Renungan Harian

Puncta 08.04.19 Yohanes 8:1-11 Main Hakim Sendiri

PERISTIWA main hakim sendiri terjadi di sebuah rumah kontrakan di Kelurahan Sukamulya, Cikupa, Kabupaten Tangerang sekitar pertengahan November 2017.

Dua sejoli yang sedang makan malam bersama di kamar kost digedor massa. Mereka dituduh melakukan perbuatan mesum. Mereka digelandang di tengah jalan dan dipaksa telanjang menuju rumah ketua RW setempat yang berjarak 200 meter.

Massa brutal. Ada yang memukul, menendang, menelanjangi, bahkan merekam dengan kamera adegan pemaksaan kehendak itu. Video itu menjadi viral.

Polisi akhirnya menangkap 6 orang tersangka kasus main hakim sendiri itu, termasuk ketua RT, RW dan 4 warga sekitar. “Sangat disayangkan, ketua RT/RW yang seharusnya mengayomi warga, justru memprovokasi warga untuk melihat, merekam, bahkan mempersilahkan yang mau selfie dengan pasangan bugil itu” Kata AKBP Sabilul Alif, Kapolresta Tangerang.

Mengapa masyarakat suka main hakim sendiri? Pertama, karena tidak adanya kepercayaan kepada penegak hukum. Orang sering bilang, “Hukum itu tajam ke bawah, tumpul ke atas”.

Kedua, ada “mental kelompok” yang hidup di tengah masyarakat. Orang mudah “dibakar” kalau hidup bergerombol. Ketiga, manusia sekarang lebih dikuasai “croc brain” daripada neocortexnya. Otak buaya lebih bersifat instingtif dan emosional, tidak mau berpikir secara logis-rasional.

Diprovokasi sedikit saja langsung meledak nafsu kebinatangannya. Muncul tindakan merusak, menghancurkan, “keroyokan” ala heyna yang sadis tak kenal ampun.

Bacaan Injil hari ini, persis seperti yang dibacakan pada hari Minggu Prapaskah V. Ahli-ahli Kitab dan orang-orang Farisi menangkap seorang perempuan yang kedapatan berzinah. Mereka masih sedikit bermoral.

Mengadilinya berdasarkan kitab Musa yakni merajam dengan melempari batu kepada perempuan-perempuan itu. Kasus itu dihadapkan kepada Yesus untuk menjebaknya. Yesus tidak ingin menghukum, apalagi main hakim sendiri. “Akupun tidak menghukum engkau”.

Yesus justru mengampuni. Itulah tindakan Allah, mengasihi manusia berdosa dengan pengampunan. KasihNya tanpa pamrih. PengampunanNya tanpa batas.

Masa Prapaskah ini marilah kita alami pengampunan Tuhan. Marilah belajar dari Allah yang tidak mengingat dosa, tetapi mengampuni kita. Allah kita sungguh maha rahim.

Sakramen pengakuan dosa seharusnya menjadi sakramen kerahiman Allah. Sakramen itu tidak menakutkan tetapi membahagiakan karena kita dikasihi Allah.

Membeli karcis naik metro mini
Ternyata salah masuk ke gerbong kereta
Jangan suka main hakim sendiri
Allah saja mengampuni orang berdosa

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 07.04.19 Yohanes 8:1-11 Hukum Rajam Bagi LGBT

BRUNEI DARUSALAM belum lama ini meresmikan hukum cambuk sampai mati bagi LBGT di negeri sultan itu. Banyak tokoh dunia antara lain Penyanyi Elton John dan Pembawa acara TV Ellen Degeneres memprotes keputusan Sultan Hasanah Bolkiah itu.

Hukuman itu berlaku bagi pelaku sodomi, perjinahan dan pemerkosaan. Mereka yang kedapatan melakukan kejahatan-kejahatan tersebut diancam hukuman cambuk sampai hukuman mati, sama seperti pelaku pencurian dan pembunuhan.

Elton John dalam cuitan di tweeter memprotes pemberlakuan hukum itu. Dia mengajak boikot menginap di hotel-hotel milik Sultan Brunei di seluruh dunia.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus dihadapkan masalah yang sama yakni seorang perempuan yang kedapatan berzinah. Ahli-ahli Kitab dan orang-orang Farisi menempatkan perempuan itu di tengah-tengah orang banyak.

Mereka berkata kepada Yesus, “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam Hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari dengan batu perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapatMu tentang hal ini?”

Kasus ini sangat bagus untuk menjebak Yesus karena mereka sudah lama mencari kesempatan mempersalahkanNya. Tetapi Yesus cuek saja sambil menulis di tanah dengan jariNya. Mereka makin riuh rendah mendesak supaya Yesus memberi tanggapan.

Akhirnya keluarlah jawaban dari mulut Yesus, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan ini.”

Jawaban yang tidak terduga. Mencengangkan. Mereka berpandangan satu sama lain. Menunggu siapa yang berani melempar batu.

Akhirnya mereka hanya mengangkat bahu, mengeraskan bibir atas “njebemblek” saling berpandangan satu sama lain. Lalu meninggalkan gelanggang satu per satu mulai dari yang tertua. Itu berarti mereka mengakui sama-sama berdosa.

Tidak ada yang sempurna yang berhak menghukum perempuan itu. Bahkan Yesus pun juga menempatkan diri seperti mereka, “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

Allah itu maharahim. PengampunanNya lebih besar daripada dosa-dosa manusia. Dalam Yesaya ditulis, “Beginilah firman Tuhan: Janganlah mengingat-ingat hal-hal terdahulu. Janganlah memperhatikan hal-hal dari jaman purbakala.”

Tuhan tidak punya catatan masa lalu. Semua sudah didelete. “Aku hendak membuat sesuatu yang baru”, kata Tuhan. Itulah kemahabaikan Tuhan. Kita pantas bersyukur dan hidup oleh belas kasihNya. Fokuslah pada masa depan. Allah akan membuat semuanya baru.

Bikin rujak dari buah kweni
Biar sedap campur daun pepaya
Belajarlah selalu mengampuni
Karena Allah tak pernah menghukum dosa

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 06.04.19 Yohanes 7:40-53 “Aja Cedhak Kebo Gupak” Jangan dekat-dekat kerbau, nanti kena kotorannya

SAYA pernah ditanya dari mana asal-usul saya. Sambil bergurau saya jawab dari lereng Merapi. Walau sebenarnya masih 25 km dari lerengnya. Tetapi lawan bicara saya langsung paham.

Dia komentar, “Wah romo daerah itu terkenal gawat. Merapi Merbabu Centrum (MMC) itu dulu markas PKI. Dari situ banyak begal, kecu, grayak, perampok, pencoleng. Pokoknya daerah sekitar itu dicap jelek”.

Saya hanya nyengir saja. Lha waktu pecah G30S PKI, saya baru berumur 8 bulan, mana saya tahu? Saya hanya dengar cerita ayah saya, bahwa dulu beliau ikut ngejar-ngejar tokoh PKI tetangga daerah yang lari ke arah lereng Merapi. Karakter kita sering dihubung-hubungkan dengan daerah dimana kita berasal.

Pepatah “Aja cedhak kebo gupak” berarti sebuah nasehat agar jangan bergaul dengan orang jahat, nanti akan kena dampaknya. Siapa teman-teman di sekitar kita, akan berdampak pada penilaian terhadap diri kita. Teman kita orang pintar bijaksana, kita akan ketularan sifat itu.

Sebaliknya kalau teman kita pembohong, suka penyebar fitnah dan hoax, kita juga akan terkena dampaknya. Bergaul kita dengan para penipu, kita bisa terpengaruh sifatnya.

Penjaga-penjaga yang ditugaskan untuk memata-matai Yesus sering mendengar kata-kataNya. Mereka bisa menilai siapa Yesus sesungguhnya. Ketika orang-orang Farisi bertanya, “Mengapa kamu tidak membawaNya?”

Para penjaga itu justru bersaksi melawan mereka, “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!”. Orang Farisi menuduh para penjaga, “Adakah kamu juga disesatkan?”.

Para penjaga itu dituduh ikut ajaran sesat yang dialamatkan kepada Yesus. Lalu Nikodemus yang berusaha membela Yesus juga “diklepretke dosane”, dituduh bersekongkol, “Apakah engkau juga orang Galilea?”

Dari sini kita diingatkan agar hati-hati dalam memilih sahabat. Kalau salah pilih, kita bisa kena dampaknya. Aja cedhak kebo gupak, pepatah ini penting direnungkan.

Jangan sampai menyesal di kemudian hari karena kita salah bertindak, salah memilih teman. Banyak sekali contoh-contoh di sekitar kita. Ibaratnya kita memelihara anak macan.

Waktu masih bayi terasa lucu dan menyenangkan. Sering diajak bermain-main. Macan tetap macan. Setelah dewasa dia bisa berbalik menerkam kita. Sekali lagi kita diingatkan, “Aja cedhak kebo gupak”

Hari ini Kamis Wage malamnya Jum’at Kliwon
Habis Jum’at Kliwon harinya Sabtu legi
Jangan suka bersahabat dengan mamon
Kita akan jadi budaknya sampai kita mati

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 05.04.19 Yohanes 7:1-2.10.25-30 The Untouchable Man

PENJAHAT sekaliber apapun di Indonesia pasti kenal yang namanya Kusni Kasdut. Dia juga mendapat julukan “Robih Hood” dari Indonesia. Pada perang revolusi, ia merampok untuk menghidupi tentara yang bergerilya. Setelah perang usai, ia kembali merampok demi hidupnya yang miskin.

Prestasi kriminal yang paling menghebohkan adalah ketika ia berhasil mencuri 11 berlian paling berharga koleksi Museum Gajah yang tidak jauh dari istana merdeka. Seperti adegan film, ia dan gerombolan masuk menyamar sebagai polisi dan menyandera pengunjung.

Ia menembak seorang polisi dan berhasil lari dengan 11 berlian mahal. Sejak saat itu ia menjadi buron kelas kakap di Indonesia. Kepiawiannya meloloskan diri membuatnya disebut sebagai The Untouchable Man.

Ia tertangkap, tetapi sering bisa lari dari penjara. Tercatat 8 kali ia berhasil lari dari penjara. Sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh ke pelimbahan juga.

Bagi orang-orang Yahudi, Yesus juga menjadi The Untouchable Man. Yesus bukan seorang kriminal. Istilah itu sering dipakai bagi mereka yang sering lolos dari jerat hukum. Tetapi bagi kaum Farisi, tindakan dan pengajaran Yesuslah yang menimbulkan dilema. Kalau tidak distop, banyak orang akan menjadi pengikutNya. Kalau distop, orang banyak menganggap dia ini seorang nabi.

Ia tak tersentuh oleh siapapun. Orang Jawa bilang, “Suduk gunting tatu kalih” atau seperti makan buah simalakama.

Ketika Yesus di Yerusalem untuk merayakan hari raya Pondok Daun, masyarakat mulai menduga-duga, “Bukankan Dia ini yang mereka mau bunuh? Lihatlah, Ia berbicara dengan leluasa, dan mereka tidak mengatakan apa-apa kepadaNya. Mungkinkah pemimpin kita benar-benar sudah tahu, bahwa Ia adalah Kristus?”

Konfrontasi antara para pemimpin Yahudi dengan Yesus sudah bukan rahasia umum lagi. Masyarakat bawah sudah terprovokasi juga. Mereka berusaha menangkap Yesus, tetapi tidak ada seorangpun yang menyentuh Dia, sebab saatNya belum tiba.

Bagi pengarang Injil, Yesus yang menjadi The Untouchable Man dihubungkan dengan saatNya. Saat menurut Yesus adalah ketika Dia dimuliakan di atas kayu salib. Waktu Maria meminta Yesus membuat mukjijat di Kana, Yesus berkata, “Mau apa engkau ibu, saatKu belum tiba”.

Pemuliaan Yesus di kayu salib itulah yang dimaksud dengan “saatKu”. Para pemimpin Yahudi mencari saat yang tepat untuk mendakwa dan menangkap Yesus. “Salah lidah” sedikit saja bisa menjeratNya. Seperti Ahok yang tergelincir di Pulau Seribu. Masing-masing kita juga mempunyai “saat”.

Mari kita gunakan saat kita untuk perbuatan baik demi memuliakan Tuhan.

Benang merah untuk tali temali
Mengikat roda menarik pedati
Mengikut Yesus harus berani bersaksi
Walaupun salib di depan menanti

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr

Puncta 04.04.19 Yohanes 5:31-47 My Speech is My whole Life

MAHATMA GANDHI adalah bapak perjuangan tanpa kekerasan. Dia kuliah ilmu hukum di Universitas College, London. Setelah lulus pada 1893, dia pulang ke India untuk menjadi pengacara.

Karena sifat penakutnya, Gandhi gagal total dalam berdebat kasus pertamanya di pengadilan. “Saya berdiri, namun hati saya tenggelam hingga ke sepatu bot saya,” kenang Gandhi dalam Mahatma Gandhi: Sebuah Otobiografi.

Semenjak itu, dia tidak pernah lagi pergi ke pengadilan sampai akhirnya merantau ke Durban, wilayah koloni Inggris di Afrika Selatan pada 1893. Di Afrika Selatan Gandhi ditempa oleh pengalaman diskriminatif atas perbedaan warna kulit.

Dia pernah dilempar keluar gerbong kereta api bukan karena tidak punya tiket tetapi karena semua penumpang kelas 1 itu bule. Dia ditolak menginap di hotel ekslusif karena kulit berwarna. Ia pernah dicambuk karena tidak mau turun dari kuda yang akan diberikan kepada orang kulit putih.

Pengalaman buruk itu membuatnya teguh berjuang tanpa kekerasan. Ia memimpin perlawanan boikot garam dengan berjalan kaki bersama puluhan ribu orang. Ia melawan kolonial dengan satyagraha, ahimsa,swadesi. Pengaruhnya yang begitu besar membuat Inggris melemah.

Ia diundang untuk pidato di parlemen Inggris. Ketika ia akan maju ke mimbar, pembantunya mengingatkan, “Mohandas, anda lupa menyiapkan teks pidato”. Jawab Gandhi singkat, “My speech is my whole life”, yang kusampaikan ialah seluruh kisah hidupku sendiri.

Yesus berkata kepada orang-orang Yahudi yang tidak mau menerimaNya, “Pekerjaan itu jualah yang sekarang Kukerjakan, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, bahwa Bapa mengutus Aku. Dialah yang bersaksi tentang Aku”.

Apa yang dikerjakan Yesus membuktikan bahwa Ia berasal dari Allah. Yesus dan Bapa adalah satu. Tetapi orang-orang Yahudi justru makin membenciNya karena Ia dituduh menyamakan diri dengan Allah.

Apa yang dilakukan Yesus; menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, mengampuni orang berdosa adalah karya Allah sendiri. Tindakan Yesus merupakan tindakan Allah sendiri. Tetapi orang-orang Yahudi tidak memahaminya.

Kadang kita pun juga mengalami tidak dipahami. Dijelaskan bagaimanapun tetap tidak bisa diterima. Semua menjadi buntu. Akhirnya orang mengambil cara “diam itu emas”. Diam bukan tidak berbuat, tetapi diam tak bicara. Lebih baik diam tak bicara tetapi tetap berbuat melakukan keutamaan dan kebajikan.

Akhirnya tindakan keutamaanlah yang akan menjadi kesaksian tak terbantahkan. Seperti Yesus sendiri, walaupun Dia ditolak, namun Dia tetap melakukan kehendak Allah.

“Ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake
Melawan tanpa tentara, menang tanpa merendahkan
Sugih tanpa bandha, digdaya tanpa aji”
Kaya tanpa harta, perkasa tanpa senjata

Berkah Dalem,
Rm. A. Joko Purwanto Pr