Puncta 23.09.19 PW. St. Padre Pio Lukas 8:16-18 / Pasanglah Pelitamu Selalu
Zhai lou de huangyan que tao buguo tian yan
(Kebohongan yang disembunyikan tak akan lepas dari mata langit).
Demikianlah sepenggal syair dari lagu berjudul Wu (Kesadaran) soundtrack Film Shaolin. Lagu ini mengharu biru perasaan kita saat seluruh penghuni biara Shaolin melarikan diri karena tempat mereka dibumihanguskan oleh tentara.
Mereka memandangi puing-puing kuil dan asap yang membubung tinggi dari kejauhan dengan wajah penuh kesedihan. Biara yang hanya mengajarkan kebaikan itu dihancurkan oleh kebengisan kekuasaan.
Mereka melangkah dengan gontai, dan hati mereka berbisik, “Becik ketitik, ala ketara”. Di kelak kemudian hari, yang baik dan yang buruk akan kelihatan, muncul dengan sendirinya.
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berkata, “Tidak ada orang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur; tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah melihat cahayanya. Sebab tiada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tiada suatu rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan.”
Kebaikan dan keburukan sekalipun disembunyikan suatu saat akan disingkapkan.
Kehidupan itu berjalan seperti roda. Kadang ada di atas kadang ada di bawah. Kadang kita mengalami kesuksesan, namun kadang kita juga jatuh di bawah.
Tak ada sesuatu pun di dunia ini yang tersembunyi. Mata langit selalu memandang kita dengan kelembutannya. Pada saatnya dia akan menyingkapkan kebenaran.
Nasehat bijaknya adalah selalu dan senantiasa tebarkan kebaikan. Nyalakan pelita kebaikan agar menerangi kegelapan sekitarnya. Teruslah berbuat baik.
Kebaikanmu akan dicatat oleh langit dan disiarkan oleh angin. Jangan menyimpan nyala pelitamu di bawah tempat tidur, tetapi taruhlah di atas kaki dian.
Zhong ke shan yin pei ni zou hao mei yi tian
(Biarkan aku menanam benih kebaikan dan menemanimu menjalani hidup ini)
Sore hari bermain layang-layang
Layang putus jatuh di balik bukit
Pasanglah pelitamu di atas gantang
Kebaikanmu abadi di tangan langit
Cawas, suatu sore yang indah
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 22.09.19 Minggu Biasa XXV Lukas 16:1-13 / Warung Bakmi “Tumpukan”
SAYA tercengang dan heran melihat pemilihan pengurus dewan paroki seperti hajatan pilkada saja.
Ada tim sukses, ada kampanye, ada penggalangan massa, moga-moga tidak ada amplop serangan fajar. Kok seperti rebutan kursi jabatan.
Kalau orang itu kualitas pribadinya baik, tidak perlu mencari dan mengejar dukungan. Sebaliknya orang banyak akan datang dengan sukarela mempercayakan tanggungjawab kepadanya.
Contoh mudahnya begini; ada warung bakmi “ndelik” di tengah kampung, jauh dari jalan raya, tetapi enak rasanya, murah harganya, nyaman tempatnya. Orang dari jauh-jauh rela datang.
Banyak mobil parkir di warung itu. Yang penting itu mutu kualitas bukan penampilan. Walaupun iklannya besar-besaran tempatnya bagus, di pinggir jalan besar, tetapi kalau masakannya gak enak alias mutunya jelek ya tidak akan didatangi pembeli.
Yesus hari ini menunjukkan mutu kualitas itu antara lain setia dalam perkara-perkara kecil dan bisa bertanggungjawab dalam hal-hal yang kecil.
“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”
Seorang pemimpin akan dinilai dari kesetiaannya dalam perkara-perkara kecil. Bukan seperti orang partai, kalau ada bencana baru datang dengan membawa bendera besar-besar supaya dilihat orang.
Filosofi pemimpin itu seperti padi. Semakin tinggi semakin menunduk ke bawah. Padi yang menjulang tinggi itu tanda tidak ada isinya.
Setia dalam perkara kecil itu bukan mengejar yang tinggi-tinggi, tetapi menunduk melayani yang kecil-kecil. Bekarja dengan tulus tanpa pamrih.
Yesus juga menyebut tentang kejujuran. “”Jika kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?”
Sangat penting memiliki pemimpin yang jujur. Kalau ia tidak jujur dalam hal kecil, bagaimana dia dapat jujur dalam perkara yang besar?
Jujur itu nampak dari kata dan tindakan. Jujur itu seiringnya kata dan tindakan. Jujur menghasilkan kepercayaan.
Pelayanan di gereja itu adalah pro bono pro Deo. Pelayanan demi kebaikan dan demi Tuhan. Bukan untuk mencari jabatan, kedudukan, kuasa atau kehebatan pribadi.
Dasar pelayanan adalah kasih, kejujuran dan setia dalam perkara-perkara kecil. Semoga kita mempunyai pelayan-pelayan yang demikian.
Malam ini pergi ke restoran
Saya pesan telur mata sapi
Janganlah ambisi demi kekuasaan
Jadilah pelayan yang rendah hati
Cawas, suatu pagi yang cerah
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 21.09.19 Pesta St. Matius, Rasul dan Pengarang Injil Matius 9:9-13 / Keluar Dari Zona Nyaman
Matius adalah pemungut cukai. Ia hidup di dunia yang “basah”. Masih ingat kisah pegawai dirjen Pajak yang ditahan tetapi bisa nonton pertandingan tenis di Bali?
Nah, mirip-mirip itulah situasi Matius. Hidup nyaman dengan madece (masa depan cerah) karena posisi dan kedudukannya, Matius sebagai pemungut cukai.
Bergelimangnya harta dan fasilitas ternyata tidak membuat hati Matius tentram. Ada sesuatu yang menggelisahkannya. Ada sesuatu yang belum bisa dijawab dalam hidupnya.
Dalam arti tertentu Matius berada di zona nyaman. Yang tidak nyaman adalah statusnya yang dicap sebagai pendosa.
Pemungut cukai digolongkan dalam kelompok pengkhianat bangsa. Ia menindas rakyat dan pengabdi penjajah Romawi. Ia memungut pajak tinggi-tinggi dari rakyat.
Bisa diduga pajak itu tidak hanya masuk pemerintah Romawi tetapi juga untuk dirinya sendiri. Situasi seperti inilah yang membuat Matius merasa tidak tentram hidupnya.
Maka ketika Yesus berkata, “Ikutlah Aku.” Matius langsung meninggalkan meja cukai dan mengikuti Dia.
Banyak orang tahu dan mengikuti Yesus. Pasti Matius juga paham siapa itu Yesus. Maka ketika Dia memanggilnya, Matius tanpa pikir panjang langsung menyambutNya.
Dan kata-kata Yesus semakin menguatkannya,”Aku datang bukan memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”
Matius mengakui bahwa dia dalam posisi sebagai pemungut cukai adalah orang berdosa. Ia juga merasa sebagai orang yang sedang “sakit”, maka ia butuh seorang tabib.
Maka ketika Yesus memanggilnya, Matius menemukan pribadi yang selama ini dia butuhkan. Melimpahnya harta apalah artinya jika hidup tidak menemukan kebahagiaannya.
Perjumpaan dengan Yesus itulah kebahagiaan hidupnya. Maka Matius mensyukuri itu dan mengundang Yesus untuk makan bersama di rumahnya.
Makan bersama adalah tanda sukacita dan kebahagiaan bersama. Berjumpa dengan Yesus mendatangkan sukacita dan keselamatan. Akhirnya Matius meninggalkan semua dan mengikuti Yesus sampai akhir.
Sambal cabai sambal merica
Dua-duanya tidak enak di mata
Melimpahnya harta apalah artinya
Jika dalam hatimu tidak ada cinta
Cawas, suatu pagi yang cerah
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 20.09.19 PW. St. Andreas Kim Taegon dan St.Paulus Chong Hasang Lukas 8:1-3 / Behind The Scene
Puncta 20.09.19
PW
ADA ungkapan yang mengatakan, “Di balik kesuksesan seorang lelaki, ada pengorbanan besar seorang wanita.”
Di balik kesuksesan Soekarno ada Fatmawati. Di belakang Habibie ada Ainun. Banyak kehebatan tokoh-tokoh besar kaum lelaki, biasanya karena dukungan dan pengorbanan seorang perempuan.
Dalam kisah pewayangan juga ada tokoh Kunti dan Drupadi dibalik keperkasaan Para Pandawa. Di balik keberhasilan Rama dan Lesmana menumpas Alengka karena ada kesetiaan Sinta.
Jangan memandang rendah peran kaum perempuan. Perjuangan mereka itu tidak terlihat namun berdaya sakti. Mereka sering disebut pejuang di balik layar.
WS Rendra pernah menulis puisi berjudul, “Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta.” Mereka berjuang dengan caranya sendiri memuluskan kebijakan-kebijakan.
Politisi dan pejabat tinggi, konggres-konggres dan konferensi tak pernah berjalan tanpa peran mereka. Sarinah dan Dasima adalah tokoh perempuan yang disebut berjuang dengan cara mereka.
Entah itu fiktif atau realitas yang sebenarnya, ketok palu yang sebenarnya telah diolah di tangan kaum perempuan itu.
Dalam bacaan Injil hari ini, karya pelayanan Yesus selain didukung oleh kedua belas muridnya, juga dibantu oleh kaum perempuan di belakang mereka.
Mereka itu adalah Maria Magdalena, Yohana bendahara Herodes, Susana dan masih banyak lagi.
Kendati mereka berada di balik layar, namun sokongan atau dukungan mereka sangat besar.
Di dalam aneka kegiatan gereja, peran kaum perempuan ini sangat besar. Sekarang sudah mulai mereka ikut dalam pengambilan keputusan, entah menjadi ketua bidang atau wakil ketua dewan paroki.
Mereka juga memiliki kemampuan yang sama dengan kaum laki-laki. Tidak ada lagi istilah “kanca wingking” atau orang di balik layar.
Mereka tidak lagi ngurus hal-hal domestik, seksi konsumsi atau urusan dapur. Tetapi mereka juga mampu berorganisasi, memimpin rapat dan mengambil keputusan strategis.
Marilah kita berperan di segala lini dengan talenta dan kemampuan kita masing-masing. Karya Tuhan membutuhkan keterlibatan laki-laki dan perempuan.
Ke pasar buah membeli rambutan
Dapat bonus salak dari Sleman
Karya pelayanan Tuhan membutuhkan keterlibatan
Tidak memandang laki-laki atau perempuan
Cawas, suatu pagi yang cerah
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 19.09.19 Lukas 7: 36-50 / Memberi Banyak
KALAU kita pergi ke mall dan hanya membawa uang sedikit, maka yang didapat juga hanya sedikit. Tetapi kalau kita membawa uang banyak, kita pun akan mendapat banyak barang.
Saya ingat waktu masih di Seminari Menengah. Kami mengadakan acara rekreasi basis (kelompok). Dari suster, kami diberi bekal makan siang dalam doos.
Ada ide nakal sedikit licik. Kami masuk ke restoran. Kami hanya pesan minuman saja. Uang saku hanya cukup untuk beli air minum saja. Kami hanya mengeluarkan duit sedikit tetapi makan di restoran.
Kalau bawa uang banyak mungkin bisa pesan makan yang enak dan mahal. Kalau kita berkurban banyak, pasti akan mendapat banyak pula.
Sebaliknya jika kita hanya memberi sedikit, maka kita juga hanya memperoleh sedikit saja.
Bacaan Injil hari ini menceritakan bagaimana wanita berdosa itu menyambut Yesus.
Ia mengusap kaki Yesus dengan air matanya, menyekanya dengan rambutnya dan meminyakinya dengan minyak wangi yang mahal harganya.
Baginya Yesus pantas dihormati sedemikian rupa. Ia merasa dikasihi oleh Tuhan. Maka ia memberikan yang terbaik untuk Tuhan.
Memberi dan menerima itu peristiwa satu tunggal. Orang yang memberi banyak akan menerima banyak juga, sebaliknya orang yang hanya memberi sedikit, juga akan menerima sedikit juga.
Kalau kita ke gereja, memberi persembahan kepada Tuhan hanya cukup untuk parkir, ya jangan berharap akan memperoleh rahmat segudang.
Yesus memberi gambaran dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berutang limaratus dinar, yang lain lima puluh.
Karena mereka tidak sanggup membayar, maka utang kedua orang itu dihapuskannya. Siapakah di antara mereka akan lebih mengasihi dia?
Jawab Simon, aku sangka, yang mendapat penghapusan utang lebih banyak!” Lalu Yesus menunjukkan tindakan wanita berdosa yang diampuni itu.
Kita ini sudah ditebus Yesus dengan darahNya. Apakah kita bisa merasakan kasih Tuhan yang besar itu? Ataukah kita masih menjadi orang yang tidak tahu bersyukur dan berterimakasih?
Wanita itu memberikan yang terbaik dan termahal untuk Yesus. Orang Farisi itu tidak memberikan apa-apa. Maka jangan heran kalau kita juga hanya mendapat sedikit.
Minum jamu rasanya sangat pahit
Jamu rasa kecut karena dijepit di ketiak
Yang memberi sedikit akan memperoleh sedikit
Yang berkorban banyak akan mendapat banyak
Cawas, suatu malam yang indah
Rm. A. Joko Purwanto Pr