Renungan Harian

Puncta 28.06.19 HR. Hati Yesus Yang Mahakudus Lukas 15:3-7 / Satu Orang Lebih Berharga Daripada Seluruh Dunia

 

KALIMAT itu adalah visi para suster Gembala Baik (RGS) dalam melayani kaum perempuan dan anak yang rentan mengalami kekerasan.

Bagi mereka seorang perempuan atau anak sering menjadi korban ketidakadilan. Perempuan dan anak-anak ini harus dibantu agar bisa menjadi pribadi yang merdeka menentukan masa depannya.

Para suster menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan. Mereka konsisten memilih melayani perempuan dan anak yang tersingkir, dibuang, dikucilkan oleh keluarga.

Para suster menemani, mendampingi, membesarkan hati mereka dan mengurus layaknya seorang ibu yang penuh belas kasih.

Itulah buah rekoleksi para romo-romo UNIO KAS di Muntilan beberapa waktu yang lalu.

Hari ini Gereja merayakan Hati Yesus yang mahakudus. Hati Yesus digambarkan penuh belas kasih.

Ia mencari seekor domba yang tersesat, terlepas dari kawanannya. Ia meninggalkan yang 99 ekor untuk menemukan satu domba yang hilang.

Setelah ditemukan, Ia mengundang sahabat-sahabatnya untuk bersukaria, “Bersukacitalah bersama-sama degan aku, sebab dombaku yang hilang telah kutemukan.”

Seekor domba yang ditemukan sangat berharga melebihi yang lainnya. Hati Yesus mudah berbelas kasihan kepada manusia yang berdosa.

HatiNya tidak akan diam jika manusia belum diselamatkan. Hati Yesus mudah tersentuh oleh penderitaan manusia.

Ia akan segera bertindak demi menyelamatkan manusia. Itulah hati Tuhan kita.

Maka jika kita sedang “tersesat” janganlah kita menjauh dari uluran tangan Tuhan. Selalu ada hati yang terbuka menerima kita.

Jika kita sedang “kesepian”, janganlah kita merasa sendiri. Ada keteduhan dan kehangatan di dalam hati Yesus.

Datanglah dan dekatilah Tuhan. Ia tidak jauh tak tersentuh, tetapi Ia sangat dekat hangat dan teduh.

Itulah hati Tuhan yang mencari kita terus menerus sampai Dia menemukanNya.

Makan bakmi tiga bungkus
Sampai perut terasa berat
Hati Yesus yang mahakudus
Selamatkanlah kami yang tersesat

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 27.06.19 Matius 7:21-29 / Awas Si Mulut Manis

 

ADEGAN pertama dalam pewayangan adalah nyandra janturan. Ki dalang menjelaskan situasi kerajaan dan ciri-ciri raja bijaksana yang sedang memerintah rakyatnya.

Dalang berkata, “Narendra amiguna, ageganjar kawula sudra kang sugih pamrih, dene lelabuhane Sang Nata; paring kudhung wong kepanasan, paring payung wong kudanan, paring boga wong kaluwen, paring toya wong kasatan, maluyakake sesakit miwah karya sukaning para prihatin”.

(Pemimpin yang sangat berjasa, suka mengganjar rakyat biasa yang banyak jasanya. Jasa-jasa sang pemimpin adalah; memberi perlindungan bagi yang kepanasan, memberi payung yang kehujanan, memberi makan yang kelaparan, memberi minum yang kehausan, menyembuhkan yang sakit dan memberi kebahagiaan bagi mereka yang menderita).

Kerajaan yang diperintah dengan bijak seperti itu akan kuat. Kerajaan di sekitarnya akan tunduk bukan karena perang, tetapi karena “pepoyaning kautamen” (bersinarnya keutamaan pemimpin).

Rumah yang dibangun menjadi kuat karena didirikan di atas wadas keutamaan.

Yesus mengingatkan kita, “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu, ‘Tuhan, Tuhan’ akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu di surga.”

Seruan kepada Tuhan atau doa itu penting, tetapi lebih penting lagi adalah pelaksanaannya. Santo Yakobus menegaskan, “iman tanpa perbuatan adalah mati.”

Perayaan iman tidak boleh berhenti hanya pada liturgi, doa dan pesta-pesta meriah. Tetapi iman harus terwujud dalam tindakan-tindakan nyata.

Misalnya mengentaskan orang miskin, menolong orang sakit, membela hak orang terpinggirkan, menghormati kaum difabilitas, membantu orang kecil, lemah dan tersingkir. Melakukan kehedak Bapa itulah perwujudan dari iman.

Bukan hanya pemimpin, tetapi setiap pribadi akan punya dasar yang kuat jika dibangun dengan nilai-nilai keutamaan yang luhur.

Tidak cukup hanya dengan kata-kata, tetapi tindakan nyata. Tindakanlah yang akan menentukan kualitas pribadi seseorang.

Kualitas orang dinilai baik kalau apa yang diucapkan itu diwujudkan dalam tindakan kongkret.

Tidak ada gunanya banyak kata yang membuncah keluar dari mulut yang manis, jika actionnya nol besar.

Orang bilang NATO (Not Action Talk Only). Sudahkah kita lebih banyak bertindak daripada mengumbar kata-kata?

Ke pasar beli manggis
Malah diajak berselfie ria
Hati-hati dengan mulut manis
Sering tidak sesuai dengan realita

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Pucta 26.06.1 Matius 7:15-20 / Pandhita Durna dihajar Ontoseno

 

Ontoseno bertanya kepada Pandhita Durna, “Mbah, kamu itu pandita atau prajurit ta? Kalau Pandita/rohaniwan kok membawa senjata Kyai Cundhamanik? Kalau sudah niat jadi Pandita itu jangan bawa senjata, tapi berani meninggalkan hal-hal duniawi. Senengnya kok bawa gerombolan Kurawa demo di Negara Amarta. Pandita itu tugasnya membawa kebaikan kepada segenap makhluk. Kamu ke sini kok malah ngajak perang. Kalau kamu sungguh pandita, ayo sekarang perang tidak pakai senjata, tapi pinter-pinteran, tantang Ontosena.”

Durna ditantang mengajukan pertanyaan lebih dulu. Ia bertanya kepada Ontoseno, “Padhange ngungkuli srengenge, akehe ngungkuli suket, petenge ngungkuli wengi, kuwi apa?” (Terangnya mengatasi matahari, banyaknya melebihi rumput, gelapnya melebihi malam itu apa?).

Ontoseno berhasil menjawab dengan tepat. Sekarang Ontoseno balik bertanya kepada Durna, “Nur saka ndhuwur, jalma ngerah nyawa, sirna dalaning pati, apa artinya?”

Ternyata Pandita Durna tidak tahu jawabannya. Ia yang katanya pandita linuwih hanya “plonga-plongo” tak tahu apa-apa.

Sekali lagi Ontoseno bertanya kepada Durno sambil menunjukkan kepalan tangannya, “Ini apa?”

Jawab Durna, “Asta cempala.” Itu artinya tangan yang mengepal siap bertinju. “Kalau tangan gini jatuhnya dimana?” Durna menjawab tidak tahu.

Tanpa dinyana-nyana, kepalan tangan Ontoseno langsung menghajar muka pandita yang sok pintar tapi sombong itu.

Yesus memperingatkan kepada murid-muridNya, “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.”

Kita harus waspada terhadap orang-orang yang mengaku sebagai Durna-Durna zaman kini. Omongannya berbuih-buih mengutip Kitab Suci.

Tetapi dari buahnyalah kita akan mengenali mereka. Kalau akhirnya terpeleset kasus Tiga Ta (harta, tahta dan wanita). Itu tandanya nabi palsu.

Agama itu isinya nilai-nilai kebaikan. Tetapi ada oknum-oknum yang menyalahgunakan untuk kepentingan pribadi.

Kalau ada pandita tetapi mengajarkan kekerasan, perang, kebencian dan permusuhan, maka itu pandita yang tidak baik.

Itu seperti kisah Pandita Durna. Dia dihajar habis-habisan dan dipermalukan oleh kaum muda Amarta seperti Ontoseno dan Wisanggeni yang kritis dan berani.

Tidak mungkin pohon baik menghasilkan buah yang tidak baik ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.

Pengajaran Pandita Durna dapat dilihat dari buah-buahnya. Siapa pun kita akan dapat dinilai dari buah tutur kata dan tindakannya.

Naik loteng ke lantai tiga
Salah masuk ke kamar tetangga
Hati-hati dengan tutur kata kita
Akan dinilai dari buah-buahnya

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 25.06.19 Matius 7:6.12-14 / Hukum Kebaikan

 

SEBUAH iklan bercerita tentang anak kecil yang berdoa kepada Tuhan untuk diberi satu cokelat lagi.

Sambil mengatupkan tangannya, ia memohon berkali-kali, “Please, please, berilah aku satu coklat lagi, please….!”

Kakaknya yang duduk di sampingnya secara diam-diam menyodorkan miliknya. Dia memberikan tanpa diketahui oleh adiknya.

Ketika adiknya membuka mata, ia melihat ada sebungkus coklat di depannya. “Nah…. benar kan?” serunya. Ibunya tersenyum bangga atas tindakan anak sulungnya.

Pasti sang ibu akan mengapresiasi anaknya itu dengan memberi yang sama. Bahkan bisa lebih.

Yesus mengingatkan kepada murid-muridNya, “segala sesuatu yang kamu kehendaki diperbuat orang kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi”.

Jika kita ingin orang lain menghormati kita, maka wajiblah kita menghormati mereka lebih dulu.

Jika kita ingin orang lain melayani kita, hendaklah kita juga mau melayani mereka.

Sebaliknya jika kita tidak ingin orang lain menyakiti kita, janganlah kita berbuat demikian kepada mereka.

Orang baik akan selalu memancarkan kemilau kebaikan, walau berada di tengah kegelapan sekali pun.

Mutiara akan tetap sebagai mutiara sekali pun berada di tengah lumpur. Kebaikan bisa muncul di mana saja.

Namun kita diingatkan bahwa berbuat baik itu sulit da berat.

Ibaratnya kita harus masuk melalui pintu yang sempit untuk menuju kepada kehidupan.

Lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan. Jalan menuju dosa itu sangatlah lebar. Namun itu berarti kehacuran.

Jalan untuk memperoleh hidup yang kekal itu sempit. Kejarlah untuk memperolehnya karena banyak orang mencarinya. Don’t miss it !!

Naik gunung tanpa membawa bekal
Akibatnya perut lapar pusing kepala
Tak mugkin kita mencapai hidup kekal
Kalau kita tak mau berusaha sekuat tenaga

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 24.06.19 HR. Kelahiran St. Yohanes Pembaptis Lukas 1:57-60.80 / Firasat di sekitar kelahiran

 

Dewi Gendari sangat benci dan dendam kepada Pandu Dewanata, karena dia sebagai putri boyongan diserahkan kepada Destarastra, kakaknya.

Dewi Gendari sebenarnya mencintai Pandu. Dendam kesumat ini terbawa terus saat dia mengandung.

Walaupun sudah 1000 hari mengandung, tetapi Gendari belum juga melahirkan. Di hatinya hanya ada perasaan balas dendam.

Ia berdoa semoga anaknya yang lahir nanti dapat menumpas seluruh keturunan Pandu. Malam sebelum Gendari melahirkan, ada firasat buruk.

Suara binatang buas mengaum. Lolongan serigala mengerikan. Burung hantu, kelelawar, burung gagak, dan binatang malam lainnya melolong menakutkan.

Siapapun yang mendengarnya merasa ngeri merinding bulu roma. Malam itu Gendari menjerit kesakitan dan melahirkan segumpal daging berwarna hitam.

Dengan amarah daging itu ditendangnya kesana kemari sampai pecah berkeping-keping. Ada 99 serpihan daging.

Oleh Resi Abiyasa serpihan itu ditutupi dengan daun jati. Secara gaib Batari Durga turun ke jagat raya dan menghidupkan serpihan daging itu menjadi bayi berjumlah 100. Itulah Duryudana dan saudara-saudaranya.

Ada tanda-tanda alam yang menyertai lahirnya seorang anak. Selain itu suasana kebatinan seorang ibu sangat mempengaruhi watak dan karakter bayinya.

Gendari dikuasai oleh dendam dan sakit hati. Perasaan itu menurun menjadi karakter Duryudana dan saudara-saudaranya yang selalu menyimpan benci kepada putra-putra Pandu.

Kelahiran Yohanes Pembaptis dipengaruhi oleh suasana kebatinan ibu dan bapanya. Elisabet sangat bersukacita saat dikunjungi Maria.

Suasana kegembiraan itu berpengaruh pada bayinya. Zakharia juga mengalami hal-hal ajaib saat bertugas sebagai imam di Bait Suci.

Ia tidak percaya bahwa istrinya yang sudah lanjut itu akan melahirkan. Ia menjadi bisu. Untuk memberi nama anaknya, Zakharia harus menuliskannya, “Namanya Yohanes”.

Nama anak itu pun juga menjadi bahan pergunjingan banyak orang. “Menjadi apakah anak ini nanti”.

Yohanes Pembaptis menjadi tokoh besar dalam sejarah. Ia menjadi penghubung nubuat nabi-nabi dengan Juruselamat yakni Kristus.

Ia menjadi perintis dan pembuka jalan. Kelahirannya ditandai hal-hal besar dan peristiwa-peristiwa unik yang menunjukkan kualitasnya.

Kita bersyukur Yohanes Pembaptis adalah orang besar yang rendah hati. Ia menyiapkan jalan bagi Sang Penebus.

Zaman sekarang sulit mencari sosok rendah hati seperti Yohanes Pembaptis. Marilah kita meneladan dia.

Habis renang langsung lemes
Dilarang langsung makan nasi
Meneladan semangat Yohanes
Tegas, tulus ikhlas dan rendah hati

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr