Puncta 14.04.19 MINGGU PALMA Lukas 22:14 – 23:56 Kisah Sengsara
SEORANG bapak guru agama Sekolah Dasar ditanya oleh muridnya, “Pak Guru, waktu Tuhan Yesus disalib, ada dua orang penjahat yang disalib bersamaNya. Siapakah nama-nama mereka itu? Di dalam Injil kok tidak ditulis nama mereka?”
Bapak guru itu kebingungan menjawab pertanyaan kritis muridnya itu. Penginjil tidak menulis nama dengan maksud supaya pembacanya masuk ikut terlibat di dalamnya.
Para pembaca bisa memasukkan nama siapapun supaya peristiwa Yesus tetap bisa aktual sampai sekarang. Kita bisa memposisikan peran apa di dalam kisah hidup Yesus itu. Kita bisa memilih dalam posisi hidup kita sekarang, apakah kita sebagai penjahat yang bertobat kepada Yesus atau penjahat yang menghojatNya.
Contoh lain dalam kisah dua murid yang pulang ke Emaus. Dua murid itu, yang satu bernama Kleofas, yang satunya noname. Yang noname ini bisa dimasukin nama siapapun. Kita pembaca diberi kesempatan ikut berperan dalam peristiwa Yesus.
Minggu ini adalah minggu Palma. Kita mendengarkan kisah panjang sengsara Yesus. Kisah itu dimulai dari seorang perempuan yang meminyaki kaki Yesus dengan minyak narwastu yang mahal.
Kisah sengsara diakhiri oleh seorang yang mencucukkan bunga karang, mencelupkan ke dalam anggur dan memberi Yesus minum. Mereka itu noname, tanpa nama. Bisa diisi nama siapapun dari kita.
Dalam kisah sengsara ini, ada begitu banyak peran. Kita boleh memilih mau menjadi apa dalam kisah ini. Mau berperan sebagai algojo, serdadu? Atau si decision maker seperti Pontius Pilatus?
Wanita-wanita yang menangisi penderitaanNya? Atau sahabat-sahabat Yesus yang hanya menonton dari kejauhan? Atau meniru Ibu Maria yang setia mengikuti sampai akhir?
Pekan suci ini mengajak kita merenungkan puncak iman kita yakni sengsara, wafat dan kebangkitanNya. Kita diajak memasuki retret agung, Allah yang mengasihi kita tanpa batas. Ia memberikan Anak TunggalNya sebagai tebusan dosa-dosa kita. Semestinya kita sangat bersyukur mengalami begitu besar kasih Allah.
Di pertengahan minggu ini, kita juga diajak terlibat dalam pesta demokrasi. Tidak secara kebetulan peristiwa pesta demokrasi seiring dengan pekan suci. Anak Tukang kayu dari Nasaret mengurbankan diri untuk menyelamatkan kita. Kita juga punya anak tukang kayu yang telah bekerja keras membawa bangsa kita menjadi bangsa yang maju dan bertumbuh dengan baik.
Apakah kita masih ragu dan bimbang? Sebagaimana penginjil mengundang kita mengambil peran dalam kisah sengsara, tentukan pilihan anda untuk membuat Indonesia ke depan menjadi apa.
Siang hari langit berkabut
Tanda sore mau turun hujan
Jangan sampai anda GOLPUT
Nomor satu tentukan pilihan
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 13.04.19 Yohanes 11:45-56 Kambing Hitam
ILAH kambing hitam muncul dalam tradisi kitab Imamat 16, tentang kambing jantan untuk penghapusan dosa.
Kambing yang satu dikurbankan bagi Tuhan dan yang satunya dilepaskan demi penghapusan dosa-dosa Israel.
Kata ini lebih berfungsi sebagai metafora, yang merujuk kepada seseorang yang dipersalahkan untuk suatu kemalangan, biasanya sebagai cara untuk mengalihkan perhatian dari sebab-sebab yang sesungguhnya.
Misalnya orang Yahudi yang dijadikan kambing hitam oleh pemerintah Jerman Nazi untuk krisis ekonomi dan politik saat itu.
Andres Escobar dikambinghitamkan sebagai penyebab kekalahan Tim sepakbola Kolombia karena gol bunuh dirinya.
Dia ditembak mati setelah menginjakkan kaki di lapangan terbang Kolombia.
Dalam istilah kita sering disebut “tumbal”. orang atau hewan dibunuh untuk “tumbal” demi terjadinya keselarasan sosial yang telah rusak.
Rene Girard menyebut Yesus menjadi “kambing hitam” agar seluruh bangsa diselamatkan. Ketika terjadi konflik di masyarakat, seorang ditetapkan sebagai penyebab masalah.
Ia diusir atau dibunuh oleh kelompok masyarakat. Orang inilah dikambinghitamkan dan dengan demikian tatanan sosial kembali harmoni.
Dalam Injil hari ini, orang-orang Yahudi terancam oleh kehadiran Yesus. “Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mukjijat. Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepadaNya, lalu orang-orang Roma akan datang, dan merampas tempat suci kita serta bangsa kita” menghadapi konflik sosial itu, Imam Agung Kayafas memberi solusi dengan pola “kambing hitam”.
Ia berkata, “Lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh banagsa kita ini binasa”. Lebih baik Yesus dikurbankan, dijadikan tumbal atau dikambinghitamkan.
Pola kambing hitam itu sebenarnya sudah ada sejak manusia pertama. Ketika Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, mereka tidak mau dipersalahkan.
Adam melemparkan kesalahan kepada Hawa, istrinya. Hawa juga tidak mau dipersalahkan. Ia mengkambinghitamkan ular yang menggodanya. Ular tak bisa berkutik.
Manusia mempunyai kecenderungan melemparkan kesalahan. Kita juga mempunyai pola itu; melemparkan kesalahan atau tanggungjawab.
Kita “cuci tangan” dari masalah yang dihadapi. Yesus dijadikan tumbal atau kambing hitam agar seluruh dosa kita dihapus oleh Allah.
Kalau hidung pilek jangan disumpeli
Bersihkan saja dengan kapas pas pas pas
Dengan darahNya Yesus berkorban diri
Dosa kita dihapusNya sampai tuntas tas tas tas
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 12.04.19 Yohanes 10:31-42 Integritas
SESEORANG dikatakan bertindak sebagai ksatria kalau yang dikatakan sesuai dengan yang dilakukan. Satunya kata dan perbuatan itulah integritas.
Pengertian integritas adalah nilai kepribadian seseorang yang bertindak secara konsisten dan utuh, baik dalam perkataan maupun perbuatan, sesuai dengan nilai-nilai dan kode etik.
Seseorang dianggap berintegritas ketika ia memiliki kepribadian dan karakter seperti; Jujur dan dapat dipercaya, memiliki komitmen, bertanggung jawab, menepati ucapannya, setia, menghargai waktu, memiliki prinsip dan nilai-nilai hidup. Munafik adalah sikap yang berlawanan dengan nilai integritas seseorang.
Yesus menunjukkan integritasNya saat berkata kepada orang-orang Farisi, “Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan BapaKu, janganlah kamu percaya kepadaKu. Tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepadaKu, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa ada dalam Aku dan Aku ada di dalam Bapa”
Apa yang diajarkan Yesus berasal dari Bapa. Begitu juga apa yang dikerjakan Yesus adalah karena melaksanakan kehendak BapaNya. Maka Yesus dan Bapa adalah satu. Para penjaga pernah berkata, “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu”.
Artinya sabda Yesus itu menunjukkan wibawa Allah. Apa yang dinubuatkan Yohanes Pembaptis tentang Yesus adalah benar. Kesaksian-kesaksian itu mau mewarkatan bahwa kata dan tindakan Yesus berasal dari Allah. Hal itu bisa dipercaya.
Orang yang mempunyai integritas akan dilawan oleh mereka yang bersikap munafik. Orang munafik takut terhadap orang jujur, konsisten, teguh pendirian dan berkomitmen.
Orang-orang Farisi yang munafik itu tahu ada hal-hal yang baik dibuat Yesus, tetapi mereka tidak menerima Yesus menyamakan diriNya dengan Allah.
Semestinya, jika tidak mau mengakui Yesus berasal dari Allah, paling tidak mereka percaya akan pekerjaan-pekerjaan baik yang dilakukanNya.
Misalnya, menyembuhkan orang sakit, mengampuni dosa, membangkitkan orang mati adalah karya Yesus yang menunjukkan hadirnya Allah.
Namun orang Farisi sudah tertutup mata hatinya. Mereka tidak percaya. Kebencian menutupi mata hati mereka sehingga hal-hal baik pun tidak mampu membuat mereka terbuka.
Bunga pisang namanya tuntut
Lampu remang-remang namanya redup
Kalau hati sudah tertutup
Kebaikan pun hanya dianggap kentut
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 10.04.19 Yohanes 8:31-42 Wisanggeni
Batara Brahma disuruh oleh Rajanya para dewa, Batara Guru untuk menceraikan Arjuna dengan Batari Dresanala, putri Batara Brahma. Alasanya karena Dresanala akan dijodohkan dengan Dewasrani, putra Batara Guru dengan Durga.
Waktu itu Dresanala sudah mengandung. Arjuna diusir dari Kahyangan. Dresanala diminta untuk menggugurkan bayinya. Bayi laki-laki lahir dan dibuang ke kawah Candradimuka.
Aneh bin ajaib, bayi itu tidak mati tetapi justru dalam kobaran api kawah dia tumbuh berkembang sangat sakti. Oleh Narada, anak remaja ini diberi nama Wisanggeni (Racun Api).
Ia mencari tahu siapa bapak dan ibu yang melahirkannya. Ia mengobrak-abrik Kahyangan, kerajaan para dewa karena dewa-dewa tidak bisa menunjukkan asal-usulnya. Semar, pamomong para ksatria memberitahu bahwa ayahnya adalah Arjuna.
Karena diperlakukan tidak adil maka Wisanggeni menuntut balas kepada para dewa. Batara Guru dan Brahma mengakui kesalahannya, maka Dresanala dikembalikan kepada Arjuna. Wisanggeni hidup bersama para Pandawa di Amarta.
Konflik orang-orang Farisi dengan Yesus adalah soal asal-usul mereka. Yesus menyebut Dia berasal dari Allah. Dan Allah adalah BapaNya. Orang Farisi mengaku sebagai keturunan Abraham.
Abraham adalah bapa mereka. Semestinya mereka menghormati Allah yang adalah Bapa. Karena Abraham menyembah Allah. “Allah Abraham, Allah Ishak, Allah Yakub (Israel), nenek moyang mereka.
Maka Yesus berkata, “Sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham. Tetapi yang kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku; Aku seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang kudengar dari Allah! Pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham. Kamu mengerjakan pekerjaan bapamu sendiri”.
Wisangeni itu adalah anak yang benar dan sah dari Arjuna dan Dresanala. Tetapi justru para dewa berusaha membunuhnya demi kepentingan mereka sendiri.
Wisanggeni tidak mati. Tetapi justru hidup dan menjadi pemuda perkasa yang berani berjuang demi kebenaran. Orang-orang Farisi dan para ahli kitab itu seperti para dewa di Kahyangan.
Mereka tahu tentang kebenaran, kebaikan, penjaga nilai-nilai luhur keutamaan hidup. Tetapi mereka sendiri berusaha mematikan kebenaran itu dalam diri Yesus.
Mereka mengaku berasal dari Allah tetapi pekerjaan mereka justru mau membunuh Yesus yang bertentangan dengan kehendak Allah.
Yesus berkata, “Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu”. Marilah kita berpegang teguh dan berjuang demi kebenaran.
Berkeliling ke Jakarta lewat Tugu pancoran
Berputar tak henti di Bundaran HI
Sangat beratlah memperjuangkan kebenaran
Banyak hambatan yang harus dihadapi.
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr
Puncta 09.04.19 Yohanes 8:21-30 Teologi Naik Turun
MASIH ingat apa yang diajarkan Romo Tom Jacobs dalam menjelaskan teologi Yohanes? Atas-bawah. Tinggi-rendah. Naik-turun. Dunia-Surga. Hidup-mati.
Yesus datang dari atas. Manusia berasal dari bawah. Anak Manusia harus ditinggikan. Allah yang mahatinggi turun dari surga.
Manusia yang berada di bawah berusaha naik mencapai kemuliaan Allah. Kita datang dari dunia. Yesus bukan dari dunia ini.
Manusia dunia akan mati. Manusia yang percaya kepada Yesus akan hidup. Yesus turun ke dunia dan kita “dicangking” Yesus naik ke surga.
Kita ini selamat karena “dicangking” atau “nunut” Yesus saja. Ibaratnya naik kereta api, kita ini ikut Yesus yang jadi masinisnya.
Yesus setia melaksanakan kehendak Bapa. Ia mengenal akrab BapaNya. Karena kita tidak mengenal Bapa, kita tidak percaya kepada Yesus. Ia berusaha menjelaskan siapa itu Bapa.
Tetapi karena kita berasal dari dunia dengan segala dosanya, maka kita tak mampu memahami apa yang dikatakan Yesus.
Kata Yesus, “Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diriKu sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepadaKu. Dan Ia yang telah mengutus Aku, menyertai Aku! Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepadaNya”.
Ketidakmampuan kita memahami tindakan Yesus membuat krisis yang berujung pada penyaliban. Salib adalah tindakan meninggikan Anak Manusia. Salib adalah jalan keselamatan.
Kita harus bangga pada salib Tuhan kita. Dengan salib, kita ikut “dicangking” Yesus kembali naik ke atas. Kita “nunut” ikut selamat karena ada salib Yesus.
Udan deres ora bisa udut
Neng dalan akeh angin lesus
Kita selamat karena boleh nunut
Dibawa kembali ke Bapa oleh Yesus
Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr