Renungan Harian

Puncta 25.11.19 Lukas 21:1-4 / Janda Miskin

 

DUNIA sekarang ini memiliki perbedaan sangat kontras antara orang kaya dan orang miskin. Orang kaya menghamburkan sisa makanan lebih besar dari kebutuhan orang miskin.

Oleh karena itu Paus Fransiskus menghimbau kepada semua orang untuk tidak membuang makanan. Dengan membuang makanan itu berarti kita merampas milik orang miskin.

Banyak makanan dibuang sementara orang miskin tidak dapat menikmati hak mereka untuk makan.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengambil contoh kedermawanan orang miskin melalui seorang janda.

Janda miskin itu memberikan seluruh dari penghasilannya kepada Tuhan. Yesus memuji pemberian janda miskin itu karena ia memberikan dari segala kekurangannya. Sedangkan banyak orang lain memberikan dari kelimpahan mereka.

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang. Sebab mereka semua memberikan persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberikan dari kekurangannya, bahkan ia memberikan seluruh nafkahnya.”

Bukankah kita sering memberi kepada Tuhan justru sisa-sisa dari apa yang kita miliki? Kalau kita sudah berkelimpahan, kita baru memikirkan Tuhan atau orang lain.

Seringkali kita juga berpikir, “Saya aja masih kurang, kenapa harus memberi kepada orang lain?”

Dengan mengambil contoh janda miskin itu, Yesus ingin mengajarkan kepada kita untuk berani memberikan apa yang kita miliki kepada Tuhan tanpa memikirkan kebutuhan kita sendiri. Bukankah Allah telah memberikan semuanya untuk kita?

Dengan lepas bebas terhadap segala harta milik, kita diajar untuk berani mengandalkan Allah Sang Maha Pemberi.

Kita tidak dikuasai oleh harta benda akan milik kita, tetapi kitalah yang berkuasa mengendalikan harta milik itu. Semuanya adalah milik Allah. Maka kita kembalikan kepadaNya.

Janda miskin itu memberi contoh tentang keiklasan dan keleluasaan untuk tidak terikat pada materi duniawi.

Apakah kita berani melepaskan milik kita bahkan ketika kita mengalami kekurangan untuk diberikan kepada Allah? Disitulah nilai tertinggi dari pemberian kita.

Semarang hawanya sangat panas
Tiada angin bertiup dari utara
Orang yang berani hidup dengan ikhlas
Dia akan bahagia lahir dan batinnya

Bongsari, menikmati panas yang menyengat
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 24.11.19 HR Kristus Raja Semesta Alam Lukas 23: 35-43 / Raja Damai

 

HARI ini seluruh gereja merayakan Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Gelar ini untuk menyimpulkan karya penyelamatan Tuhan kepada seluruh ciptaanNya.

Sekaligus kita menutup seluruh tahun liturgi gereja. Kita akan memulai tahun liturgi baru pada Minggu Advent pertama nanti.

Kristus menjadi raja bagi kita semua. Sifat kerajaanNya bukan seperti yang dihayati oleh dunia. Ia tidak mempunyai singgasana.

Ia tidak mempunyai mahkota. Ia tidak memakai tongkat kerajaan. Ia tidak mempunyai bala tentara. Namun salib adalah singgasanaNya.

Duri adalah mahkotanya. Para muridNya yang setia adalah tentaraNya. Tongkat kekuasaanNya adalah kasih dan itu menjadi hukum utama yang diajarkanNya.

Dalam bacaan Injil hari ini, kematian Yesus di salib menjadi bukti kemuliaanNya. Dunia menolakNya, tetapi bagi yang mengimaniNya, Ia menjanjikan Firdaus.

Pemimpin bangsa Israel mengejekNya. Para prajurit mengolokkanNya. Tulisan di atas kepalaNya lebih bertujuan untuk mencemooh bukan suatu penghormatan.

Bahkan penjahat yang disalib bersamaNya juga menghujat, “Bukankah Engkau Kristus? Selamatkanlah DiriMu sendiri dan kami.”

Hanya ada satu orang penjahat lain, yang mengakuiNya sebagai raja. Ia yakin dan percaya bahwa Yesus tidak bersalah apa-apa. Ia orang benar.

Bahkan Yesus berani menanggung dosa kita dengan mati di kau salib. Keyakinan itulah yang membuatnya memohon, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai raja!”

Kerajaan Yesus adalah kerajaan pengampunan dan kasih. Maka Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan bersama-sama Aku di dalam Firdaus.”

Bagi orang yang percaya, Yesus tidak pernah menunda rahmatNya. Hari ini juga engkau akan bersama Aku di Firdaus.

Itulah raja pembawa damai bukan hanya di dunia tetapi sampai kepada hidup yang kekal. Marilah kita datang menyembah Sang Raja Semesta Alam.

Rumah kaca tanpa marmer dan pualam
Sangat indah dihiasi ukir-ukiran
Kristus Raja Semesta Alam
kepadaNya kemuliaan sampai akhir zaman

Bongsari, mencari dana untuk Cawas
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 23.11.19 Lukas 20:27-40 / Kebangkitan Yesus Dasar Iman Kita

 

DI LINGKUNGAN Yahudi ada beberapa kelompok keagamaan. Antara lain; kaum Eseni, kaum Farisi dan kaum Saduki.

Kaum Eseni adalah kelompok orang-orang saleh yang melakukan cara hidup rohani yang sangat keras di padang gurun.

Kaum Farisi adalah kelompok yang mendasarkan hidup keagamaan berdasar pada Hukum Taurat dan tradisi nenek moyang dengan penafsiran yang sangat ketat.

Sedangkan kaum Saduki mendasarkan sikap hidup lebih bebas dan sekuler. Mereka percaya pada Hukum Taurat tetapi tidak begitu menghormati tradisi nenek moyang.

Mereka sering berseberangan dengan kaum Farisi. Kaum Saduki tidak percaya kepada kebangkitan. Maka mereka mengajukan soal itu kepada Yesus.

Yesus menjawab mereka, “Orang dunia ini kawin dan dikawinkan, tetapi orang yang dianggap layak mendapat bagian dalam dunia yang lain dan dalam kebangkitan dari antara orang mati tidak kawin dan dikawinkan. Sebab mereka tidak dapat mati lagi. Mereka sama dengan malaikat-malaikat dan menjadi anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan.”

Kita memikirkan kehidupan sesudah kematian itu dalam kerangka duniawi. Orang dunia terikat pada hukum-hukum dunia dan dibatasi oleh hal-hal duniawi.

Tetapi yang sudah menghadap Allah, mereka hidup seperti malaikat-malaikat, tidak terikat pada hukum dan tata dunia.

Mereka hidup di hadapan Allah. Mereka sudah menjadi anak-anak Allah. Yesus menegaskan bahwa

“Allah bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, karena di hadapan Dia semua orang hidup.”

Santo Paulus pernah berkata bahwa kalau Yesus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah iman kita. Yesus yang bangkit akan menarik kita semua menghadap kepada Allah.

Kita akan hidup di hadapan Allah. Kebangkitan Yesus adalah harapan kita akan hidup kekal bagi orang beriman. Kita percaya akan adanya kebangkitan, karena Yesus telah bangkit.

Pandangan orang Saduki itu ditentang oleh Yesus karena Dia adalah Anak Allah yang bangkit dari alam kematian.

Dalam kalimat terakhir Credo, kita mengungkapkan iman kita tentang kebangkitan badan dan kehidupan kekal. Yesus yang telah bangkit adalah dasar dari iman itu. Y

yang bangkit terus hidup selamanya. Ia tidak akan mati lagi. Ia hidup kekal bersama Bapa. Kita semua akan mengalaminya nanti pada saat bersatu dengan Allah. Persiapkanlah hidupmu bersama dengan Yesus.

Naik gunung Merapi tidak membawa bekal
Di tengah jalan perut sakit dan melilit-lilit
Kita akan mengalami kehidupan kekal
Kalau kita percaya kepada Yesus yang bangkit

Cawas, menanti mendung menjadi hujan
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 22.11.19 PW St. Sesilia, Perawan dan Martir Lukas 19: 45-48 / Rumah Doa Atau Sarang Perampok?

 

BAIT suci selain menjadi pusat ibadat, juga pusat perekonomian. Ada banyak pedagang dan penukar uang di pelataran tempat ibadat itu. O

Yahudi sering membawa persembahan berupa burung dara, tekukur, kambing domba bahkan lembu. Jual beli binatang korban ada di sana.

Uang yang beredar pun berasal dari mana-mana; Romawi, Yahudi, Mesir dan negeri-negeri sekitar. Maka para penukar uang juga beroperasi di situ.

Kaum imam menjadi penentu baik buruknya binatang kurban. Mereka yang berhak mengeluarkan sertifikasi layak dan tidaknya kurban-kurban itu.

Tidak jarang permainan manipulasi terjadi di sana. Bait Suci sudah berubah fungsinya.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengusir semua pedagang di Bait Allah. Meja kursi para penukar uang ditunggang-balikkan.

Ia berkata, “Ada tertulis: RumahKu adalah rumah doa. Tetapi, kalian menjadikannya sarang penyamun.” Jadi ingat bagaimana Ahok membereskan Tanah Abang.

Tindakan Yesus ini pasti dibenci oleh para bisnisman dan pemangku kepentingan di situ. Mereka dirugikan dari “penggusuran” yang dilakukan Yesus.

Lukas menyebut para imam kepala dan ahli Taurat serta orang-orang terkemuka bangsa Israel berusaha membinasakan Yesus.

Dominasi dan hegemoni kekuasaan mereka diganggu. Tetapi rakyat senang dan terpikat dengan tindakan Yesus yang berpihak kepada mereka.

Selama ini rakyatlah yang menjadi korban dari para pengusaha dan penguasa Bait Allah. Rakyat terpikat dan ingin mendengarkan Yesus.

Yesus ingin memurnikan dan mengembalikan fungsi Bait suci sebagai rumah doa, bukan pasar malam.

Relasi manusia dengan Allah tidak boleh dibisniskan demi keuntungan segelintir orang. Kewenangan para ahli kitab dan para imam kepala tidak boleh untuk menindas orang kecil dan miskin.

Ibadat yang benar adalah ibadat yang menghormati Allah sekaligus manusia. Jangan sampai kita memuji Allah tetapi menindas manusia. Itulah makna tindakan simbolik

Yesus yang membersihkan Bait Allah. Apakah kita sudah menggunakan gereja sebagai rumah doa atau menjadi tempat bisnis mencari makan?

Bukan wangi mawar yang di atas meja
Namun hanya selembar surat tanda cinta
Marilah kita menyembah Tuhan di gereja
Bukan bikin konspirasi menindas sesama

Muntilan, duduk sambil tepas-tepas
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 21.11.19 Lukas 19:41-44 / Dominus Flevit

 

DI Bukit Zaitun berdiri sebuah gereja bernama Dominus Flevit (Tuhan Menangis). Gereja ini dibangun oleh Antonio Barluzzi yang menggambarkan kesedihan Yesus melihat nasib Yerusalem.

Dari atas Bukit Zaitun ini kita bisa melihat pemandangan indah kota Yerusalem dan di bawahnya ada Lembah Kidron. Indahnya Yerusalem tidak sebagus masa depannya.

Yesus mengetahui itu. Maka dari atas bukit ini, Dia meratapi nasib Yerusalem yang akan hancur.

“Wahai Yerusalem, alangkah baiknya, jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu. Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.

Sebab akan datang harinya musuhmu mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung dan menghimpit engkau dari segala jurusan. Dan mereka akan membinasakan dikau beserta semua pendudukmu.”

Nubuat Yesus itu terjadi 40 tahun kemudian. Tentara Romawi mengepung Yerusalem dan setelah bertempur selama enam bulan, mereka menaklukkan Yerusalem dan membakar Bait Allah dan merobohkannya. Yesus menangisi kota itu karena penduduknya “tidak mengetahui saat Allah melawat engkau.”

Allah melawat umatNya mengingatkan kita pada peristiwa Allah melawati umat Israel. Saat Allah menyuruh Musa mengoles darah di pintu rumah mereka, Allah melawati Israel dan menyelamatkan mereka. Saat Allah melawat, Israel selamat.

Bangsa Mesir sekarat karena mata mereka tertutup rapat. Yesus menyesalkan Yerusalem yang tidak melihat Allah yang melawati mereka.

Mereka tidak melihat Allah yang melawati mereka melalui kehadiran dan pewartaan Yesus. Allah mengutus PuteraNya datang ke dunia. Tetapi Yerusalem menolakNya.

Bagi kita, sungguh suatu petaka, jika kita tidak mampu melihat dengan mata iman kita, bahwa Allah telah melawati kita melalui Yesus Kristus yang wafat dan bangkit untuk kita.

Jika kita tidak mampu melihat kehadiran Allah di dunia ini, kita adalah salah satu penghuni Yerusalem. Yesus menangisi kita karena kita tidak mampu melihat karya-karya Allah.

Allah itu hadir dalam diri Yesus. Namun manusia tak mampu melihatNya. Makanya Yesus masih menangisi bukan hanya Yerusalem, tetapi seluruh dunia kita.

Pergi ke Solo membeli sepatu
Untuk persiapan perayaan tahun baru
Hati manusia yang keras dan membatu
Membuat Tuhan menangis tersedu

Rm. A. Joko Purwanto Pr