Puncta 20.12.19 Lukas 1:26-38 / Terjadilah Padaku.
ADA dua orang yang menerima kabar gembira dari Malaikat Gabriel. Zakaria dan Maria. Yang dialami Zakaria berbeda dengan Maria walaupun mereka sama-sama terkejut dan mempertanyakan apa makna kabar itu.
Zakaria mempertanyakan karena Elisabet istrinya mandul dan sudah tua. Zakaria tidak percaya bahwa hal itu bisa terjadi. Maria juga mempertanyakan apa arti kabar dari Malaikat Gabriel.
Maria terkejut dan heran juga. Ada unsur ketidak percayaan juga menghadapi kenyataan itu. Realitas itu adalah sesuatu yang mustahil. Apalagi dia belum bersuami.
Namun menghadapi kemustahilan itu, Maria percaya kepada Allah. “Aku ini hamba Tuhan. Terjadilah padaku menurut perkataanMu itu.” Jawaban Maria ini membedakan dengan tanggapan Zakaria.
Zakaria menjadi bisu karena dia tidak percaya atas kabar Malaikat Gabriel. Zakaria berhenti pada ketidakpercayaan. Ia tidak melihat karya Allah itu dalam dirinya.
Sedang Maria melihat jauh ke depan. Karya Allah lebih diutamakan daripada kepentingan dirinya sendiri. “Terjadilah padaku menurut perkataanMu.” Kehendak Allah harus terjadi daripada kehendak sendiri.
Maria melihat kehendak Allah lebih utama demi keselamatan umat manusia. Mata hati Maria menerawang ke hati Allah yang ingin menyelamatkan manusia.
Inilah mata rohani Maria yang peka terhadap kehendak Allah. Kepekaan hati inilah yang pantas kita teladani dari Bunda Maria.
Selain itu, Maria juga mengakui kerendahan hatinya. “Aku ini hamba Tuhan.” Maria mengaku diri sebagai hamba. Seorang hamba yang taat dan patuh kepada kehendak tuannya.
Itulah ketaatan seorang hamba atau abdi. Mampukah kita juga memposisikan diri sebagai hamba meneladan seperti Maria.
Marilah kita mengasah kepekaan dan kerendahan hati seperti teladan Maria sehingga nama Tuhan semakin dimuliakan.
Naik kereta menuju Pacitan
Makan tahu di Tawangmangu
Maria teladan kesucian
Doakanlah kami anak-anakmu
Cawas, menunggu hujan reda
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 19.12.19 Lukas 1:5-25 / Tidak Ada yang Mustahil
DEWI Gendari menjadi putri boyongan Pandu Dewanata. Ia berharap dijadikan istrinya. Tetapi ternyata Pandu menyerahkannya kepada Destarastra, kakaknya yang buta.
Hal ini menimbulkan sakit hati dan dendam kesumat. Selama ia hamil, hatinya tak pernah tentram. Pikiran dan perasaannya hanya diliputi dendam dan luka batin.
Gendari ingin membalas sakit hatinya. Perasaan kecewa, dendam, sedih, galau, kawatir membanjiri dirinya. Ini mempengaruhi bayi yang dikandungnya. Bahkan sudah seribu hari bayi itu belum juga lahir.
Suasana Hastina seram dan menakutkan. Suatu malam binatang-binatang buas mengaum sangat mengerikan. Seluruh rakyat ketakutan. Disertai lolongan anjing hutan dan auman harimau buas, Dewi Gendari melahirkan gumpalan daging yang berserakan.
Begawan Abiyasa minta supaya gumpalan-gumpalan itu ditutupi daun jati. Secara ajaib Batari Durga datang dan mengatakan bahwa gumpalan daging merah itu akan menjadi anak yang jumlahnya seratus.
Dewi Gendari senang karena dia ingin punya anak banyak agar bisa menumpas keturunan Pandu. Dendam dan sakit hati diwariskan Gendari kepada para Kurawa, anak-anaknya.
Bacaan Injil hari ini bercerita tentang kelahiran Yohanes Pembaptis. Ada firasat dan tanda-tanda dari Tuhan yang mengiringi lahirnya Yohanes. Zakaria dan Elisabet sudah uzur.
Elisabet sudah mandul. Tak mungkin punya anak. Tetapi bagi Tuhan tak ada yang mustahil. Malaikat Tuhan menampakkan diri.
Memberitahukan bahwa Elisabet akan melahirkan seorang anak laki-laki. Zakaria pasti tak percaya. Walaupun ia juga berharap akan hadirnya seorang anak. Tapi apa mungkin?
Tanda lain yang nampak adalah bisu. Zakaria menjadi bisu karena ia tidak percaya kepada rencana Allah. Zakaria tidak dapat berkata-kata sampai Yohanes lahir.
Ia tidak dapat percaya bahwa Elisabet akan mempunyai seorang anak. Kendati begitu, Allah terus berkarya dan menjalankan kehendakNya. Ketidak-percayaan Zakaria tidak mengubah rencana Tuhan.
Ketika Elisabet mengandung pada bulan ke lima, ia menjadi yakin bahwa Allah mendengarkan doanya. “Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku. Sekarang Ia telah menghapuskan aibku di depan orang.”
Bagi pasangan-pasangan yang belum dikaruniai anak, tetaplah percaya dan tekun berdoa. Pada waktunya Allah akan bertindak dan mengabulkan doa-doa kita. Bagi Tuhan tidak ada hal yang mustahil.
Kuncinya ada pada iman, harapan dan cinta. Tetap beriman kepada Tuhan. Terus berharap Allah itu baik. Setia mewujudkan cinta pada sesama.
“Wong sing tekun mesti entuk teken lan mesti bakal tekan.” Barangsiapa tekun akan mendapat pertolongan dan akan tercapai cita-citanya.
Mobil baru putih warnanya
Garasi penuh mobilnya tiga
Jangan ragu, teruslah percaya,
Tuhan akan bertindak pada waktunya.
Cawas, bahagianya makan tempe kemul
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 18.12.19 Matius 1:18-24 / Dilema Kunti
KETIKA masih gadis, Dewi Kunti berguru kepada Resi Druwasa. Oleh Gurunya, Kunti diberi “ngelmu” yang bernama “aji kunta wekasing rasa, sabda tunggal tanpa lawan”.
Daya ngelmu itu mampu menghadirkan dewa dari kahyangan. Mantra itu ada pantangannya, yakni tidak boleh diucapkan pada waktu tidur atau mandi.
Terkadang oleh rasa ingin tahunya, Kunti mengucapkan mantra saat dia sedang mandi. Seluruh dewa di kahyangan geger. Batara Surya atau Dewa Matahari turun menemui Kunti.
Tak perlu diceritakan apa yang terjadi, karena pertemuan itu akhirnya Kunti mengandung jabang bayi. Kunti bingung dan sedih hati karena ia yang belum bersuami kini mengandung seorang bayi dari Batara Surya.
Bayiitu lahir laki-laki dan diberi nama Raden Karna Basusena. Karna berarti sorot atau cahaya. Basu berarti Matahari. Sena berarti anak.
Nama itu berarti putera dari Sang Batara Surya, Dewa Matahari. Peristiwa ini menimbulkan dilema bagi Kunti. Kalau dia tetap memelihara anak itu, Negara Mandura akan luntur kewibawaannya karena Sekar Kedaton Dewi Kunti punya anak di luar nikah.
Tetapi kalau mau pisah dengan anaknya, nama baik Negara Mandura akan tetap berjaya. Kunti memilih tetap menjaga nama baik Negara Mandura. Karna dibuang dengan dihanyutkan di Sungai Gangga.
Dalam bacaan Injil hari ini, Maria dikisahkan sedang bertunangan dengan Yusuf. Ternyata Maria mengandung dari Roh Kudus sebelum mereka hidup sebagai suami istri.
Hal ini jelas membuat dilema bagi Yusuf. Yusuf bimbang. Dia berniat menceraikan tunangannya secara diam-diam.
Tetapi Malaikat datang dan menguatkan hatinya. “Yusuf, Anak Daud. Janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu. Sebab Anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.”
Setelah diyakinkan oleh Malaikat, Yusuf segera mengambil Maria menjadi istrinya. Yusuf adalah pribadi yang taat, saleh dan bertanggungjawab. “Sesudah bangun dari tidurnya.”
Yusuf tidak menunda-nunda. Ia segera bertindak. Karena Yusuf dan Maria taat pada kehendak Tuhan, maka Sang Juru Selamat lahir, datang ke dunia membawa keselamatan.
Seandainya Kunti tidak membuang Karna, perang Baratayuda bisa dihindarkan. Karna adalah saudara satu ibu dengan Pandawa. Dunia akan damai, tidak terjadi pertumpahan darah antar saudara.
Yusuf dan Maria dengan ikhlas hati menerima kehadiran Yesus. Mereka menjadi keluarga tempat Yesus dibesarkan dengan penuh cintakasih. Berkat kesediaan Yusuf dan Maria, Sang Juru Selamat hadir membawa damai bagi dunia. Dialah Sang Imanuel, Allah beserta kita.
Masak telur kecap diberi kuah
Disiapkan untuk hidangan pesta
Mari kita berserah kepada Allah
Damai dan sejahtera adalah buahnya
Cawas, hari yang indah
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 17.12.19 Matius 1:1-17 / Habis Gelap……..
KALAU ditanya garis keturunan, kita paling hanya bisa mengingat sampai kakek nenek kita. Selebihnya itu kita sudah tidak dapat mengenal lagi, siapa bapaknya kakek kita atau siapa kakeknya kakek kita.
Dalam bacaan Injil hari ini, Matius memperkenalkan silsilah Yesus Kristus mulai dari awal, yakni Anak Daud, anak Abraham sampai 42 generasi.
Matius ingin menegaskan bahwa Yesus berasal dari keluarga Daud, juga garis keturunan Abraham sebagaimana nubuat para nabi.
Kita diajak untuk menghargai sejarah. Bung Karno pernah berkata, “Jas Merah, Jangan sekali-kali melupakan sejarah.”
Sekelam apapun sejarah itu tetap harus kita hormati. Karena merekalah yang telah mengukir kehidupan kita menjadi seperti sekarang ini. Begitu pun dalam silsilah Yesus.
Kalau kita perhatikan, ada empat wanita yang disebut dalam silsilah itu yang punya catatan “kelam”. Mereka adalah Tamar, Rut, Bersyeba dan Maria. Tamar terpaksa menjadi wanita sundal agar bisa melanjutkan keturunan Yehuda.
Rut adalah wanita asing dari Moab yang ikut mertuanya Naomi kembali ke Kanaan. Bersyeba adalah istri Uria, tentara Daud. Daud mengambilnya dengan cara yang licik dan tidak terpuji.
Ketiga wanita itu dipakai Allah untuk mempersiapkan Maria yang akan melahirkan Sang Juru Selamat dengan cara yang sangat mengejutkan, bukan saja bagi Maria tetapi juga bagi kita.
Rencana Allah itu sungguh misteri. Karya keselamatan Allah itu terlaksana menurut kehendakNya, bukan mengikuti logika manusia.
Menurut logika kita, pastilah Allah mahakuasa dan mampu mengatur rencanaNya dengan memilih orang-orang yang baik dan saleh lagi suci. Tetapi itu alur pikiran manusia.
Allah punya rencana yang sangat berbeda. Allah justru menggunakan “kehinaan” manusia untuk mengangkat martabat kita. Disinilah kita justru semakin meyakini bahwa Yesus itu sungguh manusia. Allah yang mahakuasa itu mengambil rupa dalam diri Yesus yang sungguh manusia lemah.
Dengan melihat silsilah itu, Allah sungguh menyejarah dan masuk dalam perjalanan hidup kita. Allah sungguh setia kepada manusia sejak awal sampai akhir zaman.
Kendati manusia jatuh bangun menanggapi kasihNya, namun Allah tetap setia menyelamatkan manusia melalui Yesus Kristus PuteraNya.
Mutiara tetaplah indah dan mempesona walaupun berada di kubangan lumpur yang kotor. Begitulah Allah tetap kudus dan mulia kendati mengambil rupa dalam kehinaan manusia.
Kita harus bersyukur karena Allah hadir dan memakai “kehinaan” manusia untuk menyelamatkan kita. Kita adalah orang berdosa tetapi dikasihi oleh Allah.
Dengan dipandu tongkat tua
Kami menyusuri lubang gua
Hati Allah bagai samudera
Manusia berdosa dikasihiNya
Cawas, memburu senja di ufuk
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 16.12.19 Matius 21:23-27 / Sarjana Muda
MENTERI Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim mengatakan bahwa gelar tidak menjamin kompetensi, bahkan gelar kelulusan tidak menjamin kesiapan seseorang dalam bekerja.
Ia juga mengatakan, bahwa kelulusan tidak menjamin kesiapan berkarya atau bekerja. Akreditasi tidak menjamin mutu dan kehadiran di kelas tidak lagi menjamin proses dalam belajar.
Ini adalah tantangan dalam pendidikan di era digital. Pandangan Nadiem Makarim itu sudah dirasakan jauh sebelumnya oleh Penyanyi Iwan Fals, dalam lagu yang berjudul “Sarjana Muda.”
Salah satu liriknya berkata, “Engkau sarjana muda resah tak dapat kerja, tak berguna ijasahmu. Empat tahun lamanya bergelut dengan buku. Sia-sia semuanya.”
Ijasah tidak lagi berkuasa menunjukkan kompetensi seseorang. Lulus perguruan tinggi tidak menjamin orang langsung dapat kerja. Ada banyak sarjana nganggur. Ijasah tidak kuasa menentukan masa depan orang.
Dalam bacaan Injil hari ini, kira-kira Yesus ditanya oleh imam-imam kepala dan pemuka-pemuka bangsa Yahudi, “Dengan ijasah dari Perguruan Tinggi mana Engkau melakukan hal-hal itu? Engkau itu lulusan sekolah mana, siapa yang memberi kuasa sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?”
Kalau Paulus jelas, muridnya Gamaliel, Guru Besar terkenal dan disegani. Tapi Yesus? Mungkin hanya lulus SD Nasaret. Kota kecil tidak terkenal.
Kalau Yesus disebut guru, Dia ini lulusan SPG mana? Siapa mentornya? Para imam itu mempertanyakan soal legalitas Yesus mengajar dan membuat mukjijat-mukjijat.
Bagi Yesus, hal kuasa dari mana itu tidak penting. Yang penting adalah orang-orang yang diberi warta mengalami sukacita.
Orang buta dapat melihat, orang bisu dapat berbicara. Orang tuli bisa mendengar, orang lumpuh bisa berjalan. Orang mati dibangkitkan dan orang-orang miskin mengalami keselamatan.
Orang sering terjebak pada aturan legalitas, tetapi pada senyatanya tidak punya kemampuan apa-apa. Gelar atau ijasah tidak menjamin kompetensi seseorang.
Maka Yesus balik bertanya kepada mereka, “Dari manakah pembaptisan yang diberikan Yohanes? Dari surga atau dari manusia?” Mereka bingung sendiri. Mereka terjebak sendiri oleh pikiran sempit dan egoism kelompok.
Kalau pembaptisan Yohanes saja mereka tidak tahu dari mana, bagaimana bisa mereka mengetahui kuasa Yesus? Kita ini mudah sekali menilai orang atau perbuatannya hanya dari yang permukaan saja.
Kalau dimana-mana pegang rosario atau tasbeh itu orang suci. Kalau dimana-mana pakai jubah itu pasti romo yang saleh. Belum tentu. Jangan mudah jatuh pada penampilan luarnya saja.
Para imam-imam kepala dan pemuka bangsa Yahudi itu terlalu menekankan legalitas kuasa/ijasah atau penampilan luarnya saja.
Ke Kaliurang melintasi sawah dan pertanian
Berhenti melihat sapi kencing di jalan
Bukan ijasah atau penampilan luar yang diutamakan
Tetapi mutu dan kompetensi yang akan menentukan
Cawas, langit serba biru
Rm. A. Joko Purwanto Pr