitaan suami tercinta.

Prasarat untuk menjadi murid Yesus ditentukan bukan untuk mengikuti Yesus yang telah bangkit, tetapi dari kesetiaan kita menyangkal diri dan memikul salib setiap hari.

Orang sering menegasikan salib Kristus. Yang dikejar adalah Kristus yang bangkit. Yang dicari adalah kesuksesan, kebangkitan, keberhasilan, kemewahan. Tetapi saat jatuh, ia menyalahkan Tuhan.

Teman sejati bukan orang yang mengerubungi kita saat sukses, berhasil, di puncak, kaya-raya. Teman sejati adalah mereka yang datang pertama kali dan menemani kita saat jatuh, terpuruk, menderita, susah dan tak jadi apa-apa.

Maukah kita mengikuti Yesus dengan memanggul salib kita setiap hari?

Membeli jagung rebus setelah misa.
Untuk sarapan di pagi hari.
Kalau kita mau menjadi muridNya.
Harus bisa memikul salib dan menyangkal diri.

Cawas, menghormati masa puasa tidak ada pesta.
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 26.02.20 Rabu Abu, Pantang dan Puasa Matius 6: 1-6. 16-18 / Jangan Pamer

 

SUATU kali saya diminta mengantar sekelompok ibu-ibu untuk memberikan sumbangan ke panti asuhan. Sumbangannya sih tidak seberapa.

Tetapi yang heboh adalah mereka membawa peserta banyak sampai harus menyewa bus besar. Lalu ada yang usul supaya mengundang wartawan biar acara ini diliput dan diberitakan ke media.

Seksi konsumsinya juga sibuk mengurus menu untuk sekian puluh orang yang ikut. Seksi acara mengusulkan supaya ibu-ibu memakai seragam. Dibuatlah kaos seragam.

Habis berkunjung ke panti asuhan ada yang usul piknik ke pantai. Saya menolak ikut acara itu. Tujuan membantu anak-anak panti asuhan sudah melenceng jauh.

Dan lagi biaya penyelenggaraan “Bakti Sosial” lebih besar sekian kali lipat dibandingkan dengan bantuan yang akan disumbangkan.

Hari ini adalah awal masa puasa bagi umat Katolik. Kita semua menerima abu di dahi sebagai tanda pertobatan. Bagaimana pertobatan itu harus dijalankan?

Yesus menjelaskannya dalam bacaan Injil. “Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Tetapi apabila kamu berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

Intinya adalah JANGAN PAMER. Begitu juga kalau memberi atau bersedekah. Jangan pamer. Kalau sedang berdoa, juga jangan pamer.

Baik berdoa, memberi atau bersedekah atau sedang berpuasa, lakukanlah dengan tidak diketahui orang. Jangan dipamer-pamerkan.

Kadang kita tergoda untuk menunjukkan kepada orang lain, kalau kita bersedekah. Kita pengin dilihat orang kalau sedang berpuasa, “klelat-klelet kaya wong kaliren”. Kita pengin dianggap suci makanya berdoa di tempat-tempat umum.

Yesus menginginkan supaya kita melakukan hal-hal itu secara tersembunyi. Jangan mencari pujian orang tetapi biarlah Bapa di surga yang melihatnya.

Yang penting bukan kulitnya, tetapi isinya. Jangan jatuh pada sikap formalisme, tetapi substansinya yang harus diutamakan.

Selamat memasuki masa prapaskah, masa puasa. Semoga puasa kita menjadi lebih berguna bagi orang lain.

Di meja disajikan jagung dan baby potato
Padahal itu sering disebut kentang kleci
Berbuat baik itu tidak perlu berpidato
Biarlah diketahui oleh Tuhan sendiri

Cawas, patangpuluh dina pasa.
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 25.02.20 Markus 9: 30-37 / Yanni Air Service

 

ANDA pecinta lagu-lagu atau konsernya Yanni? Saya adalah salah satu penggemar musiknya. Setelah selesai mengadakan konser di AIUla Arab Saudi yang sukses, dalam perjalanan pulang, seluruh crew dan pemain konser itu dilayani oleh Yanni di dalam pesawat.

Layaknya seorang pramugara, Yanni dengan sukacita membagikan coklat kepada mereka semua sebagai tanda terimakasih karena pertunjukkan di Arab sangat bagus dan sukses.

Kedua tangannya membawa nampan berisi permen coklat aneka warna, dan dibagikan kepada seluruh crew dari depan sampai ke belakang.

Yanni artis yang sangat terkenal itu – yang selalu menjadi ikon dalam setiap konsernya – melayani semua dengan wajah ceria.

Orang yang selalu di depan dalam setiap pertunjukannya itu mau menjadi pelayan bagi seluruh backstage crewnya,

Dalam bacaan Injil hari ini Yesus berkata kepada keduabelas muridNya, “Jika seorang ingin menjadi yang terdahulu hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan menjadi pelayan semuanya.”

Ajaran Yesus ini bertolak belakang dengan pikiran para murid. Mereka justru mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka.

Kita pun pada umumnya juga seperti para murid itu, ingin menjadi yang pertama, terdahulu, paling depan, paling berkuasa, paling hebat.

Yesus punya pandangan lain. Yang ingin menjadi terdahulu harus menjadi yang terakhir dan menjadi pelayan bagi semua.

Kehebatan seseorang bukan dilihat dari kedudukannya tetapi dari tindakan pelayanannya. Keunggulan seseorang bukan karena dinomorsatukan, tetapi karena ia lebih mengutamakan yang lain daripada dirinya sendiri.

Kehormatan seseorang dapat dinilai dari bagaimana ia suka melayani orang lain. Misalnya ada kakek tua yang berdiri di dalam kereta api atau bus umum, lalu ada pemuda yang merelakan tempat duduknya untuk kakek itu.

Ada banyak tindakan-tindakan sederhana yang bisa kita lakukan untuk menjadi pelayan bagi orang lain. Melayani itu bukan hal yang hina, tetapi justru punya nilai luhur.

Yesus mempertentangkan sikap orang dewasa (murid-murid) dengan anak kecil. Orang dewasa justru berebut siapa yang terbesar.

Anak kecil punya jiwa yang polos, suka menolong, melayani dan berbagi dengan yang lain. Anak kecil hatinya masih jujur dan murni.

Yesus mengajak kita mencontoh hati yang tulus, jujur, polos dan murni dari seorang anak kecil. Yesus sendiri datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani. Bagaimana dengan kita?

Raden Mas Nangkring Binuka
Berpasangan dengan Raden Ayu Plangkaningrum
Kalau kita mau menjadi yang terkemuka
Hendaklah mau melayani dengan penuh senyum

Cawas, tawaria bersama
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 24.02.20 Markus 9: 14-29 / Investasi Doa

 

SAHABAT saya dulu pernah menawarkan sebuah produk investasi dana pensiun. Dia menasehati saya supaya punya dana pensiun agar kita mempunyai tabungan yang cukup untuk mengcover diri kita ketika kita sudah tidak produktif.

Dia memberi contoh sendiri. Dia menyisihkan duapuluh persen gajinya untuk investasi. Sekarang ketika usia sudah memasuki pensiun, dia tinggal memetik investasinya itu. Buah dari ketekunan yang sudah lama disimpan itu menghasilkan kebaikan.

Dalam bacaan Injil hari ini Yesus dihadapkan pada kasus orang sakit ayan. Mereka membawa si sakit itu kepada murid-muridNya. Namun para murid itu tidak mampu menyembuhkannya.

Ayah dari anak itu menceritakan bagaimana anaknya diserang setan yang membuatnya sakit demikian.

“Setiap kali roh itu menyerang, anakku dibantingnya ke tanah. Lalu mulutnya berbusa, giginya berkeretakan, dan tubuhnya menjadi kejang. Aku sudah minta kepada murid-muridMu, supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat.”

Ketika Yesus berhasil menyembuhkan anak itu, para murid bertanya, “Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?”

Jawab Yesus, “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa.” Yesus menegaskan bahwa berdoa itu memiliki daya guna yang kuat.

Doa adalah senjata kekuatan orang beriman. Supaya kita mempunyai daya yang kuat, maka kita harus mengumpulkan waktu untuk berdoa.

Seperti sebuah investasi, doa itu harus dibiasakan dan dilakukan terus menerus. Kalau kita tekun dan rutin menyisihkan duapuluh persen dana kita untuk investasi, kita juga bisa menginvestasikan duapuluh persen waktu kita untuk Tuhan.

Kita diberi waktu oleh Tuhan duapuluh empat jam sehari. Apakah kita mau menginventasikan duapuluh persen dari duapuluh empat jam hidup kita untuk berdoa?

Yesus menginvestasikan waktuNya untuk berdoa. Ia mencari tempat yang sunyi untuk menyendiri yakni berdoa. Ia banyak menginvestasikan waktuNya.

Maka Dia bisa berkata kepada murid-muridNya, “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa.” Kalau kita banyak berdoa, maka setan sekuat apa pun dapat kita kalahkan.

Maukah anda berinvestasi doa kepada Tuhan? Sisihkan duapuluh persen waktu anda untuk berdoa setiap hari.

Pagi-pagi sudah diajak bersepeda
Disuruh naik motor listrik mengikuti
Kalau kita banyak berinvestasi doa
Kesulitan apa pun dapat kita hadapi

Cawas, saatnya menikmati investasi
Rm. A. Joko Purwanto Pr